Sinopsis The Secret Life Of My Secretary Episode 11 Part 1

Sinopsis The Secret Life Of My Secretary Episode 11 Part 1

Sumber: SBS



"Satu hari sebelum rapat pemegang saham TnT Mobile"

Min Ik berenang.

Gal Hee lari-lari tapi dengan wajah sumringah.



Surat Gal Hee untuk Oppanya, "Kepada Oppaku tercinta, entah bagaimana cara menggambarkan hidupku di dalam kamar hotel ini. Hidup dengan santai pasti mengubah wajah seseorang. Mataku bersinar dan kulitku berkilau. Kabarku baik, jadi, jangan lupa makan, ya."

Jung Hee baru pulang dari membeli makanan, "Hidup di kamar hotel pasti di luar imajinasi, seperti dugaanku."



Saat sudah di dalam rumah, Jung Hee menginjak foto yang entah kenapa da di lantai. Ia langsung waspada.

"Siapa?"


Jung Hee mengeluarkan jurus bela dirinya kesegala arah, tapi ia malah kepleset dan jatuh.

"Aneh sekali. Setiap kali aku pulang, selalu ada yang jatuh ke lantai. Mungkinkah itu pencuri? Tidak. Jika pencuri itu punya mata, dia bisa melihat sereyot apa rumah ini."

Jung Hee segera bangun untuk meletakkan kembali foto itu ke asalnya lalu kedapur meletakkan makanan dan minuman yang baru ia beli tadi.



Dugaan Jung Hee benar, memang ada pencuri masuk. Dia adalah Jeong Su, yang pasti sedang mencari USB itu dan ia menemukannya.


-=Episode 6=-
Pengakuan Hawa



Min Ik sampai di ujung kolam, tapi ia dikagetkan oleh Gal Hee yang tiba-tiba aja jongkok tepat di depannya.

"Astaga! Kubilang aku akan berenang selama 30 menit, lalu kembali."

"Saya menemukan hal yang luar biasa dan sudah tidak sabar."

"Kamu bergadang hanya untuk mencari itu?"

"Termasuk ini, jumlahnya ada lima yang kutemukan. Tapi entah apakah itu cukup."

"Biar kulihat."



Gal Hee kaget saat Min Ik keluar dari kolam sampai gak berani menatap.

"Kamu sedang apa?"

"Hanya saja, pakaian renang Anda tampak agak kekecilan."

"Pakaian renang sudah pasti kecil."




Min Ik merebut tablet yang dobawa Gal Hee dengan kesal karena sikap Gal Hee itu. Gal Hee buru-buru menutupi tubuh Min Ik dengan handuk.



Nyonya Sim menyiram Dae Joo pake air setelah memerintahnya untuk menjauhi putranya, Min Ik. Sontak kejadian itu menjadi tontonan pengunjung kafe yang lainnya.



"Eomoni. Ucapan Anda dan situasi ini dapat disalahartikan." Kata Dae Joo tanpa emosi sedikitpun walau diperlakukan dengan tidak baik.

"Maksudmu, kamu tidak bisa menjauhi dia?"

"Yang akan kukatakan ini mungkin juga dapat disalahartikan, tapi hubungan kami cukup serius. Kami tidak mungkin berpisah atas permintaan Anda."

"Saat kalian berusia tujuh tahun, kamu mengikuti Sekretaris Choi dan selalu datang ke rumahku. Aku seharusnya sudah memisahkan kalian saat itu. Dengan begitu, aku tidak perlu melihatmu mengangkat tangan kemarin."

"Aku baru sadar kenapa situasi ini terasa tidak asing bagiku. Hal serupa terjadi saat aku berusia tujuh tahun."

"Itu sebabnya aku akan mengatasinya dengan baik kali ini. Jika air tidak mempan..."



Nyonya Sim mengeluarkan uang, "...Ini pasti mempan."

Dae Joo memperhatikan orang-orang sebelum menjawab, "Ini justru bisa sangat disalahartikan."

"Anggap saja ini sebagai pesangon, dan berliburlah dengan uang ini. Setelah rapat pemegang saham ini, mundurlah dari dewan dan perusahaan. Kamu bermuka tebal, tapi punya otak. Pasti kamu memahami maksudku. Aku pergi."

Dan Ny. Sim meninggalkan Dae Joo.



Dae Joo ke sweet room nya Min Ik, tapi yang membuka pintu adalah Gal Hee yang dalam keadaan gak baik, lingkaran hitam matanya sampai sebatas tulang pipi.

"Jung Biseo-nim. Wajahmu kenapa?" Kaget Dae Joo.

Gal Hee gak menjawabnya, ia mengajak Dae Joo segera masuk.




Kekagetan Dae Joo belum sembuh udah ketambahan lagi saat melihat kamar dalam keadaan sangat-sangat berantakan.

Apalagi saat Gal Hee menemukan cangkir disebelah kaus kaki kotor. Gal Hee mau membuatkan Dae Joo kopi dengan cangkir itu. Tapi melihat keadaan cangkirnya sudah membuat Dae Joo mual.

"Aku tidak mau minum kopi." Kata Dae Joo. "Di mana Min Ik?"

"Dia sedang berenang, tapi akan kembali sebentar lagi."




Gal Hee langsung heboh melihat dokumen yang dibawa Dae Joo, "Itu... Itu daftar orang-orang yang sudah meneken surat kuasa?"

Gal Hee buru-buru melihat isinya. Gal Hee panik karena Park Ok Soon belum menekennya.

"Kenapa Park Ok Soon-ssi belum menekennya? Anda bilang akan menulis surat kuasa."

"Aku akan meminta tanda tangannya hari ini."

"Sungguh? Anda yakin? Setelah menekennya, dia tidak akan menghadiri rapat itu, bukan?"

"Kurasa begitu. Apakah tanda tangan Park Ok Soon-ssi sepenting itu? Seingatku, kamu pernah meninjaunya berulang kali."



Gal Hee mengkode Dae Joo untuk mendekatkan telinganya, kemudian ia berbisik, "Park Ok Soon adalah nama asli Veronica Park."

"Sungguh?"

Min Ik tiba-tiba muncul diantara mereka dan ikut berbisik, "Siapa?"

Gal Hee dan Dae Joo diem.



Min Ik: Kalian kaget, ya? Kalian berbisik soal apa? Rahasia? Rencana? Cinta?

Gal Hee: Kopi... Direktur Gi Dae Joo bilang dia mau kopi, jadi...

Gal Hee meninggalkan mereka untuk membuat kopi.




Min Ik menyindir Dae Joo, mau apa kesana? Mau bilang akan mengundurkan diri lagi?

"Aku datang untuk memastikan kamu baik-baik saja, Bodoh. Kamu merisaknya selama dua pekan terakhir? Dia terlihat kacau sekali."

Min Ik langsung menatap Gal Hee yang sibuk membuat kopi, "Memang dia kenapa?"

"Kamu tidak bisa melihatnya? Wajahnya seakan ditusuk dengan sedotan dan jiwanya diisap.



Saat Gal Hee mendekat, Min Ik langsung menatapnya lekat-lekat. Ia ingat penjelasan Dokter Gu bahwa otaknya mencetak wajah Gal Hee, bukan matanya yang bisa melihat dan mengenali Gal Hee.

"Hanya karena bisa melihat wajah Sekretaris Jeong, bukan berarti aku bisa melihat ekspresi wajahnya." Batin Min Ik.

"Bungbujang-nim, kenapa..."




Min Ik mengambil cangkir kopi dari tangan Gal Hee dan memberikannya untuk Dae Joo, kemudian ia menyuruh Gal Hee pergi.

"Apa? Kenapa? Apa saya berbuat salah?"

"Karena kamu sudah cukup lama menginap di kamar hotel mewah ini, setidaknya aku mau menginap sehari. Lagi pula, rapat pemegang saham diadakan di hotel ini besok. Kurasa aku akan lebih segar jika menginap di sini."

"Anda ada benarnya, tapi kita tetap harus berlatih..."



Min Ik mengambil cangkir kopi dari tangan Gal Hee dan memberikannya untuk Dae Joo, kemudian ia menyuruh Gal Hee pergi.

"Apa? Kenapa? Apa saya berbuat salah?"

"Karena kamu sudah cukup lama menginap di kamar hotel mewah ini, setidaknya aku mau menginap sehari. Lagi pula, rapat pemegang saham diadakan di hotel ini besok. Kurasa aku akan lebih segar jika menginap di sini."

"Anda ada benarnya, tapi kita tetap harus berlatih..."




Dae Joo yang tahu maksud Min Ik hanya mendengus.

Min Ik memasukkan semua camilan ke dalam tas Gal Hee, Alasannya karena ia tidak bisa memakannya karena mengandung kacang.

Gal Hee memeriksanya dan gak ada kandungan kacangnya di komposisi bahan.

"Produk ini diproduksi di pabrik yang juga memproduksi kacang!" Bentak Min Ik.




Min Ik bahkan mengnatar Gal Hee ke pintu, ia menyuruh Gal Hee naik limosin hotel. Gal Hee menolaknya, ia bisa naik bis.

"Naik limosin hotel saja! Bersikaplah seperti tamu yang menginap di hotel mewah. Jangan berjalan ke halte bus dengan tas berisi sandal hotel. Telepon aku setibanya di rumah."

"Baiklah."

"Pergilah~"

"Kalau begitu, aku pamit."

"Bisakah kamu... Pergilah."


Gal Hee pun pergi. Min Ik terus menatapnya. Dae Joo mendekat, kenapa gak mengantar Gal Hee pulang?

"Bos macam apa yang mengantar sekretarisnya pulang?" Balas Min Ik lalu menutup pintu. Tapi ia sempet melihat Gal Hee dari lubang pintu sebelum berjalan ke dalam.




Sebenarnya Min Ik ini perhatian sama Gal Hee, cuma dia gengsi jadi gitu deh sikapnya, sedikit kasar untuk menutupi perhatiaannya.

Dae Joo: "Aku pasti menyesal jika membuat suara itu hening dan lenyap dari hidupku". Kamu ingat? Kita menulis esai tentang ini semasa kuliah. "Buku Harian Adam dan Hawa" oleh Mark Twain.

Min Ik: Kenapa kamu tiba-tiba menjadi puitis?

Dae Joo: Melihatmu saat ini membuatku teringat akan kutipan itu. Kamu tampak sangat sedih melihat Jeong Biseo pulang.

Min Ik: Dasar gila.




Min Ik: Dia sudah kuanggap sebagai sahabat karena telah bekerja keras bersamaku selama dua pekan ini. Ini rasa kemanusiaanku kepada orang yang belum pernah tidur di kamar hotel mewah. Aku hanyalah pria yang menyayangi semua manusia. Dasar bodoh.

Dae Joo menggoda, "Kamu yakin tidak mau memacarinya?"

"Ada wanita lain yang ingin kupacari."

"Sungguh? Siapa?"




Min Ik cerita sambil menopang dagu, "Begini... Aku sungguh tidak tahu kenapa aku menjadi begitu menyukainya."

Yang dimaksud adalah avatar Veronica aka. Gal Hee.

"Setiap kali aku menatapnya, jantungku berdetak cepat, dan tekanan darahku naik." Lanjut Min Ik.

"Dia cantik?" Tanya Dae Joo.

"Ya. Dan inilah yang menarik. Suaranya terdengar tidak asing. Dan meskipun itu kali pertamaku bertemu dengannya, rasanya seakan dia mengenalku."

"Kamu jatuh cinta kepadanya. Hei. Hubungi dia. Ayo kita dengarkan suaranya."

"Besok ada rapat pemegang saham. Aku tidak boleh memikirkan dia. Kamu sebaiknya pergi. Aku tahu kamu datang untuk bilang mau mengundurkan diri."

"Setidaknya, kamu bisa meneleponnya."



Dae Joo memberikan uang yang diberikan Ny. Sim pada Min Ik. Min Ik heran dikasih uang banyak gitu, "Kapan aku meminjamkanmu uang?"

"Aku meminjam uang dari ibumu. Entah bagaimana, dia tahu aku butuh uang dan meminjamkan ini. Kembalikan ini dan sampaikan terima kasihku kepadanya."

Min Ik menghela nafas.

"Dan pastikan kamu siap besok. Meskipun aku hengkang, kamu akan tetap menjadi... Ini lagu oleh Cho PD. "My Friend"."


Veronica berhasil kencan dengan Dae Joo. Ia sampai teriak girang, YAA-HOOO



"Bukankah ini tempat yang pas untuk berkencan?" Tanya Veronica.

"Ini tempat yang pas untuk meneken dokumen."


Veronica menerima dokumen yang diulurkan Dae Joo dengan helaan nafas.

"Jika aku meneken ini, imbalan apa yang akan kamu berikan kepadaku?"

"Setahuku, kamu tidak membutuhkan apa pun dariku karena sudah memiliki semua yang kamu butuhkan."

"Mungkin aku memiliki semua yang kubutuhkan, tapi aku belum pernah menerima pemberianmu."

"Bagaimana kalau kutraktir makan?"

Veronica kembali menghela nafas, "100.000 sahamku hanya untuk satu porsi makanan? Menurutku, itu lumayan. Seperti yang kamu tahu, aku sungguh menyukai hal yang tidak terlalu hemat biaya."




Veronica kemudian membalik tubuh Dae Joo. Ia menggunakan punggung Dae Joo sebagai bantalan untuk ttd. Dae Joo tersenyum lega, tapi..

Veronica: Omong-omong, kamu memintaku meneken ini karena tidak setuju Do Min Ik mundur?

Dae Joo: Kamu tidak memercayaiku?

Veronica: Karena aku tidak memercayai diriku sendiri. Terkadang, keputusanku salah karena pria. Dan itu sudah terjadi 12 kali, termasuk kamu.

Dae Joo: Kalau begitu, jangan khawatir. Aku belum pernah keliru mengambil keputusan karena wanita.

Veronica: Astaga. Kurasa aku lupa seperti apa tanda tanganku.




Dae Joo tersenyum, kemudian menuntun tangan Veronica yang sudah memegang bolpoin untuk meneken dokuemennya.

Veronica menatap Dae Joo, "Kapan kita akan makan bersama? Aku merasa kurang nyaman dengan pembayaran di muka."

Dae Joo menarik tangannya, tapi Veronica menahannya. AKhirnya Dae Joo menjawab, "Kosongkan jadwalmu besok. Aku akan mentraktirmu makan seusai rapat pemegang saham."



Jeong Su ke kantor masih dengan pakaian yang tadi ia kenakan saat di rumah Gal Hee. Ia menelepon bosnya.

"Baik. Aku sudah mengecek failnya, dan semuanya aman."

"..."

"Tidak, Anda tidak perlu datang. Akan kutaruh di tempat yang Anda minta."

Anehnya, Jeong Su menuju ruangan Dae Joo.



Min Ik menghipnotis dirinya sendiri kalau ia sedang tidur saat ini, ia mengantuk saat ini. Ia menutup matanya, tapi tetep gak bisa tidur.

"Sial! Kenapa aku tidak bisa tidur?"




Min Ik menatap dua pasang sandal hotel. Ia ingat saat Gal Hee minta ijin padanya.

"Bungbujang-nim. Mereka memberi kita dua pasang sandal baru setiap hari. Aku akan memakai sandal baru setiap harinya, jadi, bolehkah kuambil sisanya? Terima kasih."


Hal utu membuatnya tersenyum. Kemudian ia merapikan satu pasang sandal yang tak digunakannya.

Saat sadar ia memikirkan Gal Hee terus, ia menggeleng, "Aku terlalu sering menghabiskan waktu bersamanya."




Min Ik keluar kamar, menuju rice cooker, ternyata Gal Hee memasak nasi untuknya. Ia membayangkan Gal Hee sekarang menceramahinya.

"Saya memang lebih menyukai prasmanan daripada diri saya sendiri. Tapi saya tidak mungkin membiarkan Anda makan prasmanan hotel setiap hari. Saya akan memasak makanan sehat untuk Anda setidaknya sekali sehari."

"Awalnya, kukira dia terlalu cerewet."



Min Ik ke kolam renang, ia mengeluarkan ponselnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis The Secret Life Of My Secretary Episode 11 Part 1"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: