Sinopsis My First First Love Episode 3 Part 3

- April 29, 2019
>
Sinopsis My First First Love Episode 3 Part 3

Sumber: NETFLIX




Ga Rin langsung lemas, ia merasa bodoh banget. Hoon bilang gak apa-apa, tapi Ga Rin tetep saja ngerasa bersalah. 

"Astaga. Aku mengira kau semacam Ratu Elizabeth. Bagaimana bisa kau berpose begitu? Astaga."

"Entahlah. Kenapa juga aku begitu?"

"Jangan cemas. Lupakan saja, ya? Berdiri."



Hoon mengulurkan tangannya untuk membantu Ga Rin berdiri. Ga Rin menerima uluran tangan Hoon, ia heran, bagaimana Hoon bisa sangat tenang?

"Saat pria itu membentakmu dan mendorong dadamu, kau tak marah kepadanya." Heran Ga Rin.

"Karena marah kepadanya tak ada gunanya bagiku. Dalam situasi begini, lebih baik merendah dan minta maaf. Jangan biarkan ego mengendalikanmu. Kita lebih rugi jika marah."

"Inilah yang aku butuhkan. Aku harus bisa memutuskan dalam segala situasi. Aku butuh keahlian memutuskan."


Mulai sekarang Ga Rin akan terus mengikuti Hoon. Ia rasa ia akan belajar banyak dari Hoon dengan berada di dekat Hoon.

"Kau tak keberatan, 'kan?" Ga Rin memohon. 

"Itu... Tak ada yang pernah bilang mereka bisa belajar dariku. Hidup memang penuh keajaiban. Tentu, kenapa tidak?  Aku agak lapar. Mau beli makanan?"

"Aku lupa bawa uang karena tergesa-gesa."

Hoon mengeluarkan amplop, "Jangan cemas! Aku dibayar per jam di muka."

"Kita dibayar saat tak melakukan apa pun?"

"Hidup memang indah."

"Kau luar biasa."

"Kabur, sebelum mereka tahu!"

Ga Rin langsung lari sampai meninggalkan Hoon.



Se Hyeon gak mau diturunkan di depan rumahnya, ia menyuruh Tae Oh berhentidi depan kompleks.

"Di mana rumahmu? Kuturunkan di depannya." Kata Tae Oh. 

"Kita belum cukup akrab untuk kuberi tahu."

"Tak masalah. Kita bisa jalani pelan-pelan."

"Tadi menyenangkan. Kuberi tahu tanggal wawancara nanti. Sampai jumpa."

"Baik."

Se Hyeon lanjut jalan ke rumahnya. Tae Oh juga menyalakan sekuternya.



Hoon menyambut Tae Oh, "Kawan. Kau sudah pulang."

"Kau sungguh tahu cara menganggap rumah ini seperti rumahmu sendiri."

"Kau bicara seolah kita orang asing, padahal keluarga. Tae Oh, boleh kutulis nomor teleponmu untuk pendaftaran audisi?"

"Apa?"

"Aku tak punya ponsel. Aku akan memberi nomormu agar mereka bisa mengirim hasil audisinya."

"Yang benar saja!"

"Tolong bantu aku. Kau harus sering periksa pesan singkatmu. Aku menyayangimu, Kawan. Aku menyayangimu."

"Kau sungguh menyebalkan."




Kamar sudah penuh dengan barang-barang Ga Rin, bahkan Ga Rin juga memiliki banyak pil suplemen. Tapi saat Song Yi masuk, Ga Rin buru-buru menyembunyikan pil-pil itu.

Song Yi, "Kita jadi teman sekamar, semoga kau tak masalah."

"Aku yang semestinya bilang begitu. Aku belum pernah sekamar dengan orang lain. Jika aku salah, tolong segera beri tahu."

"Aku juga sama. Kau punya kebiasaan tidur? Aku sangat mudah terbangun."

"Tidak. Kau tak perlu cemas."



Tapi nyatanya Ga Rin suka ngorok dan itu keran banget, Song Yi sampe gak bisa tidur. 



Song Yi memutuskan mengungsi di halaman. Tae Oh dari kamarnya tanya, ngapain disana?

"Mengungsi. Ga Rin mendengkur keras. Aku akan masuk setelah dia diam."

"Kau harus rekam untuk meledeknya nanti."

"Itu yang terpikir olehmu? Kau sangat tak dewasa. Omong-omong, bagaimana kencan butamu? Kau bertemu dia lagi?"

"Bertemu dia? Ya, kami bertemu. Itu seperti takdir."




Akhirnya Tae Oh keluar dan menceritakan semuanya pada Song Yi. 

"Apa? Aneh sekali. Dia merusak kencan buta orang lain." Kata Song Yi setelah mendengar cerita Tae Oh. 

"Jangan kasar, jangan menyebutnya aneh. Faktanya, aku yang keliru. Dia tak menghancurkan kencan butaku."

"Kau membelanya? Aneh. Kau sungguh bergabung dengan klubnya?"

"Ya. Faktanya, dia pendiri klub itu. Dia banyak memenangi lomba."

"Aku juga banyak memenangi lomba."

"Menariknya, dia tinggal di lingkungan ini."

"Benarkah? Cukup menarik."

"Sudah jadi impianku bertemu gadis yang sangat cantik. Tak hanya cantik, dia juga sangat keren."

"Jika semua lancar, perkenalkan aku. Aku mau lihat seberapa buruk seleramu."


Tae Oh: Aku kasihan kepadamu.

Song Yi: Kenapa?

Tae Oh: Standarmu soal pria pasti tinggi karena temanmu sempurna sepertiku. Aku merasa ikut bersalah kau melajang seumur hidupmu. Aku bertanggung jawab atas semuanya. Minumlah.

Song Yi: Terserah kau saja. Kudengarkan omong kosongmu karena aku tak perlu bayar sewa.



Tae Oh ketawa. Song Yi tiba-tiba mengucapkan terimakasih, "Jika dipikir, aku belum berterima kasih sepantasnya kepadamu."

"Jika tahu, kau harus baik kepadaku." 

"Kau besok pulang larut? Biar kumasak makanan enak untukmu."

"Aku mau makan malam di rumah orang tuaku besok. Kau harus lebih hati-hati. "Biar kumasak makanan enak untukmu". Orang lain bisa menganggap kita kekasih."

"Ya, aku akan lebih hati-hati. Aku juga mau menikah nanti."

"Song Yi-ah. Apa kau berpeluang menikah nanti?"

"Aku terharu dengan perhatian tulusmu."



Song Yi mengocok kaleng birnya dan menyemprotkannya pada Tae Oh setelah dibukanya. Tae Oh jelas membalasnya dan mereka berakhir kejar-kejaran. 
>

1 komentar:


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search