Sinopsis My First First Love Episode 2 Part 2

- April 25, 2019
>
Sinopsis My First First Love Episode 2 Part 2



Sumber: NETFLIX 


-=AKU BUTUH KAMAR DAN KAU PUNYA BANYAK=-



Tae Oh kesal, apa mereka pikir rumahnya itu adalah motel? Mereka langsung kemari dan memintanya mengizinkan menginap?

Hoon: Aku tak bilang begitu...

Tae Oh: Sudah kubilang sejak punya rumah sendiri. Aku tak keberatan kalian kemari asalkan tidak menginap. Oh Ga Rin. Orang tuamu tahu?


Ga Rin: Masalahnya...

Tae Oh: Lupakan saja. Mendengarmu saja membuatku kasihan.



Tae Oh meminta mereka mendengarkannya. Ia mau mereka pergi setelah ia selesai mandi.

Ketiganya berdiri dan Hoon membujuk, "Ayolah, Tae Oh. Hei."

Tiba-tiba terdengar suara ponsel bergetar, semua mengecek ponsel masing-masing dan ternyata punya Ga Rin yang bunyi, telepon dari ibunya. 




Ga Rin malah membuang ponselnya bukannya mengangkat. Tae Oh akan mengambilnya tapi Ga Rin teriak gak boleh.





Ga Rin lalu mengambil tongkat baseball dan memukulkannya ke ponselnya. Seketika ponselnya hancur.

Hoon salut melihatnya, "Hei... Kau... Kau... Hei! Keren sekali! Sangat keren! Hebat."

Tapi Song Yi khawatir, "Kau gila? Kau tahu itu mahal?"




Ga Rin tiba-tiba minta ijin pada Tae Oh untuk tnggal disana sementara. Song Yi dan Hoon menghentikan Ga Rin.

Tae Oh: Apa katamu?

Ga Rin: Aku minta izin tinggal di sini.

Hoon: Aku juga mau bertanya begitu.

Song Yi: Tunggu...

Tae Oh: Berhenti bicara omong kosong. Kalian mendadak minta tinggal bersamaku. Omong kosong.



Hoon mengubah nada bicaranya agar Tae Oh iba, "Kau ingat hari itu, 'kan? Aku berhenti sekolah untuk jadi pemusik. Orang tuaku memperlakukanku bagai sampah sejak itu. Hari ini, aku diusir dari rumahku seperti ini. Akhirnya aku sadar orang tuaku tak akan mengakuiku, kecuali aku jadi sukses."

"Kawan, kau terlalu serius."

"Hanya butuh satu kamar. Tae Oh-ya.. Aku percaya kau akan menolongku. Kau punya banyak kamar dan kebetulan aku butuh satu. Tolong aku. Kumohon, tolong aku!"

"Tapi ini mendadak..."



Song Yi mencari cela untuk bicara, "Aku mau bicara pribadi denganmu, tapi..."

Tapi Ga Rin memotongnya, "Aku tak punya tujuan lain."

Song Yi pun berhenti. Ga Rin melanjutkan, "Aku meninggalkan rumah juga. Aku harus menjauh dari rumah. Hanya kau yang terpikirkan, Tae Oh. Karena itu aku kemari."



Tae Oh: Jadi, maksudnya kalian kemari untuk tinggal selamanya?

Hoon: Jika kau mengusirku, aku bisa mati!




Hoon mengangkat dasternya dan menunjukkan bekas pukula di pahanya. 

Hoon: Kau tega membiarkan ayahku memukuliku terus? Aku tak bilang selamanya! Hanya sampai aku lolos audisi saja! Tolong biarkan aku tinggalsampai saat itu!

Song Yi hanya bisa menghela nafas.


Ibunya Ga Rin syok membaca surat yang Ga Rin tinggalkan. Ibu khawatir karena Ga Rin gak punya teman tapi bilang mau menginap di rumah temannya. 

Ibu: Teganya dia berbuat segila ini?



Asisten Wanita: Dia merencanakan semuanya sejak awal. Rambut palsu dan ransel membuktikan tindakannya tidak spontan.

Ibu: Apa yang kalian lakukan saat Ga Rin menjalani rencananya? Dia tak punya seorang teman pun. Aku yakin itu, karena kontak di ponselnya diselaraskan dengan ponselku. Bagaimana jika dia ditipu? Jika begitu...

Asisten wanita: Nyonya tak apa-apa? Butuh obat penenang?

Ibu: Tidak butuh! Kalian harus lakukan apa pun untuk menemukannya. Dia pewaris tunggal keluargaku. Jika Ketua Dewan di Inggris sampai tahu, kalian berdua.. akan dapat masalah besar.

Keduanya menunduk patuh.


Tae Oh membaca surat Ga Rin di atap, "Tempat kabur yang terpikir olehku hanyalah Tae Oh". Tae Oh langsung membuang suratnya dengan kesal.

"Bisanya dia kabur dari rumah tanpa rencana matang? Aku harus bagaimana saat dia sembarangan minggat setelah mengirimku surat? Hah??"



Song Yi menyusul sambil membawa dua kaleng bir. Tae Oh menanyakan keberadaan yang lain. 

"Ga Rin di ruang tamu. Hoon menyiapkan kasur di ruang ganti."

"Menyiapkan kasur? Tak boleh, aku harus..."

"Tenang dan duduk dahulu."

"Aku harus..."

"Sudahlah."

"Aku bisa gila."




Song Yi membukakan kaleng bir untuk Tae Oh, "Lagi pula, sudah larut. Minum dahulu."

Tae Oh menerimanya dan langsung menenggaknya, setidaknya ia sedikit lega setelahnya.



Tae Oh lalu menanyakan alasan Song Yi ada disana. Song Yi gak bisa menjawab.

Saat berpikir, SOng Yi melihat tanaman Tae Oh layu, ia pun mengalihkan pembicaraan menuju tanaman itu. 

"Semuanya layu. Kau tak menyiramnya? Kau pernah kemari?"

"Kenapa mendadak mencemaskan tanamanku?"

"Rumah ini terlalu luas untukmu. Terlebih, kau bukan tipe orang yang suka merapikan rumah. Pikirkan betapa bagusnya jika ada orang yang mengurus kebun, atap, dan sampahmu."




Tae Oh mengernyitkan dahi, "Apa? Aku merasa ada yang tak beres. Kau tak bermaksud tinggal di sini, 'kan?"

"Itu..."

"Aku tahu."

"Apa?"

"Kau bertengkar dengan ibumu lagi, ya? Bisa terlihat dari wajahmu."

"Sebenarnya, lebih dari itu..."



Tae Oh: Pulanglah! Jangan memaksa mau tinggal di sini. Makin dekat hubungan kalian, makin cepat akur juga.

SOng Yi: Masalahnya, bukan waktu yang tepat untukku kembali...

Tae Oh: Aku bisa gila jika kau juga bilang akan pindah kemari seperti mereka.

Song Yi menghela nafas berat.

Tae Oh melanjutkan, "Kau pasti tahu aku paling takut rumah ini menjadi indekos."

"Tentu, aku tahu."

"Tak hanya satu, tapi dua orang? Hah~~ Tak bisa lebih buruk lagi."


Song Yi membuka kaleng bir-nya untuk mendengarkan curhatan Tae Oh.

Tae Oh: Kenapa aku tak bisa menolak? Kurasa sifatku memang baik. Ada perbedaan antara watak dan kepribadian. Mungkin aku tampak dingin, tapi sebenarnya aku baik hati.

Song Yi: Kau mahir menyombongkan diri.

Tae Oh nyengir lalu ijin mandi, "Sebaiknya kau pulang sebelum larut. Jangan buang waktu di sini."

"Baik, aku akan pergi."



Tae Oh turun duluan meninggalkan Song Yi. Song Yi menikmati minumannya.


Tae Oh mengirim pesan untuk teman kencan butanya, Yu Se Yeon, "Ini aku, Tae Oh. Kau sampai rumah dengan aman? Pukul berapa kita bertemu besok? Aku akan menjemputmu."


"Apa maksudmu? Kau tidak datang. Aku tak peduli siapa yang kau temui, tapi jangan perlakukan orang seperti itu. Bajingan!" Jawaban Se Yeon.

Tae Oh bingung, "Apa.."



Besoknya, Tae Oh menunjukkan pesan itu pada teman yang mengenalkan ia dengan cewek itu.

Tae Oh: Apa yang terjadi? Bisa jelaskan ini? Sumpah, aku bertemu dia. Tapi kenapa begini? Dia tak menjawab teleponku.

Teman: Sangat aneh.

Lalu teman menunjukkan foto Se Yeon yang ia maksud, ternyata bukan Se Yeon yang ditemui Tae Oh. 

"Konyol sekali. Mungkin saja dia gadis aneh." Tanggapan teman yang satunya saat Tae Oh menjelaskan.

"Dia tampak sangat normal." Kata Tae Oh.



Do Hyeon menghampiri Tae Oh, menanyakan bagaimana keadaan teman-temannya kemarin. 

"Jangan dibahas. Mereka menolak pergi, jadi aku biarkan tidur di rumah."

"Ketiganya?"

"Tidak, Song Yi pulang."

Do Hyeon tampak berpikir.





Song Yi membawa kopernya ke mantan rumahnya. Pernyata ia lupa membawa papan nama ayahnya. 

Song Yi pun mengambilnya, tapi alot. Tepat saat ia berhasil mencopotnya ada yang membuka gerbang. Song Yi terkejut sampai terjungkal.



Ternyata pemilik rumah Song Yi adalah Se Yeon. Se Yeon tanya, ngapain Song Yi di depan rumahnya?

Song Yi menjawab kalau ia lupa membawa papan nama ayahnya. Se Yeon mengerti sekarang bahwa Song Yi yang pernah tinggal di sini.

"Ibuku cerita tentang situasimu. Mau ambil barangmu?"

"Belum. Aku masih harus membereskan beberapa hal. Aku akan segera mengeluarkannya."



Song Yi pamit, tapi Se Yeon berkata agak kasar, "Aku paham kau sudah lama tinggal di sini dan mengalami situasi sulit, tapi kau harus lebih pengertian."

"Apa?"

"Aku pindah ke rumah baru dan ingin memulai hidup baru. Tapi ada barang orang lain di kamarku. Menurutmu bagaimana perasaanku? Sedikit tak nyaman, 'kan? Sebaiknya... kita saling pengertian, ya?"

"Maaf membuatmu sedikit tak nyaman. Tapi aku diusir dari rumah ini dalam semalam, kacau sekali. Aku akan segera membereskannya. Terima kasih atas pengertianmu."

SOng Yi pun pergi.



Se Yeon yang kesal melewati Song Yi begitu saja. 

Song Yi bergumam, "tak perlu marah begitu."





Di kampus, Song Yi membuat list mengenai apa yang ia miliki dan tidak.

Yang ia tidak miliki: Ibu, Rumah, Uang.

Song Yi mendapat pesan peringatan bahwa pembayaran semester akan jatuh tempo tanggal 10.

Song Yi mencoret kata "uang".

Lalu Song Yi menulis hal yang ia miliki : tubuhnya, mimpinya, Yoon Tae Oh.
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search