Sinopsis My First First Love Episode 1 Part 2

- April 23, 2019
>
Sinopsis My First First Love Episode 1 Part 2

Sumber: Netflix




Masih waktu SMA. Tae Oh lari-lari dari kantin. Song Yi memanggilnya dari kelas di lantai dua. Tae Oh menyembunyikan roti yang dibelinya.

"Kau beli roti sosis?" Tanya Song Yi.



Tae Oh pura-oura gak beli. Song Yi tampak kecewa. Lalu Tae Oh menunjukkan rotinya, Song Yi sumringah. 

"Cepat, naik!" Kata Song Yi. 

Tiba-tiba turun hujan. Song Yi tanya ke Tae Oh, punya payung gak? 

"Ya. Biar kuambil!" Jawab Tae Oh dan langsung berlari balik ke kantin. 

Di kantin, Tae Oh membeli payung warna kuning.  




Saat kembali ke kelas, Tae Oh mendengar Song Yi bicara dengan teman-temannya. Tae Oh memutuskan untuk menguping.

Song Yi: Siapa? Yoon Tae Oh? Mau bilang Tae Oh bahwa kau suka dia? Kenapa butuh izinku?

Teman: Kau yakin kalian tak ada sesuatu?

Song Yi: Apa ada sesuatu? 

Teman: Kalian biasanya sangat akrab. Semua orang berdebat apa kalian pacaran.



Song Yi: Kami tak pacaran. Kalian tak percaya?

Teman: Tae Oh sangat tampan. Bagaimana kau bisa tak menyukai wajah seperti itu?

Tae Oh mesem-mesem mendengar pujian itu. 



Song Yi: Hei. Karena kalian tak melihat dia saat kecil. Nilainya nol sampai rata-rata.

Teman: Kau tak pernah punya perasaan kepadanya?

Tae Oh menantikan jawaban Song Yi. 

Tapi jawaban Song Yi tak sesuai harapan, "Tidak."

Tae Oh kecewa.

Song Yi menjelaskan, "Dia manis, tampan, dan baik, tapi bukan tipeku."

Teman: Tidak. Pasti ada sesuatu di antara kalian.

Teman: Aku setuju. Pasti ada sesuatu.



Tae Oh nelangsa mendengar jawaban Song Yi, ia gak jadi masuk kelas.



Waktu pulang sekolah masih hujan. SOng Yi menghubungi Tae Oh dan Tae Oh mendadak muncul disampingnya. 




Song Yi senang melihat Tae Oh, ia mengajak Tae Oh berbagi payung. 

"Aku tak mau." Jawab Tae Oh dingin. 

"Apa?"


Tae Oh pun menggunakan payungnya sendiri. 


Baru beberapa langkah, Tae Oh berbalik, menyuruh Song Yi hujan-hujanan saja. 




Song Yi menyusul Tae Oh, memaksa berbagi payung dan berakhir berantem berebut payung.   






AKhirnya Song Yi yang menang, ia pergi dengan payungnya Tae Oh. 

Kembali ke masa kini.



Tae Oh menatap Song Yi dari kaca spion dan itu membuatnya tersenyum. 



Sampai di kampus, Song Yi mengucapkan terimakasih dengan sangat sopan. 

"Aku selalu bersyukur atas tumpangan ini. Tak sabar menumpang lagi."

Tae Oh menerima helem yang diulurkan Song Yi. Song Yi langsung pergi. 



Tae Oh memanggil Song Yi, ia mengingatkan lagi, "Hei, Han Song Yi. Seperti kubilang, ini terakhir kuberi kau tumpangan."

Song Yi kembali mendekat, "Kenapa?"

"Aku... Aku akan segera kencan."



Song Yi mendengus, "Kau sangat serius karena itu? Kau punya pacar?"

"Nanti, setelah kencan buta, temanku bilang dia sangat seksi. Gadis seksi itu mau mengencanimu?"

"Song Yi-ah, bagi pria sepertiku, kencan buta akan sukses seratus persen. Jika semua lancar, aku tak mengantarmu lagi."

"Mimpi saja. Gadis seksi jarang ikut kencan buta."

"Maksudmu?"

"Gadis seksi tak butuh kencan buta. Mereka sudah punya pacar."

"Begitu. Karena itu kau tak pernah punya pacar. Tak ada pria mengencanimu."

"Semoga kencan butamu sukses. Jangan bicara. Itu akan membantumu."




Song Yi pun pergi. Tae Oh menegaskan, "Asal tahu saja, wanita suka suara beratku."

Song Yi akan menanggapi, tapi temannya memanggil, jadi ia hanya mengatakan satu kalimat.

Song Yi: Orang bilang kita harus bermimpi besar. Sampai jumpa


Tae Oh: Baiklah, terserah.

Sebelum menyalakan sekuternya lagi, Tae Oh meggerutu, "Kenapa aku selalu kekanakan-kanakan di dekatnya?"




Teman Song Yi memuji Tae Oh yang tampan seperti biasa, mereka sepakat kalau tampannya Tae Oh itu abadi.

Song Yi: Astaga, jangan itu lagi.

Teman: Kau tak menyukainya? Dia pacar hebat. Kalian sudah 20 tahun berteman.

Song Yi: Sudah selama itu? Aku muak dan bosan kepadanya.

Teman 1: Kau tak sadar karena dia selalu bersamamu. Lihat saja. Kau akan tersadar saat gadis lain menyambarnya.

Teman 2: Dia benar. Tae Oh terkenal di fakultasnya. Dia itu Tn. Cinta Pertama. Kau tahu?


Song Yi: Cinta Pertama? Dia?

Dan SOng Yi kembali mendengus. 




Narasi temannya Song Yi, "Mengenai cinta pertama, yang penting, pria bisa didekati. Saat melihatnya, kau berpikir, "Aku bersama pria sepertinya?" Tapi tak terduga, dia seperti pria biasa."




Tae Oh sangat ramah sama siapapun. 

"Dia tampan tapi bisa didekati. Karena itu semua gadis membayangkan dirinya sudah mengencaninya."


Teman Song Yi yakin jika nanti Tae Oh punya pacar pasti para gadis lainnya akan mabuk-mabukan.

Teman 2: Aku setuju. Tapi aku suka Tn. Cinta Terakhir.

Teman 1: Benar. Aku lupa tentangnya.

Song Yi: Ada Tn. Cinta Terakhir?


"Awalnya sulit menebaknya. Dia bahkan agak menakutkan. Dia tak ramah hampir ke semua orang."

Yang dimaksud adalah Do Hyeon. 



Salah seorang junior wanita mendekati DO Hyeon, mengajaknya bicara. 

"Katakan di sini." Kata Do Hyeon. 

"Di sini? Ini agak..."

"Kau mau bilang kau suka aku?"

"Bagaimana kau tahu?"


Do Hyeon: Sudah beberapa hari kau mencoba bicara kepadaku. Itu sangat jelas.

Junior: Aku merasa begini sejak orientasi mahasiswa baru.

Do Hyeon: Aku akan menolaknya.

Junior: Kenapa? Aku pacar yang hebat, tahu?

Do Hyeon: Aku tak punya waktu mengenalmu. Mungkin kejam, tapi bagiku lebih sopan langsung menolak jika aku tak suka.

Junior: Kau tak perlu sopan kepadaku.

Do Hyeon: Aku pergi dahulu, ada kelas.


"Tapi kita tahu rasanya. Ada pria yang ingin kita percayai dan ikuti. Dia memiliki getaran itu. Dia tipe orang yang akan selalu bersama kita sampai akhir."


SOng Yi: Apa perlunya julukan itu? Tapi aku mau tahu.

Teman 2: Benar, 'kan?

Teman 1: Kau mau menemuinya?

Song Yi: Tak perlu.



Tae oh dan Do Hyeon teman akrab ternyata. Saat makan bareng, Tae Oh cerita soal kencan butanya. Tae Oh bilang teman kencan butanya cantik. 

"Kau cepat." Tanggapan Do Hyeon. 

"Itu terjadi secara alami, aku mengikuti pandanganku."



Do Hyeon membaca dokumen berjudul, "PROGRAM MENGAJAR SESAMA". Tae Oh tanya, apa Do Hyeon mendapftar itu? 

"Ya." Jawab Do Hyeon singkat.

"Yang mana? Ada beberapa."

"Pegawai negeri."

"Pegawai negeri? Itu cocok untukmu. Kaku, membosankan, tapi jujur dan bisa dipercaya. Aku akan percaya kepada pemerintah di tangan orang sepertimu."



Tae Oh menggaris bawahi satu yang pasti, kalau pegawai negeri itu membosankan. 

"Bekerja tak harus seru." Kata Do Hyeon. 

"Justru jika seru, kita bisa bekerja keras."

"Aku tak butuh itu. Aku suka kepastian, apa pun itu."

"Kepastian?"

"Tak akan dipecat, ada pensiun, pekerjaan stabil. Cocok untukku."

"Harapan hidup rata-rata seratus tahun. Jangan pastikan cara kita hidup. Keadaan akan berubah."

"Tak ada waktu untuk berubah. Itu hanya untuk orang kaya."

"Mayoritas pria mencari pacar begitu keluar dari militer. Tapi kau mau jadi mentor. Ah! Aku kencan buta hari ini. Biar kucarikan kau pacar."

"Tak perlu."

"Dia seksi. Mau lihat fotonya?"



Tae Oh cuma menipu Do Hyeon ternyata karena ia tak punya foto teman kencannya itu. 

"Kau bahkan tak tahu wajahnya?" Tanya Do Hyeon. 

"Biar seru."

Do Hyeon hanya tersenyum. 


Dosen Kepala Choe Seok Hwan dari fakultas biologi Universitas Jeonghan datang ke sebuah pesta bersama istri, juga membawa karangan bunga. 







Mereka disambut yang punya hajat. Ini adalah pesta untuk putra mereka. 

Ibu Choe: Bagaimana rasanya? Di fotonya, putra kalian sangat tampan.

Bapak yang punya hajat: Ada suka dan dukanya. Tunggu. Nama putramu Hoon, benar?

Prof Choe: Ya, belajar untuk ujian masuk kampus lagi. Dia keras kepala, mau kuliah di kampusku.

Bapak: Dia serakah sepertimu.







Ternyata eh ternyata Choe Hoon adalah penyanyi di pesta itu. Ayah ibunya jelas malu karena hal itu. 

Hoon juga terkejut melihat ayah ibunya ada disana sampai tidak bisa melanjutkan lagunya.
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search