Sinopsis My First First Love Episode 1 Part 1


Sinopsis My First First Love Episode 1 Part 1

Sumber: Netflix



Sebuah keluarga sedang merayakan pesta ulang tahun anak kedua. Sang adik sangat semangat menyanyikan lagu ulang tahun, tapi yang berulang tahun (Tae Oh) gak ada semangat sama sekali.

Kelihatannya terpaksa banget untuk meniup lilin. 



Tae Oh: Ini ulang tahunku, tapi tak ada kartu ucapan atau hadiah. Aku kecewa.

Ayah: Kau punya kartu. Kartu kredit Ayah. Daripada hadiah, Ayah mau bicara. Kini usiamu 20 tahun, harus mandiri.



Tae Oh senang, rayt wajahnya langsung berubah, "Benarkah? Tunggu, kalian akan membelikanku rumah?"

Sang Ibu menjawab, "Hanya apartemen studio kecil."

Ayah menambahi, "Kemandirian harus dimulai dari dasar."

Tae Oh: Yang benar saja, Ayah mulai dari atas berkat kekayaan Kakek.


Ayah akan marah, tapi gak malah dikagetkan dengan api yang tiba-tiba menyala besar di piringnya (pelayan membakarsteaknya). 

Ayah: Aku mau makan, bukan jadi steik!

Pelayan segera minta maaf, ayah langsung mengusir mereka dan Tae Oh mematikan apinya.


Tae Oh bernegosiasi dengan ayahnya, ia meminta tinggal di rumah kakek daripada dibiarkan kosong. 

"Rumah yang dirawat bertahan lebih lama. Lebih baik putra Ayah yang rawat, 'kan?" Bujuk Tae Oh. 

"Lebih baik daripada dibiarkan kosong." Kata Ayah pada ibu.

Tapi ibu gak setuju, "Astaga, dia belum siap mandiri. Jika dia bawa pulang gadis dan menghamilinya?"

Ibu memutuskan tak boleh memberikan rumah itu untuk Tae Oh karena terlalu cepat. 



Tae Oh gak hilang akal, "Salahku. Ibu tiri kita... Bukan, maksudku... Mestinya tak kukatakan karena kau dihamili ayah, lalu dinikahi."



Sang adik kaget, "Benarkah? Aku lahir tak direncanakan? Aku menghormati tekad kalian."

Ibu menegur putranya, "Astaga! Kenapa kau berbohong?"



Ayah menggebrak meja, menyuruh semuanya diam. 

"Ayah akan mampir mendadak tiap pekan." Kata Ayah.

"Harus rumah Kakek, tak mau rumah lain." Tegas tae Oh.

"Jika ada sehelai saja rambut wanita, kau tinggal di rumah lagi, paham?"

"Aku tak akan bawa pulang wanita, sumpah demi nyawaku."


Saking senangnya, Tae Oh menyuapi udang ke ayahnya.



Hal yang selalu dilakukan Tae Oh setelah tinggal di rumah kakeknya adalah mencuci sekuternya.

"Ayah bilang mau mampir tiap pekan. Tapi sudah bulanan dia tak datang. Aku tak keberatan, karena itulah yang aku mau."



"Pria umur 20 tahun tak boleh hidup kesepian. Aku mau tinggal bersama... Maksudku, andai aku bisa tidur dengan pacar."


.:21 TAHUN:.


"Kini aku siap menikmati hidup bebas. Aku hanya butuh gadis cantik."



Tae Oh udah nyiapin buat pesta, tapi tiba-tiba temannyamuncul dan menimum wine mahalnya/ 

"Kau siapkan semua ini untukku? Terima kasih banyak." Kata si teman.

"Kau tahu betapa mahalnya itu?" Tae Oh langsung merebutgelas wine-nya. 



"Kenapa di sini? Sekolahmu bagaimana?" Tanya Tae Oh.

"Aku berhenti dan orang tuaku mengusirku. Karena itu, boleh aku menemanimu malam ini?"

Si teman memeluk Tae Oh. Tae Oh jelas risi dan menjauhkan temannya. 

"Jiwa mudaku, datang membalas dendam kepadaku." Batin Tae Oh. 



.:22 TAHUN:.

Tae Oh mendapati temannya tiba-tiba ada di ranjang setelah ia mandi.



"Kau menakutiku! Seo Do Hyeon, kenapa kemari tanpa memberi kabar?"

"Dapur kami direnovasi, aku tak bisa konsentrasi."

"Aku juga ujian dua hari lagi."

"Pergilah ke ruangan lain."

"Keterlaluan."

Tae Oh melempar Do Hyeon dengan handuk saking kesalnya.


"Sial. Aku ingin gadis cantik, tapi yang kudapat teman tak berguna."



.:23 TAHUN:.

"Tapi aku tak mau menyerah."





Tae Oh ada kencan buta hari ini, pukul 19:00.


"Kini, sesaat sebelum kencan buta yang kunantikan, seorang gadis muncul di dalam benakku."




Seorang wanita bangun karena pesan dari Tae Oh. DIa adalah Song Yi. Tae Oh mengatakan kalau ia akan tiba dalam 10 menit.



Semua perabot rumah Song Yi ditempeli stiker merah, semuanya disita.



Tae Oh mengendarai sekuternya menuju rumah Song Yi.

-=TEMAN DEKAT—YANG HANYA SEKADAR TEMAN?=-



Song Yi harus keramas dengan air mineral dan sekarang persediaannya sudah sangat tipis.



Usai keramas, ia menelfon ibunya tapi tidak ada jawaban, malah tersambung ke pesan suara.

"Mau terus menghindari teleponku? Putri tunggal Ibu tinggal di rumah tanpa air. Ibu tak cemas? Aku bahkan memakai toilet di restoran dekat sini. "Ahjumma, maaf, boleh aku menumpang toilet?" Apa pantas gadis 23 tahun menanyakan itu?"



Song Yi juga menerima surat pengusiran dari pengadilan.

"Stiker merahnya tampak mengerikan. Pengadilan terus mengirim surel. Tentang lelang dan jumlah transfer.  Tapi aku tak mengerti. Aku ketakutan di sini, Bu. Jadi, tolong jawab teleponnya!"

Song Yi mengakhiri pesan suaranya dengan sedih.


Tepat saat itu dari luar terdengar suara klakson bertubi-tubi. Tae Oh lah pelakunya.


Song Yi keluar dengan kesal, "Aku tak tuli, tahu?"

"Astaga. Bisa keringkan rambutmu? Kau seperti hantu."

"Aku sangat ingin menjadi hantu."



Tae Oh menghadapkan Song Yi tepat di depannya, "Han Song Yi, dengar baik-baik. Ini hari terakhirku memberi tumpangan di belakang skuterku."

"Kenapa?"

"Karena hari ini... Hari ini..."

"Kenapa aku tak bisa naik skutermu lagi? Kau yang menjemputku setiap pagi."


Song Yi mendekatkan wajahnya pada Tae Oh, "Aku akan naik skutermu sampai aku lulus."

Tae Oh hanya menggut-manggit, mengalah.




Song Yi naik ke belakang dan seperti biasa, ia memeluk pinggang Tae Oh. Berangkatlah mereka.

Kilas Balik...






Saat mereka masih SMA, Song Yi kehilangan ayahnya untuk selamanya. 




Song Yi tidak menangis seperti ibunya, tapi wajahnya sedih banget. 

"Saat itulah aku sadar aku harus temani Song Yi." Narasi Tae Oh. 




Tae Oh memberikan brosur berjudul, "PANDUAN PROGRAM PERTUKARAN BUDAYA" katanya Guru yang menyuruhnya untuk berjaga-jaga. Pendaftaran sudah ditutup, tapi mereka menunggu jika Song Yi tertarik.

"Bagaimana aku bisa pergi saat ibuku kini sendiri? Tak perlu. Aku memang tak mau pergi."

SOng Yi mengembalikannya pada Tae Oh. 



"Song Yi-ah... Aku tak tahu cara menghiburmu..."

"Tak perlu repot. Ada orang yang kehilangan ayahnya dahulu."

Song Yi tiba-tiba menangis dan airmatanya jatuh ke tangan.



Tae Oh menyadari hal itu, tapi ia pura-pura, "Tampaknya hujan, Song Yi-ah. Astaga, sama sekali tak bagus. Kenapa harus hujan sekarang?"

Song Yi malah menaboknya, menyuruhnya diam karena suaranya bising. 


Tae Oh gak menyerah, "Lihat, tanganmu basah semua."

Tae Oh menghapus airmata Song Yi di tangannya, juga di matanya.

"Hujan menetesi matamu juga. Kenapa hujan hanya menetesimu?"




Tae Oh memayungi Song Yi, "Song Yi-ah. Dahulu Ibuku juga wafat di musim ini."

"Kau bilang dia wafat saat kau kecil, 'kan? Kau bahkan tak ingat."

"Benar."

"Lebih baik tak ingat. Kenangan menyulitkan. Aku lebih baik amnesia saat ini."



"Jika kenangan dicuri juga tak bagus. Walau tak punya kenangan, tak punya ibu menyakitkan. Seolah aku tak pernah punya ibu. Tapi tetap aneh dan pedih. Tapi aku sudah terbiasa tanpa dia. Kau juga akan terbiasa. Tanpa ayah, maksudku."



Tae Oh menambahi, "Selain itu, kau bisa cepat melupakannya karena ada aku."

Song Yi akhirnya ketawa, "Menyebalkan. Bodoh."



Tae Oh memuji kalau SOng Yi terlihat cantik saat tersenyum.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis My First First Love Episode 1 Part 1"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: