Sinopsis He Is Psychometric Episode 9 Part 3

- April 13, 2019
>
Sinopsis He Is Psychometric Episode 9 Part 3

Sumber: tvN


Ji Soo memberi penjelasan kepada media.

"Kang Hee Sook dan Park Soo Young yang ditemukan dalam koper di hilir Sungai Han bulan lalu terlibat dalam organisasi perdagangan manusia lima tahun lalu. Mereka ditemukan telah dibunuh oleh letnannya, Kim Gab Yong. Kim Gab Yong memanfaatkan tunawisma atau orang tanpa keluarga dan mendapat keuntunganselama bertahun-tahun dengan memperdagangkan, menculik, dan membunuh mereka. Karena dia ditemukan dibunuh dua tahun lalu, kasus ini akan diserahkan kepada kejaksaan tanpa penyelidikan. Unit Penyelidikan Khusus dari Badan Kepolisian Metropolitan Seoul menggerebek organisasi yang beranggotakan Kim Gab Yong. Kami menemukan bukti bahwa organisasi itu mendapat keuntungan dengan menjual informasi personal orang-orang. 25 anggota organisasi itu ditangkap di TKP. Kami akan menyelidiki lebih jauh mengenai siapa yang mendapat keuntungan dengan meminta identitas palsu dari organisasi ini."


Jae In sedang fokus mendengarkan, Detektif juga. An menggunakan kesempatan itu untuk masuk diam-diam.





Detektif: Bukankah dia membahas wanita yang kamu temukan di sungai lingkungan kita?

Jae In yang belum sadar akan kehadiran An menjawab, "Ya. Itu jasad yang ditemukan oleh aku dan An."

"Tersangkanya adalah Kim Gab Yong?" Tanya Detektif.

Kali ini An yang menjawab, " Benar. Dia adalah letnan dari organisasi yang pernah Anda bubarkan."

Barulah Jae In menyadari kehadiran An. 



Detektif: Benarkah polisi menggerebek organisasi itu? Meninggalkan bukti setelah membunuh orang bukanlah ciri mereka. Bagaimana polisi bisa tahu?

An pura-pura gak tahu. Jae In yang mengarang jawaban, "Rumornya, mereka diberi tahu oleh sumber tepercaya. Orang yang menyaksikan pembunuhan itu."

An: Sumbernya sangat tepercaya, bukan?

Jae In hanya mesem. Detektif tanya, siapa saksi itu?

Jae In: Kami tidak tahu.

An langsung keluar.


Di luar ia membuat pengumuman, "Sang Raja bertelinga keledai! Aku melihat telinga keledai itu! Aku yang melihatnya. Siapa lagi yang mungkin tahu? Aku orang pertama di Korea... Sial. Aku tidak bisa mengatakannya."



Jae In menyusulnya keluar, "Hentikan sebelum aku menangkapmu karena mengganggu."

"Sekarang aku merasa aneh."

"Kenapa? Kamu merasa dirugikan? Karena Detektif Eun menerima pujian padahal kamulah yang memecahkan kasus?"

"Tidak, aku merasa bangga. Kita membantu Ji Soo Noona dan Seong Mo Hyeong dalam kasus ini. Sepertinya kita akan segera secara resmi bekerja sama."

"Jangan sombong. Kamu hanya akan kecewa."




Jae In menyadari ada yang beda dengan baju An, kenapa tangan An gak dimasukkan saku?

"Ah.. Aku cocok memakai jaket dengan lengan lebih panjang. Jadi, aku berniat mempertahankan penampilan itu. Mulai sekarang, aku memutuskan untuk lebih terbuka. Aku suka perubahan positif itu. Ayo pergi ke perpustakaan. Aku akan memilih buku."

"Tidak perlu. Aku punya buku yang ingin kubaca."

"Buku yang ingin kamu baca?"

"Selain itu, kosongkan jadwalmu malam ini."

"Kenapa?"

"Mari kita.. bersenang-senang hari ini."



Seong Mo sampai di rumah, saat akan minum obatnya, perhatiannya teralih pada kamus miliknya karena letaknya berdampingan.

Ia membukanya dan berhneti di kata "Kerinduan".

Kilas Balik...




Seong Mo membaca apa arti kata "Kerinduan" -> "Sangat ingin bertemu seseorang atau merindukan seseorang".

Ibu kemudian menjelaskan, "Seong Mo-ya, jika tidak bisa menemui kamu, ibu akan sangat merindukan kamu. Ibu akan kesakitan dan bersedih. Sangat merindukan seseorang hingga terasa sakit. Itulah rasanya merindukan seseorang."

"Aku tidak bisa merasakan semua emosi itu."

"Jangan cemas. Kelak kamu akan merasakannya. Ibu tidak akan.. membiarkan kamu berubah menjadi monster seperti dia."

Kilas Balik Selesai..


Seong Mo menangis mengingat semua itu.



Ji Soo menemukan juniornya di parkiran. 

"Sepanjang pagi ini kamu menghindari aku. Rupanya kamu di sini."

"Hari ini kamu tampak  hebat di kamera. Tampak begitu cantik dalam pengarahan polisi sangatlah tidak adil."

"Sungguh?"

Si Junior mengangkat kedua tangannya tanda bersalah, "Detektif Eun, lupakan kesalahanku di masa lalu. Pak Komisaris Polisi mencemaskanmu. Aku hanya membagikan informasi yang kutahu kepadanya. Itu tidak akan pernah terulang."

"Kamu akan berhenti memata-mataiku?"

"Aku mempertimbangkan kemungkinan di masa depan. Daripada tank kuno, aku lebih suka senjata canggih."

"Bagus. Aku mempertimbangkan untuk memilihmu karena kamu berpengalaman."

"Apa? Pengalaman apa?"

"Memata-matai."



Ji Soo meminta juniornya itu untuk memata-matai Seong Mo, "Laporkan setiap gerakannya kepadaku. Paham?"

"Tugas itu tidak sulit, tapi kenapa memata-matai sekutu?"

"Kapan kamu memedulikan yang kamu mata-matai? Kamu ingin pukulan canggih?" Ji Soo mulai memukuli juniornya.

"Jika kamu ingin informasi soal Jaksa Kang, aku melihat dia menginterogasi seorang anggota geng."

"Anggota geng? Kang Geomsa menginterogasi dia secara diam-diam?"

"Ya."

"Soal apa?"

"Aku kurang tahu."

"Sial. Di mana dia sekarang?"



Jae In menulis dibuku catatannya saat senggang.

Lokasi: taman bermain.
Subjek: Yoon Jae In.
Konten:

Jae In membayangkan ciuman mereka dan tanpa sadar menulisnya. 

"Aku gila. Apa yang kutulis?" Jae In langsung menutup bukunya.


Tiba-tiba Jae In melihat kesekeliling, "Tunggu. Bagaimana jika An melihat ini juga? Aku ingin tahu apakah dia giat belajar."



Jae In pun ke perpustakaan untuk mencari An. Disana ia menemukan buku-buku yang ditinggal orangnya. 



Jae In terus berjalan mencari An dan akhirnya ia menemukan An. An duduk dipojokkan, sedang khusyuk membaca. Jae In tersenyum puas, lalu jalan keluar.


Di depan pintu, Jae In bicara sendiri, "Bagaimana jika kami benar-benar bergabung dalam Unit Jatanras bersama?"

Jae In tersenyum membayangkannya.



"100 Cara untuk Merayu dalam Kencan Pertama" adalah buku yang dibaca AN dengan khusyuk. 




Imo mengetuk pintu kamar mandi, "Jae In-ah, makan siang sudah siap. Keluarlah."

Jae In menjawab dari dalam, "Aku ada rencana, Bibi. Aku akan keluar."

Tiba-tiba terdengar suara kelontangan. Imo khawatir dong, ada apa?

Jae In keluar dengan merangkak, pinggangnya sakit. Imo tahu, habis jatuh ya? 

"Ya. Mandi sambil memejamkan mata tidaklah mudah."

"Kamu mandi sambil memejamkan mata? Kenapa?"

"Seandainya ada yang melihat."

"Siapa yang ingin melihatmu mandi?"

"Apa?"

"Selain itu, jika menurutmu seseorang akan melihat, kenapa kamu memejamkan matamu?"

"Hal ini rumit."



Lee An menjemput Jae In dengan minjem mobilnya Dae Bong. Saat Jae In akan masuk mobil, ia merasakan sakit pingganyanya lagi. 

"Kamu sakit?" Tanya An khawatir, Jae In hanya tersenyum.



Dalam perjalanan, Jae In menjelaskan semuanya. 

"Ini bukan lelucon. Semakin kamu hebat, aku harus semakin melindungi diriku dan aku tidak memikirkannya."

"Aku tidak bisa melihat sebanyak itu. Jangan cemas. Kamu bisa mandi dan ganti baju dengan mata terbuka."

"Kamu tidak bisa menipuku."

"Sudah kuduga itu akan gagal."

Jae In menanyakan tujuan mereka dan An hanya senyum saja.




An membawa Jae In ke toko kotak musik dan Jae In sangat menyukainya.

Jae In: Saat masih kecil, aku diberi kotak musik. Kotak musik itu hilang.

An: Benarkah? Kebetulan sekali. Kamu suka pilihanku?

Jae In mengangguk antusias.

An: Kamu bisa membuat kotak musik sesuai seleramu. Kita coba sekarang?

Jae In: Ya.



Jadi mereka duduk berdampingan untuk membuat kotak musik masing-masing. Saat mau ngambil lem, Jae In gak sadar kalau tangan mereka dekeeet banget dan saat sadar, ia langsung me


An menyadari itu dan langsung menarik tangannya. 

"Hei. Jangan menyontek. Cobalah berpikir kreatif."

"Kita duduk berdekatan hingga aku merasa terganggu."

"Kamu berusaha menyentuhku kapan pun ada kesempatan."

"Kita duduk berjauhan saja. Aku tidak bisa berkonsentrasi."


Jae In membawa peralatannya dan memilih duduk membelakangi An.

An menggoda Jae In, "Jae In si Mesum."



Selagi merangkai, Jae In menanyakan bagaimana kosah An bisa sahabatan sama Dae Bong. An agak terkejut mendengar pertanyaan dadakan itu dan ia hanya menjawab kalau semuanya kebetulan. 

"Pasti ada sesuatu. Kamu berusaha tidak menjawab." Kata Jae In. 

"Kamu sangat tanggap. Saat itu ada kecelakaan. Kecelakaan yang mengerikan."

"Apa yang terjadi?"

"Harus kukatakan, kami bersentuhan."

Kilas Balik...




An: Saat itu aku cukup terkenal sebagai Lee An yang legendaris dari SMP Honghak.




Dae Bong dipalak anak-anak nakal. Kebetulan An lewat saat ia dilepaskan. Dae Bong menyetop langkah An. An menyuruh Dae Bong minggir, tapi Dae Bong diem aja. 



Dae Bong tiba-tiba mencium bibir An sampai darah di bibirnya nempel ke bibir An. Setelahnya ia berlutut, "Maaf. Aku tahu seharusnya tidak mengganggumu. Pukullah aku sepuasmu. Aku siap untuk mati.

"Di mana mereka?" Tanya An. 

"Siapa?"

"Para bedebah yang bilang kamu boleh bergabung jika melakukan ini."



An menghabisi mereka semua tanpa terkecuali. 



Sebelum pergi, An memberi Dae Bong nasehat, "Sadarlah. Mereka meremehkan dan merisakmu karena kamu seperti ini."




"Tunggu. Bagaimana kamu tahu mereka menyuruhku?"

An gak mau menjawabnya, ia mau pergi, tapi Dae Bong refleks menahan tangannya. Mereka bersentuhan, jadi An bisa membaca masa lalu Dae Bong. An melihat kalau Dae Bong selalu dipukuli ayahnya. 

Kilas Balik Selesai..



An: Saat itulah aku kebetulan melihat rahasia Dae Bong. Dia menyentuhku dua kali, tapi aku tidak bisa memukuli dia.

Jae In: Rupanya dia juga mengalami kesulitan. Aku tidak menyangka karena dia selalu tampak ceria.

An: Bagaimanapun, melihat tidaklah penting. Dia menjadi kuat begitu fokus pada sesuatu. Dia selalu mengikutiku sebelum dia jatuh cinta kepada So Hyeon Dia terus menyentuhku karena aku tidak memukulnya.

Jae In: So Hyeon menyelamatkanmu dari obsesi Dae Bong. Lantas, bagaimana dia tahu soal kemampuanmu?

Kilas Balik..



Dae Bong ke sekolah diantar ayahnya. Saat Dae Bong turun, ayah memperingati, "Jika kali ini dikompas lagi, kamu harus bersiap untuk hal yang lebih buruk. Kamu paham?"

Dae Bong mengangguk, lalu keluar.





Dae Bong melihat An, ia segera menghampiri dan hal yang dilakukannya adalah menggenadeng An. Jelas An bisa membacanya.

Dae Bong: An. Kamu sudah sarapan? Ayo pergi ke kafetaria.

AN hanya menatap Dae Bong.



Kebetulan ada anak baseball lewat, An langsung menyambar tongkat yang mereka bawa.


An menghentikan laju mobil ayahnya Dae Bong dengan berdiri tepat di jalan. Ayah keluar marah-marah menyuruh An minggir. Tapi An mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi ke arah mobil ayahnya Dae Bong.

Kilas Balik Selesai..


Jae In: Jangan bilang kamu...

An: Ayolah. Aku tidak sepayah itu. Aku membuat mobil favoritnya.. menjadi rusak parah.

Jae In: Itu sudah cukup payah.

An: Aku hampir masuk lapas remaja karena itu.



Saat An keluar kantor polisi, Ji Soo mencegatnya dengan sekantong tahu. Jae In mendramatisir kalau ia bisa menghabiskan gajinya untuk membelikan An tahu.

An menerimanya sambil menghela nafas, "Apa yang terjadi? Noona bilang kali ini aku tidak akan bisa lolos."

"Untungnya, temanmu meyakinkan ayahnya."

"Temanku apanya. Aku tidak punya teman."


Saat itu Dae Bong memanggilnya dari kejauhan, juga dengan membawa tahu. Walaupun keadannya gak baik, Dae Bong menunjukkan senyum bahagianya.

Kilas Balik selesai..





An: Sudah jelas dia meyakinkan ayahnya. Dia tersenyum dengan wajah babak belur. Bisa dibilang, dia seperti teman sejati.

Jae In: Itu alasanmu memberi tahu dia soal kemampuanmu? Seperti yang kamu bayangkan, dia makin melekat setelah insiden itu.

An: Aku akhirnya ketahuan.

Jae In: Lagi pula, seharusnya tidak ada rahasia di antara kalian. Itu ciuman pertama kalian.

An: Sudah kukatakan, itu kecelakaan.

Jae In: Bagaimanapun, kemampuan mengerikanmu itu membantumu mendapat teman.

An: Kemampuan itu juga membantuku mendapatkan kekasih.

Jae In: Bisakah kamu memperingatkan aku sebelum mengatakan hal itu? Sulit kupercaya kamu begitu mudah mengatakan hal klise itu.

An: Lantas? Kita memang berpacaran mulai hari ini.

Jae In malu-malu.



An: Kalau kamu? Bagaimana kamu bisa berteman dengan So Hyeon? Kamu kabur dariku, tapi tetap berkomunikasi dengannya? Sepertinya dia tahu rahasiamu.

Jae In: Dia... Tepatnya, ayahnya membuat kesaksian penting bahwa ayahku adalah pelakunya. Tapi bukan berarti aku harus membenci dia.

An: Begitu rupanya.

Jae In: Seperti yang kamu bilang, hari ini aku harus bermain tanpa cemas. Kita akhiri saja obrolan ini.

An: Baiklah.
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search