Sinopsis He Is Psychometric Episode 9 Part 2

Sinopsis He Is Psychometric Episode 9 Part 2

Sumber: tvN


An membaca buku tantang "Criminal Psychology", ia menemukamn kata "Alexithymia". An membaca artinya, "Ketidakmampuan untuk menggambarkan emosi. Tidak ada kosakata untuk menggambarkan jiwa. Mereka tidak bersedih saat hewan peliharaan mati dan tidak merasa senang saat menerima hadiah ulang tahun. Tidak hanya kebahagiaan dan kesedihan, tapi kata-kata seperti rasa marah, penyesalan, keengganan, harapan, dan kesenangan tidak berarti bagi mereka."


Entah kenapa saat An membaca itu backgroundnya adalah Seong Mo.



An mengingat saat ia melakukan psikometri pada buku kamus milik Seong Mo. Ingat saat ibu Seong Mo menjelaskan apa itu sakit.

Seong Mo menginterogasi seseorang, "Apa? Ada lagi pertanyaan untukku?" Tanya pria itu. 

"Tepat sebelum kematiannya, Kim Gab Yong menelepon seseorang. Kami tidak mendapatkan identitas karena ini ponsel sekali pakai. Tapi untungnya, nomor itu tercetak dengan jelas di dokumenmu. Benar, bukan? Itu nomor yang kamu pakai."

"Geomsanim. Nomor itu memang milikku dan aku menerima telepon Gab Yong, tapi aku tidak membunuh para wanita itu. Aku bersumpah."

"Aku tidak ingin tahu soal mayat di koper itu. Aku ingin tahu ucapan Gab Yong kepadamu sebelum dia mati."

Kilas Balik...




Saat perjalanan untuk menemui Seong Mo, ban mobil Kim-ssi bocor di tengah jalan, lalu ada pria mendekat dengan membawa palu dan pisau.

Kim-ssi cepat masuk ke dalam mobilnya lagi dan mengunci pintu dari dalam. Ia menghubungi seseorang.


"Cepat pergi ke Sanatorium Pureum di Provinsi Gangwon. Cari wanita bernama Kim Song Hee dan amankan dia. Lakukan saja perintahku!"



Tepat setelah menutup telfon, orang misterius itu mendekat.

Kilas Balik Selesai...



Pria: Gab Yong Hyeong mendadak memintaku untuk membawa seorang wanita ke tempat aman. Aku hanya menerima teleponnya.

Seong Mo: Ke mana kamu membawanya?

Pria: Saat aku ke sana, dia sudah pergi. Aku bahkan tidak sempat melihat wajahnya.

Seong Mo: Dia menghilang? Apa identitas terakhir yang dia pakai?

Pria: Kim Song Hee. Identitas Kim Song Hee.




Kim Song Hee adalah pasien yang dititipkan Kim-ssi pada perawat karenaia harus menemui Seong Mo. Juga adalah pasien yang waktu itu diperlihatkan sengan merajut.  



Di dalam sebuah Kelas Seni Kawat,  pria misterius itu sedang membuat karya, sebuah burung yang dirantai dan ia menempatkanya dalam kandang.


Seong Mo turun dari mobil, ia tahu sedang diikuti oleh seseorang.



Seong Mo bersembunyi untuk menangkap orang itu, tapi orang itu ternyata adalah Lee An.

"Kamu... Sedang apa di sini?" Heran Seong Mo.

"Astaga."



Tiba-tiba An menginjak kaki Seong Mo dengan keras. Seong Mo mengerang kesakitan. Tapi An malah senang kakaknya kesakitan. An bahkan memeluknya. 

"Syukurlah apa maksudmu? Aku bilang sakit." Heran Seong Mo. 

"Benarkah terasa sakit?"

"Astaga, kakiku."

"Maaf."




Kayaknya mereka kepergok lagi. Saat masuk rumah, An membicarakan orang yang mengira mereka adalah pasangan.

An: Apa kita harus memasang poster bertuliskan kita bersaudara?

Seong Mo menyuruh An bicara, "Kenapa kamu mendadak menyerangku?"

"Aku hanya ingin memastikan apa Hyeong.. mengidap alexithymia."

"Apa?"


Lee An menunjukkan kamus Seong Mo, "Maksudku, jika benar begitu, kenapa Hyeong mempelajari kata seperti sakit, menderita, dan cinta? Itu membuatku bingung."

"Jangan bilang kamu..."

"Aku mendapat penglihatan Kakak belajar berdua bersama ibumu. Ibumu muda dan cantik."


Seong Mo melihat catatan ibunya di sampul buku, "Untuk Seong Mo tersayang, Dari Ibu".



An: Pasti menyenangkan jika aku bisa merekam yang kulihat atau setidaknya memotretnya. Hyeong.. merindukan dia, bukan? Ibu.

Seong Mo: Aku iri pada kemampuanmu untuk pertama kali.

Lee An tersenyum.



Seong Mo, "Sepertinya pelatihanmu bersama Opsir Yoon berhasil. Aku tidak menyangka kamu akan membacaku lewat buku ini. Itu tidak terduga."

"Hyeong bilang aku selalu tidak terduga. Dia mengajariku satu hal dan aku tahu sepuluh hal lebih banyak."

"Kamu akan belajar banyak hal darinya. Giatlah berlatih. Pastikan kamu mengantarnya pulang."

"Tidak perlu. Aku bertemu dia tepat di sebelah kantornya setiap hari."

"Kamu tidak tahu bahwa kekasih bertanggung jawab atas kekasihnya?"

"Dia bukan kekasihku. Hyeong membuatku malu."

An menggunakan kesempatan ini untuk tidur bareng mumpung kekuatannya bertambah. Mandi bersama juga boleh.

"Kamu gila, ya? Hentikan, menjijikkan."

"Sebentar saja."

"Menjijikkan."


Saat mandi, Seong Mo memikirkan kata-kata Lee An, "Aku ingin tahu apakah Hyeong mengidap alexitymia. Aku mendapat penglihatan Kakak belajar berdua bersama ibumu."



Tepat setelah selesai mandi, An mengetuk pintu beruntun. Seong Mo membuka pintu dengan kesal, "Aku sudah bilang tidak mau tidur bersamamu."

An menunjukkan koyo, "Aku akan memasang ini di atas kaki Hyeong. Duduklah."

"Sekarang kamu ingin menebus kesalahanmu?"

An mendorong Seong Mo agar duduk.



Saat akan memasang koyo, An melihat bekas luka di kaki Seong Mo, "Rasanya pasti sangat sakit. Lukanya cukup parah. Luka ini.. belum hilang sepenuhnya."

"Luka ini mungkin akan selalu membekas. Jika kamu terlambat mengobati luka, lukanya pasti membekas."

"Konon bekas luka adalah bukti kita mengatasi luka. Kenapa bekas luka ini.. tetap tampak menyakitkan?"

"Memang sakit. Masih terasa sakit karena ingatan jelas tentang waktu itu."




An memasang koyo di bekas luka injakannya tadi.

An: Jae In bilang, dia anak ayam yang melewatkan waktu untuk keluar sendiri dari telur. Dan dia ingin aku membantunya keluar dari sana. Apa mungkin Hyeong merasakan hal yang sama?

Seong Mo: Mungkin.

An: Aku tidak tahu siapa orang yang menikamku atau apa yang terjadi pada Hyeong, tapi jangan lupakan ucapan ibumu.




Ucapan Ibu yang dimaksud An adalah saat ibu melarang An membunuh, "Tidak boleh. Maka, ibu akan sangat bersedih."

An berjanji akan mencari orang itu apa pun caranya. Ia meminta Seong Mo menunggu. 

"Lihatlah dirimu. Dahulu kamu sangat cengeng jika melihat hal-hal aneh. Sekarang kamu sudah dewasa. Kamu sudah bisa membuatku tenang."


Detektif Seniornya Jae In yang aku lupa namanya menerima telfon dari "Pengincar Uang", istrinya.

"Kenapa kamu memintaku mentransfer uang lagi? Aku bukan bank atau ATM. Kamu bilang tidak akan meneleponku begitu kita meneken surat cerai. Aku sudah mengirimi biaya sekolah dan hidup setiap bulan. Aku paham kamu menganggapku tiket makan, tapi bukankah setidaknya kamu harus menanyakan kabarku sebelum meminta uang, dasar wanita tidak tahu malu? Terserah. Sudah, ya."


Imo yang habis buang sampah gak sengaja mendengar perkataan Detektif itu. 

"Kamu belum pulang kerja?" Imo mencoba basa basi, tapi Detektif hanya mengangguk hormat lalu berjalan masuk.


Imo bicara sendiri, "Astaga. Dia berusaha menunjukkan keadaan menyedihkannya?"


Detektif menghela nafas melihat makanan di hadapannya, cuma ada cup ramyeon dan minuman kaleng.

"Aku sangat ingin makanan buatan rumah. Sulit kupercaya."



Kemudian Imo masuk membawa makanan. Sambil membukanya di depan detektif, ia menjelaskan.  

"Seharusnya Jae In bilang jika dia keluar hari ini. Aku sudah membuat makan malam, tapi dia keluar. Jangan salah paham. Aku hanya tidak suka membiarkan makanan jadi dingin. Makanlah bersamaku."

"Gestur kebaikan aneh apa ini? Aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku sangat benci dikasihani."

"Aku juga tahu perasaanmu karena pernah mengalaminya. Jika kamu ingin tampak menyedihkan, lakukan di rumah seperti aku. Jangan kemari dan makan sendirian. Aku tidak bisa mengabaikannya."

Imo bahkan membawakan sendok dan sumpit untuk detektif. 



Detektif hanya diam saja. Imo pun berkata, "Ayolah. Makanlah selagi hangat."

"Makanlah selagi hangat". Aku sangat senang mendengarnya." Kata Detektif lalu makan.



Tiba-tiba Dae Bong datang, "An tidak ada di perpustakaan. Dia sudah pergi?"

Detektif sinis, "Ini tempat pertemuan bagimu? Kamu tidak lihat tanda yang bertuliskan "tutup"? Kamu butuh kamus?"

"Apa So Hyeon masih di sini? Aku melihat mobilnya saat kemari." AKhirnya Dae Bong mengatakan maksud dan tujuannya.

Imo juga heran heran, kenapa So Hyeon masih ada disana. Lalu terdengar suara orang marah, "Kami akan melaporkan ini ke polisi. Mari memeriksa CCTV!"




Ternyata yang marah itu adalah orang tua muridnya So Hyeon. So Hyeon ngeyel, "Bu, sudah kubilang hari ini kepalanya terbentur sudut meja saat melompat."

"Kamu menyebut putriku pembohong? Putriku tidak pernah naik meja. Dia bilang kamu memukulnya."



So Hyeon duduk, ia mencoba bicara dengan Yoon Ju, "Yoon Ju, kamu mengatakan ini karena ibumu akan memarahimu jika kamu mengaku naik meja?"

Tapi Ibunya Yoon Ju malah mendorong So Hyeon dan menyebabkan tangan So Hyeon terkilir sepertinya. 


Dae Bong datang tepat saat itu, ia khawatir. 

 
So Hyeon bangun dan memjit pergelangan tangannya. Dae Bong tanya, apa pergelangan tangan So Hyeon baik-baik saja?

"Kenapa kamu kemari lagi?"

"Soal itu tidak penting."


Imo menyarankan untuk menghubungi Jae In. Tapi tidak perlu, Detektif datang dengan membawa rekaman CCTV kelas.


Mereka melihat rekaman CCTV-nya, sayangnya kejadiannya di titik buta.



Mereka melihat rekaman CCTV-nya, sayangnya kejadiannya di titik buta.




Ibu: Sudah kuduga. Kamu tidak mungkin memukulnya di depan kamera. Kamu melakukannya setelah tahu letak titik butanya. Kamu penjahat kambuhan, bukan? Begitu mendengar soal kamu, aku tahu kamu akan bermasalah. Ibu tunggal? Betapa bebasnya perilakumu untuk...

Dae Bong marah, "Ahjumma!!!! Apa hubungannya hal itu dengan insiden ini?"

"Semuanya. Satu detail kecil menunjukkan tabiat orang. Aku akan membuatmu ditangkap atas penyerangan."



Detektif meminta semuanya melihay videonya lagi, "Sebelum Bu Kim berlari ke area titik gelap, anak-anak melihat ke arah sana sambil terkejut. Dari firasatku sebagai veteran, maksudku pengalamanku sebagai veteran, Bu Kim berlari setelah insiden itu terjadi."

Ibu: Kamu hanya berspekulasi.

Dae Bong: Anda juga berspekulasi.

Ibu: Kenapa aku berspekulasi jika putriku mengatakan kejadiannya?


Detektif menggebrak meja, ia belum selesai. Setelah diperhatikan lagi melalui cermin, terlihat Yoon Ju memang naik ke meja. 

Detektif: Kamu tidak bisa melihat semua gerakannya, tapi bisa terlihat putrimu terpeleset dan terjatuh dari meja. Satu detail kecil, menyelesaikan semuanya, bukan?


Yoon Ju mulai takut karena semuanya terungkap. Ibunya marah. Yoon Ju meminta maaf dan berjanji tidak akan naik meja lagi. 

"Diam dan ikuti ibu!" Ibu menarik Yoon Ju keluar.





Dae Bong mengikutinya dan menghentikannya. 

"Apa lagi? Permintaan maaf?" Tanya Ahjumma sinis, lalu ia minta maaf sama So Hyeon dengan sangat tidak tulus, "Sepertinya aku minta maaf."

Semuanya diam saja. Yoon Ju merengek memanggil ibunya.

Dae Bong: Anda bisa minta maaf dengan benar di lain waktu. Jangan memukul putri Anda. Aku pernah dipukuli oleh banyak orang, tapi dipukul oleh orang tuaku terasa paling sakit.

Ahjumma: Cara mendidik dia itu urusanku.

Dan Ahjumma tetap kasar saat mengajak putrinya pergi. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis He Is Psychometric Episode 9 Part 2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: