Sinopsis He Is Psychometric Episode 6 Part 2

Sinopsis He Is Psychometric Episode 6 Part 2

Sumber: tvN




Lee An sedang ganti baju karena udah boleh keluar, tiba-tiba ada yang membuka tirainya, Si Dae Bong.

An kesal karena Dae Bong menyentuh tirainya dengan tangan kotor Dae Bong. 

"Kini Kau bisa membacaku tanpa menyentuhku? Baiklah, aku akan cuci tangan." Kata Dae Bong.


An menyuruh Dae Bong minggir, kemudian ia menyentuh tirainya, tapi bayangan Jae In sudah gak terlihat. Kesal, An geloyor keluar. Dae Bong bingung karena An meributkan tirai yang menurutnya biasa itu.



Mereka akan membayar tagihan RS, tapi kata petugasnya sudah dibayar lunas. 

"Apa kakakku mampir?" Tanya An.

Si petugas langsung bersikap manis, "Omo! Dia kakakmu?"



Dae Bong: Reaksi yang khas. Dia pasti mampir. Hidupmu sangat bahagia. Dia membayari biaya hidupmu dan aku meminjamimu mobilku. Apa yang akan Kau lakukan dengan uang asuransi orang tuamu?

An: Bukan itu masalahnya. Aku tidak bisa bertemu kakakku selama aku di sini.

Dae Bong: Aku tahu karena sudah lama tidak bertemu mobilku. Ayo cepat pergi.


Seneng banget ketemu mobilnya Dae Bong langsung memeluk, "Ya, Oppa tahu. Oppa juga merindukanmu. Berandal itu memperlakukanmu dengan buruk? Kau baik-baik saja? amu sudah aman, ada Oppa."



An sudah masuk duluan dan menyuruh Dae Bong segera masuk. Tanpa berpikir, Dae Bong langsung masuk dan memasang sabuk pengaman, tapi kemudian ia bar sadar ada yang aneh. 

"Ini mobilku." Kata Dae Bong.

"Ini sungguh wajar."



Jae In membaca banyak buku di perpustakaan. Ia juga membaca buku catatan pemberian Seong Mo.

Jae In tertarik dengan satu judul "An memakai kemampuannya untuk membantu anak baru mencari rumahnya".



Narasi Seong Mo remaja, "25 Februari 2008. Seorang anak laki-laki kehilangan orang tuanya dan masuk panti asuhan. Dia bilang kehilangan orang tuanya di taman hiburan."




"An memakai kemampuannya untuk membantu anak itu mencari rumahnya. Tapi ternyata.. orang tuanya meninggalkan dia, bukan kehilangan dia."


"Polisi menemukan orang tuanya, tapi mereka tidak mau menjemput anak itu."



An mendekati anak itu setelah kembali ke panti, tapi anak itu langsung menepis tangannya saat mencoba menyentuhnya.




Seong Mo melihat An menangis menatap tangannya. 

"Sepertinya dia terbebani untuk menghadapi fakta yang dia lihat dengan kekuatannya. Dunia yang dia lihat melalui kekuatannya penuh kebohongan. Bahkan cinta, kebahagiaan, dan kesedihan. Semua itu kebohongan."



Jae In terus membaca, "An tidak suka tempat ramai. Tapi kami tetap pergi ke taman memakai baju tebal. Karena dia merasa tidak nyaman di panti asuhan. Tempat dia bisa membaca banyak orang secara acak."

Tapi gak hanya membaca, ia juga berpikir.



An dan Dae Bong sampai di depan Kantir Jae In. An turun lalu melemparkan kunci mobil pada Dae Bong. 

"Kenapa kita kemari?" Tanya Dae Bong.

"Karena aku ada urusan di sini."

"Di mana tempat ini?"

"Sampai jumpa."

Dae Bong baru ngeh kalau disana itu tempat kerjanya Jae In.

"Woah.. Hal pertama yang Kau lakukan setelah pulang yaitu menemui Jae In? Menyedihkan sekali."

An hanya tersenyum.





Lalu mereka mendengar suara So Hyeon yang sedang mengajak anak-anak masuk. Dae Bong langsung keluar menatap So Hyeon.

An ketawa, "Sepertinya Kau juga ada urusan di sini. Sampai jumpa."

An masuk duluan. 



An masuk kantor Jae In dengan bergaya. Jae In menyambutnya biasa aja.

"Selamat datang. Kondisimu sudah membaik?" Tanya Jae In.

"Aku sudah baik-baik saja."

"Kemari dan makanlah ini."



An terharu karena Jae In membuatkan kue beras untuknya. 




An makan dengan senang hati, tapi baru satu gigit, ia sudah gak kuat dengan rasanya.

"Apa yang Kau masukkan ke dalamnya?" Tanya An dengan mulut penuh.

"Mustar, dan Kau tidak bisa membacanya."

"Kue beras mustar, gagal." Jae In menulis dalam catatannya.



AN mau minum air, Jae In menyodorkan minuman yang sudah disiapkannya. An menyedotnya tapi langsung menyemburkannya. Jae In sudah tahu jadi ia siap-siap menutupi wajahnya dengan map.

"Apa ini? Sari ikan sand lance?" Tanya An dan langsung batuk-batuk.

"Sari ikan sand lance, gagal. Ini mengecewakan."

"Apa yang Kau inginkan dariku? Kau ingin aku membaca orang Afrika memetik biji kopi jika aku menyentuh ini?"

"Ikuti aku."

"Ke mana?!"

Jae In gak menjawabnya, hanya langsung bangkit.


Jae In menjelaskan, "Setelah memikirkannya dengan matang, aku menarik satu kesimpulan."

"Kesimpulan apa?"

"Pernah mendengar Peraturan 10.000 jam? Untuk menjadi pakar dalam satu bidang, Kau harus memberi 10.000 jam upaya. Mungkin itu untuk cintamu."




Mereka melewati ruang TK dimana ada Dae Bong di luar yang mengintip So Hyeon mengajar.


Di sebelah ruang TK ada ruangan Imo mengajar menyanyi.


Jae In melanjutkan, "Mungkin untuk pekerjaanmu. Pokoknya, 10.000 jam upaya bisa menjadikanmu pakar dalam bidang yang sesuai."

"10.000 jam?" An mulai menghitung dengan tangannya.

"Butuh 10 tahun untuk tiga jam per hari, 5 tahun untuk 5 jam per hari, dan 3 tahun untuk 10 jam per hari."




Jae In: Anggaplah Kau memberi 24 jam per hari hanya untuk tujuanmu. Masih butuh 416.66667 hari.

An: Membulatkannya menjadi 417 hari membuatmu tidak begitu pintar?

Jae In: Kapan Kau mendapatkan kemampuanmu?

An: Usia delapan tahun.

Jae In: Andai berusaha memperbaiki kemampuanmu minimal tiga jam per hari, Kau pasti sudah menjadi pakar. Kau malah membuang-buang waktumu untuk menjauhkannya dari hidupmu.

An: Tetap saja, aku melakukan percobaan dan latihan. Aku tidak sekadar membuang-buang waktu.

Jae In: Itulah yang kumaksud. Dengan mempertimbangkan semua itu, Kau harus belajar sekuat tenaga selama minimal tiga bulan.

An: Belajar?

An: Jadi, di mana tempat ini?


Mereka masuk ke perpustakaan.

An: Seakan-akan belajar adalah hal termudah di dunia.

Jae In: Aku tidak menyuruhmu belajar kalkulus di sini.

An: Apa itu?



Jae In memberi An buku-buku.

Jae In: Aku akan menugaskan sepuluh buku per hari. Bacalah buku-buku ini dengan saksama setiap hari hingga aku pulang kerja dan catat pendapatmu. Tidak harus panjang. Pastikan Kau melakukannya.

An: Kupikir kita melakukan segala hal untuk melatih kemampuanku.

Jae In: Inilah hal pertamanya. Baca buku-buku ini atau Kau harus menanggung akibatnya.

An: Aku benci menyentuh buku bekas, tapi Kau menyuruhku membacanya per halaman?

Jae In: Aku menyuruhmu karena tahu Kau membencinya.


An: Aku juga membaca banyak buku detektif.

Jae In: Seperti komik "Detektif Conan" atau "Detektif Kindaichi"?

An: Kau pintar.

Jae In: Kasus semacam itu tidak akan terjadi di negeri kita.

An: Aku juga membaca novel detektif.

Jae In: Anggap saja "Sherlock Holmes", novel-novel Edgar Allan Poe, dan drama detektif seperti "CSI" merupakan subjek pilihan.



Jae In memberikan buku lagi, katanya itu subjek wajib.

"Ini bukan pendekatan yang tepat. Ini menyentuh topik umum sedangkan kemapuanku supranatural."

"Benar. Kau psikometris. Kau membaca ingatan orang dengan menyentuh mereka. Begitu juga untuk benda."

"Ya, itulah kemampuanku."

"Itulah sebabnya kurasa Kau harus belajar lebih banyak. Makin banyak pengetahuan, makin banyak yang Kau lihat. Kau kekurangan pengetahuan dasar untuk mengartikan pembacaanmu."

"Itu caramu mengatakan aku bodoh?"

"Itulah maksudku. Jika makin berpengetahuan dan pintar, Kau akan melihat lebih memahami kesulitan orang lain lebih baik."

"Kau seperti buku pelajaran."



Jae In tiba-tibe membahas mengenai wanita yang ditemukan di koper.

"Kau sudah memikirkan kira-kira siapa dia? Bagaimana dengan keluarganya? Kau sudah memikirkan momen dia meninggal atau ketakutan yang dia rasakan? Mayat itu... Maksudku. wanita itu. Dia bukan alat agar Kau bisa menguji kemampuanmu."


An hanya bisa menghela nafas memandangi buku-buku itu, dan ia kembali mengikuti Jae In.



Dr Hong menatap kantung jenazah. Di labelnya tertulis, "Waktu Kematian, 7 Desember 2018. Nama, Kang Hee Sook".



Lalu datanglah Ji Soo. 

Dr Hong: Yang benar saja. Kau kemari lagi?

Ji Soo gak menjawabnya. Dr Hong mulai membicarakan mayat itu.

"Sulit kupercaya. Kupikir kasus ini akan selesai dengan sendirinya begitu aku mengidentifikasi korbannya. Tidak ada yang mudah, bukan? Kau sudah menemukan Kang Hee Sook yang asli?"

"Tidak. Tapi ada satu orang dari panti wreda yang ingat dia. Mereka sedang menyusun sketsa. Selain itu, mulai hari ini, kasus ini akan dibuka untuk umum."

"Bagus. Lakukan apa pun untuk menemukan keluarganya. Sulit kupercaya tidak ada yang mencari dia. Aku merasa kasihan."



"Kenapa hari ini Kau sangat sentimental?" Ji Soo mendekat dan mengelus pundak Dr Hong, "Jangan cemas. Aku akan berada di pemakamanmu selama tiga hari berturut-turut."

"Kita mati bukan berdasarkan usia. Kau bisa mati sebelum aku."

"Terobsesi pada hidup itu menyedihkan."

"Baiklah, aku akan mati dahulu."

"Semoga Kau berumur panjang dan makmur. Jangan lupa menghadiri pemakamanku."

"Bagaimana kabarnya?"

"An? Hari ini dia pulang dari rumah sakit. Kenapa?"

"Mungkinkah penusukan itu memengaruhi kemampuannya?"

"Kenapa Kau mendadak tertarik? Bukankah Kau melarangku mengajaknya kemari lagi?"

"Lantas? Pokoknya, hari ini aku akan pulang lebih awal. Aku akan mengambil cuti soreku."

"Silakan."



Ji Soo mendapatkan tatapan aneh karena jawabannya. Lalu ia bilang kalau ia tidak sempat bermain dengan Dr Hong. 

"Aku punya teman lainnya. Aku akan mengambil cuti sore yang artinya ruangan autopsi akan kosong." Jelas Dr Hong penuh penekanan.




Ji Soo baru paham apa maksud Dr Hong, ia pun tersenyum lebar.

"Seandainya Kau harus kemari, pakailah ini. Kau tahu cara kerja kunci kartu, bukan?" Tanya Dr Hong lalu sambil memberikan kartu ID-nya.

Dr Hong pun pamit.

Ji Soo: Inilah sebabnya aku menyukaimu.


An melakukan peregangan karena sudah lama duduk.



Seorang wanita akan keluar tapi alaramnya bunyi. Pemilik perpustakaan pun meminta wanita itu membiarkannya menggeledah tas dan benar, ada buku perpus di tas wanita itu.

"Kenapa buku ini ada di tasku?" Heran si wanita.



Pemilik kesal karena wanita itu malah menelepon polisi dahulu padahal statusnya tertuduh pencuri. 

"Bulan lalu kami memergoki dia mencuri, tapi kami membiarkannya karena berpikir itu kesalahan. Tapi dia..." Pemilik menjelaskan pada Jae In. 

"Seseorang pasti menaruh buku-buku itu di tasku." Bela wanita itu.

"Kenapa dia selalu merasa dicurangi? Ini bukan kali pertamanya. Dia antara haus perhatian atau kleptomania."



Wanita itu tetap bersikukuh kalau ia tidak mencuri. AN berbisik pada Jae In, "Akankah ini sukses? Haruskah aku membantunya seperti tempo hari?"

"Terserah."



Jae In bertanya dimana wanita itu duduk. Wanita itu menunjukkan tempatnya dan dimana ia meletakkan tasnya.

Pemilik dan Jae In mendekat ke sana.

An diam-diam menyentuh buku yang dibawa pemilik. 



An melihat seorang wanita dengan cat kuku warna merah mengambil buku itu. Ia melihat kuku si wanita, tapi dia gak memakai cat kuku. An tersenyum. 


Jae In bertanya pada wanita itu, "Anda terkadang meninggalkan tasmu?"

"Aku sering meninggalkannya untuk makan atau bertelepon."


Lee An buka mulut, "Permisi. Aku melihat orang yang menaruh buku ini di tas wanita itu. Pelakunya adalah.. orang yang berkuku merah."



Maka Jae In pun memeriksa kuku semua orang yang ada disana.




Kemudian ia mendekati An dan wanita itu setelah selesai. Jae In mengatakan tidak ada yang berkuku merah diantara semuanya. 

An: Aneh sekali. Aku tahu yang kulihat.

Wanita: Mungkin pelakunya sudah kabur.

Jae In: Aku meragukannya. Jika seseorang sengaja menaruh buku ini di tasmu, dia pasti ingin melihat kasus ini terungkap. Ingin melihat kejahatan yang dia lakukan juga merupakan kejahatan psikologi. 



Seorang pengunjung kesal, "Sampai kapan kalian akan melanjutkan ini? Aku tidak bisa belajar karena kalian bertiga. Menyebalkan."




Wanita itu berdiri dengan kesal, tapi saat melewati Jae In, Jae In melihat ada kuku merah tertelpel di celana wanita tadi.

"Tunggu. Bukankah itu kuku di celanamu?" Tanya Jae In. 

"Apa?"

Wanita itu memeriksanya dan benar saja, kuku palsu warna merah memang melekat di celananya. Ia pun panik.

"Astaga. Apa ini? Astaga. Bukan aku pelakunya."

An: Aku meragukannya. Sudah jelas ini bukti nyata.



AN menyentuh kuku itu dan melihat ada seseorang yang menjatuhkannya. Jadi pelakunya bukan wanita itu.


An: Sial. Ada yang menjatuhkannya?



Jae In: Bukan dia pelakunya, bukan?

An: Bagaimana Kau bisa tahu?


Jae In meminta kuku itu dari An. An memberikannya tanpa menyentuh Jae In.

Jae In: Ada orang yang selama ini kucurigai.




Jae In lalu mendekati orang yang dicurigainya, "Permisi, bisakah kita bicara?"

"Aku?"

"Saat kau menunjukkan kukumu, aku melihat salah satunya agak robek. Mungkin itu karena Kau bergegas melepas kuku palsumu."

"Ah.. Aku punya kebiasaan menggigiti kukuku."

"Apa Kau tahu DNA juga bisa diambil dari kuku? Kukumu robek karena melepas ini dan aku juga melihat darah. Haruskah aku meneleponmu setelah mendapatkan hasil tes DNA atau Kau ingin minta maaf di sini sekarang juga?"




Wanita tertuduh kesal, "Hei, Kau pelakunya?" Lalu menjelaskan pada Jae In, "Kau tahu dia paranoid? Dia memberiku catatan bahwa aku harus bernapas lebih tenang, memelototiku karena aku menggoyangkan kakiku, dan meributkan suara penaku."




Mereka menyelesaikan masalahnya. Wanita yang berkacamata meminta maaf berkali-kali.

Jae In dan An melihatnya dari jauh.

Jae In: Kau seperti magnet kejahatan.

An: Andai itu bisa jadi kasus yang lebih besar.




Wanita tertuduh mendekati Jae In dan An. ia memberikan dua jempol untuk Jae In.

Lalu tiba-tiba menyentuh tangan An, "Oppa juga, terima kasih."



An otomatis melihat semuanya dan wanita itu bener-bener gak bisa diem saat di perpustakaan, ia ribut banget makanya wanita berkacamata tadi kesal.


An: Yang benar saja. Menyebalkan. Aku tidak akan pernah seperti itu di perpustakaan.




An ketiduran disana dan banyak tempelan di bajunya. Intinya menyuruhnya fokus belajar bukannya tidur.

An terbangun oleh dering ponselnya. Ia langsung lari keluar untuk mengangkatnya dan tempelannya jatuh satu per satu.




Itu panggilan dari Ji Soo.

"Di mana Kau? Perpustakaan? Bersama Opsir Yoon? Ah.. Mempraktikkan psikometri tidak bisa dipelajari dari buku."

"Benar. Pokoknya, Kak Seong Mo menugasi dia untuk melatih kemampuanku."

"Apa tujuan Jaksa Kang?"

"Siapa yang tahu?"

"Pokoknya, kita harus bicara langsung."

"Nanti? Di mana?"

"Ruang autopsi."

An langsung sumringah, "Aku selalu senggang untuk ada di sana."

"Sampai jumpa."

"Baiklah."


An kegirangan, ia teriak Yes sambil mendongak, itu membuat tempelan di rambutnya jatuh kebelakang. An menyadari itu dan menangkapnya. 


An melihat bahwa Jae In lah yang menuslis itu.

"Kau tidak akan belajar?" Gumam An.



An lalu membuka pelan-pelan kepalan tangannya dan ia melihat dengan benar tadi, tulisan Jae In maksudnya. ia pun gembira. 

"Aku benar. Hore! Aku akan melakukannya. Aku akan belajar."




Ternyata Jae In ada disana dan menyaksikan itu. Ia memberi isyarat kalau ia terus mengawasi An. 

An sih senyum-senyum aja.


Ji Soo bicara sendiri, "Opsir Yoon mengajari An untuk menjadi psikometris? Kurasa mereka berdua memiliki hubungan. Apa mereka bertiga? Termasuk Jaksa Kang?"



Dan saat berhenti di lampu merah, Ji Soo melihat Seong Mo ada di layar besar.

Tulisan di layar, "Penyelidikan mayat di koper terbuka untuk umum".

Ji Soo terkejut, "Sedang apa dia di situ?"

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis He Is Psychometric Episode 6 Part 2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: