Sinopsis He Is Psychometric Episode 6 Part 1

Sinopsis He Is Psychometric Episode 6 Part 1

Sumber: tvN



.:3 Desember 2005,  Pukul 18.25:.

Setelah ketiga Ahjumma pergi, Seong Mo mengintip lubang pintu lagi dan melihat pria itu di apartemen seberang.



Pria itu berbalik dengan membawa koper.


Seong Mo terkejut, makanya ia menutup pintunya kenceng dan mengunci semua kuncinya.


Ada replika sarang burung di rumahnya Seong Mo.



Ibunya Seong Mo baru berdiri setelah Seong Mo mengunci pintu.

"Bu, dia datang." Kata Seong Mo.

"Dia menemukan kita?"

"Berjanjilah Ibu akan  bertindak sesuai perintahku. Ibu harus bertindak sesuai perintahku. Paham?"

Tangan ibunya Seong Mo bergetar.



Si Pria sampai di Apartemen Seong Mo, tapi pintu rumahnya dalam keadaan kebuka sedikit. Pria itu bergegas masuk karena merasa aneh.



Eh.. Di kopernya ada jari manusia nyembul, Sereeeeem.



Pria itu menyalakan lampu tapi gak ada orang, rumah pun dalam keadaan berantakan.


Kemudian pria itu membuka tas dan mengambil pisau.



.:He is Psychometric, Episode 6:.

Seong Mo sendirian di jembatan penyebrangan, menatap kosong. Ia memikirkan Pria yang ia lihat sedang mengawasi mobilnya dulu. Lalu kata-kata An soal pria itu.



Seong Mo ingat kata ibunya saat ia memberitahu kalau pria utu datang. Saat itu ibunya berkata, "Mungkin ibu harus mati agar ini berakhir."

Seong Mo ingat kata-kata An pada ibunya kalau An akan melindunginya mulai sekarang dan An ketusuk sekarang.



Kembali saat pria itu melangkah di koridor rumah sakit menuju kamar An. Ia akan membukanya tapi seperti ada seseorang karena ia menatap ke kiri sebelum menyentuh pintu.



Pintu kamar An kebuka, An menyadarinya, ia berdiri di dekat tirai lalu menggulung orang yang mendekat, tapi kemudian perutnya nyeri.

An: Kenapa lama sekali? Aku sudah lama menunggumu.

Suara Jae In: Bisakah Kau melepasku?




An terkejut karena Jae In ternyata yang datang, ia langsung melepaskan pegangannya ke tirai. Jae In berputar untuk melepaskan diri, menyebabkan ia akan jatuh. Untung An menopangnya dengan punggung.

Jae In: Jatuh ke lantai pasti tidak begitu memalukan.

An: Aku melatih gerakan itu selama bertahun-tahun. Aku bisa melakukan banyak gerakan tanpa memegang tanganmu.

Jae In: Tunggu. Kau baik-baik saja? Dae Bong memberitahuku bahwa kau ditusuk.




Kemudian mereka duduk. An berkata kalau ia bisa mengatasi ini. Mungkin Jae In tidak tahu, tapi ia pernah mengalami yang lebih buruk.

"Konon kebodohan membuat orang berani. Aku cemas kualitasku akan menurun ke tingkatmu."

"Menurun apa?"

"Aku cemas kau akan lebih cepat. Bagaimana jika melatihmu membuatku ikut bodoh?"

"Kau mau melatihku?"

"Ya. Aku kemari untuk mengatakan itu. Baiklah, kalau begitu. Mari melakukan ini."




Kali ini Jae In yang mengulurkan tangan.

Jae In: Soal kasus ayahku, saat kurasa kau sudah mencapai tingkat tertentu, boleh aku meminta bantuanmu?

An: Baiklah. Mari melakukannya.



An membungkus tangannya dengan lengan baju sebelum menjabat balik tangan Jae In yang juga terbungkus, jadi kulit mereka gak bersentuhan.


An membungkus tangannya dengan lengan baju sebelum menjabat balik tangan Jae In yang juga terbungkus, jadi kulit mereka gak bersentuhan.



Pria itu masih ada di depan ruangan An dan masih terus mengawasi.

Seong Mo kembali. Ji Soo mengatakan kalau mereka sudah siap rapat.

"Okee. Ayo." Jawab Seong Mo dengan banmal (santai).

Ji Soo keheranan.



Dalam Rapat, Seong Mo menyampaikan, "Kita akan menyelidiki dua Kang Hee Sook. Pertama, Kang Hee Sook asli dibuang di sungai setelah dibunuh 4 atau 5 tahun lalu. Kedua, Kang Hee Sook palsu, wanita yang menirukan dia dan bekerja di Panti Wreda Hanmin sebagai pengasuh dua tahun lalu."


Juniornya Ji Soo (Namanya Lee Seung Yong) menanggapi, "Jika pengasuh itu menirukan Kang Hee Sook, bukankah dia pembunuhnya? Dia juga membunuh Park Soo Yeong, mayat di koper pertama?"



Ji Soo: Kita tunggu sebelum memutuskan. Aku akan memeriksa Kang Hee Sook palsu dari Panti Wreda Hanmin. Wanita yang bercincin.

Seung Yong bingung, "Cincin?" Ia mencari catatan mengenai wanita yang bercincin tapi tidak ada.

"Siapa yang memberitahumu? Apa ada saksi?" Tanya Seung Yong pada Ji Soo.

"Ya. Kau tidak perlu tahu."

Seong Mo: Aku akan mencari keluarga Kang Hee Sook yang dibunuh. Kita harus tahu kapan dia menghilang untuk mengidentifikasi tersangka.


Seong Mo kembali bicara banmal pada Ji Soo. Ji Soo awalnya menjawab dengan bahasa formal, tapi langsung mengubahnya menjadi banmal saat sadar.

Seong Mo berdiri, ia bicara formal pada yang lain, "Mari berbagi informasi yang kita dapatkan."

Tapi saat menatap Ji Soo, ia kembali menggunakan Banmal, "Aku akan menjenguk An."

"Baiklah." Ji Soo agak kikuk dan berakhir menggunakan bahasa formal.

"Aku akan meneleponmu."

Kemudian Seong Mo keluar.



Seung Yong pada Ji Soo, "Tadi Jaksa Kang bicara santai kepadamu?"

"Kau juga berpikir begitu? Bukan hanya aku? Kenapa sikapnya menakutkan?

"Bukankah bahasa santai menunjukkan dia ingin lebih akrab?"

"Benar, bukan? Tapi kenapa mendadak?"

"Kebanyakan orang tidak suka saat mendadak diajak bicara santai. Apa Kau senang?"

Ji Soo tersipu.



Seung Yong mencoba pakai banmal juga saat mengajak semuanya mulai bekerja kembali, tapi Ji Soo langsung memelototinya. Seung Yong pun mengubahnya menjadi formal.

"Tunggu. Apa Kau sudah tahu?" Tanya Ji Soo.




An mengantar Jae In keluar. Jae In menyuruh An datang ke Pusat Keamanan saat kondisinya membaik. Sementara itu, akan ia pikirkan cara untuk meningkatkan kemampuannya.

"Yoon Jae In." Panggil An dan Jae In menoleh.

"Jangan berterima kasih meski ingin. Ini bukan untuk Kau, tapi murni untuk diriku sendiri."

"Aku tidak peduli. Aku melakukan ini untuk Kau juga."

An lalu dadah-dadah tapi langsung balik badan, ia gak lihat kalau Jae In membalas lambaian tangannya.



An kembali ke kamarnya, ia senyum-senyum sendiri.



An menyentuh tirai dan ia melihat kejadian tadi saat ia menggulung Jae In kedalam tirai itu. An melihat bagaimana ekspresi Jae In di dalam tirai itu.

An ngakak dibuatnya. Ia mau menggulung dirinya sendiri, tapi peruntnya nyeri lagi, "Yang benar saja, Yoon Jae In."





An melihat ada bubur di meja ranjangnya. Ia melihat ponsel dan ada balasan dari Seong Mo.

"Kau pasti punya banyak pertanyaan, tapi aku belum siap menjawabnya. Makanlah tepat waktu."


Jae In duduk di halte, ia tersenyum saat mengingat jawaban An tadi bahwa An melakukan semua ini karena dirinya.

Tiba-tiba ada mobil berhenti di depannya, itu adalah Seong Mo. Mereka pun pulang bareng.



"Syukurlah Kau mau membantu." Ucap Seong Mo.

"An bilang ingatan kami seperti lemari obat yang berantakan. Dia tidak tahu akan mengambil racun atau penawar racun. Aku tidak tahu apa lemari obatku berisi racun atau penawar racun. Karena harus mencari tahu, aku akan melakukannya perlahan."

"Bagus. Itulah yang kuinginkan."

"Apa?"

Seong Mo tidak menjawabnya.



Lalu Jae In menanyakan siapa yang menusuk An, orang yang sudah lama mengikuti Seong Mo itu.

"Identitas orang itu.. juga misteri bagiku. Aku hanya tahu tidak bisa lagi membiarkan.. situasinya berantakan."



Seung Yong menunjukkan rekaman CCTV pada Ji Soo, tapi cuma video truk pengantar paket doang.

"Hanya ini? Tidak ada foto tersangka?" Tanya Ji Soo.

"Ya. CCTV di luar apartemen jaksa dan jalan hanya merekam truk ini. Aku menelepon perusahaan pengiriman dan mereka tidak tahu pengemudinya. Mereka akan mengirim daftar orang yang bekerja pada saat itu."


"Bagaimana dengan tempat An ditusuk?"

"Sama sekali tidak ada CCTV. Saksi tidak melihat wajahnya karena memakai topi."

"Kau sudah memeriksa CCTV dari toko terdekat? Atau kamera dasbor dari mobil yang diparkir?"

"Ah.. Seharusnya aku melakukannya."

"Seharusnya aku melakukannya?" Apa itu akal sehat dasar?"

"Jika benar begitu, Jaksa Kang pasti sudah memeriksa."

"Jaksa Kang?"

"Ya. Aku menelepon dia untuk meminta salinan. Dia sudah meminta salinan dan membawanya."

"Andai kita punya wajah tersangka, dia pasti sudah melihatnya."

"Benar. Karena itu dasarnya."



Seong Mo membawa Jae In ke kantornya. Disana ia memberikan buku catatannya.

"Itu catatanku soal kemampuan An. Mungkin itu akan membantu."




"Anda mencatat semuanya?" Tanya Jae In setelah membuka buku itu sekilas.

"Aku ingin Kau meningkatkannya."

Jae In menatap Seong Mo, "Aku punya banyak pertanyaan, tapi hanya akan menanyakan satu hal. Setinggi apa aku harus meningkatkan kemampuannya? Hingga dia dia cukup hebat untuk membantu penyelidikan? Hingga dia bisa mengidentifikasi tersangka? Akankah itu berhasil?"

"Misi ini akan berakhir.. saat An.. bisa membaca aku."



An berkata akan menunggu asalkan Seong Mo jangan kabur lagi. Lalu ia mulai makan buburnya, sudah dingin sih, tapi tetap lahap dia makannya.


Jae In menempel pemberitahuan di pintu Pusat Keamanan Masyarakat Seoheun, "Hari Minggu Tutup. Hubungi nomor ini untuk bantuan".



Jae In pergi mengunjungi ayahnya. Ayah sangat senang melihat wajah Jae In karena sudah lama mereka gak bertatapan.

"Lama tidak berjumpa." Sapa Ayah.

"Maaf.. karena aku tidak berkunjung."

"Imo-mu memberi tahu ayah bahwa Kau menjadi polwan. Ayah bangga padamu."



Jae In mengangguk beberapa kali lalu menunduk, ia menangis.

Jae In: Kita sudah berbasa-basi, lalu Ayah akan minta maaf. Lalu aku akan menangis dan kesulitan selama beberapa hari. Aku kemari.. bukan karena tidak menyukai itu.

Ayah: Ayah tahu.

Jae In: Aku akan langsung saja karena waktunya singkat. Aku akan mencobanya. Aku tidak akan kabur atau menghindar. Aku akan mencari tahu yang terjadi.

Ayah: Jae In-ah.

Jae In: Aku berniat menjalani hidupku sendiri dan melupakan Ayah. Karena pikiranku tidak tenang, semua yang kulakukan terasa sia-sia.



Ayah: Jae In-ah, jangan membuang-buang waktumu. Ayah tidak mau Kau menjadi seperti ayah. Jalani saja hidupmu. Sudah terlambat untuk mengubah segalanya.

Jae In: Kudengar Ayah selalu gagal dalam evaluasi pembebasan bersyarat. Aku tahu Ayah sengaja melakukannya.

Ayah: Bukan begitu.

Jae In: Ayah berpikir lebih baik menetap di penjara. Bahwa Ayah hanya akan membuatku kesulitan di luar. Ayah berencana menetap di penjara seumur hidup?

Ayah menyuruh Jae In pergi dan melarangnya berkunjung kembali lain waktu. Sebelum kembali ke sel, ayah mengaku kalau ia membunuh para penghuni apartemen itu pada Jae In.


Jae In menangis.




Keluar dari lapas, Jae In kembali sulit bernafas, tapi gak parah, gak sampai harus menghirup kantong kertas.

Saat akan mengeluarkan kantong kertas dari tasnya, Jae In melihat catatan pemberian Seong Mo, ia mengeluarkannya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis He Is Psychometric Episode 6 Part 1"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: