Sinopsis He Is Psychometric Episode 5 Part 4

- Maret 28, 2019
>
Sinopsis He Is Psychometric Episode 5 Part 4

Sumber: tvN



An menelfon Seong Mo, memberitahu kalau ada pria yang membuntuti Seong Mo dari apartemen mereka. Ia coba mendekat tadi, tapi orangnya kabur, 

"Pria apa?"

"Entahlah. Aku sedang mengejarnya. Nanti kutelepon lagi."

"Jangan melakukan hal berbahaya. Kembalilah."

Tapi An gak nurut, malah mematikan ponselnya. Seong Mo membentak. 



Saat itu Ji Soo turun, memberitahu kalau hasilnya sudah keluar. Seong Mo gak menjawab, a buru-buru keluar lagi.  

Ji Soo mengikutinya karena penasaran ada apa dengan Seong Mo.



Sementara itu, Lee An mengejar si pria dengan kecepatan penuh. Saat mobilnya sejajar dengan truk, ia berusaha melihat, tapi kacanya cuma dibuka sedikit sebelum ditutup lagi.



Terus kejar-kejaran mereka sampai si truk berhenti di parkiran truk. An turun dari mobil dan mendekato truk, tapi pengemudianya udah gak ada disana. 


An celingukan mencari, tapi saat ia berbalik, pria itu langsung menyudutkannya ke badan truk.




Tepat saat itu Jae In tak sengaja menjatuhkan kaleng permennya. Permennya jatuh ke kotak sepatunya.





Pria itu menusuk An. An menahan tangan si pria tapi kulit mereka malah bersentuhan. 



An bisa melihat kalau pria itu sudah lama mengawasi Seong Mo. Bahkan saat ia dan Seong Mo melompat dari gedung apartemen th. 2005, pria itu ada disana.

"Siapa kau? Bagaimana kau mengenal kakakku?" Tanya An.



Dengan tangan satunya, AN berusaha membuka topi pria itu, tapi keburu ada teriakan orang yang melihat mereka. Pria itu langsung kabur dengan membawa pisaunya.


An tergeletak menahan sakit.




An dibawa ke RS. Seong Mo dan Ji Soo menunggu disana. Ji Soo memanggil-manggil An, memintanya sadar.

An bicara pada Seong Mo, "Pria itu mengikuti Hyeong."

"Berhenti bicara. kau kehilangan banyak darah."

"Dia sudah lama mengawasi Kakak. Bahkan di hari kita melompat dari apartemen, dia ada di sana."



Mereka harus berpisah karena An masuk ke dalam lift. Seong Mo berkaca-kaca.





An selesai dioperasi, tapi belum sadarkan diri. Ji SOo dan Seong Mo menungguinya. Ji Soo menjelaskan kalau An dalam kondisi baik, untungnya organ vitalnya tidak terluka, operasinya juga berjalan lancar.

Seong Mo tidak menyahut, malah mengajak Ji Soo segera pergi karena Dr Hong past sudah menunggu lama.




Dalam perjalanan, Seong Mo memikirkan kata-kata AN tadi soal si pria. Ji Soo menebak, pasti Seong Mo tahu pelakunya, bukan?

Ji Soo melanjutkan karena Seong Mo masih diam saja, "Kau dan An melompat dari apartemen 13 tahun lalu. Dia mengawasimu sejak hari itu. Apa dia berkaitan dengan kasus Yeongseong? Apa dia yang kau curigai?"



Seong Mo malah meminggirkan mobil, lalu keluar dan berdiri di pinggir jembatan. Ji Soo mengikutinya, "Yaa! Kang Seong Mo. Kenapa kau punya banyak rahasia? Kau menderita sendirian selama dua tahun terakhir. Aku bersedia membantu. Apa aku tidak berguna bagimu?"

"Karena aku tahu itu akan menyebabkan penyesalan."

"Bagi siapa? Aku?"

"Bukan." Seong Mo menatap Ji Soo sebelum melanjutkan, "Aku."



Saat Petugas Nam akan pulang, ia menginjak permen lalu memungutnya. Jae In menjelaskan kalau tadi ia tak sengaja menjatuhkan permennya. 

Petugas Nam memakannya langsung, "Jangan pernah membuang makanan. Selesaikan pekerjaanmu, lalu pulang."

"Baik."



Jae In menutup kantor, ia celingukan mencari seseorang, An mungkin.

So Hyeon kebetulan baru turun dari mobil, ia pun menyapa Jae In, "kau menunggu seseorang?"

"Tidak."

"Tidak? kau menunggu Lee An?"

"Bukan begitu, maksudku..."

"Sudah selesai bertugas?"



"Ya. Tepat waktu seperti biasa. Di daerah ini juga tidak terjadi apa-apa seperti biasa."

"Aku iri. Sebagai ibu, tidak ada selesai bertugas. Aku pulang kerja untuk mulai bekerja di rumah."

"Mau minum bir?"

"Aku mau, tapi..."

"kau menghasilkan banyak uang. Aku juga akan menjadikannya alasan untuk bersenang-senang. Ayo."

Jae In memaksa So Hyeon mengikutinya.



An sadar saat perawat memeriksanya. Perawat menjelaskan bahwa tidak ada organ vital yang terluka, jadi, operasinya berlangsung cepat.

"Kedua walimu bilang, mereka akan segera kembali. Beristirahatlah." Lanjut perawat.

"Baik." Jawab An lemah, kemudian perawatnya pergi.


Putri So Hyeon udah tidur, jadi ia dan bibi minumnya berusaha untuk setenang mungkin, bicaranya pun harus bisik-bisik.



Jae In datang membawakan camilan dan tambahan bir. So Hyeon menyuruh Jae In minum juga tapi Jae In menolaknya.

"Aku tidak bisa karena selalu siaga di pusat keamanan."

Imo: Biarkan saja dia. Kita akan menghabiskannya. Ini nikmat. Aku suka ruangan ini dipenuhi oleh kehangatan. Hangat dan nyaman. Mari minum.


So Hyeon mabuk, jadi Jae In harus mengantarnya. Imo cuma mengantar sampai depan, So Hyeon pamit.

"Terima kasih atas minum-minumnya."

"Sama-sama. Jika kau butuh pengasuh, bawa anakmu kemari. Aku bersedia membantu."

"Baik."

Mereka masuk mobil dan Imo pun kembali ke dalam karena di luar terlalu dingin.




Selesai memasang sabuk pengaman, Jae In menoleh kebelakang tapi So Hyeon udah pules.

Jae In menyalakan mobil dan ada peringatan kalau BBM-nya akan habis. Jae In melihat ada banyak kupon di mobil (Kupon pemberian Dae Bong). 



Dae Bong menelfon An yang sekarang udah bisa duduk.

"Kau balapan di jalan naik mobilku? Kau gila, ya?"

"Akulah yang terluka. Mobilmu dalam kondisi sempurna."

"Terserah. Aku akhirnya mengakhiri persahabatan kita. Aku tidak bercanda. Kembalikan mobilku dan enyahlah."

"Dae Bong, aku lapar. Bisakah kau membawakanku makanan?"

"kau lapar? kau mau makan apa? Tteokbokki, pangsit? Rumah sakit mana?"

"Aku mau sundae..."

Dan tiba-tiba telfon di putus.


An: Yang benar saja. Dia langsung menutupnya.


Dae Bong menyesali perkataannya tadi, "Sulit kupercaya aku mengatakannya.




Jae In ke SPBU-nya Dae Bong karena kupon itu. Dae Bong yang melayani.

Jae In: Rupanya ini benar SPBU-mu.

Dae Bong melihat So Hyeon dan putrinya yang ketiduran di jok belakang.



An mengecek perutnya yang diperban. Kemudian ia mengirim pesan untuk Hyeong-nya.

"Aku ingin mendengar banyak jawaban. Segera kembali kemari, Hyeong."



Seong Mo dan Ji Soo sampai di ruang mayat. Disana Dr. Hong sudah menunggu.

Seong Mo: Kau sudah mengidentifikasi korban?


Lee An keluar kamar tanpa memakai infus, ia tanya ke perawat dimana letak toserbanya.

"Di tingkat basemen kedua." Jawab perawat.

"Terima kasih."

Lee An langsung menuju kesana.




Dr Hong mengatakan nama korban di dalam koper itu, tapi Seong Mo gak percaya. Dr Hong mengulangi lagi, "Kau tidak ingat? Kang Hee Sook."

Ji Soo: Pengasuh panti wreda yang menghilang setelah panti itu dibakar dua tahun lalu?

Dr Hong: Ya. Wanita bercincin yang dibaca oleh An dengan kemampuannya.

Ji Soo mengecek jarinya, tidak ada cincin. 

Dr Hong: Bukan hanya cincin yang janggal di sini.

Seong Mo: Apa maksudmu?

Dr Hong: Faktanya juga tidak masuk akal. Tidak masuk akal bahwa dia masih hidup dua tahun lalu. Wanita ini sudah mati selama minimal 4 hingga 5 tahun.

Seong Mo: Sulit memperkirakan waktu kematian mayat yang ditemukan di air.

Dr Hong: Benar. Namun, kami punya mayat lain untuk dibandingkan. Aku menyimpulkan menurut opini profesionalku, waktu dan penyebab kematian serta waktu mereka dibuang adalah sama.

Ji Soo: Tidak mungkin. Catatan menyatakan, dia bekerja di panti wreda dua tahun lalu.

Dr Hong: Aku memeriksa berkali-kali karena alasan itu. Wanita ini mati sebelum kebakaran Panti Wreda Hanmin.

Seong Mo: Kau sudah memeriksa sidik jarinya, maka sudah pasti dia Kang Hee Sook. Lantas, siapa Kang Hee Sook yang bekerja di Panti Wreda Hanmin dua tahun lalu? Kita harus mencari tahu.


Pria itu keluar dari lift di lantai An dirawat. Perawatnya kebetulan lagi gak ada disana. 




Di kamarnya, An sedang makan sosisi.

"Aku paham Seong Mo Hyeong sibuk, tapi Dae Bong seharusnya sudah tiba di sini."

Tiba-tiba An kepikiran soal Pria itu yang juga ada di lokasi kebakaran Apartemnennya. 

"Siapa dia?" An bertanya-tanya. 


Pria itu berjalan di lorong dan suara langkahnya jelas banget. 




Seong Mo menatap kerumunan orang yang keluar masuk. Lalu kamera menyorot sebuah pintu yang bertuliskan, "Khusus Staf".



Pria itu mengintip ke kamar rawat An. Lalu membukanya.




An mendengar ada yang membuka pintu, ia tersenyum senang. Ia bangun dan berdiri di dekat tirai. Saat ada yang mendekat, ia membungkusnya dengan tirai.



Tapi setelahnya ia mengernyit memegangi perutnya, sakit.

"Kenapa kau lama sekali? Aku sudah menunggumu."


An kembali tersenyum.
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search