Sinopsis He Is Psychometric Episode 4 Part 4

Sumber: tvN




So Hyeon membawa murid-muridnya ke kantor polisi, tapi disana cuma ada Pak Polisi. Pak Polisi mengatakan ada mayat yang ditemukan disungai dan ia mengirim Jae In kesana. 

"Aku datang ke sini karena daerah ini bebas kasus. Sesuatu terasa tak enak." Curhat Pak Polisi. 

"Jae In... Maksudku, Yoon Seongyeong akan mengajar anak-anak prasekolah."

"Dia sangat beker keras."

"Haruskah kita berkunjung lagi nanti?"

"Tidak, aku akan melakukannya."




Pak Polisi bangkit, ia menyuruh anak-anak untuk berkumpul tapi tidak ada tanggapan walaupun ia mengulanginya dua kali.

So Hyeon turun tangan. Ia memanggil anak-anak dengan nada, "Kelas Kelopak Bunga. Haruskah kita berkumpul?"

Semua langsung mengiyakan dan berkumpul. Pak Polisi mengikuti nada So Hyeon saat menyuruh anak-anak duduk. Walaupun gak mirip, tapi anak-anak mau memperhatikannya. 


So Hyeon bergumam, "Kasus pembunuhan di lingkungan ini? Aneh sekali."



Dokter Hong menggerutu saat akan mulai melakukan Autopsi pada mayat di koper itu.

"Aku benci para brengsek yang meninggalkan mayat di air." 

Baru membukanya saja sudah membuat Dr. Hong mual.

Ji Soo yang ada disana nanya, "Bukankah itu septic tank waktu dulu?"



"Mungkin aku membunuh orang dan meninggalkan tubuh mereka dalam kehidupan masa laluku. Kalau tidak, kenapa aku ditakdirkan.. melakukan ini selama bertahun-tahun? Pasti aku dihukum."

"Bagaimana denganku? Aku pasti kaki tanganmu setidaknya."


Barulah mereka mulai melakukan autopsi.




Hari sudah gelap, tapi Jae In masih berjaga. An juga masih mencoba menyentuh semak semak disana.

"Sudah kubilang tak ada gunanya." Kata Jae In. 

"Tapi ini yang bisa kulakukan sekarang."

"Kau lihat sesuatu?"

An hanya melihat berbagai kotoran, kotoran burung, kotoran anjing, sampai kotoran manusia dan itu membuatnya begidik jijik. 
Tentu saja.

"Berhentilah buang tenaga. Aku yakin pelakunya tak datang ke sini." Peringatan Jae In. 




Lalu Jae In duduk karena pegal terlalu lama berdiri. An juga ikutan duduk. An menghela nafas, harusnya hari ini adalah kesempatanya untuk membuat kesan.

"Aku sudah membuatnya kepada Eun Hyeongsa-nim."

"Jadi, kau mendahuluiku?"

"Walau pun aku bertanggung jawab atas tugas kecil, tapi ini merupakan kasus pertamaku. Aku hanya membantu orang menemukan barang-barang mereka setiap waktu. Aku bahkan meninggalkan pekerjaan tanpa melakukan apa-apa selama beberapa hari."

"Dan aku menemukan mayat.. dari kasus pertamamu."

"Aku akan menemukannya bahkan jika tak ada kau pun. Koper itu jelas terlihat mencurigakan."

"Tadi siapa yang bilang aku berimajinasi? Dengan wajah dingin seperti itu, kau memperingatkanku untuk tak berbicara denganmu kecuali kalau itu soal koper dengan tubuh di dalamnya."

"Oke, aku mengakuinya."



"Terlambat untuk mengakuinya, tapi aku akan membiarkannya."

"Kau bersemangat."



Tiba-tiba An meminta Jae In untuk mengatakannya sekali lagi. 

"Apa? Buoyancy? Aku sudah bilang tiga kali."

"Tidak bukan itu. Aku sedikit mengerti. Soal koper serupa yang ditemukan di hulu. Apa maksudmu... kasus pembunuhan berantai?"



Ji Soo memaparkan dalam rapat Tim gabungan antara Jaksa dan Kepolisian.

"Ini koper yang sama seperti kasus sebelumnya... Park Soo Yeong korban berusia 40tahun. Kali ini, wanita yang diasumsikan berusia 50-an. Melihat bagaimana dia mengenakan pakaian dan sepatu bot musim dingin, dia mungkin meninggal di musim dingin. Kami juga menemukan potongan semen di koper sama seperti kasus sebelumnya."



Kepala Eun: Ada yang bisa mengidentifikasi dia?

Ji Soo: Dia dalam bentuk adipocere, jadi sidik jari dimungkinkan.

Kepala Eun: Lebih baik kita tak gagal menangkap pelakunya sesudah mengidentifikasi korban seperti terakhir kali.

Ji Soo: Itu karena korban tak punya keluarga. Tak jelas kapan dia hilang. Kali ini...

Kepala Eun: Apa maksudmu kau akan gagal lagi jika waktu hilangnya ambigu?

Ji Soo: Itu bukan...



Seung Mo menyambung, "Sekarang kita memiliki dua tubuh. Itu membuatnya berbeda. Aku yakin ada semacam hubungan antara keduanya."

"Kuserahkan kasus ini padamu karena Kang Geomsa ada di dalamnya. Selesaikan secepat mungkin."

"Baik." Jawab Ji Soo.

Kepala Eun sudah akan pergi, tapi berbalik, "Tidak ada artikel yang menghibur hari ini. Kasus pembunuhan seperti ini bisa menjadi masalah jangka panjang. Lakukan pekerjaanmu dengan benar sebelum publik mulai mengkritik."




Kepala Eun membuka pintu, tapi masih balik lagi. Ia menunjuk bintang di bahunya sambil menatap Eun. Eun paham artinya, ia langsung memberikan hormat.



Si Junior tanya, kenapa Kepala Eun sangat tegas hari ini? Ji Soo gak menjawabnya.


Saat di lorong si Junior ketawa setelah mendengar alasan yang dikatakan Ji Soo.

"Apa ini. Dia kesal karena kau tak menikah?"

Ji Soo melihat kebelakang, ada Seung Mo tepat dibelakang mereka. Maka ia berbisik agar si Junior memelankan suaranya. 

Junior: Kupikir dia tegas bahkan pada putrinya sendiri karena percaya bahwa penyelidikan harus dilakukan secara menyeluruh.

Ji Soo: Menyeluruh, apanya. Di benar-benar orang tua yang rewel. Pikirnya membuatku stres di tempat kerja akan mengubah pandanganku soal pernikahan. Dia memaksaku kencan buta setiap minggu, tapi sekarang dia mengambil jalan lain.



Seung Mo tiba-tiba menyahut, "Memang benar dia mengesankan. Dia diangkat dari perwira ke komisaris polisi. Kita akan berkumpul sesudah forensik kembali.

Si Junior mengiyakan lalu Seung Mo masuk ke ruangannya.



Ji Soo terdiam, si Junior tanya, kenapa tiba-tiba diam?

"Hei. Apa inti poin pembicaraan kita?"

"Mengidentifikasi korban!"

"Bukan rapat. Maksudku, di lorong."

"Pernikahanmu."




"Benar, kan? Kau juga berpikir begitu. Namun, Kang Geomsa hanya berkomentar soal ayahku. Pikirnya tak ada yang tahu, tapi aku sudah mengetahuinya. Bukankah dia licik?"

"Membicarakan ayahmu barusan membuatnya licik? Di mana tepatnya liciknya?"

"Menjadi detektif pasti sulit untukmu karena kau lambat mengerti. CkCKCK"







Seung Mo sendirian di ruang rapat, ia melihat kembali kasus kebakaran dua tempat yang saling berhubungan itu. 


Karena menemui jalan buntu selama dua tahun, Seung Mo memegang kepala dan ia minum obat. 




Seung Mo membuka berkas kasus penemuan mayat tadi, tepat saat itu Ji Soo mengiriminya pesan, "Asal tahu saja, dia menemukan mayat itu. Dia akan mengantarmu jika dia mengetahui kau dalam kasus ini. Persiapkan dirimu."


Ji Soo mengirimnya di ruang otopsi, dimana Dokter Hong sedang mengambil sidik jari mayat.

Ji Soo: Kusampaikan dengan ketus. Pesan itu tak menyampaikan emosi sama sekali. Bagus. Kerja bagus. Begitulah caraku harus bersikap mulai sekarang.



Ji Soo mengantongi ponselnya dan tepat saat itu Seung Mo membalas, tapi cuma satu kata, "Ya."

Ji Soo menghela nafas. Dr. Hong yang ikut membaca pesannya berkomentar, "Inilah yang disebut pesan tanpa sentuhan emosi."

"Serius, sepertinya dia menantangku."



An sudah mendapatkan cerita dari Jae In soal korban sebelumnya, ia bicara sendiri sambil mencari-cari berita d internet, "Korban sebelumnya adalah seorang wanita berusia 40-an. Korban kali ini juga seorang wanita."



Jae In mendapat telfon, ia berkata kalau ia mengerti, lalu telfon di tutup.

Jae In bicara pada An, "Aku akan pergi. Aku kembali ke pusat. Apa kau akan tinggal di sini?"



"Apa? Sebentar." An berlari mendekati Jae In, "Tak ada yang jaga area ini?"

"Sudah kuberi tahu.. penyelidikan area ini tak akan ada gunanya. Semua buktinya ada di koper." Jae In menjelaskannya sambil berjalan.

An malah menatap tempat ia menemukan koper tadi.






Dari jendela di tangga, Seung Mo melihat seorang dengan pakaian serba hitam berdiri di depan mobilnya. 


Ada kilas balik.. Seorang anak kakinya di rantai. Anak itu takut mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. 


Seung Mo melihat orang itu mau melepas maskernya.


Kilas balik lagi.. si anak juga melihat seorang dibalik gerbang besi membuka masker hitam dan ada yang dilihat lagi oleh anak itu tapi gak jelas apaan. 

Musik misterius mulai diputar.




Seung Mo menutup matanya kaya syok gitu dan saat ia membuka matanya lagi, orang itu udah gak ada di depan mobilnya.



Seung Mo berlari turun, tapi beneran gak ada siapa-siapa di sana.


Kilas balik lagi, anak tadi melihat seorang pria menyeret koper hitam, koper itu berat banget kelihatannya.



Masih dengan anak yang dirantai, disampingnya ada keran yang bocor, jadi suara tetesan air terdengar jelas banget.

***

Saat berhenti di lampu merah, ada pesan masuk dari Ji Soo, Seung Mo membacanya.

"Juga, sekedar informasi, teman sekelas lamanya yang jadi polisi juga di tempat kejadian. Mereka berdua akan bersemangat dan cemas. Sekali lagi, persiapkan dirimu."

Seung Mo langsung putar balik.



An menyesal gak menyentuh kopernya tadi, "Kubiarkan polisi membawanya dengan mudah. Harusnya aku membukanya."

"Apa hanya itu yang kau lihat? Koper dan tubuh dengan rambut hitam?"

"Ya."

"Sayang sekali."

"Ini aneh. saat aku bersamamu, aku bisa melakukan psikometri dengan baik."

"Mana mungkin, bukan karena perasaan?"

"Itu terjadi... dua tahun lalu di kantor guru juga."

"Aneh."

"Selama ini kau banyak belajar. Soal pekerjaan polisi."

"Aku sudah tertarik pada bidang ini sejak masih kecil. Aku benci polisi karena ayahku dijebak. Kalau dipikir-pikir, aku hanya membuat generalisasi yang salah."

"Salah... Benar. Jadi begitulah."



"Detektif itu. Eun Hyeongsa-nim. Dia datang menemuiku tepat sesudah guru matematika dibebaskan. Dia mencariku dan membuatmu menjadi pengawalku. Saat itulah aku sadar, tak semua detektif itu jahat."

"Itu sebabnya kau mengikuti ujian polisi?"



"Sebagai polisi, saat tersangka bersikeras tak bersalah, aku akan mencari dan memeriksa fakta dan memastikan tak ada orang lain yang menderita seperti aku dan ayahku. Misalkan jika aku tak membuktikan bahwa ayahku tak bersalah, begitu pun akan bermanfaat."


Seung Mo sudah menunggu ternyata dan ia menyahut apa yang ia dengar, "Apa kau akhirnya memikirkan kehidupanmu sendiri terlepas dari ayahmu?"




Jae In dan An kaget melihat Seung Mo ada disana.

"Hyeong." Panggil An. 

"Sudah lama, Yoon Jae In Seongyeong-nim." Sapa Seung Mo. 



"Ajeossi Kaki Panjang." Jae In menatap Seung Mo penuh kekaguman. 

"Ajeossi apa?"  Tanya An pada Jae In dan karena Jae In menatap Seung Mo, ia ikutan menatap Seung Mo juga. 






Tak jauh dari mereka ada yang memperhatikan, oarang dengan pakaian serba hitam memakai topi dan masker. Orang itu ada di dalam mobil.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Komentar untuk "Sinopsis He Is Psychometric Episode 4 Part 4"

  1. Kenapa aku berpikir, orang misterius itu kenalan seung mo.. Apa dia ayah seung mo ? Wkwk..
    Dramanya bagus, gumawoyo eonni

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: