Sinopsis He Is Psychometric Episode 4 Part 3

Sumber: tvN



An ke kantor Divisi Patroli Seoheun, tapi kata bapak polisinya disana gak ada yang namanya Yoon Jae In. 

"Tidak ada polisi bernama Yoon Jae In? Kenapa tidak ada?" Tanya An. 

"Karena tidak ada."

"Katanya dia ditempatkan di sini."

"Ini kali pertama kudengar namanya."

"Apa? Apa dia berbohong?"


Pak polisi yang satunya tahu soal Jae In, "Bukankah Yoon Jae In polisi prabakti di Pusat Keamanan Komuntas Seoheun? Kantor tempat tinggal itu."

"Pusat Keamanan Komuntas Seoheun?"

"Ya."

An membawa minuman energi kesana untuk dibagikan, tapi berhubung Jae In gak ada disana, ia membawanya balik, bahkan meminta kembali satu botol yang sudah diambil oleh pak polisi yang mengatakan dimana Jae In.



Keluar dari kantor, An bergumam, "Pusat Keamanan Komuntas? Jikjhucwiop?"

An menghubungi Ji Soo untuk bertanya.

"Ah.. Pusat Keamanan Komuntas Seoheun? Aku tahu. Tepat di pojok Seoheun-dong. Mereka tak menghancurkan tempat itu?"







Jadi Jae In dan Imo tinggal di kantor polisi itu. Imo juga mengajar menyanyi untuk nenek-nenek yang ada disana. 

An tanya lagi, "Apa itu "Jikjhucwiop"?"

"Pada dasarnya mereka makan, tidur, dan bekerja di sana."





Lalu kita diperlihatkan keseharian Jae In disana. Mulai dari mencuci muka, memakai seragam, lalu naik untuk keliling. 




An sampai di depan tepat saat Jae In pergi, tapi arahnya berlawanan jadi sama-sama gak tahu.

"Rumah di dalam kantor polisi?" Tanya An. 

"Ya. Tunggu, dia bekerja di sana? Tempat itu sedikit..."

"Sedikit apa?"



Seorang anak kecil memberikan koin yang ia temukan di luar supermarket. Ia meminta Jae In menemukan pemiliknya. Jae In tersenyum. Anak itu lalu mengulurkan kedua tangan, meminta imbalan.


Jae In memberikan permen, tapi anak itu gak mau.



Maka Jae In membawa anak itu ke kantor, ia mencetakkan piagam penghargaan. Jae In membacakannya, "Anak ini menerima penghargaan ini karena melakukan perbuatan baik. Dan melayani sebagai contoh untuk orang lain".

Anak itu pergi dengan sumringah.



Di hari yang lain, ada nenek yang nyasar ke kantor. Jae In harus membimbingnya untuk menuju ke tempat yang dituju.




Jae In juga harus bersandiwara untuk membantu orantua medisiplinkan anak mereka.

"Joo Ah, apa kau berbohong? Aigoo, masalah besar." Jae In mengeluarkan borgolnya, "Aku akan memborgol dan membawamu ke penjara."

Sang Ibu menuntun putrinya, "Katakan kau tak akan melakukannya lagi."

Joo Ah menangis, tapi ia mengatakan apa yang ibunya suruh, "Aku tak akan berbohong lagi."

Sang Ibu tersenyum pada Jae In.



Ji Soo melanjutkan, "Tidak banyak orang tinggal di sana. Tidak ada kasus atau kecelakaan. Ini pekerjaan 9-ke-6. Singkatnya pekerjaan di sana mudah. Buruknya tak ada cara untuk dipromosikan. Bagaimana bisa polisi muda berakhir di sana?"


Selesai berkeliling, Jae In didatangi seorang nenek. Nenek itu memberikan segelas tteokbokki. 


Jae In akan memakannya di depan, tapi belum apa-apa, sausnya sudah menetes di tangan. 



Jae In memakan saus yang menetes itu dan tepat saat itu An datang. Jae In hanya bisa nyengir karena An melihat keadaannya yang ini.




Jae In membawa An masuk. 

"Aku ke Divisi Patroli dan menanyakanmu di sana." Kata An. 

"Aku tak tahu kau akan mencariku. Aku tak berbohong padamu. Ini yurisdiksi Divisi Patroli Seoheun dan tujuanku Unit Kejahatan Kekerasan. Itu pilihan pertamaku."

"Ji Soo Noona mengatakan... di sinilah tempat polisi yang mendekati masa pensiun. Bagaimana bisa kau berakhir di sini?"


"Rekanku dipindahkan ke sini. Aku bertanya apa ada sewaan rumah murah dan dia bilang padaku untuk tinggal di sini karena dia punya apartemen."

"Bagaimana bisa kau berakhir minta bantuan orang untuk menemukan rumah?"

"Aku ketahuan mengintip melalui file kasus lama."

"Benarkah?"

"Jadi aku bilang yang sebenarnya. Aku tak bisa jadi polisi jika aku dipecat selama prabakti. Aku terlalu tua untuk terus kabur, dan aku memiliki semacam status sosial sekarang. Itulah satu-satunya cara untuk mempertahankan pekerjaanku."

"Lalu... kau melihat file kasus ayahmu?"



Jae In menggeleng frustasi, "Dia tak akan membiarkanku melihatnya. Itu akan meninggalkan jejak dalam sistem dan jika dia tertangkap, mereka akan mencabut pensiunnya. Ah.. Dia bilang untuk mencari tahu saat sudah melewati masa prabakti. Kemudian dia membawaku ke tempat ini. Aku ditipu, kan?"

"Bisakah kau pergi ke Unit Kejahatan Kekerasan dari sini? Kudengar tak ada yang terjadi di sekitar sini. Kapan kau akan mendapatkan poin dan memanjat tangga untuk mencapai markas polisi?"

"Hei, kau tahu sistem dan prosesnya?"

"Karena kau juga sedang mencoba itu.. Aku harus mendapat skor besar jika harus mendapatkan posisi. Ini tak semudah itu..." Sadar sudah keceplosan, An langsung berhenti.


Jae In mengerti sekarang, "Katamu kau membantu kasus Geomsa-nim dan Hyeongsa-nim. Adikmu masih diluar batas, kan?"

"Itu..."



Obrolan mereka terpotong oleh kedatangan Ibunya Joo Ah dalam keadaan panik. Ibu meminta bantuan Jae In untuk mencari Joo Ah yang hilang.

Jae In pun segera keluar, An yang ikutan panik juga ikut keluar.

Ibu: Kelihatannya karena kami memarahinya. Dia sangat nakal.

Jae In menenangkan, Joo Ah pasti akan baik-baik saja. Lalu ia mengajak Ibu berpencar. 


An mengikuti Jae In, "Bukankah seharusnya kau memanggil Divisi Patroli?"

"Anak ini adalah pelaku kebiasaan. Dia ada di daftar hitam kita."

"Hei. Bagaimana jika penculikan?"



Ibu mendengar kalimat terakhir An itu dan langsung panik, "Joo Ah-ya!"



Jae In menegur An, "Perhatikan apa yang kau katakan. Hanya karena aku harus menyelesaikan kasus untuk ditransfer bukan berarti aku berdo'a sesuatu terjadi."

"Apa aku mengatakan itu? Aku mengatakannya hanya karena khawatir."

"Cepat ikut."





Mereka berdua nyari-nyari Joo Ah sampai nanya-nanya ke tetangga dan orang-orang lewat, tapi Joo Ah tetep belum ketemu dan gak ada yang lihat.



Mereka berhenti di jembatan. An berkata sudah satu jam mereka mencari. Jae In yakin Joo Ah pasti sembunyi di suatu tempat.

"Anak-anak bisa di dapatkan ketika tak ada yang lihat." Lanjut Jae In. 

"Apa? Tadi katamu tak berharap sesuatu terjadi. Kenapa kau katakan itu?"

Jae In menatap ke sungai dengan intens. An heran, Kenapa? Ada apa?

"An. Itu mainan yang dibawa Joo Ah."

Mereka langsung saling pandang dan buru-buru turun mendekati boneka itu.



An menyentuh boneka itu dan ia bisa melihat ada seseorang menutup koper besar hitam. Dari celah resleting ada rambut yang berjuntai.




Jae In yang ada agak jauh penasaran dengan ekspresi yang dipasang An, "Hei, ada apa dengan ekspresimu?"

"Dengar, tapi jangan takut. Sepertinya anak itu... Sepertinya sudah diculik."

"Apa?!"

"Aku baru saja melakukan psikometri dan di dalam koper... Di dalam koper hitam..."

"Tidak mungkin."




Rekan polisi Jae In memanggil. Polisi ini yang dulu ngenalin An waktu Jae In menuduhnya cabul.  

Dibelakang polisi itu ada Joo Ah sedang bersama nenek yang ngasih Tteokbokki ke Jae In. Ibu Joo Ah juga datang.



Joo Ah menunjuk bonekanya yang dipegang An, "Kelinciku."


Pak polisi mengingatkan, "Sungai akhir-akhir ini bau. Si kuning mengambang. Hati-hati kotoran. Aku akan menuju ke pusat duluan."

Jae In memberi hormat pada atasannya.



An nanya ke Jae In, apa anak itu anak yang hilang? 

Jae In balik nanya, "Apa dia anak.. di dalam koper?"

"Aneh. Aku yakin lihat rambut hitam mencuat keluar dari koper."

"Segitunya kau ingin selidiki kasus? Kau punya psikometri apa halusinasi? Bikin kaget!"

Jae In melangkah keluar.



An tetep kekeh, "Tapi aku memang melihatnya!"



Saat AN mempraktekkan lagi bagaimana ia mengambil boneka itu, ia melihat koper yang dimaksud ada di depan mereka. An langsung memanggil Jae In. 

"Apa lagi?" Jae In baru menoleh saat panggilan kedua, "Jangan bicara denganku kecuali soal koper dengan tubuh di dalamnya."

"Ada. Ada di sini."




An menunjukkan letak kopernya.


Polisi didatangkan untuk menyisir dan hal itu menjadikan pusat perhatian warga.



Ji Soo datang ke TKP. Juniornya langsung melapor, "Kita harus menyelidiki lebih dalam, tapi sepertinya tubuh wanita."

"Apa yang terjadi?"

"Entah..."



Si Junior membicarakan An yang berkeliaran di lokasi, "Apa yang harus kita lakukan pada pria itu? Dia selesai melapor. Sebaiknya dia pergi sekarang, tapi masih di sini, menunggumu."

Setelah melihat Ji Soo datang, AN melambai-lambai pada Ji Soo.

Ji Soo: "Bawa koper ke Hong Euisa (Dr. Hong). Akan kuurus dia dan mengikutimu.

Junior: Baik.



An pamer pada Ji Soo, "Aku menemukan mayatnya. Kulihat gambaran koper di kepalaku."

"Untuk sementara, kerja bagus. Apa lagi?"

"Yang lain? Maksudmu, wajah pelakunya? Jangan khawatir. Aku akan membaca setiap sudut area ini dalam semalam. Aku akan menyentuh setiap daun jika perlu. Bahkan jika akhirnya pingsan di sini, aku akan melihat wajah pelakunya bagaimanapun caranya."

"Sepertinya tak perlu sampai seperti itu. Sudahlah. Kau tak akan nurut bahkan jika kuberi tahu untuk tak melakukannya."

"Kau baru mengizinkan. Kau mengatakannya."


Jae In menyahut, "Tidak perlu melakukannya di sini. Kau hanya akan membuang energimu."

An mengenalkan Jae In pada Ji Soo, "Aku sudah memberitahumu soal dia. Temanku dari Pusat Keamanan Komunitas Seoheun."

"Sudah lama." salam Ji Soo yang dibalas hormat oleh Jae In.


An berbisik pada Ji Soo, "Sebenarnya, dia tahu soal kemampuanku juga."



Ji Soo bertanya pada Jae In, "Apa maksudmu, dia hanya akan membuang energinya?"

"Anda pasti tahu kenapa."

"Ya, tapi aku ingin tahu pendapatmu."

"Kemungkinan besar koper itu tersangkut di semak-semak saat mengambang di sungai saat hujan sebulan yang lalu. Ini juga masuk akal mengapung saat sungai mengering karena kekeringan baru-baru ini."

"Apa? Sungai Han?" An otaknya gak nyampe kesana. 

"Apa pendapatmu mengenai tempatnya?" Tanya Ji Soo lagi.

"Mayat korban bunuh diri atau terbunuh sering mengalir ke hilir dari hulu sungai. Ini pertama kalinya kami menemukan."

"Itu sedikit terlalu lemah untuk mendukung argumenmu."

"Aku pergi ke TKP tersebut saat seseorang melaporkan koper hitam dengan tubuh di dalamnya. Itu tampak hampir sama dengan yang kami temukan saat ini. Korban diasumsikan dibunuh sekitar 4 hingga 5 tahun yang lalu. Kami mengkonfirmasi identitas tubuh, tapi tidak pelakunya. Apa ini cukup?"

Ji Soo beralih pada An, "Dengar, kan? Temanmu berpikir kau tak boleh membuang energimu di sini."

"Omong kosong. Bagaimana koper seperti itu bisa mengalir ke sini dari Sungai Han? Itu terlalu berat."



Ji Soo memberi kode pada Jae In untuk menjelaskan pada An.

Jae In memulai penjelasan, "Tubuh terurai, menciptakan gas yang cukup untuk mengapung. Ada sebuah kasus di mana mereka menemukan sebuah koper dengan bata beton 25 hingga 30 kg yang ada di dalamnya. Aku membaca dalam buku bisa mencapai 70kg."



"Kau bertanggung jawab menjaga garis polisi hari ini?" Tanya Ji Soo.

"Ya."

"Baguslah. Bisakah kau menghentikannya berkeliaran di area ini? Dia tak mengerti sepatah kata pun dari apa yang baru saja kau katakan."

"Baik."

An membantah, "Mengerti, gas buoyancy."

Baik Ji Soo dan Jae In mengoreksinya, "Gas dekomposisi."

An pun terdiam.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis He Is Psychometric Episode 4 Part 3"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: