Sinopsis He is Psychometric Episode 3 Part 3

Sumber: tvN



Kim Eun Soo, Oh Young Eun mengikuti Jae In dari belakang saat pulang sekolah. Mereka membahas fashion Jae In yang kayaknya gak mahal, tapi juga gak terlalu yakin mereka. 

Saat ada mobil mendekati Jae In salah satu dari mereka bilang, "Jika itu mobilnya, kita akan tahu semuanya."

Tapi Jae In terus jalan dan gak masuk mobil yang datang untuk menjemput anak-anak sekolah.


Rencana mereka gagal, mereka pun berpisah untuk naik ke mobil jemputan masing-masing.



Dae Bong juga dijemput mobil mewah, An ikutan naik. An heran, "Tadi malam, ayahmu memukulmu tapi hari ini ayahmu mengirim mobil. Aku penasaran isi kepalanya."

"Cinta orang tua pasti akan meledak sehari sesudah mereka memukuli anak-anaknya. Oke?"

"Oke."

Lalu mereka minta pak supir untuk jalan. 




Di lampu merah, Dae Bong melihat Jae In nyebrang, "Itu anak baru."

An pun memperhatikannya.

Dae Bong nanya, "Apa yang lebih tinggi dari bupati? Anggota dewan kota? Apa dia putri dari keluarga konglomerat?"

"Kenapa kau kepo?"

"Beberapa orang dilahirkan dengan keelokan. Ambil aku sebagai contoh. Aku terlihat murahan bahkan di mobil mewah ini. Kenapa menurutmu begitu? Itu karena ayahku orang kaya baru. Tapi aku tahu dia dilahirkan dengan sendok perak di mulutnya."

"Kau pikir begitu?"

An malah ngelamunin perkataan Jae In di bis yang gak memperbolehkannya ngomong kalau mereka tetanggaan, terutama fakta bahwa Jae In tinggal di atap.

"Itu cara yang sulit untuk hidup." Gumam An.




An melihat seseorang dengan pakaian serba hitam, ia sontak melihat Jae In karena arah mereka sama. 



Dan bener, orang itu ngikutin Hae In sampai ke toserba tempat Hae In kerja paruh waktu.




Ternyata dia adalah guru MTK nyebelin itu, saat Jae In berdiri di meja kasir, ia mendekat sambil mengeluarkan minuman energi dari dalam sakunya. 

"Ucapkan selamat tinggal pada kepercayaan dirimu." Guru MTK akan menyiram Jae In dengan minuman itu tapi sebuah tangan menahannya. 




Tangan itu milik An dan karena sentuhannya An bisa melihat kalau sebenarnya isi botol itu adalah asam klorida.


Guru MTK melawan, tapi An bisa menjatuhkan guru MTK sampai botolnya jatuh ke meja kasir dan cairannya mengap. 


An: Aku terlalu malu untuk berjalan di jalanan. Kukira jika kau memiliki hati nurani, kau tak akan menjual tes pada siswa.

Guru: Lepas. Lepaskan aku!



Jae In juga meminta An melepaskan Guru MTK dengan panik. An malah marah, "Seonsaeong-nim apanya? Dia tak layak manjadi guru."

Sementara itu, Guru MTK mulai menghirup asam klorida dan kesulitan bernafas. 

Jae In mengingatkan kalau itu adalah asam klorida. An menjawab ia tahu, lalu tanya, apa bahayanya? Kelamaan harus menjawab, Jae In mendorong An hingga Guru MTK bisa menjauh dari asam klorida.




Si guru megap-megap mengatur nafas. An yang gak tahu bahaya asam klorida cuma garuk-garuk belakang telinganya sambil menatap Jae In.




Guru MTK dibawa oleh polisi, disana juga ada Ji Soo.

Guru MTK bicara pada Jae In sebelum msuk mobil polisi, "Apa salahnya menjual soal tes? Bahkan dia bisa punya kehidupan, jadi kenapa aku tak bisa punya juga? Akan kuberi tahu semua orang siapa kau sebenarnya. Tahu?"




Setelah mobil polisi pergi, Jae In memberikan rekaman CCTV dan botol tempat cairan klorida tadi pada Ji Soo.

"Aku cukup yakin ini asam klorida." Kata Jae In.


An ikut-ikutan, "Itu membuat kulit terbakar saat bersentuhan. Noona tahu? Bagaimana bisa dia melemparkan itu pada perempuan?" AN beralih pada Jae In, "Wah.. Jika tak ada aku, kau bisa apa?"

Sementara itu Ji Soo kagum pada Jae In, "Kau pasti syok, tapi kau dengan tenang mengumpulkan bukti. Kau baik-baik saja? Apa perlu ke RS?"

"Aku baik-baik saja." Jawab Jae In.



Tapi An melihat kalau tangan Jae In gemetar. Artinya Jae In cuma pura-pura kuat.

Ji Soo: Kau harus berikan pernyataan di kantor polisi.

Jae In: Aku akan setelah paruh waktuku selesai. Sekarang aku tak bisa meninggalkannya.

Ji Soo: Baiklah. Juga, hubungi orang tuamu.

Lalu Jae In permisi karena ada pelanggan masuk toko.




Ji Soo memuji Jae In sebagai wanita yang cerdas, bukan seperti cowok yang ia kenal (sambil ngelirik An).

An sok gak tahu, "Siapa? Aku?"

"Benar kau. Kau tak tahu nomor darurat 112? Apa aku bodyguard-mu? Kau orang kaya? Kau selalu meneleponku saat dalam kesulitan. Jangan tertawa." Jae In siap memukul An. 

"Meneleponmu akan lebih cepat. Juga, kini aku tak mendapat masalah. Hari ini, aku adalah penyelamat. Aku penyelamat hari ini."

"Kau benar. Astaga, rasanya canggung."

Sesekali Jae In menatao mereka.



Sesekali Jae In menatao mereka.



Ji Soo tanya, siapa Jae In? Teman? 

"Ah.. Wanita yang menuduhku cabul."

"Kudengar pelakunya ditangkap. Apa ini? Apa kau mengikutinya?"

"Siapa yang mengikutinya? Dia murid baru di kelasku."

"Murid baru?"

"Hmm.. Juga, dia tetangga baruku."

"Dia ada di kelas yang sama dan juga tetanggamu? Rasanya seperti takdir daripada kebetulan."

"Takdir, apanya! Aigoo.. Kau bereaksi berlebihan lagi."


Otak Ji Soo langsung menghubungkan penjelasan An dengan teka-teki Seung Mo yang kemarin, diakhir episode 1.

Begini kata Seung Mo, "Sampai dia menemukan seseorang, dia benar-benar ingin melakukan psikometri. Dia mungkin sudah bertemu orang itu. Anak itu."

Ji Soo menduga "anak itu" yang dimaksud oleh Seung Mo adalah Jae In.

Lalu ponsel Jae In bunyi, ada panggilan masuk. Melihat kalau itu panggilan penting, Ji Soo langsung pamit.




An kembali ke dalam, ia mengikuti Jae In yang sedang menata barang-barang. Kebetulan disana ada permen favoritnya, ia akan mengambilnya, tapi Jae In nanya jadinya ia gak jadi ngambil, 

"Bagaimana kau tahu?"

"Aku melihat dia mengikutimu dari sekolah."

"Ah.." 

"Jika kau ingin mengucapkan terima kasih, sekaranglah saatnya. Lewatkan jika akan canggung."

"Bagaimana ini... Kau harus mendengarnya saat tak ada orang di sekitarmu."



"Apa ini pekerjaan paruh waktumu?"

"Ya."

"Maka ini pasti.. rahasia juga."

"Aku tak tahu kenapa kau terus melihat sisiku. Aku.. sangat berterima kasih."



An mengembil permen itu dan menunjukkannya pada Jae In, "Ini." 

Jae In pun menoleh pada An dan melihat permen itu. 




Dae Bong ke rumahnya An, mereka masak Ramyeon. 

"Ayahku menyuruh untuk menulis Universitas Nasional Seoul. Aku tak akan masuk ke univ yang layak, tapi dengan cara ini dia bisa bilang aku takkan berhasil ke univ ternama." Cerita Dae Bong saat mereka mulai menyantap ramyeon. 

"Haruskah kutulis Universitas Kepolisian?"

"Itu kemungkinan untukmu karena kemampuanmu bisa jadi nilai plus."

"Apa begitu?"

"Ayahmu dulu polisi, sempurna. Secara resmi bergabung dengan kepolisian dan membersihkan negara dengan membereskan kejahatan bersama Seong Mo Hyeong-nim dan Ji Soo Noonim."

"Aku ragu Hyeong akan suka. Dia akan tahu aku curang."

"Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Hahahaha"

"Aku sudah belajar sungguh-sungguh!" An nonjok-nonjok bahu Dae Bong kesal. 

"Pukulanmu sangat sakit."



An nanya serius kali ini, apa Dae Bong serius takkan kuliah?

"Kenapa aku belajar di universitas saat keluargaku punya delapan perusahaan gas? Kenapa kau pikir aku tak pernah kabur meskipun ayahku memukulku?"

"Aku iri.. dengan sendok minyakmu."



Ji Soo dan Seung Mo menanti kehadiran Kim-ssi karena sudah waktunya pertemuan mereka. Seung Mo menghubungi Kim-ssi, tapi gak ada jawaban. 

Ji Soo menjawab panggilan masuk dan itu membuatnya terkejut, "Apa?" Ia mengakhirnya dengan mengatakan kalau ia mengerti.



Seung Mo tanya, apa ada masalah? 

"Teman An hampir diserang oleh asam klorida tadi."

"Itu hanya serangan percobaan, jadi tersangka pasti sudah dilepaskan." Seung Mo tampak gak tertarik.

"Benar. Tapi siswa yang hampir menjadi korban adalah Yoon Jae In Haksaeng."

Seung Mo langsung berdiri. Ji Soo langsung yakin dengan dugaannya, "Benar, kan? Dia anak yang kau maksudkan. Anak yang ingin kau pertemukan dengan An."

"Dimana dia sekarang?"

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis He is Psychometric Episode 3 Part 3"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: