Sinopsis He is Psychometric Episode 3 Part 2

Sumber: tvN




Ji Soo tiba-tiba naik ke mobil Seung Mo dengan wajah kusut. Seung Mo tanya, Apa ada masalah?

"Tak ada."

"Siapa?"

"Cincin."

"Kau akan cari cincinmu di mobilku?"

"Serius. Kang Hee Sook, pengasuh."

"Aku bercanda di waktu yang salah. Berangkat."

"Cepat berangkat."


Mereka ke apartemennya Kang Hae Sook, tapi gak ada orangnya. Ji Soo mengatakan kalau di dalam gak ada orang, ia udah nunggu sepanjang malam semalam tapi Kang Hae Sook tidak keluar.

"Apa yang dikatakan pemilik(apartemen)nya?"



"Dia tinggal selama tiga tahun dan merupakan penyewa ideal yang sewanya selalu tepat waktu. Tapi orang lain menandatangani kontrak, jadi dia tak tahu seperti apa wajahnya."

"Tak ada yang bisa menghubunginya sesudah kebakaran?"

"Jadi, aku mencari tahu. Ada sesuatu yang janggal! Selama 3 tahun yang lalu dia penyendiri dan punya kredit yang buruk. Tiba-tipa dia mendaftar layanan reparasi kredit, memperoleh lisensi pengasuh, dan mendapat pekerjaan di sana. Tapi dia tak punya kenalan. Keluarga pun tak ada. Tidak ada yang tahu orang seperti apa dia. Dia seperti orang yang tak terlihat. Aku menunjukkan fotonya pada perawat, dan katanya, mereka belum pernah melihat dia."

"Orang yang tak terlihat?"

"Aku bukannya sedang mengejar hantu. Aku bahkan tak tahu kenapa aku mencari wanita ini. Aku seharusnya tak meminta An untuk melakukan psikometri. Itu hanya membuatku penasaran."

"Anehnya ponsel dia mendadak tak bisa dihubungi. Jadi, mau bagaimana?"

"Mau kulaporkan sebagai orang hilang, dan berhenti cari tahu. Jika aku bersikeras menyelidiki wanita ini lebih dalam, mereka akan berpikir aku gila."

"Ayahmu akan suka mendengar ini."




Ji Soo mengacak-acak rambutnya prustasi, "Tapi ada yang tak beres. Seolah-olah aku tak menyeka sesudah mengotori."

Saat ia menoleh, Seung Mo malah menutup hidungnya. Ji Soo menjelaskan, "Aku hanya mengatakan perasaanku." Lalu ia mengajak Seung Mo pergi sarapan. 


Poster yang tadi tertempel di didnding jatuh dan di-close-up. Tulisannya, "Yukgaejang Tradisional"




Dae Bong mendekati An yang sedang menyortir sampah dengan heboh, katanya ada masalah besar.

"Masalah besar apa? Guru matematika dipecat? Atau ada siswa yang ketahuan ketika menyontek?"

"Hidup memang sangat mudah jika kau kaya."

"Itu tak penting sekarang."

"Hei."

"Apa?"

"Kau dipukuli ayahmu?"

"Karena dia harus menyuap sekolah agar aku tak dikeluarkan. Setidaknya dia tak menggunakan tongkat golfnya, jadi tak masalah. Itu tak penting."

"Pasti soal So Hyeon."

"Benar. Dia datang ke sekolah, dan aku penasaran harus bagaimana menanyakannya."

"Ini tak ada kaitannya denganmu. Dan bisakah kau berhenti memanggilnya dengan intim? Itu mengingatkanku bagaimana kau mengkhianatiku."

"Itu bukan pengkhianatan."

"Aku bisa membaca apa yang ada di kepalamu, namun kau masih menyimpan rahasia. Lalu dengan siapa aku harus berteman?"




An membanting botol sampah dengan kesal. Lalu ia duduk diikuti Dae Bong.

An berkata kalau ia benar-benar benci orang bermuka dua.

"Benar, aku kejam." Dae Bong mengakuinya, "Omong-omong, suasana sekolah tak baik untuk bayinya."

"Hentikan, serius."

"Itu akan berefek negatif, kan?"

An menatap tajam Dae Bong karena kata-katanya gak mempan. 



Jae In menaruh susu di meja So Hyeon, Susu Bareun.

Ia juga membeli susu yang sama dan meminunya di bangkunya. 



Dae Bong juga membeli susu, ia akan meletakkannya di meja So Hyeon, tapi sudah ada susu disana, ia langsung menatap Jae In. 

Dae Bong pun gak jadi meletakkan susunya di meja So Hyeon.



Dua anak mendekati Jae In. An mulai memperhatikan. 



Mereka mengajak Jae In ke klub bersama hari ini, katanya belajar bisa membuat pusing. Jae In menolaknya. Mereka membujuk lagi, mereka akan traktir.

"Kami traktir minum. Kami senang punya pindahan berlevel sepertimu, jadi kami ingin mengadakan pesta penyambutan untukmu."



"Level?" Tanya Jae In. 

"Ibuku dokter." Jawab anak yang di depan Jae In, okee, sekarang kita panggil dia Putri Dokter, "Dia anak dari pemilik waralaba makchang. Sekolah mungkin menjadi parit, tapi tak semua siswa adalah pecundang. Saudara laki-laki An adalah jaksa. Dae Bong berasal dari keluarga kaya yang memiliki perusahaan gas."

"Oh begitu. Jadi itu yang kau maksud dengan "level"."

"Bahkan anak SD sudah memeriksa ukuran rumah masing-masing."

Putri makchang menambahi, "Ibuku memberitahuku pemilihan ayahmu dijamin. Beruntunglah kau."

Jae In: Aku tak pernah bilang ayahku calon bupati.

Putri Dokter: Bukan?


Jae In: Maaf, tapi aku tak seperti kalian yang punya ibu dokter atau franchise makchang. Bersenang-senanglah tanpa aku.

Keduanya jelas emosi.

Putri makchang: Mengesalkan. Apa hebatnya ayahmu sampai kita tak bisa berteman denganmu? Segitu membuatmu angkuh?



An mulai ikut campur, ia memanggil mereka berdua dengan kesal, "Kim Eun Soo, Oh Young Eun."

An membantu Jae In dengan caranya sendiri, ia merah-marah karena mereka membuang sampah kaleng ke tempat sampah plastik, "Apa kalian sebodoh Dae Bong?"

Keduanya membatah, "bukan kami yang membuangnya."

"Aku melihatnya. Berhati-hatilah. Kuawasi."

Karena itu, keduanya pergi dan gak jadi gangguin Jae In lagi. 




An membangunkan Dae Bong yang sedaritadi menunduk, "Kau tidur?"

Ternyata Dae Bong memeluk susunya agar tetap hangat.

An sempat melihat ke arah Jae In, tapi Jae In cepat-cepat memalingkan wajahnya saat mereka bertatapan. 




Ji Soo menyodorkan berkas pada Seung Mo, tapi Seung Mo malah memandang Ji Soo penuh tanya. 

"Sedang apa? Kita sedang menyelesaikan kasus Care Home Handmin, tanpa mendakwa siapa pun karena tersangka sudah mati. Itulah tujuan laporan ini. Cepat tanda tangani." Kata Ji Soo menjelaskan isi dokumen itu. 

"Kupikir kau curiga soal pengasuh yang hilang. Aku benar-benar bisa memahami apa yang kau maksudkan dengan pergi tanpa menyeka."

"Tidak ada cara lain. Tidak ada!"

"Ayo.. periksa sekali lagi untuk yang terakhir."



Saksi mata kasus Care Home Handmin sedang ada di RS, ia menulis identias seorang pasien yang fotonya di tutupi. Nama pasiennya Kim Song Hee.



Tepat saat itu Seung Mo menelfon, "Saya ingin dengar... apa yang Anda saksikan terakhir kali. Maaf atas ketidaknyamanan ini, tapi bisakah Anda datang?"

"Tapi saya sedikit jauh."

"Saya minta tolong."

"Saya mengerti."



Seung Mo mengajak Ji Soo menunda untuk menandatangani laporan itu sehari lagi. Jelas Ji Soo senang mendengarnya. 

"Terima kasih banyak. Hubungi aku saat Kim-ssi datang."

Ji Soo pun keluar.


Kim-ssi selesai mengisi data, lalu ia memberikannya ke perawat, "Aku perlu keluar sebentar. Mohon rawat pasien ini dengan baik."

"Kim Song Hee-ssi?"

"Ya." 



Kim-ssi melihat ke ruangan Kim Song Hee, orangnya duduk di kursi roda dan sedang menyulam. Eh.. dia make cincin yang sama persis kaya wanita di penglihatan An.



Kim-ssi sampai di jalanan sepi pinggir waduk atau sejenisnya. Disana ada pemancing yang menghentikannya, mau numpang keknya. 

Tapi setelah melewati orang itu tiba-tiba ban mobilnya meletus hingga membuat mobil oleng, maka Kim-ssi segera menghentikan mobil. 




Kim-ssi keluar untuk ngecek ban mobil, beneran udah gak ada anginnya. Ia marah ke orang yang mencegatnya tadi, "Apa-apaan kau?"

Tapi orang itu malah mendekat sambil bawa palu dan wajahnya ditutup pake syal, yang kelihatan cuma matanya aja.


Bu Guru masuk saat anak-anak sibuk sendiri, "Kalian tak perlu kasih salam, tapi jangan abaikan aku."



Bu Guru mendekati Jae In, "Jae In, bicaralah dengan orang tuamu dan isi formulir ini untuk universitas tujuanmu."

Jae In mengiyakan. Ibu Guru memberikan formulirnya. 

Lalu ibu Guru nanya ke anak-anak lain, "Angkat tangan jika kalian belum mengirimkan survei karier impian kalian."



Dae Bong yang pertama mengangkat tangannya, "Aku. Aku tak punya tujuan."

"Aku tahu, tapi itu tak berarti aku bisa bermalasan saat negara membayar gajiku. Kirimkan besok!!"



Setelah Ibu Guru pergi, An tanya sama Dae Bong, memangnya tadi soal apa? 

"Apa yang kau tahu?" Dae Bong lalu menggeledah lacinya dan mendapatkan kertas yang sudah ia remas, "Nih."

"Ah.." An ngerti setelah membacanya, lalu ia menoleh pada Jae In.


Jae In menulis Universitas tujuannya, Universitas Nasional Seoul->Jurusan Jaksa. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis He is Psychometric Episode 3 Part 2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: