Sinopsis He is Psychometric Episode 3 Part 5

Sumber: tvN




Jae In gak sanggup lagi, ia keluar kelas. An mengikutinya.



Jae In menuju atap, nafasnya udah gak teratur, ia pun menghirup kantong kertas untuk menetralkan nafasnya.

An khawatir, "Kau baik-baik saja?"

Jae In melarang An mendekat dengan tangannya karena ia gak bisa ngomong. An pun diam di tempat. 




Setelah bisa ngomong, Jae In baru cerita. Tadi itu ia mengalami hiperpnea, terjadi saat jumlah karbon dioksida dalam darahnya turun karena bernafas dengan cemas.

"Apa menghirup kantong kertas membantu?" Tanya An. 

"Ya. Aku menghirup karbon dioksida kembali dengan cara ini."

"Entah aku mengerti atau tidak, tapi aku mengerti ini bukan sesuatu yang baik. Apa ini sering terjadi?"

"Kadang-kadang, saat aku stres."

"Kau selalu bawa kantong itu. Sepertinya tidak kadang-kadang."



"Aku pura-pura sepanjang waktu, tapi sebenarnya hatiku rapuh. Kuharap bisa bertahan sampai UN."

"Kuliah di Universitas Nasional Seoul bukanlah obat untuk itu."

"Setidaknya aku butuh sesuatu untuk melindungiku, karena aku tak punya orang tua, uang pun tak ada. Selama ini, aku sudah jadi yang terbaik di kelasku, tapi jika orang orang tahu.. aku wanita miskin yang tinggal di apartemen atap, takkan ada yang melindungi. Bahkan aku tak akan bisa berdiri. Walau kutahu terdengar konyol bagimu."



"Tidak. Aku pun begitu. Tak punya orang tua, uang pun tak ada. Satu-satunya hal yang harus kulindungi adalah... kemampuan superior ini."

"Kau punya kakak. Kakak yang kompeten."

"Kakakku itu.. sudah meninggalkanku di panti asuhan tanpa mengucapkan sepatah kata."



Setelah mengantar An ke panti asuhan, Seung Mo meninggalkan An hanya dengan perkataan maaf.

"Kenapa minta maaf? Hyeong akan kembali padaku, kan?" Tangis An, tapi ia gak mendapat jawaban. 



An berubah menjadi siswa yang suka berantem, tapi ia selalu menang walaupun lawannya buanyak.

"Jika ada yang mencoba cari gara-gara denganku, akan kubunuh mereka semua."



Selesai bertarung, An jalan sendiri dibawah hujan salju dengan tangan bercucuran darah. Langkahnya gontai, sangat menyedihkan.



An mendengar sesuatu di tempat sampah, ia menoleh dan ternyata ada anak anjing dibuang.



Di atas kardus tertulis, "Tolong ambil anak anjing ini."



An membuka kardus itu. "Kau ditinggalkan juga. Aku pun. Kau sendirian?"

Seakan anjing itu balik bertanya, An menjawab, "Oh. Aku juga."

"Namamu Heuinnun (Salju Putih). Ah.. Kau benar-benar putih seperti salju."

An menyentuh Hauinnun hingga membuat bulunya merah karena darah. An segera minta maaf, tak seharusnya ia menyentuh Heuinnun. 



An akan menangis, "Semua orang... meninggalkan aku saat aku menyentuhnya. Kau mau... pulang bersamaku?"

An pun mengangkat Heuinnun.




Saat akan menaiki tangga, seorang bicara padanya.

"Aku di sini untukmu."

An mendongak, dia adalah Seung Mo.

Seung Mo melanjutkan, "Aku tidak terlambat, kan?"

An menangis sesenggukan, "Aku merindukanmu. Hyeong."




An melanjutkan ceritanya, "Aku tak bisa membacanya. Dia satu-satunya yang tak bisa kubaca. Katanya dia harus mengurus sesuatu yang penting. Pokoknya, aku tak tahu dan hanya membencinya."

"Apa kau berpikir... kakakmu meninggalkanmu karena kemampuanmu?"

An mengangguk, "Aku sangat membenci dia dan kemampuan ini. Tapi tidak lagi. Aku memutuskan untuk menghargainya saat Seong Mo kembali untukku."



"Omong-omong, kenapa kau menceritakannya padaku? Bukankah ini rahasia?"

"Kau harus.. ceritakan soal ayahmu juga. Aku di sini untuk mendengarnya. Sampai kapan pun tak bisa kau hindari. Belajar, pekerjaan paruh waktu, dan kemudian menyembunyikan identitasmu. Bukankah lelah?"




Suara Jae In bergetar karena menangis, "Lelah. Lelah hingga mati. Dia mungkin tidak dijebak. Bisa saja dia pelakunya. Oleh karena itu... Oleh karena itu, aku takut. Itu sebabnya aku ragu memintamu untuk membacaku. Aku tak yakin."

"Misalkan... ayahmu bersalah, itu bukan salahmu."

"Dunia berpikir itu."

"Kenapa peduli dengan apa yang dipikirkan dunia? Orang-orang yang suka padamu takkan berpikir begitu."

Jae In langsung diam.



An janji akan membantu Jae In, "Bukan sekarang, tapi saat kau siap."





Malam-malam seorang menulis di dinding sekolah. Lalu ia pergi dengan meninggalkan cat-nya di semak-semak. 



Jae In senyum-senyum pagi ini saat keluar rumah. Ia mencari-cari An di tempat An biasa muncul tapi An gak ada. Tapi ia juga gak punya waktu nunggu An. Ia pun  berangkat sendiri karena gak ingin terlambat.



An bangun kesiangan, ia mampir ke rumah Jae In tapi rumahnya kosong. Ia pun segera berangkat.



Sampai disekolah, An manjat gerbang untuk masuk ke dalam. 

Tiba-tiba Dae Bong menghampirinya, katanya ada masalah gawat.

An kesal, "Akan kupukul kau jika ini soal So Hyeon lagi."

"Ini soal Yoon Jae In."

Dae Bong langsung menarik An. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis He is Psychometric Episode 3 Part 5"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: