Sinopsis He Is Psychometric Episode 2 Part 3

Sumber: tvN





Benerkan, nomor itu adalah nomor tahanan ayahnya Jae In. Sekarang di sel ayahnya Jae In terus menatap foto Jae In. Teman satu sel mengatakan kalau Ayah akan segera bertemu dengan Jae In. 

"Aku tak ingin melupakan wajahnya." Kata Ayah. 

"Bagaimana hasil pembebasan bersyarat? Yah, meskipun benar kau napi panutan, kau baru 11 tahun. Masih terlalu dini. Benar, kan?"

Ayah tidak merespon, hanya mengelus foto Jae In.



Jae In yakin ia tidak salah dengar. An jelas bilang "3145" tadi, tapi bagaimana An bisa tahu? Eh.. dibelakang Jae In ada yang ngikutin. 



Jae In menyadari itu, ia pun jalan lebih cepat. 

"Permisi."

Jae In mengeluarkan alat kejutnya dan menyalakannya.

Mereka melewati sebuah gambar.



Orang itu memanggil lagi, "Permisi, Haksaeng (Murid/Panggilan untuk pelajar)!"

Jae In akhirnya berbalik. Ternyata orang itu adalah Seung Mo.

Seung Mo, "Kau Yoon Jae In-Haksaeng?"

"Kau mengenalku?"

"Mungkin."

"Siapa?"




Seung Mo maju satu langkah, Jae In mundur satu langkah. Seung Mo menjawab, "Kau bilang ingin bertemu aku."

"Apa? Siapa kau?"

"Yah, aku mendengar dari Sinbu-nim kau ingin bertemu denganku."

Jae In langsung mengenali Seung Mo, ia merasa bersalah sudah menodong Seung Mo dengan alat kejut.




Mereka bicara di toserba yang buka 24 jam. Seung Mo tanya, apa Jae In sangat terkejut?

"Aku tak tahu kau sangat muda dan akan datang tiba-tiba."

"Sebenarnya, aku tinggal di seberang apartemen atap. Aku tak cukup kaya."

"Namun, kau mengirim uang sebagai dukungan. Aku akan memastikan untuk membayarmu kembali setiap sennya."

"Kuminta kau membayarku dengan cara lain."

"Apa itu?"

"Aku ingin melihatmu bahagia."

"Ah.. Aku lebih suka membayar uang."

"Kalau begitu, terserah."




Mereka minum minumannya barengan, lalu Jae In tanya, "Tapi, pernahkah kita bertemu sebelumnya?"

Seung Mo tiba-tiba batuk-batuk. Jae In langsung mengulurkan tisu.

Seung Mo, "Bukankah itu kalimat untuk mendapat perhatian seseorang?"

"Tidak... Aku yakin pernah melihatmu di suatu tempat." AKhirnya Jae In ingat, "HAH! Kau jaksa penuntut utama dalam kasus kebakaran Home Care! Hah! Aku melihatmu di berita."

"Lalu?"

"Ya?"

"Aku sudah melihatmu di TV. Kau terlihat sangat tampan, tapi lebih tampan secara langsung". Aku terbiasa dengan itu."

"Ah.."

Seung Mo gagal melucu, "Harusnya itu lucu. Hal lain dapat dipelajari dari buku, tapi lelucon tidak."



An mandi sambil siulan. Lalu tiba-tiba memikirkan lagi apa yang dilihatnya, ia yakin dia adalah wanita. 


Dan habis mandi, ia bicara dengan Dae Bong lewat telfon. 

"Wanita masuk ke kantor guru? Cantik?" Tanya Dae Bong. 

"Tahu sendiri aku suka tak melihat apa yang penting. Aku tak melihat wajahnya, tapi tingginya rata-rata. Ukuran tubuhnya 36, 24, 35."

"Woah.. Ini bukan ukuran umum untuk anak perempuan di sekolah kita."

"Soal siswi baru itu lho..."

"Kenapa dia?"


"Dia mencari-cari sesuatu, dan dia mendapatkan alasan nilaiku naik. Haruskah aku membiarkannya?"

"Satu-satunya pilihanmu adalah memberitahunya psikometrikmu."



An mulai menyantap ramyeonnya yang sudah matang.

"Dia akan berpikir aku gila." An yakin.

"Kau tahu, kenapa aku merasa seperti kau berevolusi? Bagaimana bisa kau membaca jawaban orang di depanmu?"



Ramyeon An tiba-tiba tumpah, tapi An gak gugup dan tetap bicara. 

An, "Aku tumbuh 10cm musim dingin lalu. Seong Mo Hyeong bilang kemampuan psikometrikku sebanding dengan pertumbuhan fisikku."

"Keduanya sebanding? Tapi, apa maksudnya itu?"



Ternyata Jae In dan Seung Mo tetanggaan, artinya Jae In dan An juga tetanggan karena Jae In tinggal sama Seung Mo. 

Seung Mo melihat Jae In masuk ke dalam rumah.


Di dalam, An masih bicara, "Jangan coba menggali lebih dalam. Lagian kau takkan tahu. Bukan karena aku tak bisa menjelaskannya. Tidur saja, bedebah."



An keluar untung buang sampah dan ia melihat Seung Mo, wajahnya langsung sumringah, "Hyeong! Kenapa tak masuk? Sedang apa di sini?"

"Tebak." Seung Mo mengulurkan tinjunga. 

"Ay?"




An menyentuhkan tinjunya, tapi aneh, ia tidak melihat apapaun walau sudah berusaha. 

"Sungguh misteri, tak lihat apa-apa. Dari semua orang yang kukenal, dindingmu yang paling tebal." Kata An. 

"Berarti kau masih butuh lebih banyak latihan."

"Tidak, tidak. Tidak, menurutku karena kau tak punya noradrenalin."

"Apa?"

"Kau tak ingat?"

Kilas balik 11 tahun lalu.




An menangis dengan keadaan penuh tumpahan cairan putih, susu kah?

Lalu datanglah Seung Mo sambil membawa handuk untuk membersihkan An. 

Seung Mo, "Tegakan kepalamu. Orang-orang akan lebih memandang rendah dan menggertakmu jika kau menangis."

"Hyeong. Teman sebayaku memanggilku monster. Merekalah monster yang sebenarnya. Mereka melakukan segala macam hal buruk. Aku melihat semuanya."

"Kenapa kau terus mengatakan kau melihat itu?"

"Kau juga berpikir,... aku juga berbohong?"

"Tidak, aku percaya. Tapi bukan karena mereka atau kau adalah monster. Itu karena noradrenalin."

 "Nor... Apa?"




Seung Mo mengajari An di gereja, "Noradrenalin di otak merubah emosi buruk menjadi kenangan. Itu sebabnya orang mengingat kenangan buruk lebih lama daripada kenangan baik. Itu bukan karena manusia sangat jahat atau monster. Kenangan buruk bertahan lebih lama begitu saja dan itulah yang kau lihat."

"Kenapa aku melihat itu? Aku tak mau."

"Aku bersyukur kau bisa melihatnya. Tadi, aku akan makan banyak gimbab saat orang tak melihat, tapi kau akan tahu."

An mulai tersenyum lagi, "Sungguh? Tapi aku tak bisa melihat ingatanmu. Itu sebabnya kau dan aku adalah mitra yang sempurna."

"Apa kau tak merasa kesal saat aku menyentuhmu?"

"Tidak."


An menyentuh Seung Mo seperti saat ini.

Kilas Balik selesai..



Sung Mo, "Wah.. Aku tak percaya tiba harinya kau memberiku ceramah. Inikah perasaan orangtua yang bangga?"

"Aku membesarkanmu. Sambil memastikan kau tak berbuat salah."

"Kampret ini..."




Seung Mo memberi An pelajaran, tapi karena sentuhan gak sengaja itu, An melihat Jae In. 

"o-o-o-o" An terkejut. 

"Kenapa?"

"Wanita. Wanita. Ini pertama kalinya aku melihat ingatanmu. Aku melihat wanita."

"Jangan asal menebak!"

"Serius!"


An berusaha menyentuh Seung Mo lagi untuk mencari tahu lebih, tapi tidak melihat apapun.


Jae In selesai membersihkan diri dan bersiap tidur. Ia bergumam, "Dia jaksa."


Jae In lalu membuka jendela, ia menatap rumah Seung Mo, tapi tidak ada siapapun diluar.




Esoknya di kelas, Jae In mendatangi siswa peringkat pertama. Ia menunjukkan akun SNS siswa itu.

"Benar, kan? Ini akunmu. Kau menyinggung masalah yang keliru beberapa waktu lalu. Kenapa tak hubungi guru saat kau tahu ini?"

"Apa kau pikir aku pelakunya?"

"Mari kita anggap kau saksi referensial. Siapa menurutmu siswa yang paling akan mencuri jawaban?"

"Gratis?"

"Jadi, kau tahu sesuatu."

"Aku peringkat pertama di tahun kali ini dan aku tak ingin mengulang ujian. Itu alasannya."

"Bagaimana dengan yang lainnya?"

"Yang lainnya? Ah.. masalah yang sebenarnya? Entah... Kenapa mereka tak mengatakan bahwa ada masalah dengan masalahnya? Lagian bukan rahasia?"

"Kupikir pelakunya ada di antara mereka yang tahu kebenaran ini, termasuk kau."


So Hyeon menyimak pembicaraan mereka.



Jae In melanjutkan, "Masalahnya salah dan kau mendapat jawaban yang diinginkan guru."

"Jika kau sampai sejauh itu, aku harus memberimu satu petunjuk. Sebagai hadiah. Walau kau baru di sini sehari, tapi tak ada orang yang mampu memperbaiki masalah ini selain aku. Sampai kau bergabung dengan kami."

"Apa maksudmu itu? Semua anak yang tahu ini adalah biang keladinya?"

"Katamu kau akan keluar jika tak bisa menangkap pelakunya. Kegagalanmu, keuntunganku."


An mengenggembok sebuah pintu kaca. Lalu menahan pintu lainnya dengan alat pel.



Sekarang ia bicara dengan Dae Bong.  

Dae Bong, "Tunggu. Jadi pelakunya... adalah wanita yang memiliki pena pink dan menyimpan rokok di dalam kantong kuning, dan ini satu-satunya cara untuk menangkapnya?"

"Ya. Matematika dimulai dalam waktu kurang dari 30 menit. Aku tak punya waktu untuk psikometri semua wanita di sekolah kita."

"Tidak, tidak begini. Kau bisa berakhir mati."



An menggeleng, "Mari berjumpa di kehidupan selanjutnya."

An tersenyum lalu menekan tombol alaram kebakaran. 




Semua anak langsung berhamburan keluar. Oh.. jadi tadi An memblokir semua jalan dan menyisakannya satu di depan.





An merentangkan kedua tangannya jadi ia bisa menyentuh semua anak yang melewatinya. 

Karena kebanyakan yang ia lihat, An pusing sampai mimisan dan akhirnya tumbang, ia guling-guling di tangga dan berakhir tergeletak memegangi punggung. 



Dae Bong mendekati So Hyeon, melarang So Hyeon memerdulika alaramnya karena hanya perbuatan orang iseng.



Tapi So Hyeon gak memerdulikan Dae Bong, ia malah memandangi Jae In.

So Hyeon mengajak Jae In bicara berdua.  



Anak-anak kembali karena gak ada api. Mereka kesal melihat An menghalangi jalan. 

Guru MTK dan Ibu wanita juga kembali masuk.

Guru MTK, "Usap hidungmu, berandal."
Ibu Guru, "Bangun, berandal."




Yang paling belakang adalah Pak Nafas Bau. Ia menunggu sampai An bangun. Pak Nafas Bau menduga AN adalah pelakunya. 

"Benar semua wanita keluar? Aneh." Kata An.

"Kau yang paling aneh dari semua anak di sini."

Pak Guru akan pergi tapi AN menahannya, "Benar, rokoknya. Anda tahu siapa itu? Wanita yang menyimpan rokok dalam kantong kuning."

"Apa?" Pak Guru kaget.




Jae In menyuruh So Hyeon segera bicara karena ia sibuk sekarang. 

"Kau.. seperti ayahmu. Kau tak bisa tahan terhadap ketidakadilan." Ucap So Hyeon.

"Apa yang mau kau katakan?"

"Kenapa kau harus terlibat?"

"Apa?"

"Aku... punya rahasia. Aku hanya akan memberitahumu, tapi terserah kau untuk menjaganya atau tidak. Aku berhutang... sesuatu padamu."



Pak Guru tak mengert maksud An, ia tak tahu semua anak yang merokok.

"Anda minta rokok pada semua perokok."

"Apa maksudmu?" Pak Guru membekap mulut AN dengan tangannya. An mendapat penglihatan.





Ia melihat siswi sedang meremas batang rokok dan memegang alat kehamilan. Saat itu Pak Guru Nafas Bau datang dan meminta rokoknya. Siswi itu menunjukkan wajahnya pada Pak Nafas Bau.



An melotot terkejut. Pak Guru melepaskan bekapannya.

"Itu bukan pena? Seonsaeng-nim, Anda tahu. Siapa itu?"



An kembali ke kelas, ia menuju Dae Bong dan menanyakan dimana So Hyeon. Dae Bong balik nanya, kenapa tanya-tanya So Hyeon. 


Seorang mengatakan kalau So Hyeon keluar dengan anak baru. An langsung bicara sendiri, "Anak baru? Apa dia sudah tahu?". Ia bergegas keluar. Dae Bong mengikutinya.


Dae Bong memegang lengan An, bertanya lagi kenapa An mencari So Hyeon. An melepaskan pegangan Dae Bong, sebelum bicara ia memastikan tidak ada yang mendnegarnya.

"So Hyeon... Guru matematika menyita kantong kuning dengan tes kehamilan di dalamnya."

Kilas Balik..






Saat Pak Guru Nafas bau meminta rokok So Hyeon, So Hyeon segera memasukkan alat tes kehamilannya dalam kotak pensil kuning itu. Pak Guru Nafas Bau melihatnya, tapi gak sanggung berkata apa-apa.




Lalu datanglah Guru MTK, ia mengambil kotak pensil So Hyeon, tapi yang ia lihat didalamnya cuma ada bungkus rokok. 

Guru MTK menyita kotak pensil So Hyeon itu. 


Jadi So Hyeon menyelinap ke ruang guru hari itu untuk mendapatkan kotak pensilnya kembali. 





Dae Bong gak mau percaya, ia yakin An pasti salah. 

An menunjukkan bolpoin So Hyeon yang diberikan Dae Bong, "Aku membaca pena yang kau berikan kepadaku. Sejak aku menyebutkan kantong kuning, kau tahu dia pelakunya."

"Apa itu sebabnya dia putus dengan pacarnya? Aku akan membunuh si brengsek itu."

Dae Bong langsung lari.



Jae In terkejut mendengar pengakuan So Hyeon. "Apa itu... benar?"

"Ketika kau diusir dari lingkungan dahulu kala, ibu ayahku cerewet soal itu. Aku ingin minta maaf. Terima ini sebagai permintaan maaf untuk saat itu."

"Jangan bicara soal masalah itu. Lalu... apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Aku akan bertahan sampai lulus. Tapi, sepertinya sulit."

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis He Is Psychometric Episode 2 Part 3"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: