Sinopsis He Is Psychometric Episode 1 Part 2

Sumber: tvN





Detektif Eun menunjukkan apa arti nomor itu dan ternyata itu nomor bra ketiga korban. An tak menyangka, jadi itu hasil penglihatan psikometrinya?

An, "Tidak mungkin. Mengapa aku melihat angka itu bukan yang lain?"

Detektif Eun, "Itulah yang ingin kutanyakan. Kemari. Kubunuh kau."




An sembunyi dibalik dokter, "Tunggu, tunggu. Ini mungkin samar, tapi aku melihat seorang wanita. Itu saja. Dia mengenakan cincin."

Dokter, "Tidak ada mayat wanita dengan cincin."

An. "Jika dia bukan korban, dia pelakunya, pelaku."

Detektif Eun, "Pelaku? Pelaku gundulmu. Kau mencoba menipuku?"

Saat Detektif Eun akan mendekati An lagi, pintu di ketuk.



Di luar orang itu mengatakan siapa dirinya, "Dr. Dr. Hong, Kang Seung Mo disini."

Ketiganya langsung diam, hanya bicara lewat gerakan mulut tanpa suara.

Seung Mo mengetuk lagi, tapi masih belum ada jawaban.



Seung Mo mengetuk lagi, tapi masih belum ada jawaban.

Ketiganya mundur ke pojokan. 


Dr. Hong, "Gimana nih?"

Detektif Eun, "Gimana apanya? Katamu tanggung jawab besar datang dengan kekuatan besar. Katakan padanya apa yang kau lihat. Percaya dirilah."

An, "Kau kan yang memanggilku duluan untuk membantumu. Aku tidak akan mati sendirian."

Detektif Eun mau mukul lagi, "Kau ini..."

Seung Mo mengetuk lagi. Detektif Eun menyuruh An sembunyi. An bingung, mau sembunyi dimana? Gak ada tempat sembunyi. 

Detektif Eun menjawab dengan kesal, "Cari saja sendiri.

Detektif Eun dan Dr. Hong berjalan ke pintu meninggalkan An sendirian.



Dr. Hong membuka pintu dengan gaya yang gak biasa. Seung Mo langsung masuk. Untung An udah gak ada disana.



Detektif Eun bicara dengan menggebu, "Pelakunya pasti psikopat bukan? Mengapa dia tidak menyudahi sebagai pembunuhan daripada membuat kacau dengan kebakaran juga?"

Seung Mo, "Sepertinya perilaku khasnya itu ingin sekali menyembunyikan kebenaran."

Detektif Eun, "Nah makanya. Dia sungguh gila."

Seung Mo, "Bukan pelakunya, tapi maksudku itu kau."


Detektif Eun refleks menunjuk dirinya.

Seung Mo menjelaskan, "Kau sangat over acting sekarang. Anehnya kau selalu menghindari mataku."

Detektif Eun mencari alasan, "Karena ini... mirip sekali dengan kasus Apartemen Yeongseong 11 tahun lalu. Itu sangat menggangguku."



Ternyata An bersembunyi di salah satu loker dan tak sengaja ia menjatuhkan ponselnya. Kejadian itu menimbulkan suara. 



Detektif Eun segera mengalihkan perhatian Seung Mo.

Tapi Seung Mo keknya tetep curiga. 

Seung Mo, "Aku korban kasus Apartemen Yeongseong itu, kenapa kau  yang repot?"

Detektif Eun, "Aku perhatian padamu. Tidak tahu?"

Seung Mo, "Aku akan mengingatnya."

An membuka telinga lebar-lebar mendengar pembicaraan mengenai kasus Apartemen Yeongseong.



Seung Mo melanjutkan, jika kau benar-benar perhatian berhentilah mengatakan tentang spekulatif cerita seperti meniru,kebetulan atau lainnya. Tunjukkan hal yang nyata."

Detektif Eun, "Hal yang nyata?"


"Kalian sudah datang ke TKP bahkan datang ke kamar otopsi dan tanpa menjawab teleponku. Itu berarti kau punya alasan yang sangat penting. Apakah kau menemukan sesuatu dari tubuhnya?"

"Ah itu... jadi... Kami menemukan pakaian dalam korban yang berserakan. Kami berbicara tentang hal itu sekarang."


Detektif Eun meminta persetujuan Dr. Oh. Dr. Oh memberkan dengan gagap.


Seung Mo, "Arti khusus pakaian dalam korban?"

"Kami mencari tahu. Bagaimana dengan dirimu sendiri? Apa kau juga menemukan sesuatu?"

"Ah. Tidak ada yang istimewa."

"HAHAHA. Kau tidak menemukan apa-apa. Jadi, kenapa meneleponku?"

"Aku menemukan saksi mata."



Detektif Eun kepikiran kata-kata An, ia langsung tanya, "Saksi mata? Maksudmu,orang yang menyaksikan kejadian? Pelakunya itu wanita dengan cincin di jarinya? Atau wanita itu seorang saksi?"

"Itu seorang pria."

"Ah.. Ternyata pria. Kalau gitu, kita harus menemuinya lebih dulu. Ayo buruan kita pergi?"

"Tentu saja."



Keduanya keluar duluan dan tos di luar karena gak ketahuan. Tapi...

Seung Mo mengunci pintu dari dalam. Keduanya panik di luar. Seung Mo bilang ia mau memeriksa sesuatu. 

Detektif Eun dan Dr. Hong mengetuk-ngetuk pintu dari luar tapi diabaikan.



Seung Mo melihat ada tali tas nyembul keluar dari loker di pojok kiri. Ia langsung membukanya dan terlihatnya An disana.





An meringis saat Seung Mo mengeluarkannya. "Halo, Hyung." Lalu mingkem dia.

"Bukankah aku memberitahu jauhi tempat ini?"

"Hari ini tidak sia-sia. Cincin itu. Wanita dengan cincin ada di TKP."

"Tapi saksi tidak mengatakan apa-apa."

"Ah aku sedih mendengarnya."

"Hmm, mayat yang ditusuk, dimutilasi, ataukah tenggelam. Yang mana yang tipemu?"

"Hmm? Kenapa bertanya?"



"Jika kemampuanmu bukan yang terburuk... maka kau boleh melihat salah satu dari mereka. Aku harap kau jangan pamer soal kemampuanmu."


Seung Mo lalu mengunci An di dalam. An teriak-teriak minta di keluarkan. 





An berusaha agar bagian tubuhnya tidak menyentuh apapun, tapi gagal, rambutnya menyentuh alas dan dia bisa melihat berbagai macam mayat yang ada di bawah dan di atasnya. 

Teriaklah ia sekencengnya minta dikeluarkan.




Seung Mo, "Jangan panggil namaku." Dan Seung Mo tersenyum puas.

An akhirnya pingsan.




Seung Mo menginterogasi saksi dan disaksikan banyak orang di ruang CCTV.

"Apa anda ada ketika kebakaran terjadi di sana?"

"Ya, saya konsultan asuransi. Saya perlu mendapat beberapa informasi dari klien di kamar 702 sebelum bekerja, saya sedang dalam perjalanan."

Kilas balik..





Orang itu mendengar suara tawa keras seorang wanita dari ruang 701, ia ngintip. Ia melihat wanita yang berpakaian baju pasien menusuk pasien lain yang terbaring. 

Orang itu kaget sampai menjatuhkan minuman energi yang dibawanya. Lalu wanita itu menyiram minyak ke tanah dan menyulutnya dengan korek api.  




Orang itu langsung memanggil perawat.

Alaram kebakaran dinyalakan, serta menelfon pemada kebakaran. Pasien-pasien lain dievakuasi. Si bapak membantu.

Kilas Balik selesai..




Seung Mo, "Tapi mengapa anda menyebutkannya setelah... 2 jam kecelakaan?"

Detektif Eun ada diatara penonton.

Si bapak, "Saya pikir orang lain telah meilaporkannya."

"Anda melukai kaki anda."

"Saya sedang terburu-buru. Sebenarnya, saya merasa menyesal dan bersalah karena dievakuasi sendirian. Jadi tidak langsung melaporkannya. Saya benar-benar menyesal."





Seung Mo melakukan presentasi, "Tersangka Song Hee Jung, 57 tahun. Dia dirawat 3 bulan yang lalu karena depresi. Menurut perawat yang bertanggung jawab dia sering mengancam pasien dia akan membunuh semua orang. Sehari sebelumnya, dia diminta meninggalkan Rumah sakit karena dia tidak bisa membayar tagihan. Ditambah lagi tersangka membuat situasi memburuk. Diia membunuh korban... melukai diri sendiri, dan meilakukan pembakaran."



"Bagaimana opini publik?" Tanya Kepala Detektif.

"Daripada pembunuhan atau pembakaran, mereka mengkritik buruknya sistem proteksi kebakaran." Jawab Detektif Eun.

"Masalah itu dibawa di setiap kasus kebakaran."



Kepala Detektif bicara sama kepala jaksa, "Mari kita membuat penjelasan resmi dulu sebelum wartawan memberikan berita hoax."

"Lalukan. Itu adalah langkah awal yang bagus. Jaksa dan polisi tidak akan dikritik."

"Dengan Investigasi Khusus Unit... hanya butuh waktu dua jam saja. Bukankah terlalu cepat, Jaksa Kang?"

"Ah, saya hanya beruntung."



Kepala Jaksa bertanya, apa Detektif Eun dan Seung Mo saling mengenal?

Seung Mo, "Saya sudah mengenal beliau sejak lama."

Kepala Jaksa pada Kepala Detektif, "Ah.. Karena Detektif Eun putri anda kah?"

"Iya. Dia masih harus banyak belajar."

"Siapa yang akan membuat pengumuman?"


Detektif Eun mengangkat tangan, "Aku!"

Tapi Kepala Detektif tidak setuju, "Jaksa Kang melakukan semua pekerjaan. Tidak pantas jika kita yang melakukannya."




Eun membela, "Meski kita memiliki saksi... tapi saya pikir itu terlalu dini untuk mengumumkannya. Mengapa kita tidak memeriksa ulang kasusnya dan mengumumkannya setelah itu?"

"Apa ada hal yang mengganggu anda?"

"Saya perlu memeriksa sesuatu."

"Apa itu?"

"Mungkin tidak cukup untuk berbagi disini.

"Detektif Eun. Jika anda ingin menyela maka lebih baik jika anda memiliki sesuatu yang lebih pasti. Anda tidak dapat menyela arahan kami."

"Kesaksian itu tidak cukup. Saya tidak ingin ini berakhir seperti kasus Apartemen Yeongseong."



Kepala Detektif gemetar, ia menutupinya dengan teriak, "Kenapa membawa kasus apartemen itu ke sini?"

Seung Mo menyela, "Permisi, Detektif Eun."




Detektif Eun, "Dua kasus itu terlalu mirip. Para korban adalah wanita... dan kebakaran untuk menutupi pembunuhan. Saya yakin kalian tahu, tapi... tersangka kembali tanpa pernah tertangkap. Itu sebabnya orang-orang mengatakan pembunuh itu kembali. Bukankah kalian sudah memeriksa opini publik?

Seung Mo, "Detektif Eun."

Kepala Detektif, "Pembunuh yang sebenarnya? Apa kau mengatakan bahwa Ayahmu tidak becus mengatasi kasus 11 tahun lalu itu?!"



Hening sebentar, lalu Kepala Jaksa memecahnya, "Jaksa Kang, mari kita bersiap untuk briefing."

Semua Jaksa berdiri. 



Detektif Eun: Aku hanya mengatakan bahwa kita harus yakin.

Kepala Detektif: Di pakaian tersangka itu penuh dengan darah korban. Bukti apa lagi yang kau butuhkan?


Seung Mo yang memberikan pengumuman ke media, "Kebakaran pada tanggal 3 oktober, 2016, sekitar jam 6 pagi di Kamar 701 di Perawatan Rumah Hanmin. Terungkap menjadi kasus pembunuhan oleh seorang pasien depresi yang membunuh dua pasien lainnya. Dia lalu melukai dirinya dan memulai kebakaran di TKP. Dalam insiden tragis ini terdapat 60 korban yang sudah dievakuasi dengan selamat berkat menaati peraturan keselamatan kebakaran. asien demensia atau stroke yang tewas dalam insiden ada 20 orang dan 40 lainnya terluka. Kebakaran ini..."



Seseorang yang berpakaian serba hitam bertopi dan memakai masker berhenti melihat berita sebentar sebelum jalan lagi. Buru-buru banget dianya.


Ada mobil yang menjemputnya. Seorang Ahjumma memanggilnya Jae In dan menyuruhnya segera masuk mobil. 



Setelah masuk, Jae In membuka topi dan maskernya, ia memastikan, "Tidak ada yang mengikuti kan?"

"Kita bukan amatiran. Apa kau harus melakukan ini terus?"

Jae In menyuruh pak supir segera berangkat.

Di perjalanan, Jae In memberikan alamat ke Imo-nya (Bibi), kesanalah tujuan mereka.

"Aigoo. Aku rasa kau punya tempat." Kata Imo setelah membaca alamatnya. 

"Tidak hanya itu. Aku sudah menemukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu."

"Benar. Kau lebih dari seorang veteran sekarang."

Jae In meminta barangnya. Imo memberikan tas yang ada di belakang.


Waktunya turun, Jae In kembali memakai masker dan topinya. Ia celingukan, memastikan tidak ada yang mengikutinya sebelum ia melangkah.



Di jalan, Jae In melihat jam, sudah pukul setengah sembilan. 




Buru-buru ia masuk toilet untuk berganti baju. Ada yang ngintipin Jae In dari lubang kecil di dinding.




Selesai ganti baju, Jae In mendengar suara desahan seorang pria, ia pun pelan-pelan melihat ke lubang itu dan ia melihat ada mata disana. 





Orang itu terkejut melihat Jae In, ia langsung lari. Jae In mengejarnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis He Is Psychometric Episode 1 Part 2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: