Sinopsis He Is Psychometric Episode 2 Part 2

- Maret 13, 2019
>
Sumber: tvN


Dalam perjalanan pulang, Jae In bicara sendiri, "Salaman tiga detik? Dia psiko."

Sebelum masuk rumah, Jae In celingukan, memastikan tidak ada yang melihatnya masuk ke sana.


Di dalam, Imo sedang kebingungan sambil memegang tasnya, ia tak tahu harus menyembunyikannya dimana, soalnya bisa gawat kalau sampai ketahuan oleh Jae In.

Semua tempat udah dicoba tapi gak ada yang bagus sampai akhirnya Jae In pulang dan memergoki Imo. 





Jae In hanya melihatnya saja, tidak berkomentar apapun. Selanjutnya Jae In mengeluarkan saputangannya, menggunakannya untuk membuang permen dari mulutnya.

Imo marah, "Eommaya. Kau tak tahu betapa mahalnya sapu tangan itu..."

Sadar sudah kelepasan, Imo langsung berubah kalem lagi, "Benar. Sudah kurang dari seminggu sejak kau memberitahuku untuk membeli satu set sapu tangan mahal, kan?"

Jae In hanya menggut-manggut.



Imo lalu menunjukkan tasnya, "Omong-omong, Jae In, ini. Imo mendapatkan ini dengan harga yang sangat, sangat murah. Awalnya 6.000.000 won. Mahal, kan? Jangan kaget. Aku mendapatkannya dengan setengah harga, hanya 3.000.000 won. Ini akan menguntungkan. Sulit menemukan model ini di Korea. Setengah harga, hanya 3.000.000 won bukan apa-apa untuk ini. Jae In. Jae In, kumohon. Kumohon, Jae In."


Jae In mengeluarkan ponselnya dan Imo terpaksa berpose dengan tasnya. Cekrik! Cekrik! Jae In memotret Imo. 

Imo masih merengek agak Jae In gak menjual tasnya.

Jae In, "Aku untung banyak menjual barang desainer yang terus kau beli."

"Teganya, teganya, teganya..."

Jae In mendapat telfon, Imo kira itu adalah telfon dari pembeli.




Ternyata telfon dari Pastor, bibi lega banget.

"Ya, Sinbu-nim. Terima kasih sudah membantuku pindahan. Terima kasih Sinbu-nim."

"Pelindungmu melakukan semua kerja keras."

"Dia sudah mengirim uang setiap bulan selama tiga tahun, dan kali ini bahkan dia mambantu menemukan sekolah dan rumah. Bagaimana aku harus membalasnya? Bisakah kau bertanya kepada pelindungku lagi? Aku benar-benar ingin bertemu dengannya."

"Kau bisa meminta saat kau sedang jatuh. Akan kuhubungi dia dan mengatakan kau ingin bertemu dengannya."


Sinbu-nim melihat ke arah anak-anak yang sedang main bola, mereka main bareng Seung Mo. Mungkinkah Seung Mo itu adalah pelindungnya Jae In?



Di belakang Sinbu-nim ada seorang anak yang menyendiri, anak itu membentuk kawat menjadi kupu-kupu. 


Jae In menyusun ulang jadwalnya, ia harus kesekolah setelah kerja paruh waktu di kafe, Pukul 00:00-02:00.



Bis Jae In datang, tanpa ada yang tahu, Jae In naik bis dan An turun bis.



An ada di rumah, ia bicara di telfon dengan Seung Mo, "Akan terlambat lagi? Kapan kau akan menangkap pelakunya? Apa kau punya saudara kandung lain untuk dijaga?"

"Punya kehidupan sosial terkadang berarti pulang terlambat. Kenapa? Ada sesuatu yang ingin dikatakan?"




"Hyeong. Jika, karena alasan tertentu, kebetulan, aku dikeluarkan atau mendapat catatan kriminal, kau akan tetap berteman denganku, kan?"

An mendapatkan anjing seperti yang ia inginkan.

Seung Mo menjawab, "Aku tak akan melihatmu sampai mati."

"Walau jika aku tak melakukannya, dan aku dituduh? Bahkan jika dunia yang salah bukannya aku?"

"Kau mungkin mengharapkanku untuk berada di sini bahkan jika dunia berbalik melawanmu, tapi aku akan menjadi orang pertama yang pergi dari hadapanmu. Hidupmu sudah sangat menyedihkan. Bagaimana bisa melihat hidupmu lebih menyedihkan?"



An berjalan ke dalam membawa anjingnya, "Kalimat itu, kau menghafalnya? Atau belajar ngerap?"

"Bagian kau dikeluarkan aku mengerti, tapi apa maksud catatan kriminal? Jangan bilang kau bermain dengan teman-teman lamamu."

"Aku hanya membayangkan skenario terburuk."

"Jangan kau bayangkan karena kau selalu menunjukkan sesuatu yang lebih buruk."

"Itu pujian, kan?"

"Sudah ya..."





An menatap foto ayah ibunya di dinding, fotonya dengan Seung Mo, fotonya dengan Ji Soo. 

An, "Astaga. Eomma, Appa, kenapa mentapku seperti itu?"


An bicara pada anjingnya, "Hinun, kau juga, tak percaya padaku? Hmm?"



An pergi ke sekolah tengah malam. Tujuannya adalah ruang guru. An menggunakan kekuataannya untuk menemukan sandi pintu. Ia menyentuh angka lima. Sayangnya ia hanya melihat dua angka yang ditekan, "6, 2? Sial, aku butuh dua angka lagi. Bagaimana ini... Apa 6262?"



An mencobanya, tapi gagal. Ia mencoba menggunakan indera yang lain untuk melihat kelanjutan angkanya, tapi gagal. 

Seseorang memergokinya, "Sedang apa?" Tanya Jae In.



"Sejak kapan kau di sini?"  An balik bertanya. 

Jae In menirukan suara An, "6, 2? Sial, aku butuh dua angka lagi. Bagaimana ini..." Sejak itu."

"Itu..."

"Kupikir kau tak berpikir, tapi tadi kau mendapat kode sandi. Warbyasah."

"Aku lumayan pandai menyiapkan barang."

"Minggir."


An minggir dan Jae In menekan kombinasi nomor. Dalam sekali coba, Jae In berhasil membukanya. An kagum, bagaimana Jae In mengetahuinya? 



Jae In menoleh ke belakang, menerangi tulisan di kaca, "Ulang tahun sekolah adalah 2 Juni 2002. Para guru menginginkan kode sandi sederhana yang mudah diingat. Aku memikirkan opsi yang masuk akal."

"Opsi yang masuk akal? Siapa yang memberitahumu opsi-opsi itu? Seseorang dari kelas kita?"

Jae In geleng-geleng. Ia masuk duluan, An berbisik untuk mengajaknya masuk barengan.



Jadi keduanya ngendap-endap di ruang guru. 

An menggoda Jae In, "Kau akan baik-baik saja sendirian dengan orang mesum yang kau laporkan di tempat beginian di tengah malam?"

Jae In menunjukkan alat kejut. An langsung diem, meloncat menjauh.




Ji Soo sendirian di ruang rapat. Ia menguap. Tapi data seorang wanita membuat matanya terbuka lebar.

Ia melihat catatan pengasuh kamar 701, kamar perawatannya Yoo Eun Ok, Jang Man Soon dan Song Hee Jung. Ketiga korban kebakaran. 

Ji Soo senang, "Sudah ketemu!"



Langsung deh ia menghubungi Seung Mo, "Aku menemukannya. Pengasuh yang bertanggung jawab atas Kamar 701. Namanya adalah Kang Hee Sook. Ingat cincin, kan?"

"Sampai saat ini pun kau masih terganggu? Aku akan menemuimu."



Jae In menghela nafas karena komputer Guru Kim Eun Seok yang ia nyalakan ada sandinya.

"Dapat sesuatu?" Bisik An. 

"Semua komputer terkunci kecuali guru etika. Mereka melebih-lebihkan. Mereka mengira kau pelakunya."

"Itu pujian atau apa? Astaga."



An duduk di bangku Pak Nafas Bau. Ia melihat kalau Pak Nafas Bau hobinya ngupil dan meletakkan kotoran hidungnya dibalik meja. An ta sengaja menyentuhnya, ia langsung jijik.


An menggosok-gosokkan jarinya ke celana, "Jorok."



Jae In membuka laci Guru MTK. Ia terkejut ada majalan orang dewasa disana, "Dia menyita semua ini dari anak-anak?"

An langsung mendekat, "Edisi Oktober dari "Hot Lady"."


An akan mengambilnya tapi Jae In segera menutup lacinya jadinya tangan An kejepit.



Hal itu memberi keuntungan, An mendapatkan penglihatan. 

Ia melihat seorang dengan pakaian serba hitam dan topi hitam pernah membuka laci itu, mengambil tempat pensil, isinya rokok dan benda mirip alat tes kehamilan. 



An bergumam dengan hidung berdarah, "Wanita?"

Jae In mengarahkan senternya pada An, "Mesum. Kenapa hidungmu berdarah padahal yang terluka tanganmu?"



An buru-buru mengambil majalah itu, "Jika sedang fokus, aku seperti ini."

Jae In menyelakan alat kejutnya lagi, "Dasar psiko mesum."


"Bukan begitu." An mengambil tisu untuk menyumbat mimisannya.

"Jangan berani-berani mendekatiku."

"Aku yakin merasakan sesuatu sekarang."

An mendekap malajah itu dengan erat.


Jae In terus mencari, sementara An terus menyentuh. 


Jae In menemukan dua lembar jawaban. Ia bergumam, "Bukan main, serius."



An kepentok meja, "Aku hanya..."

"Jawabannya sama persis dengan yang duduk didepanmu. Bahkan jawaban yang salah. Bagaimana semirip ini?"

"Sudah kubilang. Aku memang curang, tapi tak menyelinap ke kantor guru. Aku pun juga terpana dengan kemampuanku sendiri." AN membanggakan tangannya.



Lalu An mendekati Jae In, "Omong-omong, aku sudah memikirkannya. Pelakunya mungkin datang ke kantor guru karena alasan lain."

"Apa?"

"Tiba-tiba aku kepikiran. Mungkin untuk sesuatu yang disita guru matematika. Secara khususnya, kantong kuning dengan rokok di dalamnya."

"Maksudmu pelakunya masuk ke sini untuk mendapatkan rokok mereka sehari sebelum ujian?"

"Atau pena keberuntungan mereka untuk ujian?"

"Lagian pena bukan cincin. Kenapa ada orang yang mengambil risiko sangat besar untuk itu? Hanya... Lihat "Hot Lady" saja."

"Sangat kejam."



Ji Soo menunjukkan biodata Kang Hee Sook pada Seung Mo. 

"Nama Kang Hee Sook, 57 tahun. Aku yakin An melihat pengasuh ini dalam penglihatannya. Dia bertugas di Kamar 701 hari itu. Dia tak bisa dihubungi sesudah kebakaran."

"Jika dia meloloskan diri, harusnya dia datang dan melaporkan apa yang terjadi. Tapi malah tak bisa dihubungi."

"Mencurigakan bukan?"



"Menurutmu dia adalah kaki tangan dari kasus pembakaran?"

Ji Soo menggeleng, "Tidak, itu terlalu berlebihan. Tapi terlalu mencurigakan jika dibiarkan."

"Semua orang sibuk menuntut kompensasi ke rumah sakit dengan mengklaim trauma mereka yang disebabkan kebakaran. Jadi sedikit aneh kalau dia menghilang."

"Ah! Dia tinggal di kompleks studio di seberang rumah sakit. Mau bergi bersama?"

"Tidak, hubungi saja aku saat kau bertemu dengannya. Aku harus pergi menemui seseorang yang menungguku."

"Ya."

Seung Mo pun pergi duluan.




Jae In mengecak-acak tempat sampah. Sementara An hanya memukul-mukul rak Guru MTK dan itu membuatnya kesal.

"Jika kau akan tidur, pulanglah. Kau membuatku gugup."

"Topi hitam. Pakaian hitam. Kantong kuning. Wanita." An bergumam, tapi tiba-tiba ia bicara dengan berdiri dan penuh semangat, "Tak pernah ada orang yang mencuri kertas tes. Tamat."

"Apa yang dia bicarakan?" Jae In gak mau peduli karena ia sibuk memotret temuannya. 




"Hari ini aku terlalu fokus, dan mulai pusing." An meminta permen jika Jae In punya.

"Berhenti melontarkan omong kosong, pergilah. Tak apa jika kau dikeluarkan, tapi aku tak boleh."

"Aku juga tak boleh."


An menguap, Jae In menatao ke jendela dan melihat ada cahaya senter. An juga lihat, ia langsung duduk dibelakang Jae In. 




An dan Jae In sembunyi dibalik pintu kaca yang dilewati penjaga, tapi karena gelap, mereka tidak kelihatan. 

Posisi mereka dekat banget. Jae In melihat mata An, tapi beda dengan mata yang mengintipnya di toilet tadi pagi.



Karena asyik dengan pemikiran itu, Jae In gak ngerti kode An untuk menarik kakinya yang terjulur melewati daun pintu. An terpaksa menariknya mendekat.




Saat menyentuh lengan Jae In, An melihat nomor, 3145, nomor tahanan ayahnya Jae In, tapi An gak tahu itu.  

An menyebutkan angkanya, Jae In kaget. Penjaga akhirnya pergi, An mengajak Jae In pulang.




Giliran Jae In yang menarik An, "Apa kau..."

"Apa?"

"Kau bilang "3145"."

"Kau ngelindur? Aku tak mengatakan apa-apa. Lepaskan."

An melepaskan paksa pegangan Jae In di lengannya, "Astaga, aku lapar. Aku pergi." AN pergi duluan. 



An kembali meloncati pagar. Di jalan, ia memukul mulutnya, "Kenapa kau harus mengatakannya dengan keras?" Tapi itu membuat An penasaran, "Angka apa memangnya sampai sesensitif itu?"
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search