Sinopsis Romance is a Bonus Book Episode 4 Part 2

Sumber: tvN




Sampai di kantor, Eun Ho memberikan tas itu untuk Hae Rin. 

Hae Rin: Apa ini? Katamu biarkan saja pakaianku di rumahmu. Katamu aku akan mabuk dan mampir.

Eun Ho: Jangan mampir saat mabuk. Tidak boleh lagi. Kini aku tinggal dengan wanita. Jadi, tak boleh.



Dan Yi membagikan buku baru untuk semua karyawan, judulnya, "PUCAT, SUATU KEKEJAMAN".



Saat mengantar untuk Go Isa, Dan Yi ditanyai soal uraiannya, bagaimana?

"Tepat sasaran. Menurutku itu sempurna untuk bukunya." Jawab Dan Yi.

"Pikirmu aku mencurinya darimu? Sebenarnya, aku juga terpikirkan itu. Dan dari awal sudah kuputuskan untuk memakainya. Jangan bilang kau berasumsi aku tak bisa memikirkan ide yang sama denganmu. Kuharap tak begitu."

"Seperti kata Anda, mungkin Anda memikirkan uraian yang sama persis. Dan tak mustahil Anda yang lebih dulu. Tapi menurut saya, jika memang begitu seharusnya Anda bilang saat saya memberitahu Anda. Sebelum itu dipilih saat rapat. Namun, saya akan berusaha memahami Anda dengan cara saya."

"Bagaimana?"

"saya dengar orang Inuit tak butuh kata untuk menyatakan keunggulan. Tak ada yang namanya paus hebat atau beruang kutub hebat. Begitu juga dengan kita, manusia. Tidak ada yang bisa.. sempurna."

Dan Yi lalu pamit untuk bekerja.



Seo Timjang membahas soal pegawai baru yang kepercetakan, kenapa Bong Timjang gak ikut mereka?

"Bagaimana bisa? Aku bisa sakit hati." Jawab Bong Timjang.






Jadi mereka diajak melihat proses penghancuran buku. 

Dan Yi: Semua buku itu tampak bagus.

Eun Ho: Lihat dua truk itu? Itu semu buku kita. Dan sebentar lagi, mereka akan berakhir seperti ini.

Dan Yi; Apa kita hanya bisa menghancurkannya?

Park Hoon: Tidak ada yang salah.

Eun Ho: Kita tak bisa menyimpan semua buku yang tak laku. Itu butuh biaya. Buku ini dikembalikan dari toko.  Sebagian rusak karena dibaca. Lebih dari setengah yang dikembalikan dari toko sudah rusak, dan penerbit harus menanggung kerugiannya.



Jadi semua buku yang rusak itu karena ulah pembaca di toko, ada yang melipatnya, ada yang tak sengaja menumpahkan kopi atau air.

"Itu buku pengembangan diri, tapi aku mau pembaca tersentuh."

Kilas Balik..





Eun Ho menyerahkan sebuah buku pada Presdir Kim. Presdir Kim mengambilnya dan menciumnya dengan hidmat. 

"Aku bisa menciumnya. Ini aroma buku terlaris."

"Anda harus lakukan itu pada semua buku baru?"

"Seumur hidupku, sampai aku mati. Mau coba?"

"Tidak."

"Buku ini baru muncul kemarin. Ia muncul di hadapan kita sekarang. Menarik, 'kan? Lihat keindahan ini. Kita membuatnya."

Kilas Balik Selesai..



Tapi Sekarang buku itu harus dihancurkan.

"Bahagia dan Derita Bekerja". Edisi pertama. Karya Im Seong Mok. Penerbit Kim Jae Min. Cha Eun Ho dan Bong Ji Hong di Tim Editorial. Go Yu Seon dan Seo Yeong A di Tim Pemasaran. Tidak ada buku yang terbit dengan sendirinya. Sebuah buku mengandung nama dan jiwa dari banyak orang yang bekerja keras di balik layar."

Kilas Balik...



Go Isa membaca artikel mengenai salah satu penulis mereka, Min Yeong Han yang diduga melakukan kekerasan seksual. Go Isa langsung panik.




Eun Ho dan Hae Ri datang buru-buru ke tempat percetakan, Hae Rin bahkan memakai sepatu beda warna karena gugup. 

Sementara itu, sudah ada eksekutif yang datang duluan, mereka mengeluarkan profil penulis dari buku yang baru saja selesai dicetak.

Seo Timjang: Kenapa kemari? Kami tak sengaja menelepon.




Bong Timjang: Ini hari Minggu. Kalian anak muda harus berkencan.

Hae Rin: Aku tak ada kegiatan.

Eun Ho: Aku ada kencan. Salah Anda jika aku diputuskan.



Presdir Kim: Benarkah? Aku akan menikahimu. Anak-anak, kau mau Paman Eun Ho menjadi ayah tirimu?

Kedua putri Presdir Kim langsung menerimanya.



Anggota yang terakhir datang dengan dandanan yang menyilaukan mata. Go Isa, ia datang langsung dari salon.


Presdir Kim menjelaskan pada kedua anaknya.

"Anak-anak. Ini akan menjadi buku terbitan baru, tapi penulisnya melakukan hal buruk. Jadi, tak bisa dijual. Karena itu dibuang. Putri sulung Ayah, apa pekerjaan ayahmu?"

"Ayah membuat buku."

"Putri bungsu Ayah, apa impian ayahmu?"

"Memastikan buku yang Ayah buat dibaca semua orang di seluruh dunia."

"Benar. Maaf merusak hari Minggu kalian karena hal seperti ini."


Presdir Kim juga minta maaf pada yang lain karena ini sangat bodoh. 

Kilas Balik Selesai...



"Aku suka keyakinan Presdir Kim. Yakin jika kita lakukan yang terbaik bahkan pada hal kecil, orang akan lebih banyak baca. Dan keyakinan bahwa satu buku itu bisa mengubah hidup seseorang."



Ji Yul menemukan solusi yang lebih baik, kenapa tidak diobral saja? Diskon 50 persen? Ia rasa orang-orang akan beli.

Eun Ho: Ada sistem harga pada buku. Jadi, ada batas diskon.

Dan Yi: Bukankah bisa disumbangkan?

Eun Ho: Buku yang dikembalikan dari toko tak bisa dijual atau disumbangkan. Jika yang disumbangkan dijual di toko barang bekas, penjualan kita bisa terhambat. Jika dihancurkan begini, setidaknya dapat uang untuk kertasnya.



Petugas penghancuran mendekati mereka, menyampaikan kalau ia sudah menghutung jumlahnya. Ji Yul menerima uangnya, tipis sekali, ia rasa itu pasti cek.




Tapi mereka langsung kecewa saat membuka isinya, cuma dua lembar 50 ribuansepertinya.

"Kami menghancurkan dua truk buku. Uang yang didapat dari menghancurkan ribuan buku bahkan tak cukup untuk beli 30 buku."



Dan Yi mengambil sisa buku yang dihancurkan dan memasukkannya kedalam tas. 




Lalu ia meneriakkan semangat. Ketiganya tersenyum, 


"Buku-buku ini tak hilang selamanya. Setelah dihancurkan, mereka akan didaur ulang. Lalu melalui tangan kami, mereka akan menjadi buku baru."



Presdir Kim menelfon Eun Ho. Eun Ho memberitahu kalau ia sekarang dalam perjalanan kembali setelah mengantar pegawai baru melihat penghancuran buku.

"Jadi, kau ke sana. Aku tak bisa ke sana karena aku akan sedih. Itu semua uang, tahu! Uang kita berubah jadi debu! Itu mengesalkan."



Hae Rin datang saat semuanya akan masuk mobil. Hae Rin mengajak Eun Ho pulang bersama.



Semantara itu, Dan Yi fokus pada tas belanjaan yang dibawa Hae Rin, ia tahu persis kalau itu milik Eun Ho tadi pagi. 

Hae Rin mengajak Eun Ho makan kimchi buatan ibunya.

Eun Ho tanya, apa ada yang bisa menyetir? Park Hoon mengacungkan tangan. Hae Rin langsung menyerahkan kunci mobilnya dan menyuruh mereka mengembalikan mobil ke kantor. 



Hoon, Dan Yi dan Ji Yeol kembali ke kantor dengan mobil yang tadi sibawa Hae Rin.

Ji Yul: Menurutmu, apa mereka berkencan?

Hoon: Siapa?

Ji Yul: Siapa lagi? Tentu saja Pak Cha dan Bu Song. Kurasa mereka lebih dari sekadar rekan kerja. Bukan begitu, Kang Dan Yi? Kau merasakan sesuatu, 'kan? Dia mengendarai mobil kantor ke sana agar bisa pulang bersama. Keluarganya bahkan berikan kimchi. Dia juga biasanya dingin, tapi dia tersenyum lebar pada Pak Cha. Aku bisa merasakan sesuatu. Benar, 'kan?

Dan Yi: Entahlah.

Hoon: Kau salah. Aku biasanya sangat cekatan.



Dan Yi: Tunggu. Kurasa bukan itu masalahnya. Kau yakin mobil kita berjalan pada kecepatan yang benar? Kenapa lambat sekali?

Dan petaka dimulai, cara menyetir Hoon diprotes pengemudi lain.

Ji Yul: Kenapa kau bilang bisa? "Aku bisa". Ini sangat menakutkan!

Hoon: Kau bisa diam?

Ji Yul: Bukankah kau baru dapat SIM?

Hoon: Ya, kemarin. Tim Pemasaran harus ke mana-mana. Jadi, wajib bisa menyetir.

Dan ketegangan dimulai.


Hae Rin: Aku ingin membawa kimchi ke kantor besok. Tapi aku sedang di pusat logistik. Jadi, aku mampir.

Eun Ho: Syukurlah. Aku juga sudah kehabisan kimchi.

Hae Rin: Hei, aku mencari tahu soal Ji Seo Joon, desainer yang kau sebutkan.

Eun Ho: Benarkah?

Hae Rin: Usianya 29 tahun. Sejak awal karier, dia hanya bekerja untuk Wolmyeong. Tapi tahu yang menarik? Dia jurusan sastra Korea.

Eun Ho: Apa alasannya hanya bekerja untuk Wolmyeong?

Hae Rin: Aku berusaha mencari tahu, tapi hanya ada satu wawancara.



Hae Rin menunjukkan hasil wawancaranya. 

Setelah melihat foto Seo Joon, Eun Ho langsung ingat kejadian di toko buku. Ia menyesalkan, kenapa orang yang ditoko kemarin harus Seo Joon.


Hae Rin mendapatkan nomor Seo Joon, ia akan mengirimkannya pada Eun Ho. 



Di rumahnya, Seo Joon melukis Dan Yi yang sedang minum soju saat mereka pertama bertemu. Ia tersenyum puas.


Sampai malam, mereka bertiga mash belum sapai juga. Dan Yi turun tangan, ia memperi Hoon pengarahan, saatnya pindah ke lajur kiri. 

Hoon: Tanganku tak boleh dilepas dari setir. Lampu sein. Ji Yul, tolong nyalakan itu?


Ji Yul bingung, mana tombol untuk menyalakan lampu sein. Hoon menyuruhnya segera, cepat, cepat. Tapi Ji Yul menekan tombol yang salah jadi mereka tambah panik.

Dan Yi menyuruh Hoon berhenti saja. Hoon sebenarnya mau melakukannya jika ia bisa. Dan Yi langsung memegang setir dan mengarahkannya ke kiri, disaat bersamaan, Dan Yi menyuruh Hoon menginjak rem. Akhirnya mereka bisa berhneti.



Ji Yul bertanya, apa Dan Yi punya SIM? Dan Yi mengiyakan tapi harus diperpanjang. Itu membuat Ji Yul menangis, ia tak tahu caranya mereka bisa pulang, sementara ibunya sudah menelfon terus soalnya ia janji kencan buta hari ini.



Hoon: Kau akan kencan buta? Kau baru saja putus. Kau sangat ingin menikah?

Ji Yul: Kata siapa akan menikah? Itu hanya kencan minum kopi dan makan.

Hoon: Kencan buta itu untuk menikah.

Ji Yul: Aku kencan buta agar dapat uang dari ibuku.

Hoon: Baiklah. Akan kupastikan kau dapat uang. Kau senang? Bersiaplah. Aku akan menyetir lagi.

Tapi mereka jelas tidak membiarkan Hoon menyetir lagi.



Ouh.. ada kemajuan mendadak, Hoon pandai banget nyetirnya sampai bisa menggunakan satu tangan doang.

Hoon: Mau dengarkan musik?

Ji Yul: Lupakanlah.

Hoon: Menyetir itu mudah. Aku bisa menyetir dengan kaki.


Ternyata mobil mereka di derek.



Ibunya Hae Rin sangat senang mereka datang, tapi yang disapa cuma Eun Ho.

Hae Rin: Ibu hanya bisa melihat dia? Apa aku tak terlihat?

Ibu: Ibu bisa melihatmu. Aku melihat kalian sebagai pasangan.

Ibu langsung mengajak mereka masuk karena dingin di luar.


Di dalam ada ayahnya Hae Rin, ibu memanggilnya, ayah menyapa mereka.

Tepat sekali, cuma ada satu meja kosong saat ini karena sangat ramai. Ibu meminta EUn Ho menunggu, ia akan membawakan menu favorite Eun Ho, Setengah daging dan kimchi, 'kan?

Eun Ho: Ya.



Setelah ibu pergi, Eun Ho tanya pada Hae Rin, apa mereka tak mengganggu datang saat ramai begini?

"Aigoo.. Kau tak lihat senyum ibuku tadi? Kurasa dia lebih menyukaimu."

"Mustahil. Dia baik padaku, agar aku baik padamu."



Ada pelanggan yang minta tambah kimchi. Ayah dan ibu sibuk, Eun Ho langsung bangkit untuk melayani mereka dan itu membuat Hae Rin tersenyum.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis Romance is a Bonus Book Episode 4 Part 2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: