Sinopsis Romance is a Bonus Book Episode 3 Part 3

Sumber: tvN


Park Hoon mendatangi sebah restoran, saat masuk ia memastikan dulu kalau pegawai kantor mendapat diskon disana. Pegawai membenarkan.



Park Hoon melihat Ji Yul sendirian, ia mau bergabung, tapi ternyata Ji Yul sedang menunggu pacarnya. Park Hoon pun kembali ke mejanya.



Park Hoon bisa mendengar percakapan Ji Yul dengan pacarnya soalnya meja mereka berdampingan.

Pacar Ji Yul memutuskan Ji Yul. 

"Aku datang untuk memutuskanmu. Aku datang untuk bilang itu. Aku benci semua hal tentangmu. Ibumu menyuruhku memberi tahu itu. Aku menyukaimu apa adanya, tapi ibumu menyuruhku bilang itu. Aku tak bisa bersamamu lagi karena aku muak dengan ibumu."

"Ibuku hanya menjagaku..."

"Aku tak peduli. Semoga hidupmu bahagia. Kita tak usah bertemu lagi, Ji Yul."

dan pacar Ji Yul itu langsung pergi setelah mengatakannya.



Ji Yul malu pada Park Hoon dan Park Hoon juga gak enak karena tak sengaja mendengarnya.



Pesanan Park Hoon tiba dan porsinya besar banget ternyata, ia mengajak Ji Yul makan bareng, tapi Ji Yul malah pergi. 



Tapi Ji Yul kembali lagi dan merebut makanan Pak Hoon. 

Ji Yu: Aku makan karena kau bilang tak sanggup menghabiskannya.

Hoon: Baiklah.

Ji Yul: Baik, terima kasih.

Hoon: Sudah berapa kalinkau diputuskan seperti ini?

Ji Yul: Sering.

Hoon: Kenapa tak hadapi saja ibumu? Ini kehidupan cintamu.

Ji Yul: Menurutmu berapa harga tasku? Harganya lebih dari tiga bulan jumlah gaji kita. Ibuku yang membelikannya.

Hoon: Lebih penting daripada cinta?

Ji Yul: Aku tak tahu. Tasnya bagus.

Hoon: Makanlah satu potong lagi.

Ji Yul: Aku mau soda.

Maka Hoon pun memesankan soda untuk Ji Yul dan mereka mulai ngobrol.



Eun Ho mendekorasi ruang olahraganya untuk kamar Dan Yi. Ia membelikan ranjang dan aksesoris lainnya.


Dan Yi pulang tanpa tahu apa-apa, ia kira Eun Ho habis olahraga karena keluar dari ruangan itu.

Dan Yi menunjukkan makanan yang ia bawa, ia yakin Eun Ho belum makan malam, lalu ia pamit untuk ganti baju dulu. 


Dan Yi naik ke loteng, tapi ia tidak menemukan baragnya, ia pun turun dan mengonfirmasinya paa Eun Ho.

"Kau keluarkan barangku? Aku memintamu memberiku tiga bulan. Aku bahkan cari kontrakan hari ini!"

Tapi Eun Ho hanya diam dan masih sibuk menyiapkan makanan yang dibawa Dan Yi.



Dan Yi: Hei, kau lupa siapa yang membantu mendapatkan warisanmu? Kau bertengkar dengan ayah tirimu setelah ibumu meninggal. Dan ayahku... Sekarang setelah kupikirkan, ayahku kena kanker gara-gara kau. Dia meninggal karena susah payah menolongmu dapat warisan.

Eun Ho masih diam saja.

Dan Yi: Lupakan. Tak ada artinya. Ke mana kau membuang barangku? Dasar tak sopan.

Eun Ho lalu menunjuk ruangan olahraganya.



Dan Yi masih dengan muka kesal membuka ruangan itu dan ia terkejut saat melihat isinya. Ia pun tersenyum senang.



Eun Ho menunggu Dan Yi mengucapkan terimakasih padanya, tapi Dan Yi tampaknya lebih menikmati makan malamnya.

"Harusnya kau berterima kasih, 'kan?"

"Terima kasih."

"Ayahmu kena kanker gara-gara aku?"

"Kutarik kembali itu. Tadi aku marah, aku asal bicara saja."

"Kau dari mana? Aku pindahkan barangmu sendirian."

"Aku mencari kontrakan. Omong-omong, ini sangat lezat. Ini paling lezat! Kau sungguh memasaknya?"

"Kau mencari kontrakan saat aku menata kamarmu.. Kau bawa makanan kotak saat aku masak sup kimchi."

"Rasanya enak dengan sup kimchi. Makanan kotak menjadi enak dicampur sup kimchi. Aku pergi ke banyak tempat hari ini, aku sangat lapar. Bisa kuhabiskan semua."



Dengan malu-malu Eun Ho berkata kalau ia tidak masalah Dan Yi tinggal di rumahnya.

"Tinggal bersamamu menyenangkan." Lanjut Eun Ho.

Dan Yi terus menatap Eun Ho setelah Eun Ho mengatakannya.

Dan Yi: Wajahmu memerah saat bilang hal itu.

Eun Ho: Tidak. Wajahku putih.

Dan Yi: Menjadi merah.



Dan Yi jadi penasaran, jika wajah Eun Ho memerah tiap kau mengatakan hal baik, bagaimana bisa kencan dengan wanita?

"Kencan bukan soal kata-kata."

"Apakah hubungan fisik?"

"Sup kimchinya sangat pedas." Eun Ho mengubah topik.



Kali ini Dan Yi serius mengucapkan terimakasih, "Kehadiranmu saja memberiku percaya diri. Tapi aku tetap membutuhkan tempat sendiri. Tak bisa terus mengandalkanmu. Aku akan bergegas dan menabung. Tiga bulan mungkin tak cukup. Bagaimana jika enam bulan?"

Eun Ho tersenyum, mengangguk. "Ayo makan."

"Terima kasih. Rasanya sungguh lezat."

"Supnya enak."


Di kantor Seo Timjang mengumumkan kalau besok pukul 14.00 ada rapat untuk mendiskusikan buku baru In Ho Won. "Pikirkan judul uraiannya untuk iklan."

Semua mengiyakan.


Dan Yi melihat semua karyawan mulai menulis. Dan Yi teringat masa lalu, ia sering menulisnya dulu. 



Go Isa memanggil Dan Yi ke ruangannya. 

"Ini bajuku untuk rapat. Tolong bawa ke penatu. Sebutkan saja namaku ke penatu di persimpangan jalan."

"Baik."

Dan Yi segera mengambilnya.



Go Isa memindahkan buku berjudul "Pucat, Kekejaman" di mejanya dan Dan Yi melihat itu, ia lalu bertanya.

"Isanim, Saya mendengar tentang rapat yang akan menentukan judul uraian untuk buku baru In Ho Won. Saya ingin mengajukan ide saya."

"Kang Dan Yi-ssi."

"Ya?"

"Lakukan saja tugasmu."

"Baik."

Dan Yi segera keluar karena penolakan itu.



Tapi Dan Yi berpikir kalau Go Isa bukan menolaknya, ia akan melakukan keduanya, melakukan tugasnya dan mengajukan uraiannya.

"Kau bisa Kang Dan Yi. Pose kuat!"




Dan Yi mengatakan keinginannya pada Eun Ho dan Eun Ho memberikan buku In Ho Won.

Eun Ho: Kau serius soal ini? Go Isanim tak akan menerima idemu.

Dan Yi: Akan kuberikan yang tak bisa dia tolak. Akan kutunjukkan kemampuanku. Kau tahu siapa aku. Aku Kang Dan Yi. Aku pernah sukses di periklanan.

Eun Ho: Kau pasti sangat ingin kembali ke bidang itu.

Dan Yi: Benar. Aku sangat bersemangat. Jantungku berdegup kencang. Aku harus baca buku ini sekarang. Dah. Terima kasih.


Eun Ho tersenyum karena semangat Dan Yi itu.


Saat tidak ada tugas, Dan Yi membaca buku dan menambahkan beberapa catatan.



Bahkan dalam perjalanan pulang, Dan Yi pun tetap memikirkan uraiannya. Ia tida berhenti saat di rumah pun.  



Eun Ho mengurusnya dengan memberikan camilan.



Dan Yi terus bekerja sampai pagi buta, ia tidak menyerah.




Saat di kantor, Dan Yi menunjukkan hasil uraiannya pada Go Isa, tapi Go Isa malah membuangnya setelah membacanya.

"Sudah lama aku tak melihat yang seperti ini. Semuanya kuno."

"Maaf. Nanti akan lebih baik..."

"Kau tak cocok menjadi pemasar. Desainnya seperti pada tahun '90-an. Dalam pemasaran, modernitas adalah kunci. Kau tahu itu? Kenapa kau melakukan hal yang tak diminta dan diceramahi tanpa alasan? Kukira kau tahu itu karena kau tua, tapi kau sama tak pahamnya dengan para pemula. Keluarlah dan berhenti membuang waktuku."



Dan Yi memunguti hasil urainnya di lantai dan membawanya kembali ke mejanya. Tapi Dan Yi tidak menyerah, ia malah menyuruh dirinya untuk bersabar. 



Dan Yi menggunakan waktu luangnya untuk membaca berbagai buku yang berhubungan dengan uraiannya, ia bertekad memperbaiki uraiannya sampai akhirnya puas dengan ide barunya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis Romance is a Bonus Book Episode 3 Part 3"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: