Sinopsis Item Episode 2 Part 1

- Februari 13, 2019
>
Sumber: MBC



Jo Se Hwang masuk ke ruang rahasianya yang tersembunyi, pengamananya pun super ketat. 



Disana terdapat item-item kecil. Ia lega hanya dengan menatapnya. Tapi ada satu yang gak beres, tutupnya miring. 


Se Hwang segera mengambilnya, tangannya gemetar saat akan membukanya dan ternyata isinya kosong. Se Hwang kesal bukan main, ia langsung melemparkan guci tersebut keras-keras.




Saat akan keluar, Se Hwang tiba-tiba mendapatkan penglihatan, matanya memerah. Tepat saat itu kamera polaroid yang ada disana memotret sesuatu. 


Se Hwang segera melihat hasil foto kameranya, seorang anak kecil. 




Da In lah anak itu, ia menemukan gelang sakti yang dipakai orang botak yang berelahi dengan Gon. 

Gelang itu juga adalah item milik Se Hwang yang hilang. 





Da In sedang menulis lagu. Dan saat itulah ia menemukan gelang itu. 



So Young menghubungi Timjang.

"Timjang-nim, berulang kali kupikirkan, dari pola kebiasaan Nam Chul Soon Isajang, dia tak akan pernah ke tempat yang tak dikenalnya. Jadi kenapa kita tak lebih berhati-hati dan..."

"Kau ini bicara apa? Hei, Shin So Young! Jangan sok tahu semuanya, Kau bikin marah saja. Sudah!"



Detektif Kim ikutan kesal, mentang-mentang So Young profiler saja main perintah-peintah. 

Timjang: Ah, dasar. Cuman karena dia sekolah, dia mengira bisa melakukan penyelidikan dengan logika. Mobil Reporter mengikuti kita kan?

Detektif Kim: Jangan khawatir. Kecepatan kusesuaikan... supaya mereka bisa terus membuntuti kita.

Timjang: Oke. Dengan kasus ini akan kubuat mengesankan dan jadi gwajang.


Seo Yo Han tampak tak setuju dengan ide Timjang-nya itu. 


So Young sampai di rumah orang hilang itu. 

"Waktu telpon di kantornya, dan waktu telpon di vilanya,  juga waktu saat dia terekam CCTV. Setelah dibandingkan waktunya... aku tahu dia ke sini dari kantornya tanpa singgah kemana-mana."



So Young masuk ke dalam rumah dengan memakai alas sepatu dan sarung tangan.

"Makin tidak stabil psikologisnya, dia lebih suka bersembunyi di tempat yang menurutnya aman. Kalau berfikir sebaliknya, untuk ke tempat yang aman, dia butuh banyak alasan untuk melakukannya."



"Setelah datang jauh-jauh kesini kenapa dia menghilang? Tidak. Bagaimana dia menghilang? Nam Chul Soon... apa benar-benar hilang?"

"Rumah bergaya Jepang dan interior yang mahal."

"Di villa-nya ini... dia memajang penghargaan yang diraihnya. Cinta diri sendiri."


"Dan di rumah ini... jejak terakhir Nam Chul Soon... ada di sini."


So Young masuk ke kamar mandi. Di sana gelap, lampunya tidak bisa dinyalakan.

"Dekorasi dan perabotannya bersih dan rapi. Warna dinding dan korden serasi dengan kayu dan putih."


"Peralatan mandi ditata dengan rapi. Hal ini memperlihatkan Nam Chul Soon punya gangguan kepribadian kompulsif."


So Young menyentuh sikat gigi yang ada disana dan memastian kalau sikat gigi itu belum digunakan. 


"Dengan gangguan kepribadan kompulsifnya aku masih tak bisa mengerti... kenapa dia membiarkan air di bak mandi."


"Hari itu, kurasa Nam Chul Soon tidak bermaksud... memenuhi bak mandinya."



So Young mencoba berbarng di bak mandi, memposisikan dirinya sebagai Nam Chul Soon. 

"Apa dia selalu cemas masih bisa melihat luar... meskipun di bak mandi? Apa yang membuatnya... begitu gelisah?"


So Young membayangkan dirinya berendam di air lalu ada orang yang mencekiknya.

"Atau... apa mungkin ada orang lain... yang bisa menjelaskan ini semua."



"Aneh. Tak seperti kesehariannya, kalau ada gerakan dengan orang lain di ruang sempit ini, tak mungkin sebersih ini. Artinya... lebih seperti ada seseorang yang membersihkannya."


"Tapi orang itu... tidak mungkin bisa meniru gangguan kompulsifnya Nam Chul Soon."

"Artinya di sini... ada petunjuk."


Choi Timjang dan Tim sampai di lokasi. Ia langsung memerintahkan mereka bergerak. 


So Young berdiri di depan cermin sambil memikirkan kemungkinan yang mungkin terjadi.

"Nam Chul Soon Isajang karena bekas luka bakar di wajahnya tidak ingin terlihat di publik. Karena kondisinya ini.. dia akan memilih cermin dengan hati-hati. Di rumah gaya Jepang yang bahkan wastafelnya kayu, Kenapa hanya di cermin ini... material, penataan warna, dan ukuran berbeda?"



So Young memukul cermin itu dengan senternya dan terdengar suara aneh seperti ada lobangnya dibelakang cermin. 

"Ini tak sesuai dengan aturannya. Artinya di sini... ada sesuatu."

So Young langsung memecahkan cerminnya. 




Tim Detektif melakukan penggrebekan sambil diliput media, tapi mereka salah, hanya ada pemilik rumah disana. 



Sementara itu, So Young menemukan mayat yang terbungkus plastik dan disana ada kertas yang berlumuran darah. Sebagian tulisannya berisi:

"Mata jelalatan, lidah pembohong, tangan yang membunuh orang tak bersalah..."



So Young mual, ia langsung berlari keluar, memuntahkannya. Ia segera minum obatnya dan setelah itu keadaannya membaik. 

So Young segera melaporkan apa yang ia temukan. 


Gon sedang bersantai sambil minum kopi instan. Ia kembali memikirkan gelang itu.



Jaksa Han Yoo Na dari Seoul menelfon. 

"Sudah selesai berkemas?" Tanya Yoo Na. 

"Iya, bisa dibilang begitu."

"Punya tempat di Seoul?"

"Shin Susagwan mencarikan untukku."

"Ah, begitu."

"Yoo Na-ya, ada yang mau kaukatakan?"

"Tidak ada. Hanya ingin menelponmu sebelum kau kesini. Setelah 3 tahun, akhirnya kau kembali. Sampai ketemu di Seoul."



Setelah menutup telfon, Yoo Na elihat foto kelulusannya, mungkin disana juga ada foto Gon. 




Se Hwang sedang olah raga untuk melampiaskan kekesalannya. Ia ditunggui oleh kepala keamanan rumahnya.

"Apa yang terjadi?" Tanya Se Hwang kesal."

"Maafkan saya. Kami selalu memeriksa sistem sekuriti, tapi..."

"Kalau sudah diperiksa, bagaimana bisa kau kehilangan item itu?"

"Maafkan saya."

"Yoon Siljang-nim. Yoon Siljang-nim kau tahu arti item itu bagiku? Bagaimana perasaanku sekarang, apa kau tahu?"


Se Hwang mengambil tali dan melilitkannya pada leher Kepala Keamanan Yoon. Se Hwang menariknya keras, tapi Kepala Yoon tidak bergerak sama sekali, merasa takut juga tidak. 

"Inilah... yang kurasakan. Mengerti?"

Kepala Yoon mengangguk. Se Young langsung melepaskannya.

"Aku yakin mereka meninggalkan jejak pastikan kau bawa kembali."

"Baik, Hoejang-nim."



Choi Timjang kembali ke kantor dengan kecewa, ia menyindir Se Young.

"Selamat. Mungkin karena kau punya bapak detektif, tapi kau memang luar biasa. Tapi kurasa ayahnya tak mengajarinya kalau tempat ini sebuah organisasi. Kalau ingin tetap di sini, kau harus berhati-hati.

"Beliau memang tak mengajariku itu. Aku berterima kasih atas hal itu. Karena aku masih bisa mempertahankan penilaian yang jelas tidak seperti Anda yang hanya fokus cari promosi jabatan."

Choi Timjang akan melawan tapi Detektif Kim dan Detetif Jung menghalanginya.

"Kau pendendam sekali. Kau beneran tim kami?" Kata Choi Timjang kesal.




Yo Han tidak ikutan, ia hanya diam saja dan setelah kembali ke tempat duduknya, ia memandang So Young. Yang dipandang gak nyadar.
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search