Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 9 Part 3

- Desember 30, 2018
>
Sumber: tvN




Nenek mengusir Sang Beom karena sudah memukul tamunya. 

"Pulang. Pergilah. Siapa kau beraninya memukul tamu kami? Apa kau preman? Kau memanfaatkan keramahan kami."

"Aku punya alasan. Nenek tak tahu ceritanya."

"Tentu aku tahu. Sekarang pergi. Pergi! Pulang!"

Sang Beom pun pergi. 


Di dalam, Jin Woo menelfon Jung Hoon, ia menyuruh Jung Hoon membawa barangnya langsung ke bandara karena ia tak ada waktu mampir ke hotel. Untuk baju, bawakan seperlunya saja dan nanti langsung ketemu di Bandara saja.



Hee Joo datang membawakan kotak obat. Setelah Jin Woo selesai menelfon, Hee Joo menyuruhnya duduk. 

"Aku harus pergi. Aku tak mau terlambat." Tolak Jin Woo.

"Silakan duduk. Kau berdarah."

"Aku sudah tak apa."

"Tak bisa duduk saja? Kenapa tak mau dengar orang lain? Berhentilah bersikap sombong dan duduk saja.  Lagi pula apa yang membuatmu mulia? Tidak akan lama. Hanya lima menit."




Jin Woo pun duduk sesuai perintah Hee Joo. Saat Hee Joo menyiapkan obat, ia bertanya, apa teman Hee Joo tadi sudah pergi? 

"Mungkin sudah."

"Dia itu siapa? Dia bukan keluarga, tapi bilang sudah seperti keluarga. Apa dia tunanganmu?"


Hee Joo langsung memandang Jin Woo. Jin Woo menyadarinya dan balas memandang Hee Joo. 

Jin Woo: Itu benar?

Hee Joo: Lihat ke arah lain.

Jin Woo: Aku tak setuju. Dia tak bisa bertarung.


Hee Joo: Pandai bermain pedang tidak perlu dibanggakan. Hanya anak-anak yang begitu. Sungguh tak dewasa.

Jin Woo: Terserah. Aku masih tak setuju, jadi, pikirkan baik-baik.

Jin Woo: Aku tak pernah anggap dia seperti itu, tapi seharusnya begitu karena kau cemas.


Jin Woo tersenyum, kenapa? Hee Joo harus lakukan kebalikannya? Lalu Jin Woo memberi nasehat.

"Bukan begitu cara memilih pasangan. Jika pilih karena benci, kau akan berakhir sepertiku."

Hee Joo tidak menyahut.



Jin Woo mengubah topik, ia menanyakan soal gitar yang ia rusak tadi, apa itu buatan Hee Joo? Berapa harganya?

"Jangan dipikirkan."

"Berapa harganya?"

Hee Joo diam saja, hanya terus melakukan tugasnya untuk merawat luka Jin Woo. 

Jin Woo: Kalau begitu aku pesan. Aku ingin beli gitar khusus.

Hee Joo yang awalnya akan memakaikan plaster malah menjauhkan tangannya. Jin Woo menyimpulkan kalau Hee Joo menolak pesanannya. 

Jin Woo: Apa aku seputus asa itu? Aku bahkan tak pantas membeli gitar.




Tiba-tiba airmata Hee Joo menetes di pundak Jin Woo. Jin Woo langsung menoleh, kenapa menangis?

"Entahlah." Jawab Hee Joo sambil menghindari pandangan Jin Woo.



Hee Joo selanjutnya berkata sambil menangis menatap Jin Woo. 

Hee Joo: Katamu... kau bermain game untuk menemukan Se Joo. Dan saat hampir mencapai levelnya, dia sungguh mengontakmu. Hanya kau yang boleh menghubunginya. Bahkan jika aku ke Granada, percuma karena aku tak bisa melihat apa pun. Karena itu aku harus tetap di sini dan menontonmu dari monitor. Hanya itu cara agar aku bisa melihat Se Joo hidup. Begitu maksudmu?



Jin Woo: Apa aku masih tampak gila?

Hee Joo: Ya. Tapi aku akan percaya. Kuberi kesempatan. Aku akan tunggu di sini hingga kau mengabari. 

Jin Woo: Kenapa kau percaya padaku? Aku seorang penipu.

Hee Joo: Jika tidak, aku akan mati merana.

Jin Woo: Bisa saja aku menipumu lagi.

Hee Joo: Berusaha tidak tertipu olehmu lebih menyusahkan. 



Hee Joo menatap ke arah lain sambil mengumpat, "Sialan."

Jin Woo: Itu kata-kataku.

Hee Joo: Siapa peduli? Kata itu bukan milikmu. 

Dan Hee Joo mengatakannya lagi, Sialan!

Hee Joo memandang Jin Woo lagi, "Kenapa terus menyiksaku? Kenapa kau muncul dalam hidupku? Kenapa sulit untuk membencimu?"



Jin Woo terus menatap Hee Joo, lalu ia mengulurkan tangannya untuk mengusap airmata Hee Joo. 


Terdengar suara pintu ditutup. Jin Woo langsung menarik tangannya.



Jin Woo pun pergi dan nenek mengantarnya sampai mobil Jin Woo jalan.


Hee Joo baru keluar saat mobil Jin Woo sudah jalan.


"Walau Hee Joo tak ikut denganku, sudah jelas... bahwa perjalanan ini adalah saat penentuan kehidupan kami berdua."




Berangkatlah Jin Woo dan Jung Hoon ke Barcelona. Sampai disana, Jin Woo dan Jung Hoon menuju stasiun.

"Kami naik pesawat ke Barcelona dan menuju Granada dengan kereta malam. Untuk mengikuti rute yang Se Joo ambil setahun lalu."


Sementara Jin Woo menunggu di peron, Jung Hoon membeli beberapa minuman dan camilan.

Hujan petir lagi disertai suara melodi gitar. Jung Hoon sadar apa yang terjadi, ia langsung bergegas menuju tempat Jin Woo. 



Jin Woo sih anteng aja duduk di bangku.

"Dan... sama seperti perjalanan lainnya... Hyeong Seok juga hadir."



Hyeong Seok muncul tepat di depan Jin Woo, di rel kereta.

1 Hari sebelumnya 



Jin Woo menjelaskan pada Sun Ho kalau ia ada tugas penting. Ia tahu ini terdengar konyol, tapi ini sangat penting.

"Aku akan makan siang dengan Profesor Cha. Kenapa tak pamit padanya?" Saran Sun Ho. 

"Tak ada waktu makan siang. Aku akan temui dia saat kembali."



Sun Ho kesal, ia mendekati Jin Woo, "Bodoh. Apa game lebih berarti bagameu daripada dunia nyata? Kau tahu yang terjadi saat kau sibuk main game?"

"Tidak. Ada apa?"

"Ini bukan saatnya bepergian untuk main game."

Maka Jin Woo pun ikut Sun Ho makan siang bersama Profesor Cha. 


Sambil menunggu Profesor Cha datang, Jin Woo mengirim pesan untuk Hee Joo.

"Sesuatu terjadi, tunggu aku di rumah. Aku akan ke tempatmu."



Sun Ho tiba-tiba berbisik, melaang Jin Woo percaya pada Profesor Cha maupun dirinya. 

Jin Woo sambil memandang ponselnya menjawab, "Aku bisa di sini hingga pukul 14.00."

"Kami tak bisa pertahankan kau jika kau menolak perubahan. Yang dibangun puluhan tahun akan hancur dalam sehari. Kau tahu dia bahkan tega memecat keluarganya sendiri."


"Kurasa aku akan disingkirkan. Bagaimana kau bisa jadi Daepyo kika tak bisa kendalikan raut wajah?"

"Profesor Cha berubah seiring usia. Keadaan juga tak mudah baginya. Jika kau ada di sini, tak akan jadi sejauh ini."




Tiba-tiba Su Jin datang. Su Jin bertanya, mereka ada janji makan dengan ayah mertuanya? Sun Ho terkejut, Su Jin juga?

"Ayah meneleponku dan mengajak makan siang." Jawab Su Jin.



Profesor Cha datang, Jin Woo yang tadi masih duduk langsung berdiri untuk menghormati. 

Su Jin: Ayah, aku tak tahu mereka akan datang.

Profesor Cha: Kudengar Jin Woo datang, jadi, aku mengajaknya makan siang. Apa aneh untukmu?

Su Jin: Tidak.

Sun Ho: Tentu tidak. Ini bagus. Lama tak bertemu.

Profesor Cha pun mengajak semuanya duduk. 



Sambil makan, Profesor Cha menanyakan mengenai proses perceraiannyanya Jin Woo, sudah final kan? Sun Ho membenarkan, mereka hanya perlu mengumumkannya.

Profesor Cha: Senang mendengarnya. Kukira kita tak bisa singkirkan dia. Bagaimana kau menghadapinya?

Jin Woo: Kuberi tahu nanti. Bukan dengan cara damai.

Profesor Cha: Mungkin aku bisa menebaknya. Namun, preman seharusnya diperlakukan seperti itu. Hanya itu caranya.

Sun Ho: Anda benar, Pak.




Profesor Cha: Kini setelah Go Yu Ra disingkirkan, aku ingin usul. Kenapa kalian tak rujuk?

Sun Ho: Apa?

Profesor Cha memandang Jin Woo dan Su Jin bergantian. Su Jin dan Jin Woo hanya diam.

Profesor Cha: Aku yang meresmikan pernikahan kalian, ingat? Aku doakan kebahagiaan. Walau sempat disela putraku. Kini kedua rintangan sudah tersingkir, kalian bisa kembali bersama. Aku tiba-tiba terpikir begitu.

Su Jin menahan dirinya, ia menggenggam pisau dan garpunya erat sampai bergetar.




Sun Ho menyusul Jin Woo di toilet, "Kenapa dia tiba-tiba berkata begitu? Kenapa dia memanggil Su Jin-ssi? Dia tak memberitahuku."

"Kurasa ini bukan makan siang bisnis. Sepertinya dia sudah memutuskan. Kini, hidupku bergantung kepadamu. Aku harus percaya kepadamu."

"Jangan pergi jika cemas. Kau harus kunjungi para eksekutif sekarang. Bukan saat..."

"Aku pergi karena cemas. Hanya itu yang tersisa untukku. Harus cari Se Joo. Itu tujuan hidupku."
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search