Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 8 Part 4

- Desember 24, 2018
>
Sumber: tvN




Di gedung J-one saat Rapat smeuanya diam. Lalu Profesor Cha datang.



Profesor Cha bertanya, apa Sun Ho ada waktu? Sun Ho mengiyakan. Profesor Cha menatap kursi Jin Woo yang kosong.



Saat hanya berdua dengan Sun Ho, Profesor Cha bertanya soal Jin Woo yang tidak masuk kerja. 

"Sudah beberapa hari dia tak masuk setelah tiba-tiba muncul hari itu." Jelas Sun Ho.

"Karena bermain game?"

Sun Ho dengan berat hati mengiyakan. 

"Dia menyebabkan kekacauan dengan meminta menunda peluncuran, tapi dia bermain game? Sungguh ironis.

"Dia ingin menunda peluncuran tetapi meneruskan pengembangan karena dia perlu bermain."




Jin Woo bersiap dengan senjata laras panjangnya, ia berbaring di atap untuk mengincar semua musuhnya. Sekarang ia sudah mencapai level 88.



Profesor Cha: Kenapa dia bersikeras?

Jin Woo: Itu... Dia pikir ada masalah dengan gamenya, bukan dirinya. Menurutnya juga dua pengembang game menghilang dalam proses bermain sama sepertinya.

Kilas Balik..



Sun Ho mendengarkan penjelasan Yang Ju sebelumnya.

"Daepyonim di peringkat tiga teratas. Kurasa dia akan segera mengejar. Dua pemain teratas tak bermain lebih dari setahun. Lihatlah. Hanya mereka di level 80 lebih. Di bawahnya semua pemula. Nomor satu Master. Nomor dua Marco. Aku tak tahu siapa Marco. Nomor tiga Daepyonim."

"Siapa Master? Jung Se Joo?"

Kilas Balik selesai..


Jin Woo terus bermain, ia membunuh musuh-musuh yang terlihat dengan menembakinya.



Sun Ho: Dia mencoba meraih level yang diraih pengembang sebelum menghilang. Dia ingin tahu yang terjadi di awal.

Profesor Cha: Jadi menurut logika Jin Woo, putraku tewas oleh game ini. Bukan kecelakaan atau penyakit, dan bukan karena dia, 'kan? Begitu maksudnya?

Sun Ho: Dia tak yakin pada awalnya, tapi kurasa dia makin yakin. Namun hal aneh terjadi. Jung Hoon mengatakan hal yang sama. Jadi aku menemui Jin Woo.

Kilas Balik.. 



Sun Ho menemui Jin Woo di tempat Jin WOo bermain game.

Sun Ho: Kau bilang aku bisa melihat Hyeong Seok jika menjadi sekutumu. Dengan logika itu, aku akan melihatnya jika menjadi sekutumu. Itu bukti paling jelas.

Jin Woo: Tidak. Terlalu berbahaya.




Setelah Jung Hoon diserang Hyeong Seok untuk pertama kalinya, Jin Woo meminta Yang Joo memutuskan aliansi mereka, tapi tidak bisa bagaimanapun Yang Ju mencobanya.




Jin Woo: Setelah membentuk aliansi, tak bisa diputus. Jika kau ingin mati diserang Hyeong Seok, kau boleh jadi sekutuku. Tapi kau tak akan bertahan. Ini untuk kebaikanmu.

Sun Ho: Astaga, kau memaksakannya. Ini sungguh dibuat-buat. Jika kau beri alasan ini, bukankah kau mengaku berhalusinasi? Jika tak mau aku melihatnya, bagaimana kau berharap aku memahaminya? 

Jin Woo: Aku tak mengatakan ini untuk meyakinkanmu. Aku memberimu perintah sebagai Presdir. Ini perintah, Hyeong. Kau tak akan paham kecuali merasakannya sendiri. Aku tak mengatakan ini agar kau memahamiku, tapi supaya kau paham perintahku. Aku tak ingin membuktikan halusinasiku nyata di game. Lakukan saja perintahku kali ini.




Sun Ho: Itu saja. 

Profesor Cha: Dia tak bisa membuktikan kata-katanya.

Sun Ho: Dia tak bisa membuktikannya dan tak berencana membuktikannya.

Profesor Cha: Dia tak berencana membuktikannya? Saat dia menghentikan proyek yang menentukan nasib perusahaan? Kalau begitu kita dapat jawabannya. Jika dia tak berubah setelah setahun, dia tak seharusnya menjadi Presdir.

Sun Ho: Apa?

Profesor Cha: Jika dia tak mampu, harus diturunkan. Entah karena penyakit mental atau kemunafikannya. Mari pikirkan cara menyingkirkannya tanpa membahayakan perusahaan.



Jin Woo sudah menewaskan banyak musuh selama 8 jam bermain. Sekarang ia sudah mencapai level 90.




Jin Woo berbaring di tanah, energinya habis.

Tapi ia mendengar sesuatu, suara burung elang. Ia menatao ke atas, lalau terbangun.




Sang Beom datang saat Min Joo akan pergi les. Sang Beom tanya, gak diantar Hee Joo? 

"Dia sibuk. Dia harus ke bandara nanti."

"Kenapa?"

"Dia ke Granada hari ini. Lucia minta Hee Joo menjadi pengiring di pernikahannya."

"Apa?"


Sang Beom langsung masuk ke kamar Hee Joo. Ia mempertanyakan maksud Hee Joo pergi ke pernikahan Lucia, mengingat Lucia menikah bulan lalu. Hee Joo meminta Sang Beom memelankan suaranya, lalu ia menutup pintu kamar.




Hee Joo menunjukkan dokumen Se Joo pada Sang Beom. Sang Beom membacanya dengan teliti.

"Sudah kuduga. Sudah kubilang ada yang aneh dengan e-mailnya. Sama seperti prediksiku. Menurutku aneh Yoo Jin Woo datang ke hostelmu tiba-tiba. Kubilang aku tak memercayainya sejak awal. Kau terus tersenyum dan berkata dia pria baik. Dengar. Hanya kau yang berpikir rumornya tak benar. Semua percaya Yoo Jin Woo membunuh temannya. Seharusnya dia dipenjara. Dia menghindar dengan pura-pura gila. Dia lolos karena kaya dan berkuasa. Begitulah dunia."



"Karena itu aku ke Granada."

"Mau apa kau di sana?"

"Aku tak bisa diam di sini."

"Tapi kau tak tahu apa Se Joo di sana. Sudah setahun lalu. Dia bisa ada di mana saja. Dari rekaman CCTV, tampaknya dia tak turun di Stasiun Granada."

"Aku harus bertindak. Tak bisa menunggu. Sungguh mengusikku."

"Aku ikut."

"Bagaimana bengkelnya?"

"Kau mau aku di sini sementara kau mencarinya tanpa rencana?"

"Aku tak ingin keluargaku tahu. Aku minta kau di sini. Tolong aku."



Satnya pergi. Nenek berpesan agar Hee Joo hati-hati dan langsung telfon begitu tiba disana.

"Baik, aku akan menelepon."

"Hee Joo, karena kau akan ke sana, kunjungi wanita di toko daging. Nenek penasaran apa dia masih ada."

"Tentu saja."


Sang Beom selesai memasukkan koper ke dalam mobil, ia menyuruh Hee Joo masuk.



Saat mobil jalan, Hee Joo terus menatap nenek dari sepion sampai nenek tidak terlihat lagi.



Di bandara, Sang Beom mengurus administrasi tiket untuk Hee Joo. 



Hee Joo sudah di dalam pesawat, Sang Beom menghubunginya. 

"Hei, aku tak bisa biarkan  kau pergi sendiri. Aku akan ke sana besok."

"Tak perlu. Mau apa kau ke sana?"

"Aku yang akan urus. Mari laporkan ke media atau lakukan sesuatu. Aku kesal membiarkannya."

Sang Beom langsung menatikan telfon.



Hee Joo akan menyalakan mode pesawat, tapi keduluan oleh masuknya telfon Min Joo. Hee Joo pun mengangkatnya.

"Kau belum pergi."

"Aku di pesawat. Ponselnya akan kumatikan. Di mana kau?"

"Eonni. Aku di kantor Ahjussi. Besar dan bagus sekali di sini."

"Di ruang mana kau?"



"Kau tahu label YD? Aku ada audisi dengan label itu besok. Ternyata dia berteman baik dengan pemilik labelnya."

"Serius? Dapat nomor dari mana?"

"Tersimpan di ponselmu."



Lalu Jin Woo datang. Jin Woo minta diijinkan bicara dengan Hee Joo. Min Joo pengertian, ia pun menunggu di luar.



Jin Woo: Kau mau ke Granada? Min Joo memberitahuku.

Hee Joo: Bukan urusanmu. Kubilang jangan hubungi keluargaku.

Jin Woo: Aku tak menelepon karena kau larang, tapi Min Joo meneleponku. Aku tak datang karena kau larang, tapi Min Joo ke kantorku. Kubilang Jung Hoon akan menelepon jika ada informasi, tapi dia sedang tak di sini.





Hee Joo terkejut, ia sampai berdiri, apa maksud Jin Woo barusan? Jin Woo sudah dapat kabar?

"Turun dari pesawat jika bisa. Kau tak perlu ke sana. Kau tak akan menemukan Se Joo walau pergi ke Granada. Hanya aku yang bisa temukan Se Joo." Jin Woo berhenti sebentar, "Sudah kubilang Se Joo masih hidup. Akan kubuktikan.. bila perlu."






Memang benar elang yang dilihat Jin Woo tadi. Elang CItadel. Tapi hanya level 90 keatas yang bisa melihatnya. 




Jin Woo hanya perlu mengulrkan tangan jika merasa dirinya pantas.

Jin Woo mengulurkan tangannya dan elang itu langsung mendarat di tangannya. 


Ternyata elang itu membawa pesan dari Master (Se Joo) di kakinya.


>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search