Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 5 Part 2

- Desember 16, 2018
>
Sumber: tvN



Selang beberapa waktu. Jin Woo dan Su Jin bertemu di depan Rumah Sakit Universitas Seongwon. Saat itu sedang hujan, tapi Jin Woo tidak memakai payung.

Melihat Su Jin menangis, Jin Woo heran, bukannya yang menangis itu seharusnya adalah dirinya? 




Lalu datanglah Hyeong Seok, "Sedang apa kau di sini?"

Jin Woo berbalik menatap Hyeong Seok.

Hyeong Seok melanjutkan, "Kau masih punya urusan... dengan istriku?"

Jin Woo terkejut. Hyeong Seok menjelaskan kalau mereka sudah mendaftarkan pernikahan minggu lalu. Hyeong Seok juga menanyakan kabar ayahnya. Jin Woo tentu saja tidak menjawabnya.



Hyeong Seok lalu menyuruh Su Jin masuk mobil dan Su Jin menurut. Tapi Su Jin masih sempat melirik Jin Woo sekali. 

Jin Woo mengepalkan erat tangannya melihat mereka berdua masuk mobil. 



Lalu datanglah Sun Ho menjemputnya.



Di dalam mobil, Sun Ho memberi Jin WOo handuk sambil menanyakan alasan Jin Woo berdiri di tengah hujan tanpa payung. 

"Aku bisa saja melakukan hal gila jika kau tak meneleponku. Jika ada pisau di tanganku, aku bisa saja menikamnya." Kata Jin Woo.



Dan Jin Woo melancarkan niatnya itu dalam game melawan Hyeong Seok kemarin malam. Ia menebas Hyeong Seok dengan pedangnya.



Tapi Hyeong Seok kembali dalam karakter game untuk balas dendam. Hyeong Seok berhasil membuat Jin Woo jatuh dari lantai 6.



Jin Woo jatuhnya gak langsung kebawah, tapi ia terpental mengenai pegangan tangga beberapa kali. 




Dibawah, Jin Woo memegangi perutnya yang berdarah karena sayatan edang Hyeong Seok. Ia menatap ke atas dan diberi peringatan kalau ia terlalu jauh dari musuh jadi duelnya ditangguhkan. Hyeong Seok menghilang dan Jin Woo pingsan.

Kilas Balik selesai...



Jin Woo terbangun karena suara petir, ia masih was-was. Jin Woo tidak bisa bergerak tangan dan kaki kirinya digips. Ia menyentuh matanya, memastikan apakah ia memakai lensa pintar itu atau tidak, tapi ia tidak merasakannya. 



Jin Woo melihat ponselnya ada di meja, ia mau bergerak mengambilnya tapi ia merasakan nyeri di perutnya. Ia mengangkat bajunya dan melihat perbah melilit perutnya. 

Jin Woo jadi ingat ia terluka di perut karena sayatan pedang Hyeong Seok.




Profesor Cha akhirnya bisa melihat wajah putranya, tapi di kamar mayat.

Jung Hoon yang berdiri di sana mendapat telfon dari Jin Woo, ia pun keluar.

Profesor Cha mengepalkan tangannya erat.




Jin Woo menanyakan keberadaan Jung Hoon. Jung Hoon menjawab ia di lantai bawah.

"Anda tak apa-apa? Ada apa? Kukira Anda tidur. Kenapa Anda tiba-tiba..." Tanya Jung Hoon yang disela oleh Jin Woo. 

"Kau yakin.. Hyeong Seok sudah mati?'

"Apa?"

"Periksa apa dia sungguh mati. Cha Hyeong Seok tiba-tiba muncul di kamarku. Kukira itu game, tapi dia memegang pedang..."

"Daepyonim, aku di kamar mayat sekarang dengan Profesor Cha."

"Apa dia sungguh mati?"

"Anda tak ingat? Sudah dipastikan bahwa Cha Daepyonim.. meninggal kemarin. Dan Anda tidur di kamarmu semalam, lalu tiba-tiba terjatuh pukul 01.00. Hee Joo-ssi menemukanmu. Saat dia ke atas, tak ada orang di sana dan jendelanya tertutup. Tidak ada yang mendorongmu."

"Tunggu... Tunggu sebentar. Jadi, maksudmu.. ini sebenarnya game?"

"Apa?"

"Dia jelas menusukku, dan aku terluka. Bagaimana bisa..."



Jung Hoon memotong perkataan Jin Woo untuk menjelaskan semuanya.

"Begini, Daepyonim. Anda tak pernah ditusuk. Tak ada pendarahan. Anda hanya patah tulang."

"Lalu kenapa perutku diperban?"

"Ususmu terluka karena syok saat Anda jatuh. Jadi, dilakukan operasi darurat. Itu diperban untuk menutup bekas lukanya. Daepyonim, apa Anda membicarakan gim AR? Aku sudah bicara dengan Choi Timjang di telepon sebelumnya."

Kilas Balik..




Yang Ju menjelaskan kenapa ia menelfon. Jin Woo menghubunginya dan terus membicarakan Game, lalu sambungannya tiba-tiba terputus.

"Daepyonim bermain game?" Jung Hoon memastikan sambil masuk ke kamar Jin WOo. 

"Dia terus mengatakan Cha Daepyo selalu muncul. Dan Cha Daepyo berubah menjadi KNP lalu menyerangnya. Dia juga mengatakannya lagi siang ini,
dan lagi.."

Jung Hoon memotong penjelasan Yang Ju karena ia menemukan lensa kintak di meja Jin Woo. Bukankah kalau main game butuh lesa itu? Tapi lensanya ada di sana.

Yang Ju juga bingung.

Kilas Balik selesai..


Jin Woo juga terkejut mengetahui kalau ia tidak memakai lensa. Ia  kira ia masuk otomatis, tapi ternyata tidak?

"Anda tak ingat apa pun? Anda bahkan tak mabuk semalam." Heran Jung Hoon.



Profesor Cha keluar, Jung Hoon segera menyudahi pembicaraannya dengan Jin Woo. Ia menjelaskan kalau Jin WOo diberikan banyak pereda nyeri, jadi itu membuatnya tidak sadar. 

Profesor Cha bertanya keadaan Jin Woo, apa sudah bisa diajak bicara? 

"Ya, dia bisa bicara dengan baik."

"Kurasa aku harus merasa lega. Kukira aku akan kehilangan keduanya."




Jin Woo mengingat-ingat, ia memang mencopot lensanya semalam sebeum ia berbaring.



Jin Woo menatap ke luar dan diluar turun hujan. Ia was-was lagi. 



Seseorang membuka pintu, mereka adalah Hee Joo dan Min Joo. Hee Joo bicara di telfon dengan Sang Beom, mengatakan kalau ia tak bisa ke bengkel, ia rasa butuh waktu lama, sampai sebulan 

Hee Joo: Lalu siapa lagi? Hanya ada sekretarisnya di sini.

Min Joo tak sengaja menatap Jin Woo dan baru sadar kalau Jin Woo sudah bangun. Hee Joo langsung menutup telfon dan Min Joo langsung mendekati Jin Woo.



Min Joo menanyakan keadaan Jin Woo, sakit tidak? Jin Woo balik bertanya, memangnya kelihatan sakit atau tidak? 

"Kelihatannya sakit sekali."

"Lalu kenapa bertanya?"



Jin Woo menatap Hee Joo. Hee Joo langsung keluar untuk memanggil perawat.



Min Joo menceritakan apa yang terjadi semalam dengan sangat antusias.

"Kami sangat terkejut. Kukira kau akan mati. Kau bahkan sempat tak bernapas. Tapi kau bisa selamat karena ada satu mahasiswa melakukan CPR. Kau akan mati jika bukan karena dia."

"Sungguh?"

"Kau membentur pegangan saat terjatuh dan itu membantu memperlambat jatuhnya. Begitulah kau bisa selamat. Kau sungguh beruntung. Kau selamat karena membentur pegangan."

"Kau bersemangat menjelaskannya."

"Kepalamu bahkan tak terluka. Katanya sungguh ajaib hanya tangan dan kakimu yang luka."

"Kau yakin kepalaku tidak terluka?"

"Apa?"


Jin Woo bertanya, apa di luar hujan betulan. Min Joo membenarkannya, jelas hujan di luar. 

"Kau tak bisa melihat?" Tanya Min Joo. 

"Aku bisa lihat. Aku lega ini hujan sungguhan."

Jin Woo lalu mengangkat ponselnya. Tapi Mi Joo melarangnya. 

"Kau tak boleh melihat ponsel. Kau pasien."

"Tidak apa-apa."



Min Joo keluar mencari kakaknya, ia mengadu soal Jin Woo yang sudah menggunakan ponsel. Hee Joo tak menyangka, ia langsung masuk.



Hee Joo memarahi Jin Woo karena menggunakan ponsel. Ia merebut ponsel Jin Woo.

"Banyak tulangmu yang patah, jadi, tak boleh bergerak. Kenapa memeriksa ponselmu saat baru sadar?"

Hee Joo menduga Min Joo yang memberikan ponsel itu pada Jin Woo, tapi Min Joo mengelaknya. Hee Joo mengatakan pada Jin Woo kalau dokter akan segera masuk, jadi Jin Woo berbaring saja!



Jin Woo: Tapi kenapa kau sangat marah?

Hee Joo: Karena aku terkejut. Kau sungguh mengejutkanku, kau juga sangat tak acuh...

Hee Joo bahkan menangis, tapi ia membantahnya. Hee Joo keluar lagi karena tak bisa berhenti menangis, ia beralasan mau memanggil dokter yang belum juga masuk.



Jin Woo bertanya pada Min Joo, apa terjadi sesuatu pada Hee Joo selama ia tidak sadar?

"Kurasa karena Unnie sangat menyukaimu."

"Kakakmu menyukaiku? Tapi kami baru bertemu dua hari lalu."

"Kakakku cepat jatuh cinta."

"Meski begitu, ini berlebihan."

"Dia terus menangis dari tadi. Kurasa dia sangat sedih kau terluka. Kenapa dia sedih? Karena dia menyukaimu. Itu kesimpulanku."

"Itu kesimpulan yang sangat tak biasa. Hanya anak kecil yang berpikir begitu."

"Aku yakin aku benar. Aku sangat intuitif. Bagaimana menurutmu kakakku? Kau akan segera melajang."



Jin Woo tersenyum karena Min Joo selalu saja mengatakan hal tak terduga. Apa Min Joo ingin menjodohkan mereka? 

"Maksudku, kakakku terlalu baik untukmu. Tapi harus kudukung karena dia menyukaimu. Dan, kakakku sekarang kaya. Kurasa kalian akan jadi pasangan hebat."



Jin Woo tak merasa Min Joo lucu, tapi tiap kali ia mencoba ketawa, ia selalu kesakitan. 

Jin Woo: Seperti yang kau tahu, aku masih dalam proses perceraian. Dan aku muak dengan wanita. Jadi, jangan menjodohkan kami.

Min Joo: Apa kakakku baru saja dicampakkan?

Jin Woo: Apa kakak lelakimu sudah pulang?

Min Joo: Belum.

Jin Woo: Dia belum menelepon?

Min Joo: Belum. 

Min Joo tanya lagi, apa Jin Woo tidak menyukai kakaknya? Jin Woo tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Jin Woo akan menjawab, tapi Hee Joo keburu masuk. Mereka pun diam. Hee Joo mengatakan dokternya sudah datang.

Dokter pun memeriksa keadaan Jin Woo.
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search