Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 4 Part 3

- Desember 10, 2018
>
Sumber: tvN



Jin Woo mendatangi TKP. Bangku itu dipasangi garis polisi. Ia memandang sekeliling, mengingat bagaimana ia mengalahkan Hyeong Seok semalam.




Jin Woo memakai kontak lensanya, masuk ke gim lagi. Jin Woo melihat Hyeong Seok duduk bersimbah darah di bangku itu, diam tidak bergerak.




Jin Woo mendekat, menocba memegang, tapi pegangannya tembuskarena itu cuma karakter game.


Jin Woo kepikiran petanyaan Su Jin tadi. Ia pun kembali ingat apa yang ia katakan pada Hyeong Seok semalam (lengkapnya baca di episode 3 part 4).


Jin Woo mendengar suara nafas anjing, ia menoleh dan anjing itu memaksa melintasi garis polisi. Pemilik anjing langsung menggendong anjingnya pergi sambil menatap Jin Woo tajam.



Jin Woo pun keluar dari garis polisi dan tiba-tiba ia diberi peringatan kalau musuhnya terlihat. Jin Woomencari-cari dan dilihatnya Hyeong Seok sudah siap dengan pedangnya.




Hyeong Seok akan menyerang, tapi Jin Woo lebih sigap, ia langsung menebas tubuh Hyeong Seok. Ia menang dan ia naik level. Hyeong Seok pun menghilang.


Jin Woo mencari-0cari tapi Hyeong Seok tidak muncul lagi.


Di kantor, Yang Ju mendengar dari salah satu karyawan kalau meninggalnya Hyeong Seok sudah dimuat di tabloid.



Jin Woo menghubungi, bertanya bisakah gimnya memprogram otomatis data pemain?

"Apa?" Yang Ju gak ngerti maksud Jin Woo. 

"Imaji pemain yang mati tiba-tiba muncul sebagai KNP. Apa itu mungkin?"

"Aku tak tahu. Pemain berubah menjadi KNP? Itu tak masuk akal."

"Periksalah. Cari tahu apa ini bagian dari gim. Atau Jung Se Joo mempermainkanku."



Selanjutnya, Jin Woo mendapat telfon dari stasiun Granada, bertanya apa Jin Woo meninggalkan tas di kereta?

"Tidak, aku tak naik kereta."

"Kami menghubungi nomor yang ditemukan di tas."

"Dari mana asal keretanya?"

"Dari Barcelona ke Granada."


Jin WOo ingat ia melihat tas di gerbong kereta saat mencari Se Joo kemarin. Ia pun membenarkan kalau itu adalah tasnya, ia akan mengambilnya sekarang.



Hee Joo memasak bubur sambil telfonan dengan Sang Beom. Sang Beom heran, kenapa membuat bubur? Ternyata Hee Joo memasaknya untuk Su Jin karena Su Jin sedang tak bisa makan, ia akan membawakannya besok.

"Kenapa kau merawat orang tak dikenal?"

"Aku merasa iba. Dia kehilangan suami saat mengandung. Aku merasa kasihan."

"Aku punya kecurigaan."

"Kepada siapa?"

"Yoo Jin Woo. Kenapa menjaga mantan istri saat suaminya tiada dan memintamu membantu?"

"Kenapa itu aneh? Dia di sini saat suaminya meninggal. Memberi penghormatan itu tindakan yang benar."

"Itu kewajibannya, bukan kau. Kau menjual rumah kepadanya, itu saja. Kau juga bukan sekretarisnya."

"Kenapa bersikap kasar?"

"Aku bersikap kasar?"

"Ya. Lebih dari biasanya."



Berhubung Hee Joo menyinggungnya, ia akan mengatakannya. Ia tak suka Yoo Jin Woo. Jin Woo punya uang, kenapa tak ke hotel mewah dan bersenang-senang? Kenapa malah mengikuti Hee Joo? Kenapa membeli rumah Hee Joo bukannya properti lain dan minta Hee Joo terjemahkan?

Sang Beom: Dia sedang mengambil hatimu.

Hee Joo: Tunggu...



Tiba-tiba Jin Woo menjawab, ia membantahnya, yang dikatakan Sang Beom tadi bukanlah niatnya. Tapi ia mengakui telah mengikuti Hee Joo.

Hee Joo terkejut, ia langsung menyudahi telfonnya dengan Sang Beom.



Hee Joo bertanya, kapan Jin Woo masuk? Jin Woo sebenarnya sudah mengetuk, tapi Hee Joo tidak mendengarnya.

"Apa dia akan bergegas kemari?" Tanya Jin Woo.

"Tentu tidak. Begitulah cara dia berbicara. Meski dia terdengar sedikit galak, dia sebenarnya kikuk."

Jin Woo hanya membalasnya dengan senyum.




Jin Woo memberikan sesuatu yang dititipkan padanya untuk Hee Joo. 

"Kau mampir ke apartemen?"

"Ya."

"Kau tak perlu memasak bubur, tapi terima kasih."

"Tidak apa-apa. Bagaimana kondisinya?"

"Dia akan membaik. Maaf aku menaksirmu lagi, tapi..."

"Tolong berhenti berkata begitu."

"Boleh pinjam komputer? Aku harus urus sesuatu."



Hee Joo menunjukkan komputernya, tapi Jin Woo merasa spesifikasinya tidak cukup, ia butuh yang agak tinggi.

"Ada yang performanya lebih baik?" Tanya Jin Woo. 

"Performa lebih baik? Ah! Adikku punya komputer canggih."

"Boleh kupinjam?"



Jin Woo pelan-pelan menanyai Hee Joo soal Se Joo, pertama melalui keluarganya dulu biar gak terkesan tiba0tiba.

"Di mana keluargamu?" Tanya Jin Woo. 

"Di rumah."

"Adik laki-lakimu juga?"

"Dia belum kembali. Kukira dia pulang hari ini, ternyata aku salah."

"Dia belum menelepon?"

"Belum. Tapi begitulah dia. Aku tak tahu apa yang dia kerjakan. Dia pasti senang mendengar aku menjual tempat ini. Dia pasti lebih senang saat tahu kau yang membelinya."

Hee Joo memberitahu sebelum mengajak Jin Woo masuk ke rumahnya, rumahnya agak berantakan.

"Aku tak berharap akan rapi." Jawab Jin Woo. 




Di rumah, ada nenek dan Min Ju yang sedang menonton TV. Nenek sangat senang melihat Jin Woo.

"Astaga! Anak muda yang tampan. Kau mengejutkan kami dengan datang tanpa mengabari."

"Maaf datang selarut ini, tapi aku kemari untuk meminjam komputer."

"Senang bertemu denganmu. Pemuda yang tampan. Boleh aku memelukmu?"


Dan nenek langsung memeluk Jin Woo tanpa menunggu persetujuan Jin Woo, bahkan memeluknya sampai dua kali. Jin Woo canggung banget. Hee Joo juga tidak bisa membantu banyak.

Nenek: Terima kasih banyak. Sejujurnya aku sangat bersyukur. Bagaimana cara membalas kebaikanmu? Astaga. Aku tak pernah bermimpi dapat rezeki tak terduga di usia ini. Mungkin ini balasan Tuhan atas semua ujian yang kuhadapi. Aku tahu kau banyak uang, tapi kenapa kau bisa sedermawan itu?

Jin Woo: Tak perlu berterima kasih. Aku membayar pantas.

Jin Woo: Terserah. Aku hanya sangat bersyukur. Aku masih merasa ini seperti mimpi.

Karena nenek sudah kelewatan, Hee Joo akhirnya menyela, mengatakan kalau Jin Woo ini orangnya sibuk.



Giliran Min Joo yang mengajak Jin Woo bicara, ia minta maaf karena sudah menyuruh Jin WOo mencuci piring, ia tak tahu kalau Jin WOo itu orang terkenal. 

"Tidak apa-apa."

"Tapi kenapa kau menceraikan Go Yu Ra? Aku menyukainya."

"Ucapanmu cukup tajam juga." Jawab Jin WOo sambil tersenyum.




Hee Joo cepat-cepat membawa Jin WOo ke kamar Se Joo sebelum ditanyai lebih lagi. Kamarnya Se Joo berantakan banget, disana juga ada gambar-gambar karakter gim.

Hee Joo menjelaskan kalau adiknya suka gim video, jadi, dia pakai komputer canggih. Jin Woo menyalakannya dan merasa itu cukup. 



Jin Woo juga meminjam ponsel Hee Joo dengan alasan ponselnya kehabisan baterai. Hee Joo memberikannya dengan senang hati, bahkan membukakan kunci sandinya. 

Jin Woo:Apa kau tak terlalu mudah menyerahkannya?

Hee Joo: Tak ada hal penting.

Jin Woo: Tapi aku bisa melihat semua.

Hee Joo: Silakan. Tak ada apa-apa.

Jin Woo: Baiklah, aku akan memeriksanya.



Jin Woo mulai menggunakan ponsel, tapi Hee Joo malah menungguinya disana.

Jin Woo: Pekerjaanku sangat rahasia.

Hee Joo: Tentu. Aku akan memberikan privasi.

Jin Woo: Terima kasih.


Hee Joo keluar dan Jin Woo pelan-pelan mengunci pintu kamar.
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search