Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 4 Part 1

- Desember 10, 2018
>
Sumber: tvN



Sudah jam 4 subuh lebih, tapi Hyeong Seok belum juga pulang. Su Jin mulai khawatir.



Su Jin bertanya pada sekretaris Hyeong Seok, tapi sekretarisnya bilang Hyeong Seok belum menelfon. 

"Dia juga tak menjawab teleponmu?" Tanya Su Jin lagi. 

"Tidak. Mungkin dia tak mendengar karena bar berisik."

"Tapi bukankah seharusnya bar sudah tutup? Dia belum membaca pesan. Firasatku buruk. Kau tak tahu dia bertemu siapa?"

"Maaf. Seharusnya aku periksa. Aku akan terus mencari. Tolong jangan terlalu cemas. Sebaiknya kau tidur."


Su Gyeong juga terbangun, ia pikir Hyeong Seok sudah tidur, tapi kok malah belum pulang.

Su Jin jadi kepikiran soal pertanyaan Hyeong Seok mengenai Jin Woo. 

Kilas Balik...




Hyeong Seok melemparkan botol anggur ke dinding, Su Jin ketakutan.




Hyeong Seok berkata dengan emosi, "Aku tak akan kembali. Siapa yang menyangka kau sebenarnya ayahku? Hanya saat Jin Woo meninggal..."

Dibelakangnya ada Su Jin.



Su Jin bertemu dengan Jin Woo saat hujan. Su Jin menangis, tapi Jin Woo heran, kenapa menangis? Bukankah harusnya ia yang menangis bukan Su Jin?



Su Jin bertemu dengan Jin Woo saat hujan. Su Jin menangis, tapi Jin Woo heran, kenapa menangis? Bukankah harusnya ia yang menangis bukan Su Jin?




Su Jin semakin khawatir, Su Gyeong menenangkan, mungkin Hyeong Seok cuma mabuk dan tertidur di jalanan. Apa sebaiknya ia ikut mencari ya?

"Su Gyeong-ah. Kau masih punya nomornya, 'kan?"

""Nomornya"? Siapa? Maksudmu Jin Woo, iparku?"

"Kenapa kau terus menyebutnya ipar? Dia bukan suamiku lagi!"

"Astaga, benar. Yoo Jin Woo-ssi. Aku terbiasa memanggilnya begitu. Kenapa kau bertanya?"

"Kurasa dia pergi menemui Jin Woo."

"Kenapa mereka bertemu? Mereka sudah tak akrab untuk bertemu dan minum bersama."

"Beri aku nomornya untuk jaga-jaga."

"Kau tak punya nomornya?"

"Aku sudah menghapusnya."



Su Gyrong hanya memandang Su Jin.




Hyeong Seok ditemukan sudah meninggal di taman oleh seseorang yang sednag berolah raga. 


Nenek tiba-tiba membangunkan Hee Joo karena ia mimpi buruk semalam, semua uang mereka hilang. Ia meminta Hee Joo segera memeriksa rekeningnya.

"Aku yakin masih ada. Memangnya bisa ke mana?"

"Bangun dan periksa saja. Dalam mimpi nenek, saldonya menjadi nol. Astaga, bagaimana jika kita ditipu? Nenek sangat khawatir."

"Astaga, jangan cemas. Dia terkenal. Dia tak bisa menipu."

"Semua penipu meyakinkan. Jika tidak, mana bisa menipu. Periksa tabunganmu sekarang."



Hee Joo langsung bangun dan memeriksa rekeningnya, ia membaca nol-nya, ada 11 digit. Nenek lega mendengarnya. 

"Astaga. Apa nenek sedang bermimpi? Meski dilihat terus, nenek tetap tak percaya."



"Ini bukan mimpi, Nenek. Kita sungguh kaya sekarang." Hee Joo mempertegas.

"Hee Joo-yaa. Kau sudah bekerja keras. Nenek tahu keadaan sangat berat bagimu."

Nenek tak bisa menahan tangisnya, ia langsung memeluk Hee Joo.




Karena Hee Joo sedang bahagia hari ini, ia menggratiskan semua makanan untuk tamunya.


Saat mengantar Min Joo, Hee Joo menerima telfon dari calon pelanggan, tapi ia menolaknya karena sudah tidak mengelola hostel mulai bulan depan.




Hee Joo bertanya pada Min Joo, haruskah mereka membeli mobil baru? Bagaimana kalau sebuah van? Min Joo mengingatkan kalau van itu malah.

"Bahkan yang paling mahal tak akan lebih dari seperseratus uang kita."

"Sungguh?"

"Bagi kita, van murah sekali."

"Maka kita harus beli satu."

Mereka setuju. Hee Joo bilang akan mngunjungi dealer saat Se Joo pulang.



Hee Joo menurunkan Min Joo di dekat sekolahnya.




Saat Hee Joo berjalan, banyak orang yang menyapanya. Lalu ia mampir di toko bunga, ia membeli 10 batang. 

"Apa ini hari istimewa? Kenapa membeli banyak bunga?" Tanya penjual.

"Tidak, aku hanya membelinya karena mereka sangat indah. Kini aku bisa sedikit boros."

"Sempurna."





Hee Joo membawa bunganya ke Toko Gitar Bellido. Ia menatanya kedalam tiga vas, lalu menempatkannya di sudut-sudut ruangan.




Hee Joo memetik senar gitar yang ada disana. Ia ingat soal kata-kata Jin Woo yang menyuruhnya kembali bermain gitar klasik.

Hee Joo: Bagaimana kau tahu? Aku sudah berhenti sejak lama.


Hee Joo mencari informasi soal Jin Woo di internet. Ia tersenyum membacanya.




Seseorang masuk, Hee Joo mengira Sang Beom yang datang, tapi ternyata Jin Woo. Hee Joo terkejut sampai ia tersandung saat akan berdiri dan menjatuhkan ponselnya.

Jin Woo memungut ponsel Hee Joo dan melihat Hee Joo sedang melihat fotonya. Tapi ia langsung mengembalikannya, Hee Joo malu gitu.

Jin Woo: Aku tak fotogenik, 'kan? Aku lebih tampan aslinya.

Hee Joo: Kau jauh lebih tampan aslinya. Astaga.




Seseorang masuk, Hee Joo mengira Sang Beom yang datang, tapi ternyata Jin Woo. Hee Joo terkejut sampai ia tersandung saat akan berdiri dan menjatuhkan ponselnya.

Jin Woo memungut ponsel Hee Joo dan melihat Hee Joo sedang melihat fotonya. Tapi ia langsung mengembalikannya, Hee Joo malu gitu.

Jin Woo: Aku tak fotogenik, 'kan? Aku lebih tampan aslinya.

Hee Joo: Kau jauh lebih tampan aslinya. Astaga.


Kalau begitu, Jin Woo meminta Hee Joo pergi dengannya, ia butuh bantuan Hee Joo. Hee Joo pun tidak menolaknya.
>

1 komentar:

avatar

Makin seruuu...next partnya kak,udah gak sabar 😄


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search