Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 3 Part 1

- Desember 09, 2018
>
Sumber: tvN

Spanyol-Granada-Alhambra

Jin Woo sudah ada di level 4 sekarang.




Yang Ju masih setia menonton, malam-malam, sendirian. 

Jin Woo mengeluarkan senjatanya, ia merasa sesuatu akan muncul, ia mulai paham polanya, sebentar lagi sesuatu akan muncul.

"Tetap saja, kau harus teruskan. Maju lagi. Go Go!"

"Apa aku avatarmu? Beraninya manajer tim memerintah direktur?"

"Hanya itu caranya. Kau harus melewati gang itu."

"Aku cemas akan mati dengan brutal."

"Kalau kau mati, kau bisa masuk lagi. Tak ada ruginya."




"Apa-apaan... Bodoh, ini bukan gim biasa yang kau mainkan di sofa. Coba saja mainkan dan rasakan sulitnya. Sejak tiba, aku kurang tidur, hanya makan mi instan dan mati 45 kali. Berapa kali aku harus mati?"

"Pak, begitulah cara kerja gim. Pertama, kau harus terus mencoba naik level. Kau tak punya uang atau pengalaman, jadi, harus berusaha. Kurasa Cha Daepyonim juga mati terus dua hari pertama hingga naik ke level empat."

"Lalu?"

"Apa?"

"Apa maksudmu? Apa aku harus berhenti mengeluh karena Cha Hyeong Seok juga melakukannya? Sepertinya kau meremehkanku. Kau meremehkan bosmu?"

"Pak, gula darahmu pasti turun. Kau sangat sensitif. Belilah jus atau apa lalu teruskan."

"Diam."





Jin Woo lalu diserang. Yang Ju memperingatkan level seranag mereka lebih tinggi, ia menyuruh Jin Woo lari menghindar.

Jin Woo terus berlari dana anak panah terus berjatuhan disekitarnya. 



Yang Ju: Tarik napas panjang, Pak. Jangan terburu-buru. Tarik napas! Cobalah untuk tenang.


Jin Woo terkena panah. Yang Ju menyesalkan, tapi ia menyuruh Jin Woo bangun karena Jin Woo belum mati. Tapi sedetik kemudian Jin Woo terpanah lagi. Jin Woo mati.

Yang Ju:  Astaga, kau mati lagi. Seharusnya jangan terlalu cepat menyerah, Pak. Kau harus kuat berlari cepat untuk menghindari panah dan...





Tiba-tiba komputer Yang Ju berhenti, koneksinya tidak stabil, semuanya membeku. Yang Ju mengerti, gim-nya Sedang memuat. Ia menyuruh Jin Woo lari, cepat!!


Jin Woo pun behasil lolos dari para pemanah. Jin WOo tersenyum. 

Yang Ju: Kuberi tahu. Memuat data tadi menyelamatkanmu. Kau beruntung.



Tiba-tiba turun hujan, Jin Woo pun mencari tempat berteduh. Tapi ia merasa aneh, orang-orang gak kehujanan, mereka sama sekali gak basah walau berjalan di tengah hujan.



Jin Woo menengadahkan tangannya, dan tangannya tidak basaha. Ia lalu keluar dai gim.

Memang tidak turun hujan di dunia nyata, ia pun masuk gim lagi. 

Yang Ju: Apa hujannya efek khusus? Kukira hujan sungguhan. Luar biasa.


Jin Woo ternyata berteduh didepan kafe Alcazaba. Gim menawarinya untuk masuk, ia pun masuk ke dalam.

Yang Ju: Kurasa selalu hujan saat di kafe ini. Suasananya menyenangkan.



Jin Woo mendapat keterangan.

Kafe Alcazaba Adalah Ruang Bagi Para Pemain
Di Sini, Pemain Bisa Bertukar Informasi Dan Membentuk Aliansi
Pemain Juga Bisa Membeli Atau Menjual Senjata Dan Peralatan Lain
Para Pemain Juga Bisa Menerima Tugas



Jin Woo menemukan sekelompok orang yang berpakaian berbeda. Yang Ju menduga itu pasi KNP (Karakter Non-Pemain Pemberi misi atau barang). 

Jin Woo: Aku mau tahu asal karakter ini. Kurasa bukan khayalan.

Yang Ju: Mungkin dari film? Atau dari film sejarah. Ah.. Mereka bajak laut.



Yang Ju menyuruh Jin WOo mencoba bicara dengan mereka, mereka mungkin akan memberi tugas. Jin Woo merasa mereka mungkin menikamnya jika ia ajak bicara.

"Yang di sebelah kanan tampak ramah. Coba ajak bicara." Suruh Yang Ju.

"Aku harus bilang apa?"

"Dekati dan sapa saja."

"Dalam bahasa Korea atau Spanyol?"

"Entahlah. Dekati saja dan bilang sesuatu."





Jin Woo mendekati mereka, menyapanya tapi mereka memelototinya. Dan yang terlihat paling ramah malah yang paling galak. 

"Pergilah, Anak baru. Kecuali ingin mati di sini!"

"Kita baru bertemu. Kenapa kau kasar padaku?" Gumam Jin Woo.


Yang Ju: Kau tak bisa terima tugas sekarang karena levelmu rendah. Temui mereka lagi nanti.

Jin Woo: Mereka tak mau bicara denganku.




Seseorang memandang aneh Jin Woo karena bicara dengan meja kosong dan dari tadi terus menatap meja itu. Jin Woo sadar dengan tatapan itu, ia hanya tersenyum.


Jin Woo pun duduk dan meminta daftar menu. 



Yang Ju menyuruh memesan churros saja, ia rasa rasanya enak. 

"Kini kau bahkan mendikte pesananku? Tutup. Aku muak dengar suaramu."

"Pak! Aku sedang mencarinya. Ternyata, Kafe Alcazaba terkenal untuk churrosnya. Kau tak punya alasan tak makan churros di sana, 'kan? Tertulis di sini. Churros adalah kudapan paling disukai warga lokal, dan tempat paling terkenal untuk churros adalah Kafe Alcazaba. Kau harus mencobanya."

"Astaga. Apa yang harus kupesan kalau begitu?"

"Pesan satu porsi churros dengan saus cokelat. Kau harus mencelupkan churros ke cokelat panas. Pasti enak sekali. Pak, satu porsi terdiri atas lima churros. Celupkan satu-satu ke dalam saus. Astaga, aku mau..."

"Aku dengar, jadi tutup teleponnya. Biarkan aku makan dengan tenang."



Jin Woo menutup telfonnya. Ia pun melanjutkan memilih menu. Tapi ia terhenti saat mendengar suara gitar klasik. Ia menoleh, ternyata salah satu karakter gim yang memainkannya.


Jin Woo pun mendekatinya dan wajah karakternya mipip banget dengan Jung Hee Joo. Jin Woo memanggilnya, tapi Hee Joo tidak merespon. 



Gim memberi keterangan, dia adalah gitars, Emma, 27 tahun. Jin Woo pun mengubah sapaannya. 



"Halo, Emma."

Barulah Emma merespon, ia tersenyum pada Jin Woo. Jin Woo terbius. 



Narasi Jin Woo:

"Hee Joo awalnya datang ke Granada karena gitar. Ayahnya, seorang gitaris tak terkenal, sangat bersemangat dengan bakat putrinya yang melebihi dirinya."




Hee Joo memenangkan kompetisi, hadiah utama. Ayah ibu dan kedua adiknya menyemangatinya selalu. 

Ayah yang paling bahagia sampai menangis tersedu.  




Saat makan malam setelah penganugerahan itu, ayah mengajak semuanya pindah ke Spanyol, disana masa depan Hee Joo bisa sangat cerah. Keluarga harus mendukungnya. Sekaranglah saatnya. Mereka tak bisa menunda.

Ibu dan Nenek tidak setuju awalnya, tapi ayah memaksa. 

Ayah: Jangan sia-siakan bakatnya di sini. Dia harus lihat dunia luas. Itu keputusanku. Ayo pindah ke Spanyol. Ibu, Spanyol adalah tempat terbaik belajar gitar klasik.

Ibu: Apa yang akan kita lakukan di sana? Bagaimana kita cari nafkah?

Ayah: Kita cari cara. Aku yakin semua akan lebih baik. Ayo pindah ke sana demi masa depan Hee Joo. Hee Joo-ya, kau ingin pindah, 'kan?


Dan pindahlan mereka ke Spanyol. 

"Mereka menjual semua dan pindah ke Granada 12 tahun lalu."

Ayah membuka penginapan Bonita untuk pertama kalinya. 


"Namun, hanya tahun pertama yang penuh dengan harapan. Saat tiba di Spanyol, Hee Joo sadar dia bukan anak genius."


"Dan ibu Hee Joo, sakit dan wafat dalam setahun."


"Ayahnya, yang kehilangan istrinya... jadi pemabuk selama bertahun-tahun dan akhirnya menyusul ibunya."




Ayah mengemudi dalam keadaan mabuk, mengalami kecelakaan, lalu meninggal. 



Hee Joo harus merawat kedua adiknya.



Hee Joo juga harus mengurus penginapan mereka.

"Sebagai tulang punggung, Hee Joo berhenti sekolah dan bekerja."

Hee Joo juga harus bekerja sebagai pemandu wisata.



"Hee Joo bekerja sangat keras. Dia bahkan tak pernah libur. Anehnya, utang keluarga terus menumpuk meski dia kerja keras."



"Impiannya sirna, dan dia harus bertahan hidup. Tampaknya kehidupan Hee Joo tak akan membaik kecuali keajaiban tiba-tiba terjadi."




"Tepat saat itu, aku muncul di depan pintu."
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search