Sinopsis Memories of the Alhambra Episode 3 Part 2

- Desember 09, 2018
>
Sumber: tvN



Hee Joo terkejut mendengar Jin Woo yang mau membeli Hostelnya, Hostel Bonita.

"Aku sudah merisetnya. Hostel ini dipasarkan lebih dari dua tahun tapi tak ada yang berminat. Hipotekmu terus naik dan utangmu malah membengkak. Awalnya, aku tak berencana membelinya, tapi aku berubah pikiran pagi ini. Lalu kuminta dibuatkan perjanjian. Saat memutuskan berbuat sesuatu, harus kulakukan segera."





Jin Woo menandatangani perjanjiannya lalu memberikannya pada Hee Joo untuk dipelajari. Hee Joo tambah terkejut, sejak kapan Jin Woo menyiapkan semua itu? 

"Dengar, aku akan beri tawaran menarik. Bagian jumlahnya masih kosong. Lihat ini, 'kan? Kalau kau tanda tangan sekarang, aku akan menulis "sepuluh miliar won" di sini."

"Apa?"

"Tapi hanya jika kau langsung menandatanganinya. Jika kau tanda tangan, aku akan kirimkan uangnya ke rekeningmu segera."

"Tapi..."

"Tapi tiap sepuluh menit, tawaranku turun satu miliar won."

"Maaf? Apa?"

"Sekarang pukul 08.55. Kita mulai pukul 09.00. Jika tanda tangan pukul 09.10, kau hanya dapat sembilan miliar won."

"Apa maksudmu?"

"Jika pukul 09.20, jadi delapan miliar won. Jika tanda tangan pukul 10.00, maka jadi empat miliar won. Pukul 10.30, satu miliar won. Harga pasarannya satu miliar won. Jika kau tak memutuskan dalam 1 jam 30 menit, kontrak ini akan percuma. Ada satu hal lagi. Jika kau berdiri dan pergi, tawarannya akan batal. Artinya kontrak ini hanya berlaku dalam 1 jam 30 menit. Kau mengerti? Ini sederhana. Jika mau dapat banyak uang, kau perlu memutuskan segera."



Hee Joo meminta waktu sebentar, ia sungguh tak paham, kenapa Jin Woo mau membayar sepuluh miliar won untuk rumah bobroknya?

"Dalam bisnis, penempatan waktu kadang lebih penting daripada uang. Bagimu sepuluh miliar won mungkin jumlah besar, tapi tak begitu untuk perusahaan. Tapi sepuluh menit sangat berharga bagi kami. Sekarang, aku menawarkan membayar untuk waktumu. Aku tak bisa beri tahu kenapa waktunya penting. Ini rahasia bisnis."



Hee Joo membaca kontranya tapi Jin Wo semakin mendesak, kalau tak suka tawarannya, boleh pergi. Hee Joo jelas tidak mau pergi. Jin Woo langsung menyuruhnya menandatangani kontraknya. Tapi Hee Joo masih ragu.

"Jika mau tanda tangan, sebaiknya kau lakukan segera." Ujar Jin Woo.


Hee Joo memegang bolpoin, siap untuk tanda tangan, tapi ia berhenti. Jin Woo udah ketar-ketir.





Hee Joo meminta Jin Woo meyakinkan kalau Jin Woo sungguhan Yoo Jin Woo presdir dari J-One.   

"Apa?" Jin Woo tak mengerti.

"Kau bisa saja mirip dengannya. Ayahku pernah ditipu dengan cara itu."


Jin Woo tersenyum, lalu menunjukkan Papornya. 

"Cari namaku di Internet, kau akan temukan ratusan video."



Hee Joo memegang bolpoinnya lagi. Tapi ia malah pergi sebelum menandatanganinya. Jin Woo menahannya. 

"Kau mau pergi?"

"Tidak, tapi boleh aku ke toilet? Aku harus menelepon."

"Baiklah."

Jin Woo pun melepaskan tangan Hee Joo. 

"Aku harus bicarakan dengan keluargaku. Hanya ini yang kami miliki. Jika dijual, harta habis. Tak bisa putuskan sendiri."

"Tentu. Lakukanlah sesukamu. Omong-omong, sebentar lagi pukul 09.00. Tawarannya akan mulai."

Hee Joo bergegas, tak lupa ia membawa kontraknya.


Jung Hoon mendekati Jin Woo saat Hee Joo pergi, menanyakan pendapat Jin Woo, akhirnya akan bagaimana kira-kira?

"Jika tak bodoh, dia akan teken dalam 30 menit."

"Namun, kenapa kau beli rumah itu? Rumahnya tak sepadan dengan harga semahal itu. Tempat itu tak bernilai."

"Kenapa aku mau membeli rumah yang tak bernilai?"

"Tepat sekali."

"Bodoh."

"Aku penasaran."

=30 MENIT SEBELUMNYA=



Jin Woo dihubungi oleh K, menanyakan soal hak paten gim itu. Jin Woo belum memeriksanya ternyata. 

"Jung Se Joo mematenkan gimnya di bawah bisnis keluarga alih-alih namanya."

"Sungguh?"

"Aku tak menemukan namanya, jadi, aku mencarinya untuk memastikan. Nama bisnisnya adalah Hostal Bonita."

"Artinya semua akan berakhir saat aku membeli hostel itu."

"Kau tak perlu anak itu. Lisensi, teknologi inti, dan paten didaftarkan atas nama hostel itu. Pemilik bisnisnya adalah Jung Hee Joo."

"Mudah sekali. Ini luar biasa."



Jin Woo langsung menghubungi Sun Ho untuk memberikan kabar ini. Sun Ho senang mendengarnya, bagaimana dengan Jung Se Joo?

"Jangan beri tahu soal Jung Se Joo atau gim. Kalau tahu, dia pasti ingin menunda sampai dia datang." Pinta Jin Woo. 

"Itu benar. Tapi kau tak tahu kapan dia kembali, dia tak bisa dihubungi."

"Aku akan sertakan tambahan syarat saat dia kembali. Aku harus beli sekarang. Tak boleh buang waktu."

"Berapa tawaranmu? Terlalu besar akan mencurigakan dan pasti tak mau terlalu kecil."

"Aku mulai dengan jumlah besar dan menekan dengan perlahan kukurangi. Jika menurutnya terlalu besar, dia akan curiga. Aku akan gunakan uang dan waktu untuk menekan dan menutup perjanjian secepatnya."

"Baiklah."

"Baik, aku akan menemuinya."


Hee Joo memasuki salah satu bilik toilet dan ia menenangkan dirinya, ia mengatakan pada dirinya untuk tak terlalu bersemangat. Jangan membuat kesalahan dan tenanglah!


Hee Joo lalu menghubungi neneknya. Tapi nenek tidak menjawab telfonnya karena sedang sibuk berbelannja, tidak mendengar kalau ponselnya berdering.


Hee Joo lalu menghubungi Se Joo, yang menjawab hanya suara operator. Hee Joo baru ingat kalau ponsel Se Joo sedang rusak. 

Hee Joo bingung.


Ia menghubungi Min Joo, tapi gak diangkat juga karena lagi main bola.

Hee Joo makin bingung. 



Apalagi saat Jin Woo mengirim pesan, mengingatkan kalau Hee Joo sudah kehilangan satu miliar. 

"Kenapa sepuluh menit begitu cepat? Tak apa. Masih tak apa-apa. Masih sembilan miliar. Cuma satu miliar. Ini jumlah yang besar."



Hee Joo menghubungi pihak Alhambra Real Estate. Petugas menawar hostel seharga 10.000 euro.

"Apa ada rencana untuk mengembangkan daerah itu? Mungkinkah harga tanahnya tiba-tiba naik sepuluh kali lipat?" Tanya Hee Joo dalam bahasa Spanyol.

"Pengembangan apa maksudmu? Harga tanah di area itu tak akan naik hingga sepuluh tahun ke depan. Aku bisa jamin. Ada sesuatu yang lebih penting. Aku punya kabar mengejutkan. Aku akan menikahi Diego."

"Sungguh? Selamat, Elena. Artinya aku bisa menjual gedung itu jika ada yang tawarkan harga tinggi?"

"Kau kenal Diego, dia tak mudah..."

"Elena?"

"Kau pun tak akan percaya ini."

"Elena, aku mau dengar cerita lamaranmu, tapi aku sedang buru-buru."


Tapi elena terus cerita. Lalu pesan masuk lagi dari Jin Woo, mengingatkan kalau dua puluh menit berlalu. Hee Joo cepat-cepat menutup telfon. 

"Sungguh gila. Waktu terus berlalu. Harus bagaimana?"



Hee Joo menghubungi Sang Beom, tapi tidak diangkat karena Sang Beom sedang sibuk mengerjakan sesuatu.

Hee Joo: Ada apa dengan semua orang? Kenapa tak ada yang angkat?


Hee Joo melihat jam di ponselnya, lima menit berlalu. Ia makin panik.




Lalu Min Joo menelfon balik, bertanya ada apa. Hee Joo mengatakan ia mau menjual rumah.

"Siapa yang membeli? Mereka bodoh? Sungguh? Pria itu? Luar biasa. Kau sungguh menjualnya?"

"Belum. Ini masalah penting, jadi tak bisa tanda tangan begitu saja. Tapi nenek tak mengangkat telepon, dan Se Joo tak ada."

"Kau belum menjualnya? Berapa menit sudah berlalu?"

"25 menit."

"Sudah kehilangan dua miliar won? Seharusnya kau jual saja."

"Min Joo-ya, kau tak mengerti karena masih muda. Tapi kita harus hati-hati..."

"Bodoh. Apa lagi yang dipikirkan? Ini sepuluh miliar won!"

"Benar, 'kan? Itu yang kupikirkan. Baiklah."


Ia menarik nafas sebelum keluar, tapi ia tidak bisa membuka pintu toilet. Ia terjebak di dalam. Hee Joo mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban.

Sebenarnya, tadi Hee Joo mengunci pintunya dan sekarang ia lupa kalau tadi dikunci karena panik, maknaya pintuny gak bisa dibuka.


Jin Woo juga sudah tidak sabar.



Hee Joo mencoba mencari jalan lain karena hampir 30 menit berlalu. Ia naik ke atas kloset untuk mengintip ke luar, mencari bantuan. Tapi ia terpeleset, ponselnya masuk ke dalam kloset.

Menangis tapi gak berdarah..


Jin Woo terus melihat jam, ia juga udah gak sabar.



Jung Hoon mendekat lagi, heran karena Hee Joon belum juga kembali padahal sudah lewat pukul 10.00.

"Apa dia bodoh? Apa yang dilakukannya?" Tanya Jin Woo heran.

"Daepyonim. Mungkin dia bicara dengan Cha Daepyo?"

"Coba hubungi dia."

Jung Hoon menghubungi Hee Joo tapi tidak ada jawaban.
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search