Sinopsis Encounter Episode 7 Part 4

- Desember 21, 2018
>
Sumber: tvN




Jadi mereka membeli kopi pesan antar. Soo Hyun lalu menuangkannya ke dalam dua gelas. 

Jin Hyeok: Rumahmu lebih baik daripada rumah model. Aku belum pernah masuk ke rumah yang begitu bagus.

Soo Hyun: Rumahnya besar, tapi tidak hangat sama sekali.

Jin Hyeok tanya, apa Soo Hyun tidak bosan tinggal sendirian di rumah sebensar itu? Soo Hyun tidak begitu merasakannya karena waktu berlalu ketika ia sedang bekerja.



Soo Hyun: Sekarang katakan kepadaku. Apa yang membuatmu joging ke sini padahal di luar sangat dingin?

Jin Hyeok: Pada awalnya, aku hanya akan berlari sampai aku mencapai Sungai Han. Tapi begitu aku sampai di sana, aku teringat pada Ibu. Jadi, aku melihat ponselku, tapi ternyata aku tidak memiliki satu pun foto Ibu. Aku pikir jika aku berlari ke lingkungan Ibu, akhirnya aku lelah dan menyerah di tengah jalan. Jadi, aku mulai berlari lagi. Aku sangat lelah, tapi aku merasa makin merindukan Ibu. Tapi kurasa langit kasihan padaku karena Ibu tiba-tiba muncul. Bukankah itu luar biasa?

Soo Hyun: Selalu kamu yang berlari menghampiriku. Kamu datang ke Sokcho dan rumahku.

Jin Hyeok: Apa aku tampak seperti penguntit?

Soo Hyun: Anggap saja kamu seperti kekasih (Namjachinggu/Boyfriend).

Jin Hyeok: Seorang kekasih. Tiba-tiba terasa hangat seperti musim semi.





Jin Hyeok mengajak Soo Hyun berfoto. Soo Hyun terkejut, sekarang? 

"Ya. Kita tidak punya foto bersama. Itu sebabnya aku datang ke sini."

"Aku mau lihat cermin."

"Tidak perlu. Kamu terlihat cantik."

"Kamu tidak bisa ditebak."


Jin Hyeok berhasil mendapatkan banyak foto dan ia bisa tersenyum lega setibanya di rumah.


Jin Hyeok melihat sekeliling kamarnya sambil mengingat-ingat dekorasi rumah Soo Hyun tadi, ia bergumam, "Ini yang kamu sebut ketidakcocokan. Ini sebuah kolaborasi. Kolaborasi.


Soo Hyun terus tersenyum saat memikirkan Jin Hyeok.


Jin Hyeok tiba-tiba mendapat ide, ia pun mulai mengarap proposalnya lagi.


Woo Seok kembali melamun.

Kilas Balik...



Soo Hyun sedang makan bersama Ketua Kim, suasananya sunyi. Karena Soo Hyun ada kelas masak hari ini Ketua Kim menyuruh Soo Hyun menata rambut di salon Nyonya Kim, lalu kenakan pakaian yang mereka siapkan.

"Sejak artikel keluar, semua orang di kelas itu menunggu untuk melihat wajahmu. Suamimu berselingkuh, dan semuanya berantakan. Mereka akan penasaran untuk melihat penampilanmu. Kamu harus lebih tenang dalam situasi seperti ini. Senyum. Tapi jangan terlalu banyak tersenyum." Lanjut Ketua Kim.

"Baiklah."




Datanglah Woo Seok dengan wajah suram.

Ketua Kim: Ada banyak mata di sekelilingmu. Jika kamu memiliki jadwal seperti ini lagi, pergilah langsung ke kantor.

Woo Seok tiba-tiba mengajak Soo Hyun bercerai, bahkan sampai memohon. 



Woo Seok langsung pergi.




Esoknya, Woo Seok memberi hadiah untuk teman kencannya. 

"Aku ingin berhenti bertemu dalam kondisi tidak nyaman. Terima kasih atas semua bantuanmu. Anggap saja kita memiliki perbedaan kepribadian." Kata Woo Seok.

"Baiklah." Tapi wanita itu mengembalikan hadiah dari Woo Seok, "Aku akan teringat hari ini setiap kali melihatnya. Lagi pula, ini tetaplah perpisahan."


Kongres Cha mengajak Sekretaris Nam minum bareng di siang bolong. 

Kongres Cha: Hari ini mari minum masing-masing sebotol. Minum di siang hari selalu membuatku gelisah.

Sekretaris Nam: Kamu pasti marah soal artikel itu. Kamu tidak pernah minum saat siang. 

Kongres Cha: Untuk apa aku kesal karena artikel konyol? Aku harus bertemu denganmu. Apa sebaiknya kita duduk di kafe sambil pakai penyuara telinga?

Sekretaris Nam: Pria minum kopi bersama itu aneh.



Lalu datanglah Manajer Kim. Kongres Cha menyambutnya dengan senyum lebar. Manajer Kim mengeluh karena dipanggil diakhir pekan begini. 

Kongres Cha: Lama tidak berjumpa.

Manajer Kim: Anda fotogenik. Ahjussi tampak lebih tua jika dilihat langsung.

Sekretaris Nam: Dia tetap kasar. Harap maklum.

Manajer Kim: Kita menua bersama. Haruskah aku bersikap formal?

Kongres Cha: Jika bilang kita menua bersama, kamu yang rugi.

Manajer Kim: Apa tema pertemuan ini? Apa orang-orang tahu aku bercerai?

Kongres Cha: Apa yang dia bicarakan?

Manajer Kim: Kalian berdua bertanggung jawab untuk memenuhi tugas kalian. Apa ucapan kakakku saat tiada? Dia meminta kalian mengurusku dengan baik. Itu tertulis di wasiatnya. Kalian tidak berhati nurani. Kalian tidak menjagaku.

Kongres Cha: Masing-masing kita butuh lebih dari satu botol.

Manajer Kim membicarakan soal penggabungan partai, ia yakin kakaknya akhirnya akan minum-minum di alam sana. Sekretaris Nam melarang membahas politik, bahas hal lain saja. 

Manajer Kim: Kenapa? Sebenarnya, andai kakakku tidak bertindak dan akhirnya wafat, Ahjussi tidak mungkin melakukan mogok makan melawan penindasan pada pers.

Sekretaris Nam: Kenapa kamu membahas itu?

Kongres Cha: Benar. Begitulah aku menjadi pembawa berita yang dipuji, lalu direkrut ke dalam politik. Ucapannya benar.

Manajer Kim: Oppa lebih buruk. Setidaknya Ahjussi melawan menggantikan kakakku. Sekretaris Nam. Tidak, Nam Myung Sik-ssi, kamu berhenti sebagai wartawan dan menghilang."

Akhirnya mereka minum bersama.



Jin Hyeok membantu ayahnya menutup toko buah. Tapi sebenarnya ia ada tujuan lain. Ayah bertanya, bagaimana pekerjan Jin Hyeok? Jin Hyeok menjawab menyenangkan, tapi ayah membaca jawaban sebaliknya saat melihat wajah Jin Hyeok. 

"Ayah. Novelis yang pernah kusukai menulis, "Jika mencintai seseorang, kita harus berusaha.". Melakukannya sangatlah sulit."

"Memang begitulah sebuah usaha. Tidak selalu berhasil. Kita harus berjuang. Tentu saja itu sulit. Apa itu berarti putraku jatuh cinta kepada seseorang?"

"Begitukah artinya?"

"Kamu harus berusaha keras dan berjuang dalam segala hal. Orang tuamu tidak bisa membantumu dengan baik. Ayah selalu menyesalinya."

"Apa maksud Ayah? Aku yakin terlahir kaya."

"Kamu tidak cukup terpelajar untuk sadar tidak kaya? Kamu salah."



"Ayah. Sebagian anak sulit membayar uang kuliah. Ada banyak teman yang harus membayar pinjaman mahasiswa. Mereka masih harus membayar pinjaman mereka. Ayah membiayaiku saat aku kuliah, membuatkanku makanan, dan menyediakan tempat tinggal. Aku putra yang sangat beruntung."

"Astaga. Ayah dan ibumu melahirkan putra yang luar biasa."

"Itu... Ayah."

"Ya?"

"Aku dipindahkan ke Sokcho."

"Sokcho? Kenapa jauh sekali?"

"Begitulah Tim Humas. Kami harus tahu situasi setiap tim dan sering berpindah-pindah."

"Tetap saja, kamu baru bekerja di perusahaan itu. Ibumu akan terkejut."

"Itulah alasanku memberi tahu Ayah dahulu. Ayah harus membantuku."

"Baiklah. Ayah akan membantu semampu ayah."





Jadi mereka berdua bersama memberitahu Ibu. Ibu jelas terkejut bahkan mengira mereka sedang mengerjainya.

Ayah: Untuk apa dia bercanda soal ini? Ini bahkah tidak lucu.

Ibu: Pindah apa maksudmu? Kamu baru bekerja di perusahaan ini.

Jin Hyeok: Hotel di Sokcho sangat populer dan kurasa mereka butuh tambahan pegawai. Jadi, beberapa pegawai baru dipindahkan ke sana. Kami akan berkumpul dari seluruh negeri.

Ibu: Apa kamu berbuat salah? 

Jin Hyeok: Apa?

Ayah: Jangan konyol.

Ibu: Ini sangat aneh. Apa maksud sepatu wanita di kamarmu?

Ayah: Sepatu wanita?

Ibu: Kupikir itu hadiah untukku dan coba memakainya, tapi tidak pas. Jangan-jangan kamu berbohong soal dipindahkan agar bisa membuka bisnis sepatu di suatu tempat?

Jin Hyeok: Astaga. Imajinasi Ibu luar biasa. Untuk apa aku membuka bisnis?

Ayah: Dia hanya pandai menjual buah. Bisnis apa... Sepatu wanita apa itu? 

Jin Hyeok: Apa? Itu... Sepatu itu dari koper liburanku ke Kuba. Nanti aku akan memakainya sebagai perlengkapan foto.

Ibu: Benarkah? Ibu membayangkan berbagai hal.

Jin Hyeok: Aku hanya membantu untuk sementara di Sokcho. Jangan cemas, Ibu.

Ibu: Tempat itu sangat jauh. Pasti ada ikatan mendalam antara kamu dan daerah itu. Kamu juga bertugas militer di Provinsi Gangwon.

Ayah: Benarkah? Kurasa begitu.

Dengan begitu, Jin Hyeok dan Ayah berhasil memberitahu Ibu.




Manajer Kim mendapat pemberitahuan soal dipindahkannya Jin Hyeok ke Sokcho. 

Eun Jin: Kenapa dia mendadak dipindahkan? Apa dia diusir ke Sokcho?

Han Gil: Diamlah. Daepyonim tahu soal ini? 

Eun Jin: Dia dalam perjalanan bisnis.

Han Gil: Waktunya sangat janggal.

Datanglah Jin Hyeok dengan ekspresi biasa, Jin Hyeok masih bekerja seperti biasa. Manajer Kim memanggilnya.




Hye In mendengarkan pembicaraan mereka.

Manajer Kim bertanya kapan Jin Hyeok mengetahui soal dipindahkannya ia ke Sokcho. Jin Hyeok menjawab ia mengetahuinya tadi pagi.

"Wajahmu berkata lain. Selama ini kamu ingin menyelesaikan proposal ini dan bekerja lembur sebelum pergi?"

"Aku ingin menyelesaikan tugasku dengan sukses. Itu tugas pertamaku di perusahaan ini."

"Kapan pun mengetahuinya, kamu seharusnya membahasnya denganku dahulu."

"Tempatnya tetap Hotel Donghwa. Aku akan pergi dan belajar semampuku."





Hye In bertindak, ia meminjam ponsel Manajer Kim untuk menghubungi Soo Hyun.

Soo Hyun sedang dalam perjalanan menuju Bandara. Dan ia cuma menjawab "Baiklah." dan "Baiklah." saat Hye In menceritakan semuanya.


Setelah menutup telfon, Soo Hyun sekarang mengerti alasan sikap aneh Jin Hyeok belakangan ini. Bahkan Jin Hyeok sampai nekat berlari puluhan kilometer dicuaca yang sangat dingin untuk menemuinya.

Soo Hyun mengajak Sekretaris Nam kembali ke Kantor.





Di lobi Han Gil dan Eun Jin melihat Soo Hyun kembali. Mereka langsung mengoceh di ruangan Tim Humas. 

Jin Hyeok yang mendengarnya langsung berdiri dan berjalan keluar.



Mi Jin: Mereka mengira Ibu terbang menuju Shanghai. Ini...

Soo Hyun: Tolong hubungi Direktur Choi.

Mi Jin: Ibu harus tenang dahulu.

Soo Hyun: Hubungi Direktur Choi!



Sementara itu, Jin Hyeok berjalan menuju ruangannya.


-= E P I L O G =-



Malam-malam, Jin Hyeok menghubungi seseorang.

"Halo, ini Kim Jin Hyeok dari Tim Humas Hotel Donghwa. Aku tidak ingin menambahkan apa pun. Ada urusan mendadak dan sepertinya aku tidak bisa menyelesaikan acaranya. Ya. Aku juga menyayangkannya. Namun, aku menerima persetujuan untuk proposal kedua dan akan mengirimimu berkas presentasi beserta detailnya. Hubungi aku jika ada masalah atau jika ingin bertanya. Baik. Aku akan terus menghubungi untuk memeriksa situasinya. Baik. Kalau begitu, semoga acaranya sukses. Terima kasih."


Jin Hyeok memegang daftar Perusahaan Undangan untuk Acara Pesta Topeng.



Lalu ia melihat kembali brosur sambutan yang terletak dimejanya saat ia pertama bekerja disana. Jin Hyeok memaksakan senyum. Lalu ia meletakkannya dibawah alas keyboard.
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search