Sinopsis Encounter Episode 6 Part 2

Sumber: tvN




Ibu membicarakan soal hotel, iya, hotel yang disukai Soo Hyun, bahkan setiap detailnya dipikirkan dengan sungguh-sungguh oleh Soo Hyun bahkan sebelum hotelnya dibangun.

Ibu: Sejak ayahmu yang dahulunya pembawa acara berita terpercaya menjadi anggota kongres, ada satu hal yang ibu pikirkan. Bahwa setidaknya ibu akan menjadi istri perdana menteri. Lebih baik lagi, ibu bersedia mempertaruhkan hidup demi bisa menjadi ibu negara. Siapa pun yang menghalangi impian sempurna ibu itu tidak akan lepas begitu saja. Meski anak ibu sendiri. Kini tidak lama lagi. Kamu dikeluarkan dari Taegyeong, namamu tidak akan disebut, tapi tetap tenang dan jangan cari perkara. Ibu tidak mau dengar gosip apa pun soal kamu dan pemuda itu. Diam saja seperti batu. Kamu mengerti?




Soo Hyun: Ibu orang tuaku. Ibu adalah ibuku dan aku ini putri Ibu.

Ibu: Sepenting itu arti hubungan bagimu? Bagi ibu, nilailah yang penting. Hiduplah layaknya anak yang berguna.

Ibu langsung keluar.



Soo Hyun masuk mobilnya, bertepatan saat Jin Hyeok juga keluar dari lobi. Jin Hyeok memberi salam duluan. Jin Hyeok juga memberi salam untuk Mi Jin. 



Direktur Choi memberi tuga Manajer Lee karena sulit untuk menyingkirkan Soo Hyun setelah Jin Hyeok mengungkap jati dirinya. Ia memberikan kartu nama seorang reporter dan menyuruh Manajer Kim mengundangnya. 

"Kita pastikan Daepyonim menjelaskan sendiri di hadapan para tokoh penting. Kita lihat semahir apa dia menjelaskan situasinya bermain-main dengan pegawai baru. Undang semua pemegang saham dan kumpulkan mereka juga."

"Setahuku, Ketua Kim ingin Anggota Kongres Cha menjadi kandidat presiden. Tapi jika putrinya dipermalukan..."

"Kamu mengesalkan sekali. Apa hubungannya masa depan Anggota Kongres Cha dengan kita? Kita hanya perlu memedulikan presdir baru Hotel Donghwa. Siapa yang peduli Ketua Kim mendapat dukungan Anggota Kongres Cha demi kesuksesan Taegyeong atau tidak? Mereka hidup di dunia yang berbeda."

"Aku mengerti, Pak."

"Cha Daepynim harus mundur agar aku bisa hidup dan kamu mendapat promosi. Tamat riwayat kita kalau Ketua Kim tahu rencana ini. Berhati-hatilah."

"Akan kuingat."


Soo Hyun kepikiran dengan kata-kata ibunya, ia menghela nafas berat. 


Jin Hyeok memikirkan ekspresi Soo Hyun tadi, ia menebak pasti Soo Hyun sedang ada masalah, ia pun menulia pesan. 

"Daepyonim, aku tidak tahu ada masalah apa, tapi bertahanlah."

Tapi Jin Hyeok menghapusnya lagi.


Soo Hyun menerima pesan dari Jin Hyeok. 

"Aku sudah bilang, kamu lebih cantik dibanding model. Sekarang musim semi."


Jin Hyeok mendapat telfon dari Eun Jin.

Jin Hyeok: Aku sudah tanyai semuanya via telepon, tapi mereka menolak. Aku akan menemui mereka secara langsung. Aku akan pergi ke lima tempat dan menghubungi Ibu kembali.




Soo Hyun menemui desainer hotel di Kuba secara pribadi untuk mendiskusikan perubahan. Soo Hyun ingin jendelanya diperlebar. 

"Akan terlihat keren, tapi cahaya matahari di negara itu sangat terang, mungkin akan terlalu silau."

"Mungkin saja. Kalau begitu, bagaimana jika kita  memakai jendela lebar dan berikan tirai hias agar tidak terlihat terlalu berat?"

"Kami akan memikirkan solusinya. Omong-omong, soal taman itu... Lokasinya tepat berada di tengah hotel. Daripada taman tua, bagaimana jika kita menyingkirkannya dan menggantinya dengan kolam luar ruangan?"

"Tolong jangan sentuh taman itu.  Aku yakin inti hotel itu adalah taman itu. Dari sana kamu bisa merasakan nilai waktu."

"Baik, akan kami ingat."



Kembali dari sana, Soo Hyun meminta Sekretaris Nam untuk mampir dahulu ke toko penjahit. Soo Hyun kesana untuk mengambil baju pesanannya.

Kebetulan Soo Hyun melihat dasi. Manajer mengatakan itu adalah dasi koleksi terbaru mereka, Soo Hyun menyukai warnanya.

"Boleh kusarankan satu dasi untuk Anggota Kongres Cha?"




Manajer memilihkan warna dasi yang digemari klien muda usia 20-an. Itu membuat Soo Hyun teringat Jin Hyeok. Soo Hyun pun membeli dasi itu.



Ternyata Woo Seok juga ada disana. Woo Seok memesan jas. 

"Aku mau memakainya di akhir pekan dan cemas mungkin tidak akan tiba tepat waktu."

"Saya menghubungi Italia beberapa kali untuk memastikannya, Pak. Terlihat hebat untuk Bapak."

"Ada rencana penting di akhir pekan?"

"Aku ingin memikat seorang wanita. Terlihat baguskah?"

"Meski Bapak berkeringat, semua wanita akan menatap Bapak."

"Dia wanita pemilih."

"Sepemilih apa pun dia, Bapak kan Presdir Jung Woo Seok."




Woo Seok melihat Soo Hyun duluan, ia pun menyapanya. Soo Hyun sudah menerima dasinya, ia akan pergi. 

"Soo Hyun-ah. Kamu dengar semuanya?"

"Tidak."




Soo Hyun langsung pergi. Tapi manajer yang melayani Soo Hyun tadi memberitahu Woo Seok kalau Soo Hyun jelas mendengar semuanya. Woo Seok menanyakan apa yang Soo Hyun beli. 

"Dia datang untuk mengambil kardigan yang dipesannya. Dia juga membeli dasi selagi menunggu."

"Untuk pria berusia akhir 30-an?"

"Kurasa itu hadiah untuk ayahnya, tapi dia memilih dasi dengan pola untuk pria muda."




Jin Hyeok menemui Bibi Lee/Guru Lee. Guru Lee menyesalkan Jin Hyeok yang datang sendiri, harusnya kan bersama Soo Hyun. Jin Hyeok menjelaskan kalau Soo Hyun sudah ada rencana lain. 

"Apa hubunganmu dengannya?" Tanya Guru Lee.

"Masih masa pendekatan."

"Wow.. Waktu itu aku tidak mengenalinya, tapi bukannya dia presdir kantormu?"

"Benar."

"Berarti bukan hubungan cinta."

"Sebaliknya."

"Aku senang mendengarmu dalam masa pendekatan, tapi dia presdir Hotel Donghwa. Kamu yakin? Kita berdua tahu kehidupannya menyesakkan. Bagaimana jika kamu terkena imbasnya?"

"Aku bersedia menjalaninya."

"Orang lain mungkin akan mempertanyakan niatmu."

"Dia wanita istimewa. Aku sama sekali tidak memedulikannya. Dia terus tersenyum dan aku terhibur melihatnya."



Guru Lee memperhatikan reaksi Jin Hyeok, ia tahu bagi Jin Hyeok hubungannya dengan Soo Hyun bukan sekedar pendekatan. Jin Hyeok pasti sangat menyukainya.

Guru Lee memberikan jeruk yang sudah dikupasnya untuk Jin Hyeok.




Sekretaris Nam bertanya, Soo Hyun akan mengirimkan hadiahnya pada ayahnya hari ini? Mungkin...

"Semuanya mungkin tidak terkendali." Sela Soo Hyun

"Tidak semua orang terlahir beruntung dengan wajah secantik itu, lalu kenapa kamu tidak pernah tertawa atau tersenyum? Kadang aku benar-benar tidak suka harus mengantarmu."

"Kenapa aku tidak tersenyum?"

"Di mana Kim Jin Hyeok? Ayo minum soju bersamanya."

"Apa?"

"Jujur saja, tidak ada yang salah dengannya, kenapa kamu berhati-hati sekali? Aku tidak bermaksud menyuruhmu bersamanya. Kamu tahu, ada orang yang membuatmu tersenyum. Makan dan minumlah dengan orang seperti itu. Melihatmu begini membuatku tertekan."

"Sudah lama kamu tidak marah begini."

"Terserahlah."




Manajer Kim menelfon Sekretaris Nam tapi ditolaknya. Soo Hyun tak apa sebenarnya, ia menyuruh Sekretaris Nam menjawabnya saja.

"Itu Sung Joo, maksudku Manajer Kim. Dia mungkin ingin minum-minum lagi."

"Kalau begitu, temani dia. Belakangan ini dia tertekan karena pembukaan hotel baru. Gantikan aku menyemangatinya."

"Pikirkanlah dirimu sendiri. Presdir kita sama tertekannya. Tanpa ada yang menyemangatimu, kamu pergi dari rumahmu ke kantor dan ikuti rapat. Kamu tidak lelah?"

"Sudah biasa."

"Waktu cepat berlalu, Soo Hyun-ah. Menyesalkan berlalunya waktu hanya akan membuatmu sedih. Uang tidak bisa membeli waktu."

Soo Hyun terdiam, memikirkannya.


Soo Hyun masuk kemarnya, tapi ia kepikiran soal dasi itu, ia pun keluar lagi dan ia mengemudi ke tempat Guru Lee. Ia menunggu di mobil. 


Jin Hyeok keluar tak lama kemudian. Soo Hyun terkejut saat Jin Hyeok mengetuk kaca jendela.



Soo Hyun keluar, ia menjelaskan kalau jadwalnya selesai lebih cepat. Sebenarnya Jin Hyeok juga mengharapkan hal itu dan harapannya terwujud.

"Harapan macam apa itu."

"Itu harapanku hari ini. Besok ada harapan baru."

"Kurasa aku datang terlalu malam."

"Kita bisa masuk lagi. Guru Lee baru masuk kamar gelap, kita harus menunggunya. Aku akan buatkan teh."

"Tidak perlu. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"

"Baiklah."




Jin Hyeok memakaikan syalnya untuk Soo Hyun, ia tak mau Soo Hyun sampai terkena flu. 

"Aromanya enak." Kata Soo Hyun. 

"Pasti aroma pelembut kain."




Jin Hyeok membahas soal kesibukan Soo Hyun karena menghadapi pembukaan hotel baru. Soo Hyun mengatakan ia sudah biasa, tapi ia khawatir pada Jin Hyeok karena ini pasti bidang baru untuk Jin Hyeok. 

"Aku menyukainya." Ujar Jin Hyeok.

"Bukannya sulit mengundang selebritas?"

"Tidak, aku tahu akan berhasil. Aku belum lama terlibat, tapi ini membuatku takjub. Bagaimana Ibu bisa berhasil membuat Hotel Donghwa sukses dalam waktu sesingkat ini? Aku sering memikirkan Ibu."

"Senang mengetahui kamu sering memikirkanku. Aku hanya mengerahkan segalanya. Aku membutuhkan bakat terbaik serta panduan untuk hotel peringkat terbaik dunia. Itu sebabnya aku mengundang Pak Kim yang berbakat, para koki, Sekretaris Nam, dan para direktur dalam tur ke hotel-hotel terbaik di seluruh dunia."

"Mereka semua?"

"Hotel itu diberikan padaku sebagai tunjangan, tapi bagiku, hotel itulah segalanya. Aku menghabiskan sisa uang yang aku terima sebagai tunjangan dan berkeliling dunia. Aku mengambil pinjaman dan mendekorasi ulang hotel. Semua yang aku pelajari dari tur hotel itu kucurahkan untuk hotelku sendiri. Aku berterima kasih pada mereka yang membantuku saat itu. Tanpa mereka, aku tidak akan sampai sejauh ini."



Jin Hyeok tiba-tiba berhenti dan menatap Soo Hyun, "Tindakanmu sebelumnya menunjukkan kamu dapat mengambil risiko, lalu kenapa kamu ragu denganku? Benar, bukan?"

"Entahlah."




Jin Hyeok lanjut jalan duluan, Soo Hyun menyusulnya dan tiba-tiba merangkul lengan Jin Hyeok. Jin Hyeok tersenyum bahagia. Soo Hyun juga.




Kemudian Jin Hyeok menggenggam tangan Soo Hyun dan memasukkannya ke saku. Mereka sama-sama tersenyum. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis Encounter Episode 6 Part 2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: