Sinopsis Encounter Episode 5 Part 2

Sumber: tvN




Kembali dari minum teh, Jin Hyeok membahas soal lukisan yang kamu Soo Hyun di Sokcho itu, suudah diterima kah?

"Sudah diurus."

"Syukurlah, Ibu mengalami banyak kesulitan karenanya. Aku tidak akrab dengan seni atau lukisan. Tetap saja, ada pameran lukisan terkenal di lingkunganku dan aku juga senang karenanya."

"Ada galeri seni di sana?"

"Ya. Ada lukisan artis terkenal era '40-an dan lukisan lanskap seniman asing yang tidak kukenal. Aku mampir ke sana tiap ada waktu."

"Aneh. Aku tahu semua galeri seni. Lokasinya di Hongjae-dong?"

"Ya."

"Sepertinya kamu bohong. Apa nama galeri seni itu? Bukankah maksudmu galeri seni di Buam-dong?"

"Benar-benar di areaku. Aku pertaruhkan namaku sebagai pemandu Hongjae-dong."

"Kenapa nama panggilanmu banyak sekali? Sebelumnya penggali Hongjae-dong, sekarang pemandu?"

"Kalau nanti Ibu berkunjung, akan kuantarkan ke galeri itu."



Jin Hyeok menunjuk stasiun kereta bawah tanan di depan, ia meminta Soo Hyun menurunkannya disana. Soo Hyun akan mebahas mengenai kantor sebelum Jin Hyeok turun, tapi Jin Hyeok memotongnya. 

"Daepyonim. Keadaan sudah begini, akan lebih aneh kalau kita terlihat canggung. Mulai besok, kita harus lebih akrab lagi."

"Perusahaan bukan tempat bersantai."

"Aku tidak terlalu bodoh untuk langsung bicara santai dengan Noona."

So Hyun malah tersenyum. Jin Hyeok heran, memangnya itu lucu? Kalau ia memanggil Soo Hyun Noona? 

"Ya, lucu."


Mereka sampai di depan pintu stasiun. Jin Hyeok menyuruh Soo Hyun menghubunginya jika ingin berkunjung ke galeri seni itu.  Jin Hyeok akan menuliskan nomornya lagi karena yakin Soo Hyun sudah menghapus foto nomornya, tapi Soo Hyun malah sudah menghafal nomor Jin Hyeok. 



Soo Hyun: Aku ingat karena kamu menulisnya di telapak tanganku. Aku cukup cerdas.

Jin Hyeok: Hebat. Sungguh brilian. Tapi kenapa tidak pernah mengirimiku pesan?

Soo Hyun: Tidak ada alasannya.

Jin HYeok: Ibu punya nomorku, kenapa tidak memberiku nomor Ibu?

Soo Hyun: Kapan aku memintanya? Kamu sendiri yang menuliskannya, Jin Hyeok.

Jin Hyeok: Sepertinya kita jadi lebih akrab karena Ibu memanggil namaku.

Soo Hyun: Kamu tidak mau turun?

Jin Hyeok: Aku akan berhenti bercanda. Aku hanya berusaha menghibur karena kejadian hari ini.

Soo Hyun: Aku tidak takut. Aku sudah lalui lebih banyak dibanding yang kamu tahu.

Jin Hyeok: Kutegaskan. Semuanya tidak masalah jika Ibu tersenyum. Daepyonim. Ibu adalah Presdir Hotel Donghwa, putri Anggota Kongres Cha, dan mantan menantu Grup Taegyeong. Oleh karena itu aku harus memperlakukan Ibu dengan hormat.

Soo Hyun: Tidak perlu.

Jin Hyeok: Benar sekali. Kita tidak perlu seformal itu.

Soo Hyun: "Kita" lagi. Sudah kubilang jangan ucapkan itu.

Jin Hyeok: Apa alasan untuk tidak mengucapkannya? Aku permisi.



Tapi sebelumnya Jin Hyeok berpesan lagi, Soo Hyun akan kalah jika takut. Soo Hyun akan terlihat buruk besok jika terlalu memikirkannya. Jadi tidurlah dengan nyenyak. 

Jin Hyeok turun, memberi hormat, lalu SOo Hyun menjalankan mobilnya, Jin Hyeok pun masuk ke stasiun.


Dalam perjalanannya, Soo Hyun tersenyum. 



Jin Hyeok mampir ke bar Dae Chan. Ia menanyakan dimana adiknya pada Dae Chan. 

"Dia pulang lebih cepat. Katanya ada permainan penting atau semacamnya. Astaga. Pekerja paruh waktu macam apa dia?" Jawab Dae Chan lalu masuk ke dapur.



Jin Hyeok pun bicara pada Mi Jin. Mi Jin mengatakan kalau Jin Hyeok berani sekali hari ini. Jin Hyeok berkata kalau ia hanya bicara yang sebenarnya, Jin Hyeok merasa Mi Jin mungkin sudah tahu, tapi Soo Hyun tidak melakukan apa pun untuk menerima makian itu.

"Sebenarnya aku sedikit terharu. Tidak mudah untuk bertindak seperti itu. Karena aku sekretarisnya, aku harus memikirkan posisi Daepyonim. Aku mengkhawatirkan apa yang akan terjadi besok. Aku menunggu untuk bilang.. bahwa meski sangat bersyukur atas semua yang kamu lakukan, seharusnya kamu diam saja dan berpura-pura tidak tahu. Lagi pula tidak ada apa pun di antara kalian."

"Kalau kamu serius seperti ini, situasi akan jadi lebih canggung. Itulah alasan kami memutuskan bersikap lebih santai."

""Kami"? Kamu bilang "kami"? Maksudmu "kami" itu kamu dan Daepyonim?"

"Ya. Itu kata ganti orang pertama termasuk aku."

"Astaga, kepalaku."


Mi Jin memanggil Dae Chan, ia memesan sebotol soju. Jin Hyeok menyarankan untuk makan siput bulannyanya juga, rasanya enak sekali.

"Ini gila."


Tapi Mi Jin malah minum sampai mabuk. Jin Hyeok dan Dae Chan harus mengantarnya masuk ke taksi.



Dae Chan heran, kenapa dengan Mi Jin? Bagaimana Jin Hyeok mengenalnya?

"Dia seniorku di kantor."

"Dia bekerja di kantor hebat itu? Astaga. Kasihan kantormu. Dia terlalu banyak minum-minum."



Jin Hyeok memikirkan kata-kata Mi Jin tadi.

Mi Jin: Aku satu-satunya teman Soo Hyun yang tersisa. Dia kaya raya, tapi tidak pernah berkesempatan berpacaran. Ibunya memaksanya menikah. Kamu terlalu muda untuk berurusan dengan Soo Hyun. Kamu pikir mudah melawan Taegyeong? Aktivitas politik ayahnya? Jika bukan karena Taegyeong, dia tidak akan di posisinya sekarang. Baginya mereka hanya belenggu. Orang yang mengundang mantan menantunya ke pesta ulang tahun. Kalau dia tidak datang, sang ketua akan mengamuk. Tapi tetap saja Soo Hyun tidak akan menangis meski terluka.


Jin Hyeok tak habis pikir, hidup macam apa itu? 



Di kamarnya, Soo Hyun membaca kembali tulisan anonim itu. Ia meyakinkan dirinya kalau itu bukan masalah besar. Lalu ia berbaring.


Kali ini pikirannya dipenuhi oleh Jin Hyeok, bukan lagi soal tulisan itu. Tapi ia tersenyum dan bisa menutup matanya.



Di kantor, orang-orang tetap bergosip soal Soo Hyun, bahkan tak ragu mereka bisik-bisik disamping Soo Hyun. 


Woo Seok mendengar kejadian di lobi kantor Hotel Donghwa melaui sekretarisnya. Dan ia memberikan tugas lagi untuk sekretarisnya, untuk mencari informasi mengenai Jin Hyeok, SEMUANYA, SECARA RINCI!


Pagi ini, Jin Hyeok menjadi pusat perhatian semua karyawan kantor.



Manajer Kim mendapatkan hasil dari detektif yang disewanya. Sepertinya suaminya beneran punya wanita lain. 



Han Gil: Sudah bertahun-tahun di sini, ini kali pertamaku terkejut begitu. Hye In, kamu bisa memercayainya?

Hye In: Apa maksudmu?

Han Gil: Seluruh situasi ini.


Jin Hyeok bersikap seperti biasa hari ini. Han Gil menyebut Jin Hyeok si pria beruntung. 



Han Gil ingin Jin Hyeok menjawab jujur, aoa hubungan Jin Hyeok dengan Presdir mereka? 

"Kami kebetulan bertemu di suatu tempat, tapi aku baru tahu setelah bekerja bahwa dia Presdir Donghwa."

"Kamu pikir aku percaya? Daepyonim itu seperti artis."

"Aku tidak tertarik pada gosip, jadi, aku tidak tahu."


Manajer Kim menyela Han Gil, menyuruhnya melakukan tugasnya sebagai anggota tim bukannya bergosip. 



Mi Jin pagi ini masih pengar dan kelihatan banget dari raut wajahnya. Ia berkata semua itu karena Soo Hyun.

"Kenapa tidak makan mi saja? Kamu minum sebanyak apa?" Tanya Soo Hyun. 

"Aku sangat mabuk sampai meninggalkan dompetku di bar. Aku tidak pernah seceroboh itu, tapi kemarin..."

"Ah.. Kamu tahu ada galeri di Hongjae-dong?"

"Mendengar "Hongjae-dong" membuatku mual. Aku tidak ingin tahu apa pun tentang itu. Kamu dan Kim Jin Hyeok memutuskan menyebut diri "kami", kata ganti orang pertama. Aku tidak mau tahu lagi."

"Apa maksudmu?"

"Kudengar kamu setuju menjadi temannya."

"Kamu menemui Jin Hyeok-ssi?"

""Jin Hyeok-ssi"? Astaga. Perutku sakit."

"Pulihkan dirimu."

"Perutku sudah tertutup jelaga, jadi, lebih baik aku minum kopi hitam."

"Aku juga mau."

"Tidak. Buat saja saja sendiri."

Mi Jin langsung keluar.



Jin Myung memaksa Dae Chan untuk mendaftarkan diri di aplikasi kencan buta, mau sampai kapan berpasangan hanya dengan siput?

Jin Myung: Percaya saja padaku. Cari dan kamu akan temukan. Ayolah. Pertama-tama, unduh aplikasi ini dan masukkan informasi pribadimu, lalu banyak wanita akan berkerumun mendekatimu.

Dae Chan: Astaga. Tidak mungkin.

Jin Myung tetap memaksa, ia bahkan mengambil gambar Dae Chan sebagai foto profil. 




Mi Jin ternyata juga mendaftar di aplikasi itu dan ia mendapat pemberitahuan kalau ada yang baru bergabung. Mi Jin semangat melihatnya, tapi langsung pusing lagi setelah melihat foto profil nya.

Tapi Mi Jin merasa tidak asing dengan foto itu, di mana ia melihatnya? Apa dia karyawan Hotel Donghwa?

Ia membaca profil yang dtulis Dae Chan.

"Lee Dae Chan"
"Dalam bisnis restoran waralaba."

Mi Jin: Ayam goreng? Piza? Restoran keluarga?


Anggota Kongres Cha bicara dengan stafnya, intinnya ia tidak mau Taegyeong menekan terus, mereka tidak bisa memiliki perusahaan yang mendikte urusan politik. Taegyeong harus tahu batasnya, mereka tidak boleh membiarkan Taegyeong mengendalikan kita.

"Penggabungan? Itu bisa terjadi jika ada kesamaan tujuan, tapi Partai Hwamin tidak memiliki cita-cita yang sama dengan kita. Kita akan terus berjalan sesuai dengan yang kita inginkan." Lanjut ANggorta Kongres Cha.



Hye In mengajak Jin Hyeok makan siang di luar, tapi Jin Hyeok menolaknya, makan di kantin saja.

"Kamu pasti terkejut."

"Sedikit. Jin Hyeok-ah, unggahan anonim yang dicantumkan di papan buletin..."


Tapi Hye In tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena kedatangan Han Gil. Hye In pun tidak jadi mengatakannya, nanti saja.


Di kantin, Jin Hyeok kembali menjadi pusat perhatian. Jin Hyeok tidak bisa makan disana, ia membuat alasan kalau perutnya sakit pada Han Gil. 

"Tentu. Beristirahat akan lebih baik." Jawab Han Gil.

Jin Hyeok pun pergi.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Komentar untuk "Sinopsis Encounter Episode 5 Part 2"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: