Sinopsis Encounter Episode 5 Part 1

- Desember 13, 2018
>
Sumber: tvN




Jin Hyeok maju untuk mengajak Soo Hyun makan Ramyeon. 

"Sudah mau pulang? Aku punya sedikit uang. Hari ini aku yang traktir, jadi, bagaimana jika kita pergi makan ramyeon?"

Semuanya heboh melihat kalau orang Ramyeon itu adalah Jin Hyeok. 



Jin Hyeok melanjutkan, "Macetnya terlalu parah untuk ke tempat peristirahatan, jadi, bagaimana jika kita makan mi instan saja di toserba hari ini?"

"Aku yang traktir." Soo Hyun tersenyum.

Dan pergilah mereka bersama Mi Jin dan juga Sekretararis Nam.


Han Gil masih gak percaya dengan apa yang dilihatnya, beneran?


Direktur Choi kesal karena rencananya gagal.


-=Episode 5=-



Jadi Jin Hyeok nebeng di mobil Soo Hyun. Sekretaris Nam yang paling senang, ia bertanya, haruskan ia antar ke toserba? Mi Jin berbisik untuk menurunkan Jin Hyeok di tempat yang sepi. 

Soo Hyun: Akan aneh rasanya jika kita berempat makan ramyeon bersama.

Mi Jin: Benar.

Soo Hyun: Tolong tepikan mobilnya di tempat yang sepi.

Mi Jin menyuruh Sekretaris Nam menepi di depan dan Soo Hyun menyuruh Mi Jin turun disana. 

Mi Jin jelas terkejut, apa? AKu?



Sekretaris Nam membenarkan, ia dan Mi Jin harus turun di depan. Jin Hyeok cuma diam saja menyimak. 

Mi Jin: Sekretaris Nam, ini bukan candaan. 

Sekretaris Nam: Kita bukan anggota klub. Kenapa harus ke toserba bersama? Bukan begitu, Daepyonim?

Soo Hyun: Jika merasa terasingkan, kamu bisa mampir ke toserba itu bersama Sekretaris Nam.

Mi Jin: Ah.. Ini masalah besar.



Mobil berhenti, Soo Hyun langsung pindah ke belakang kemudi. Jin Hyeok memberi salam pada Sekretaris Nam dan Mi Jin sebelum masuk. Mi Jin cemberut. 


Setelah mobil jalan, Mi Jin memarahi Sekretaris Nam karena tidak melarang mereka pergi bersama. Sekretars Nam hanya senyum-senyum saja sedari tadi, sudah sekitar 25 tahun ia belum lihat pria sekeren itu.

"Aku sama seperti dia 25 tahun lalu." Lanjut Sekretaris Nam.

"Ini membuatku gila."

"Kamu tidak dapat pria seperti dia, bukan?"

Mi Jin memanggil taksi, mengabaikan ajakan Sekretaris Nam yang mengajaknya pergi ke toserba.



Soo Hyun bertanya, Jin Hyeok tidak sungguhkan akan pergi ke toserba, kan? Ia akan mengantar Jin Hyoek pulang, tapi Jin Hyeok tidak mau, wajah Soo Hyun bisa menjadi bengkak jika makan ramyeon selarut ini, jadi lebih baik pergi ke kedai teh yang bagus.

Soo Hyun: Kamu pasti tahu mesin penjual otomatis hebat lainnya.

Jin Hyoek: Saat jantungmu berdebar kencang seperti hari ini, ada kedai teh yang cocok untuk hal tersebut.

Jin Hyeok menunjukkan arahnya dan anehnya, Soo Hyun menurut saja, itu membuat Jin Hyeok tersenyum lebar.




Mereka sampai di tempat yang dimaksud Jin Hyeok, tapi lokasinya jauh dari bayangan Soo Hyun. 

Pemilik kedai keluar dan seneng banget melihat Jin Hyeok, seperti sudah lama gak ketemu. 


Di dalam, Bibi itu menanyakan liburan Jin Hyeok di Kuba, sekalian saja Jin Hyeok mengenalkan Soo Hyun sebagai teman yang ia temui di Kuba. 


Bibi: Sungguh? Selamat datang. Pasti rasanya sedikit asing di sini.

Soo Hyun: Ini terlihat seperti ruang pribadi. Maaf sudah mengganggu.

Bibi: Aku yakin semua yang suka teh adalah teman. Karena Jin Hyeok sudah datang, haruskah kusajikan teh enak?

Jin Hyeok: Ya.

Lalu masuklah bibi untuk meracik teh.


Jin Hyeok menceritakan siapa Bibi itu. Saat di Kuba, ia pernah menyinggungnya, ingat teman fotografer ayahnya, kan?

"Orang yang memberimu sebuah kamera?" Tanya Soo Hyun. 

"Ya. Dialah istri dari teman ayahku tersebut. Dahulu dia seorang guru. Setelah suaminya tiada, dia menghabiskan waktu berwisata."

"Bangunan ini terlihat seperti gereja."

"Ya, dia pindah kemari saat gereja kosong ini dijual murah. Dia unik, bukan?"



Jin Hyeok minta ijin untuk membantu Bibi di dapur.

Bibi merasa Soo Hyun adalah pacarnya Jin Hyeok dan Jin Hyeok sengaja membawanya kesana untuk diperkenalkan. 

"Bukan begitu. Aku butuh bantuan untuk tenang."

"Kenapa? Kamu menyatakan perasaanmu padanya?"

"Menurut Bibi, dia akan menerimaku?"

"Biar bibi lihat."


Bibi menatap Jin Hyeok, tapi ia merasa Jin Hyeok jelek hari ini, jadi lakukan saja lain waktu.

"Ayolah. Aku menjadi makin tampan tiap harinya. Pandangan Bibi pasti memburuk."

"Kamu ini bicara apa?"

Jin Hyeok memaksa bibi untuk menatapnya sekli lagi, tapi bibi tetap tidak mau dan mereka ketawa.


Bibi selesai meracik teh dan Soo Hyun memuji rasanya. Bibi punya banyak teh lainnya, ia ingin Soo Hyun mencicipi semuanya. 




Tiba-tiba Bibi mau pergi. Jin Hyeok heran, mau kemana? 

"Tugas menyajikan kalian teh sudah bibi lakukan. Jagalah rumah bibi sebentar. Bibi harus memijat seorang nenek di daerah lain. Tidak akan lama. Jin Hyeok-ah, bibi baru dapat teh enak dari Kunming. Kamu juga harus mencobanya. Rasanya enak."

"Baiklah. Sampai nanti."




Jin Hyeok bertanya, sudah tenang sekarang? Soo Hyun menjawab kalau Jin Hyeok sudah berhasil membuatnya terkejut tapi berhasil juga membuatnya tenang. 

"Maaf sudah mengejutkanmu. Tapi aku tidak menyesal."

"Jin Hyeok-ssi, rasanya akan sulit di kantor mulai besok, setelah semua orang tahu. Semua orang akan mulai mengarang lebih banyak cerita."

"Daepyonim, aku sudah memutuskan. Karena itulah aku bertindak."

"Memutuskan apa? Bahwa kamu akan terlibat masalah yang diakibatkan gosip?"

"Kamu tidak boleh emosi setelah minum teh lezat."

"Jin Hyeok-ssi, aku tidak bergurau."




Jin Hyeok: Anda mengatakan apa yang ingin kukatakan. Aku tidak bergurau. Aku.. harus berusaha menjadi orang yang berarti bagi Ibu. Itulah yang kuputuskan.

Soo Hyun mengajak Jin Hyeok pulang. Jin Hyeok mengingatkan kalau mereka ditugasi menjaga rumah. Bibi belum kembali, juga punya banyak teh mahal, teh itu tidak bisa dicuri.

"Lalu, teh yang diminum untuk kali kedua rasanya akan sangat enak." Lanjut Jin Hyeok sambil menuangkan teh.


Hye In melamunkan pernyataan Jin Hyeok tadi dan itu membuatnya teringat masa lalu.

Kilas Balik..


Saat kelulusan SMA. Hye In ditinggal kedua temannya yang ada acara dengan ortu dan teman masing-masing. Keduanya menanyakan apa rencana Hye In.

"Kurasa orang tuaku hampir tiba. Sepertinya ayahku baru saja tiba. Mungkin kami akan pergi makan setelah berfoto. Pergilah dahulu."

Maka kedua temannya pun pergi.

Tapi sepertinya Hye In bohong, ia tampak sedih setelah temannya pergi.





Saat itulah datanglah Jin Hyeok dengan senyum manisnya, tak lupa Jin Hyeok membawakan bunga untuk menyelamati Hye In. Hye In langsung tersenyum lebar.

"Berkatmu, aku bisa datang berkunjung ke SMA putri."

"Kenapa kamu ada di sini? Bagaimana dengan kerja paruh waktu?"

"Aku bertukar sif. Ayahmu tidak bisa datang, bukan?"

"Ya. Aku memintanya menemani ibuku di rumah sakit."

"Mari makan siang bersama dan pergi menemui ibumu. Apakah operasi ibumu lancar?"

"Ya."




Jin Hyeok lalu mengeluarkan kameranya, saat kelulusan harus ada foto. 

Mulai saat itulah Hye In menyukai Jin Hyeok. Ia deg-deg an saat Jin Hyeok merangkulnya untuk berfoto bersama.

Kilas Balik selesai..



Sampai saat ini, Hye In masih menyimpan foto itu.

"Lalu, apa yang harus kulakukan, Jin Hyeok-ah?"



Mi Jin datang ke bar Dae Chan, ia meminta Dae Chan mengirim pesan pada Jin Hyeok untuk menyuruhnya mampir ke sana.

"Kenapa tidak kamu lakukan sendiri?" Heran Dae Chan. 

"Dia tidak akan mau datang."

"Aku merasakan hal ini saat melihatmu kemarin. Apa kamu ini lintah darat? Astaga, Jin Hyeok bukan tipe pria yang suka meminjam uang."

"Bagaimana bisa aku terlihat seperti lintah darat?"

"Ayolah. Orang-orang di jalanan bertanya apakah aku profesor. Jangan menilai dari penampilan."

"Tapi tetap saja, kamu tidak terlihat intelektual."

"Terserah saja. Kamu bisa kirimkan pesannya sendiri."

"Aku tidak bermaksud menyebutmu terlihat bodoh. Kumohon, kirimkanlah untukku!!"

"Sungguh, kamu berisik sekali. Kenapa kamu marah saat meminta bantuan? Kamu terdengar seperti perawan tua yang rewel."

"Astaga. Aku terlihat seperti perawan tua?"

"Lalu, kamu pikir dirimu masih muda? Kurasa tidak."

"Kamu ingin berkelahi denganku?"




Dan keduanya terlibat perang mulut.

Dae Chan: Kenapa aku berkelahi dengan orang yang baru dua kali kutemui?

Mi Jin: Lalu, kenapa kamu memulai pertengkaran?

Dae Chan: Kamulah yang menerobos masuk dan memulai pertengkaran. Ada apa dengan wanita tua ini?

Mi Jin: Wanita tua? Kamu bilang apa?

Dae Chan: Katamu kamu bukan perawan tua. Jika begitu, kamu pasti wanita tua.

Mi Jin: Aku wanita muda. Aku belum tua!

Dae Chan: Kenapa aku memberitahumu itu? Kamu tidak perlu memberitahuku. Aku bahkan tidak mau tahu. Omong-omong, apa kamu akan diam jika kukirimkan pesan padanya?

Mi Jin: Anggap dirimu beruntung karena aku harus menemui Jin Hyeok hari ini. Kamu dan siput bulan kecilmu.

Dae Chan: Apa kamu tahu betapa enak rasanya?

Dae Chan langsung menjauh setelah mengirim pesan pada Jin Hyeok.


Ketua Kim mendapat laporan soal Jin Hyeok dan Soo Hyun. 

"Jadi, apa yang kamu rencanakan sekarang? Kamu akan biarkan Cha Daepyo lari dari situasi seperti ini? Aku percaya padamu, Direktur Choi. Kuharap kamu tidak mengecewakanku."



Woo Seok masuk saat Ketua Kim mengatakan hal itu dengan penuh penekanan. Ia bertanya apa maksud Ibunya tadi? 

"Cha Soo Hyun sudah gila bersama pemuda bodoh itu. Apa sebenarnya perilaku vulgar di hadapan para pegawai ini?  Ini sungguh memalukan."

"Apa ada masalah?"

"Ibu tidak mau lagi membicarakannya."

"Apa maksud Ibu saat bilang tidak mau Daepyonim lepas dari situasi ini?"

"Kamu hanya akan tinggal diam melihat Hotel Donghwa hancur? Jika Presdirnya gila, sudah waktunya mencari pemilik baru."

"Itu bisnis hotelnya sendiri."

"Lalu siapa yang memberikannya?"

"Ibu lupa bahwa itu tunjangannya?"

"Tentu saja tidak. Ibu berharap pada hotel itu, tapi dia nyaris kehilangannya. Adakan rapat dewan direksi dan keluarkan dia."


Ketua Kim pergi, Woo Seok langsung menghubungi Sekretarisnya untuk mencaritahu ada apa di Hotel Donghwa hari ini.
>


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search