Sinopsis The Secret Life Of My Secretary Episode 3 Part 2

Sinopsis The Secret Life Of My Secretary Episode 3 Part 2

Sumber: SBS


Paginya, Min Ik jalan di koridor rumah sakit.



Para Dokter sedang berdiskusi mengenai kelainan Min Ik.

Dokter: Do Min Ik, pria, 34 tahun. Tahun 1992, untuk mengobati aneurisma bawaannya, urolift dilakukan padanya di RS ini. Tidak ada komplikasi setelah operasi, tapi dia datang dengan trauma kepala kemarin.

Dokter Do: Kebetulan bahwa klip yang dimasukkan tepat oleh sistem pengenalan wajah otak.




Min Ik masuk ruang rapat. Dokter Gu menyambutnya dengan senyuman.

Selanjutnya Min Ik melakukan tes mata dan ia bisa melihat dengan sangat jelas.

Selanutnya tes main game. Semuanya normal.




Tapi.. saat tes pengenalan wajah, Min Ik salah memilih foto orang yang sama.

"Kamu pikir mereka orang yang sama?" Tanya Dokter Gu.

"Mereka orang lain?"

"Kamu mungkin berpikir begitu karena pakaian yang serupa. Bisa tidak kamu kenali wajah?"

"Awalnya, hanya beberapa orang. Sekarang, jadi semuanya. Tidak, semuanya kecuali satu orang."

"Siapa? Keluarga? Teman? Kamu tak bisa mengenali ibumu, jadi siapa orang yang bisa kamu kenali?"

Min Ik hanya menghela nafas.



Orang yang dimaksud Min Ik saat ini sedang melakukan wawancara. 

"Mantan bos saya mengajari saya untuk bersabar, dan pakaian ini mewakili hasrat saya untuk..."

"Berapa usiamu?"

"29 tahun."

"Apa ini ide konyol SDM? Aku suruh mereka cari usia 26 atau lebih muda!"

"Apa?"

"Yah, senang jumpa denganmu."

"Pak, tunggu. Apa karena usia?"

"Kamu tahu betul sekretaris adalah wajah kantor. Keren, langsing, muda dan manis. Begitulah seharusnya. Lihatlah betapa membosankannya kamu."

"Pak. Lulusan universitas mana?"

"Aku? Harvard."


Gal Hee mengkode Direktur itu untuk kembali duduk. Kali ini giliran ia yang mengajukan pertanyaan.  

"Berapa usia anda?"

"Aku lahir tahun 1958."

"Jam berapa anda selesai kerja?"

"Tergantung. Aku sering lembur juga. Apa ini?"

"Saya melakukan wawancara."

"Apa?!!"

"Bukan cuma sekretaris. Mulai sekarang, saya akan periksa apa calon bos saya kompeten, baik hati, dan berperilaku baik sebelum saya bekerja untuknya."

"Kurang ajar kamu..."

"Seorang bos adalah wajah perusahaan, jadi dia harus langsing dan... Saya juga lebih suka bekerja dengan orang yang sehat dan keren!"



Si Direktur kesal, sampai melompati meja untuk mengejar Gal Hee. Gal Hee buru-buru lari. 

Gal Hee berhasil lolos, "Semoga aku tidak melukai egonya. Senang mengatakan hal yang ada di pikiran, tapi jadi sedikit bersalah."



Gal Hee mendapat telepon, nomor tidak dikenal, ia mengira telepon untuk wawancara pekerjaan lain, ia pun semangat mengangkatnya.

"Halo."

"Di sini ruang rawat inap RS Sangmo. Pasien tidak menjawab telepon, jadi saya menelepon anda sebagai wali."

Ih!!! Gal Hee kesal.


Saat berjalan, Min Ik melamunkan penjelasan Dokter Gu.




Dokter Gu: Jadi ini bagian yang dulu dioperasi. Di sinilah klip yang menghalangi aneurisma otakmu. Dan ini... bagian yang bertugas untuk pengenalan wajah. Ini baru asumsi, tapi kupikir, waktu kamu jatuh, klip tergelincir oleh guncangan luar, mempersempit pembuluh darah yang menuju bagian pengenalan wajah.

Min Ik: Jadi... ini semacam penyakit?

Dokter Gu: Prosopagnosia. Ini disebabkan oleh kerusakan bagian otak yang bertugas mengenali wajah. Kamu mungkin tidak tahu wajah orang yang kamu kenal dan wajah yang kamu lihat barusan mungkin asing setelah kamu berkedip. Ketika semakin buruk, semua orang terlihat...

Min Ik: Semua orang apa?

Dokter Gu: Tidak. Itu sangat jarang. Dan karena hasil tes pembuluh otakmu tidak buruk, masih terlalu dini untuk menilai.  Kita tunggu beberapa hari lagi. Ada banyak orang yang awalnya menunjukkan gejala, tapi segera sembuh secara alami.


Min Ik menenangkan dirinya, "Betul. Aku harus segera kembali normal."



Min Ik melihat Dae Joo, tapi ia gak mengenalinya, ia pun jalan terus, tapi Dae Joo mengikutinya. Sampai akhirnya Dae Joo menyentuh pundaknya untuk menghentikannya.



Min Ik berbalik tegang, "Siapa?"

"Hah? Kamu benar-benar marah padaku." Ucap Dae Joo.


Mereka bicara di luar. 

"Kamu pasti marah sekali. Kok bisa pura-pura tidak kenal? Kamu bahkan tidak angkat telepon." Heran Dae Joo. 

"Iya. Aku marah! Apa yang terjadi kemarin?"

"Aku coba telepon karena tidak bisa datang, tapi kamu tidak angkat telepon."

"Tapi kamu datang."

"Apa?"

"Kamu sudah datang."



"Woah.. Kamu lihat CCTV atau apa? Jujur, aku hampir masuk, terus aku pergi karena Sekretaris Lee dapat masalah."

"Sekretaris Lee?"

"Ceritanya panjang. Maaf ya."

"Dae Joo-ya. Kamu tidak simpan rahasia dariku, kan?"



Dae Joo berpikir sebelum menjawab "ada". 

"Apa itu?" Tanya Min Ik. 

"Nanti saja. Aku beritahu di sana. Kamu? Simpan rahasia dariku, kan?"

"Sepertinya ada. Kita bisa bicarakan di sana."



Tiba-tiba Min Ik membahas soal supir, apa Dae Joo masih tidak butuh supir?"

"Aku lebih pilih sepeda.Jawab Dae Joo, tapi kenapa tiba-tiba?

"Kupikir aku harus segera cari supir."

"Kebetulan ya. Ayah dari mantan supirku meninggal dan hari ini aku akan ke pemakamannya. Aku akan tanya-tanya di sana."

Min Ik mengangguk.



Sampai Di kantor, Min Ik menerima panggilan dari Manajer Kim.

"Halo, saya Manajer Kim dari pusat seni. Saya belum dengar kabar dari Sekretaris Jung. Saya ingin tahu apa anda tidak datang ke pembukaan."

"Ya. Saya akan tepat waktu."

"Baik, Pak."



"Tunggu. Boleh saya tanya... hari ini ibu saya pakai baju apa?

"Dia pakai baju apa? Dia memakai jas hitam biasa. Dan dipadu dengan selendang bunga.

"Ya. Terima kasih."






Min Ik datang ke pameran seni, ia mencari-cari ibunya, tapi tiba-tiba ada anak yang terjatuh tepat disampingnya. Min Ik pun membantunya berdriri. 

Keanehan terjadi saat Min Ik menatap wajah anak itu, tiba-tiba wajahnya jadi buram. Min Ik takut, apa itu? 


Kemudian ia memandang orang-orang, semuanya sama, wajahnya buram, rata, seperti video yang disensor. Min Ik gemetar.



Sampai akhirnya ia menemukan seorang wanita yang memakai baju hitam dengan selendang bunga. Min Ik menduga itu adalah ibunya.


Nyonya Sim melihat Min Ik, ia pun mendekat.




Nyonya Sim menyapa, tapi Min Ik melewatinya begitu saja.




Min Ik memberikan bunganya pada wanita yang memakai selendang, ia memberikan selamat bahkan memeluknya.

"Aku sayang Ibu, selalu." Ucap Min Ik.

Nyonya Sim hanya menyaksikan. Sementara wanita itu mendorong Min Ik lalu menamparnya. 

"Siapa anda?!!" Kesal wanita itu.



Min Ik memandang semua orang yang mulai bisik-bisik. Ia memutuskan kabur.



Saat Nyonya Sim dilewati Min Ik, ia kembali mengajaknya bicara, tapi Min Ik lagi-lagi melewatinya begitu saja.

Min Ik juga melewati Presdir Sim dan Min Ik tidak mengenalinya.


Min Ik kembali ke rumah sakit, ia bertemu Dokter Gu. Dokter Gu memanggilnya duluan, jadi Min Ik bisa mengenalinya.



Walaupun mendengus kesal tadi, Gal Hee tetap mengambil barang-barang Min Ik di Rumah Sakit. 

"Dia bos perusahaan seluler. Kenapa dia tidak pakai ponsel baru? Astaga." Gumamnya.

Tiba-tiba ia mendengar Min Ik berteriak, "Anda bilang saya akan kembali normal. Anda bilang itu sementara!"

Gal Hee pun mendekati asal suara itu.



Min Ik menarik kerah jas Dokter Gu. Dokter Gu bertanya tenang, Apa gejalanya memburuk?

"Mereka kabur. Wajah orang tidak hanya berubah. Tapi benar-benar hilang."

"Kuharap itu tidak sampai ke sana."

"Dokter. Apa yang terjadi pada saya? Anda pernah berjanji waktu usia saya 7 tahun. Anda janji... takkan ada lagi masalah dengan otak saya!"

"Karena memburuk dengan cepat, sangat mungkin menjadi kronis."



Min Ik melepaskan cengkramannya pada jas DOkter Gu, ia meminta memberinya obat. Dokter Gu diam saja, ia meminta disuntik. Dokter Gu masih diam. 

"Apa aku butuh operasi lain?" Min Ik masih berusaha.

Dokter Gu menghela nafas. Min Ik kembali mencengkeram kerah jas Dokter Gu, kali ini kesabarannya hilang, ia sampai menyebut DOkter Gu dukun. 

"Obat bisa menyembuhkan apa saja. Operasi bisa memperbaiki apa pun!" Min Ik mulai frustasi.


Gal Hee sudah mendekat.



Dokter Gu menenangkannya, "Kata Dr. Park, dia pernah bertemu pasien sepertimu di AS. Dia akan pulang dalam beberapa hari. Mari lihat apa yang bisa kita lakukan. Kamu tidak ingat? Kamu selamat dari operasi sangat berbahaya yang bisa merenggut nyawamu, saat usiamu 7 tahun."



Min Ik melepaskan DOkter Gu, "Saya tidak ingin.. selamat. Saya tidak mau berpura-pura tidak sakit. Saya tidak ingin melakukan itu. Jadi buat saya lebih baik lagi."

Min Ik melemparkan dompetnya dan pakaiannya, ia memberikan semuanya jika itu yang Dokter Gu minta sebagai imbalan, "Saya akan berikan semua yang anda mau. Jadi, buatlah saya bisa melihat wajah orang lagi!"



Min Ik sangat frustasi, ia gak bisa menahan tangisnya. Gal Hee yang melihatnya gak bisa berbuat apa-apa.




Sampai akhirnya Min Ik melihat Gal Hee. Dari semua orang hanya Gal Hee yang wajahnya jelas terlihat olehnya. Semua wajah orang abu-abu dimatanya kecuali Gal Hee.

Berguru pada Seo Do Jae (The Beauty Inside) aja sana.. hehehe

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis The Secret Life Of My Secretary Episode 3 Part 2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: