Sinopsis He Is Psychometric Episode 16 Part 2

Sinopsis He Is Psychometric Episode 16 Part 2

Sumber: tvN



Jae In mengamati barang sitaan Seong Mo. Ia menyalakan ponselnya dan meligat riwayat panggilan. Ada nomor yang ia curigai.


Jae In mengamati barang sitaan Seong Mo. Ia menyalakan ponselnya dan meligat riwayat panggilan. Ada nomor yang ia curigai.



Jaksa Noh: Apa maumu? Kudengar kamu diinterogasi sebagai tersangka karena menculik seseorang bernama Kang Geun Taek. Benarkah? Kamu ingin aku mengeluarkanmu jika terjadi kesalahan? Benarkah?

Seong Mo: Buku besar itu berisi laporan suapan dari tahun 2004 hingga 2010 yang diberikan Dragon Head Hunting kepada pengusaha politikus, polisi, dan jaksa sesuai perintah YSS Construction. Laporannya cukup mendetail.

Jaksa Noh: Berikan kepadaku. Sekalipun kamu melakukan pembunuhan, aku akan membantu menutupinya. Di mana buku besar itu?

Seong Mo: Jaksa Agung. Buku besar itu akan berfungsi sebagai batu di bawah tumpukan.

Jaksa Noh: Apa maksudmu?

Seong Mo: Batu harus ditumpuk secara perlahan, tapi waktuku tidak banyak.

Jaksa Noh: Mari bertemu. Di mana kamu?

Seong Mo: Apa pun yang kulakukan, jangan melakukan apa pun. Bertindaklah sesuai hukum.

Jaksa Noh: Apa?

Seong Mo: Selain itu. tunggu tumpukan itu selesai. Berpeganglah pada kekuasaan yang bisa hancur kapan saja dan gemetar karena ketakutan. Itulah.. keinginanku.



Jae In membahas rekaman itu dengan Seong Mo, "Dia bilang akan membebaskan Anda dari menjadi tersangka sebagai imbalan atas buku besar itu, tapi Anda memilih untuk menyerahkan diri. Jadi, di mana buku besar itu?"

Letnan Nam menyaksikannya.


Seong Mo: Aku lama memikirkan kepada siapa aku harus memberikan buku besar itu. Aku tidak bisa menarik kesimpulan selain ini. Aku ingin kamu menyampaikan.. pesan terakhirku kepada An. Sampaikan aku menyesal.. telah menghancurkan.. masa lalu, masa kini.. dan masa depannya.


An cuma diem di kamarnya. Kemudian ia berdiri untuk mengemas pakaiannya ke dalam koper.



Jae In menghubungi, "Aku menanyakan keberadaan buku besar YSS kepada Jaksa Kang, tapi kurasa dia cemas informasinya akan bocor dan mengalihkan topik."

"Mengalihkan topik?"

"Dia menyuruhku.. menyampaikan kepadamu bahwa dia menyesal telah menghancurkan masa lalu, masa kini, dan masa depanmu."

"Buku besarnya... ada di sana?"

"Kamu punya petunjuk?"



Lee An langsung masuk ke kamarnya Seong Mo. Ia menatap sebuah lukisan. 

Kilas Balik..


Seong Mo membeli  lukisan itu bersama An, ia menyuruh An memilih satu yang disukai nanti akan ia gantung dikamarnya. 

"Lukisan yang kusukai harus digantung di kamarku. Hyeong sungguh aneh."

Seong Mo hanya ketawa.



Saat itulah An memilih lukisan itu. Seong Mo juga menyukainya.

Seong Mo: Kepala singa berarti masa kini, serigala melambangkan masa lalu, dan anjing melambangkan masa depan. "Belajarlah dari masa lalu dan berhati-hati di masa kini agar tidak menghancurkan masa depanmu". Itulah pesan lukisan ini.

Kilas Balik Selesai..




An menyentuh lukisan itu, ia melihat saat Seong Mo menggantunya kembali tapi saat berpakaian serba hitam.

An menurunkan lukisan itu dan meribek bagian belakangnya, ia menemukan amplop coklat besar. An membukanya dan ternyata isinya adalah buku yang dimaksud Jae In.



Saat akan keluar, An berpapasan dengan ibunya Seong Mo yang barusan masuk. Ibu Seong Mo tiba-tiba menyentuh tangan An.



An melihat pembicaraan Ibu dan Soeng Mo pagi ini. 

Ibu: Seong Mo-ya, ibu ingin minta bantuanmu. Jangan kabur lagi. Berhentilah menyakiti orang  yang mengalami kemalangan karena pilihanmu yang salah. Jika kamu berencana bunuh diri  setelah membunuh orang itu, hentikan. Jika kamu melakukannya, tidak akan ada yang memaafkanmu. Baik ibu atau kedua anak itu.



An: Jangan menyuruhku memahami atau memaafkan Hyeong. Bagiku saat ini, permintaan itu terlalu kejam.

Ibu langsung melepaskan tangan An dan An langsung pergi.




An membawa buku itu ke kantor polisi.

Jae In: Sejak komisaris polisi saat ini hingga anggota kongres, YSS Construction menyuap segala jenis manajemen atas. 

Letnan Nam: Situasinya jadi makin rumit. Ini tidak seperti memukul batu dengan telur, tapi dengan tanah.

Jae In: Jaksa Kang memang pelaku dalam kasus pembakaran dan pembunuhan, tapi masalah menjadi besar karena korupsi YSS. Anda mengetahuinya sejak awal.

Letnan Nam: Benar, tapi mereka yang bersekongkol dalam korupsi konstruksi adalah pihak berwenang saat ini. Sekalipun menyerahkan ini pada kejaksaan, ini tidak akan berguna.

Jae In: Seperti ucapan Jaksa Kang, ini akan membutuhkan kekuasaan dan waktu.



An: Apa yang akan berubah setelah waktu berlalu? Maksudmu kita harus menunggu selagi manajemen atas terus mewariskan kekuasaan mereka? Jangan harap. Selagi menanganinya, mari mengakhirinya.

Letnan Nam: Masalahnya, bagaimana kita akan melakukannya? Bagaimana?

Jae In: Bagaimana dengan Komisaris Polisi Eun? Mungkin ini bisa dengan kekuasaannya.



Letnan Nam menginterogasi Kepala Eun dnegan menunjukkan buku itu, dimana An dan Jae In melihat dari ruang CCTV. 

"Aku sudah bersiap, tapi tidak menyangka akan segera duduk di sini." Kata Kepala Eun. 

"Itu buku besar salinan. Kami menyimpan yang asli untuk berjaga-jaga."

"Kamu menyuruhku.. untuk menjadi bom?"

"Kasus Yeongseong bukan hanya soal korupsimu. Orang-orang yang berkomplot, mengamati, atau menjabat kembali terlibat di dalamnya."

"Baiklah, mari melakukannya. Adakan konferensi pers dahulu. Hanya itu cara untuk memungkinkan ini."

Jadilah kepolisian mengadakan konferensi pers dimana Kepala Eun akan memberikan pernyataan.


Jaksa Noh yang melihat berta itu langsung mematikannya dan menghubungi seseorang. 

"Adakah kasus yang cukup menghebohkan untuk menarik perhatian wartawan? Ambil tindakan untuk menutupinya!"




Kepala Eun: Pertama, aku ingin meminta maaf kepada para korban yang meninggal dalam kasus kebakaran Apartemen Yeongseong dan keluarga mereka yang berduka.

Kepala Eun membungkuk 90 derajat sebelum melanjutkan, "Aku menyembunyikan kebenaran dengan menyelidiki secara tidak tulus. Aku berusaha meminimalkan kasus. Tanpa menyadari tugasku sebagai polisi, aku menerima suap dari YSS Construction terkait tugas dan kekuasaanku. Aku mengakui semuanya. Dengan ini aku mundur dari jabatanku untuk bertanggung jawab sepenuhnya. Laporan media soal korupsi YSS semuanya benar. Aku berjanji akan bekerja sama dalam penyelidikan dengan bersungguh-sungguh. Sebagai pegawai negeri, aku gagal memberi contoh yang baik. Aku sungguh menyesal. Guna melindungi orang-orang dan menjalankan perintah hukum dengan benar adalah misi dan alasan adanya polisi. Karena aku tidak menyadari jati diri dan tugasku, seluruh kepolisian menerima kritik. Semoga itu tidak akan berlanjut."


Letnan Nam memberikan minuman untuk Jae In yang melamun sendirian.

Letnan Nam: Sekarang mari menunggu. Unit Khusus akan menyelidiki kejaksaan. Sekarang kita hanya bisa berharap situasinya tidak begitu buruk.

Jae In: Aku puas dengan pencapaian kita sejauh ini.



Letnan Nam memberikan kartu nama pengacara kenalannya, "Dengan pengakuan Kang Seong Mo, kita tidak perlu menunggu. Bersiaplah untuk persidangan ulang."

"Terima kasih."

"Jangan bilang begitu. Kamu dan An yang bekerja. Aku hanya membantu kalian. Opsir Yoon, kinerjamu bagus."


An dan Jae In berkendara bareng. Mereka hanya diam, Jae In pun memulai pembicaraan. 

"Kemarin kamu juga menginap di rumah Dae Bong?"

"Ya."

"Ayahnya tidak keberatan soal itu?"

"Rumah itu terlalu besar hingga aku bahkan tidak bisa bertemu dia."

"Ah.. aku belum pernah tinggal di tempat seperti itu."

"Begitu pun aku."


An menyalakan radio, kebetulan ada siaran berita.

"Pengumuman pengunduran diri oleh Komisaris Polisi Eun Byung Ho menghasilkan penyelidikan kasus Apartemen Yeongseong. Penyelidikan itu menindaklanjuti rumor seputar hubungan korup antara kejaksaan, polisi, dan politikus. Polisi sudah mendapatkan bukti penyuapan antara YSS Construction dan pihak berwenang dalam lingkup politik dan keuangan. Kantor kejaksaan awalnya mengklaim peristiwa itu merupakan fitnah. Namun, memerintahkan penggeledahan dan penyitaan yang terlambat setelah masyarakat menuntut kantor kejaksaan mengalihkan kendali atas penyelidikan dan tuntutan manajemen atas."



Ternyata mereka pergi ke lapas, tapi An gak mau ikut masuk, ia akan menyapa Ayahnya Jae In secara resmi di lain waktu.

"Aku ragu.. dia ingin bertemu kekasih putrinya di sana." Lanjut An.

"Baiklah. Aku segera kembali."



Akhirnya Pak Yoon bisa melihat wajah putrinya.

Pak Yoon: Kamu terlihat kurus. 

Jae In: Sepertinya berat badan Ayah 

Pak Yoon: Bibimu sering berkunjung. Dia bilang kamu bekerja keras.

Jae In: Pelaku yang sesungguhnya mengaku dan para mantan penghuni memberi pernyataan yang lebih jujur. Menurut pengacara, ini tampak menjanjikan. Tapi kita harus menunggu tiga bulan lagi agar persidangan ulangnya disetujui.

Pak Yoon: Ayah baik-baik saja. Bagi ayah, itu tidak begitu lama.

Jae In: Maaf.

Pak Yoon: Soal apa?

Jae In: Meski hanya sebentar, aku curiga Ayah mungkin benar-benar.. pembunuhnya.

Pak Yoon: Jae In-ah. Ayah yang minta maaf. Kamu harus mengalami kesulitan dan ayah tidak bisa mendampingimu.




Jae In dan An menghabiskan hari ini untuk berkencan.

"Jika kupikir-pikir, kita belum menjalani kencan yang pantas sejak kencan pertama." Kata Jae In. 

"Kamu ingin melakukan sesuatu?"

"Banyak, tapi aku akan melupakannya. Aku tidak mau membuat kekasihku terancam. Aku tidak akan bisa menikmati kencan biasa."

Jae In tiba-tiba iangat sesuatu, ia lngsung berhenti dan menatap AN tajam, "Mulai sekarang, kamu dilarang menyentuh mayat."

"Apa?"

"Serta jangan menyentuh TKP. Bahkan jangan menyentuh senjata pembunuhan. Jangan menyentuh semua itu."

"Lantas, aku harus melakukan apa?"

"Kamu? Ada kejahatan lain. Orang hilang, penipuan suara, dan pencurian besar. Kamu bisa mengerjakan kasus itu."

"Bagaimana denganmu? Jangan menangani kasus pembunuhan. Terlalu berbahaya."

"Aku harus melakukannya. Rumornya, aku akan menerima promosi khusus."

"Promosi khusus? Bagaimana denganku?"

"Kamu tidak ingat?"

"Aku opsir dalam masa percobaan, tapi tidak ada cara untuk menjelaskan siapa kamu. Detektif Eun..."



Tak sengaja menyebut nama Ji Soo membuat Jae In otomatis berhenti. An langsung menggenggam tangannya.  

"Aku tahu kamu berusaha tidak membahas Seong Mo Hyeong dan Ji Soo Noona. Tidak perlu."

"Aku berusaha tidak membahas mereka karena kamu pun begitu."

"Ingat luka bernanah yang tidak diobati? Ayahmu mengatakan itu. Itulah sebabnya aku tidak akan menyembunyikannya."

"Aku tidak ingat mengatakan itu padamu."

An mengangkat tangan Jae In yang dipegangnya, "Aku punya cara lain untuk tahu."



Jae In membahas mengenai persidangan Seong Mo yang akan digelar sebentar lagi. Apa An akan hadir? An hanya diam saja. Jae In pun tidak menanyakanya lagi.



Kang Geun Taek sudah pulih dan sekarang ia diinterogasi.

Dengan tanpa ekspresi, ia berkata, "Aku akan mengulanginya. Aku tidak pernah membunuh orang. Sekali pun tidak."

Jae In dan Lee An melihat semuanya dari ruang CCTV.



Di kantor, mereka membahas pengakuan Kang Geun Taek.

Detektif Lee: Aku terus bertanya setelah dia siuman di rumah sakit, tapi dia mengaku tidak membunuh orang, termasuk Detektif Eun.

Jae In: Mari mulai dengan kejahatan yang bisa kita buktikan dahulu. Mayat yang dia bawa untuk menggantikan Kang Eun Joo di Apartemen Yeongseong sudah dikremasi. Dia juga tidak berkaitan dengan Kim Gab Yong. Kita hanya punya hubungan yang tidak langsung.

An: Maka, kita hanya punya kebakaran Panti Wreda Hanmin dan kematian Ji Soo Noona.

Letnan Nam: Kita punya cukup saksi dan bukti untuk mengaitkan dia dengan pembunuhan Detektif Eun, tapi tidak dengan kebakaran Panti Wreda Hanmin.

Jae In: Jika dia tidak menandatangani pernyataan itu, maka.. Kang Eun Joo harus bersaksi di persidangan.

An: Itulah keinginan Kang Geun Taek.

Detektif Lee: Dia ingin melihat Kang Eun Joo untuk kali terakhir. Bahkan hingga akhir, dia tetap tidak manusiawi. Dia mengurung Kang Eun Joo selama sembilan tahun. Membuat Kang Eun Joo bertemu dia di persidangan sangatlah kejam.

Letnan Nam: Bagaimana jika dia bebas setelah sepuluh tahun dan menguntit dia lagi?

Detektif Lee: Itu lebih buruk.

Letnan Nam: Kita harus memenjarakan dia selamanya.

An: Aku dan Jae In akan bicara dengan Bu Kang.



Jae In dan An menemui Ibunya Seong Mo untuk memintanya bersaksi.

Jae In: Aku tahu ini sulit, tapi membuktikan dia bersalah dalam kasus ini akan memperpanjang hukumannya. Mampukah Anda melakukannya?

Bu Kang: Aku tahu harus melakukannya, tapi aku akan berterima kasih jika kamu memberiku waktu. Aku akan memikirkannya.

An meminta Jae In membantu mengemas barangnya, mereka pun masuk ke kamar An.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis He Is Psychometric Episode 16 Part 2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: