Monday, April 8, 2019

Sinopsis Kill It Episode 1 Part 3

    Sinopsis Kill It Episode 1 Part 3

    Sumber: OCN


    "Seoul, 2019"




    Seorang pria sedang berburu, ia melihat ada rusa di bawah tebing, ia pun menyiapkan senapannya. 


    Dari arah kiri ada seorang pria berlari kencang tapi tanpa suara. Pria itu melemparkan tali ke arah pria yang tadi membawa senapan. Entah bagaimana simpulnya, pokoknya talinya pas bisa melilit kaki si pria dan menariknya jatuh ke bawah.



    Pria itu adalah Soo Hyun. Ia bergelantungan di tebing dengan hanya berpegangan ke sebuah tali.




    Soo Hyun mendekati pria yang berhasil dibunuhnya. Pria itu masih bernyawa ternyata, tapi Soo Hyun menyuntikkan sesuatu. 




    Setelah memastikan kalau pria itu gak bernyawa, Soo Hyun memotretnya dan ia segera pergi meninggalkan lokasi, tak lupa ia membawa makanan rusa. Sepertinya ia sengaja menggunakan rusa itu untuk menjebak korbannya.


    Berita meninggalnya pria itu langsung menjadi berita heboh dan detektif yang menangani kasusnya adalah Do Hyun Jin (Nana). Sekarang ia dalam perjalanan menuju ke TKP sambil mendengarkan berita.

    "CEO Yoo Dae Heon dari Myeongsung Global Logistics, yang dicurigai terlibat perdagangan narkoba ditemukan tewas di Gunung Bukin sekitar pukul 10.00. Polisi mengumumkan bahwa dia mati setelah terpeleset, tapi tidak tertutup kemungkinan bunuh diri akibat skandal terakhirnya terkait narkoba."





    Hyun Jin naik ke atas tebing dan menemukan jejak CEO Yoo saat terseret. Ia bisa membayangkan bagaimana CEO Yoo terjatuh dari sana.


    Di bawah sudah berkumpul banyak orang, baik media maupun petugas yang berwajib.



    Hyun Jin turun dan seorang detektif junior mendekatinya. Detektif itu tanya, kenapa Soo Hyun kesana?

    "Aku Inspektur Do Hyun Jin dari Tim Investigasi Khusus." Hyun Jin mengenalkan dirinya.

    "Begitu. Aku Sersan Lee Yoon Seung. Tidak perlu kaku denganku."


    Hyun Jin pun mulai bicara santai, "Apa yang ditemukan di TKP?"

    "Tidak ada yang berarti. Yoo Dae Heon biasa menggunakan narkoba sebelum berburu untuk memaksimalkan sensasi. Tapi itu akan terungkap setelah autopsi."

    "Mungkinkah ini pembunuhan?"

    "Pembunuhan? Penyebab kematian atau barang bukti belum ditemukan. Jadi, kami fokus pada kemungkinan terpeleset atau bunuh diri."




    Soo Hyun mengamati ekspresi CEO Yoo, ia bisa menduga CEO Yoo tampak seperti dikhianati.

    "Apa maksudmu?" Yoon Seung gak ngerti. 

    "Matanya. Raut mukanya."

    "Entahlah. Setelah kamu singgung, memang terkesan begitu. Tapi kenapa raut mukanya seperti ini saat kesakitan?"

    "Bagaimana jika raut mukanya itu disebabkan oleh suatu zat?"

    "Maksudmu ini pembunuhan? Pengkhianatan? Korban mengenal pembunuhnya?"




    Seorang pria mendekati mereka, ia menyebut Hyun Jin si idealis. Yoon Seung mengenalkan pria itu, Asisten Inspektur Park Sung Ho dari Tim Investigasi Khusus.

    Hyun Jin mengulurkan tangan sambil menyebutkan namanya, tapi Sung Ho cuma setengah hati menjabatnya.  



    Yoon Seung berbisik, "Sikapnya begitu karena pangkatmu lebih tinggi, padahal lebih muda."

    Sung Ho: Kukira ada polisi spesial dari markas besar. Astaga.

    Hyun Jin: Anggap saja aku polisi spesial secara perlahan. Kasus ini akan kita usut sebagai kasus spesial. Aku ditugaskan bertanggung jawab atas kasus ini.

    Sung Ho: Baiklah.

    Hyun Jin: Pak Park, cari tahu aktivitas korban dan orang yang dia temui selama enam bulan terakhir. Detektif Lee, cari CCTV di sekitar sini dan kumpulkan bukti dari para pendaki.

    Yoon Seung: Baiklah.

    Hyun Jin langsung pergi. Sung Ho berbisik pada Yoon Seung kalau Hyun Jin sewenang-wenang.


    Hyun Jin berbalik, ia memerintahkan Yoon Seung  lagi, "Lalu, mengenai autopsi, aku ingin Koroner Jang Kwang Joon yang menangani. Akan kuminta kepadanya."

    "Apa? Jang Kwang Joon si tukang potong itu?"

    "Ya. Mohon bantuannya." 




    Dua orang pria membicarakan Hyun Jin.

    Pria yang kiri, "Dia mengajukan diri mengurus kasus narkoba Yoo Dae Heon."

    "Sudah berapa lama sejak Tim Satu memulai investigasi?"

    "Dia pergi ke Rusia untuk belajar balet, tapi malah bergabung ke kepolisian. Uniknya lagi, dia pemegang rekor lempar busur. Menurutnya, Yoo Dae Heon adalah korban pembunuhan berantai."

    "Bukan korban kasus narkoba, tapi korban pembunuhan berantai?"

    "Itulah yang aneh. Tapi pasti Markas Besar mengutusnya karena suatu alasan, bukan?"




    Di jalan, Hyun Jin berhenti karena ada mobil yang bertuliskan, "Melindungi margasatwa". Ia melihat ada rusa tergeletak di jalan. Rusa itu terluka dibagian kaki.








    Hyun Jin membantu petugas penyelamat yang ternyata adalah Soo Hyun. Hyun Jin melemparkan suntikan bius. Jago banget dia bisa tepat sasaran padahal rusanya jalan-jalan.



    Soo Hyun gak bicara apa-apa. Ia hanya mendekati rusa yang sudah lemas karena efek bius dengan membawa kandang. 

    Hyun Jin ikut mendekat, ia menggunakan syal-nya untuk menutup mata si rusa. 

    "Tutup matanya agar dia tenang." Kata Hyun Jin sambil menutupi mata si rusa.

    Tapi Soo Hyun melepaskannya, katanya gak usah ditutupi. Soo Hyun kemudian memasukkan rusa itu ke kandang dan membawanya ke mobil.




    Hyun Jin kembali mengikutinya, "Hei. Kamu tidak berterima kasih kepada yang membantumu? Atau setidaknya minta maaf."

    "Oh.. Terima kasih." Kata Soo Hyun asal.

    "Apa-apaan?"

    Soo Hyun melihat syal Hyun Jin yang ada noda darahnya, ia pun memintanya, lalu memberikan kartu nama.

    "Tagihkan saja syalmu kemari." Ujar Soo Hyun.

    Hyun Jin menerima kartu itu, "Nanti kuhubungi jika kubutuhkan."




    Setelah masuk mobil, Hyun Jin membaca kartu nama Soo Hyun. "Spesialisasi hewan liar dan terlantar - Veterinarian Kim Su Hyeon".

    Dan cuma itu, Soo Hyun melanjutkan perjalanannya.



    Hyun Jin melakukan presentasi kasus CEO Yoo Dae Heon. Ia menunjukkan jejak kaki terakhir Yoo Dae Heon di ujung lereng.

    "Bekas seretan ditemukan di sisi dalam lereng. Artinya korban tidak sekadar jatuh. Ini menandakan dia diseret seseorang. Seperti yang terlihat, tim autopsi menemukan bekas tali dari tubuh Yoo Dae Heon. Pelakunya.. pasti berada di bawah tebing dan menunggu Yoo Dae Heon datang."



    Semua mulai ribut. Lalu Hyun Jin menunjukkan wajah korban.

    "Ini wajah Yoo Dae Heon. Wajahnya kaku seakan-akan diawetkan. Ini bukan kekakuan biasa. Mungkin wajahnya tiba-tiba lumpuh sebelum tewas. Tentu saja, bekas suntikan cadocolin ditemukan di kedua telinganya oleh forensik."


    "Bukankah itu dipakai untuk eutanasia? Apakah ada yang kamu curigai sebagai tersangka?" Tanya pria yang membicarakan Hyun Jin tadi.



    Hyun Jin menunjukkan foto buku catatan yang pinggirannya terbakar.

    "Ini buku catatan Min Hyuk, reporter sembilan tahun lalu. Entah kalian ingat atau tidak, tapi semua orang yang namanya tertulis di sini telah tewas. Lee Sang Pil, Kepala Damkar, meninggal 16 bulan lalu. Kim Jong Koo, ketua geng, meninggal 13 bulan lalu. Semua tersangka dibebaskan karena kurangnya bukti. Semua kasus itu memiliki korban, tapi pembunuhnya belum ditetapkan."

    Mulai ribut lagi. Pria yang bertanya tadi meminta semuanya tenang, lalu meminya Hyun Jin menunjukkan bukti. 





    Hyun Jin menjawab, "Usai membaca pesan panjang di buku catatan ini, aku menduga Yoo Dae Heon akan tewas dengan modus serupa. Ternyata terbukti."



    Sung Ho tiba-tiba ketawa ngakak, semua jelas heran. 

    "Maaf. Astaga, itu menggelikan sekali. Inspektur Do, kamu pasti gemar menonton film. Kamu kebanyakan menonton film. Tapi kamu harus lebih realistis. Kenapa tiap kasus belum terjawab dianggap pembunuhan berantai? Jika ucapanmu benar, berarti ini catatan maut. Berarti pelakunya Reporter Min Hyuk, bukan? Kasus selesai."



    Hyun Jin kesal, ia melempar polpoin yang langsung masuk mulut Sung Ho, makan Sung Ho diam seketika. 





    Soo Hyun akan masuk sebuah restoran, tapi di dalamnya suami dari pemilik restoran sedang mengamuk minta uang. 

    "Tidak. Itu uang sekolah Ha Young." Kata si Ibu yang sudah babak belur. 

    "Apa gunanya jika dia lari dari rumah?"

    "Dia kabur gara-gara kamu."

    "Itu salahmu!"



    Si bapak mau memukul ibu dengan kursi, tapi Soo Hyun mengambil kursinya dari belakang. Bapak kesal dong, ia tanya, siapa Soo Hyun. 

    "Pembeli." Jawab Soo Hyun. 

    "Kami tutup hari ini. Pergilah." Kata si bapak.

    "Pesan satu nasi kotak spesial dibungkus." Pinta Soo Hyun pada si Ibu.

    Si Ibu menerti dan langsung bangkit untuk membuatkan pesanan Soo Hyun.


    Si Bapak tambah kesal pada Soo Hyun, "Bedebah. Kamu tidak dengar ucapanku?"

    Soo Hyun gak menjawab apa-apa, hanya menatap si Bapak. Si Bapak pun berhenti, ia bicara pada istrinya, "Hei! Kita bertemu di rumah!" Kemudian keluar.


    Soo Hyun membawa makanannya ke RS Hewan miliknya. Disana ia disambut Grey.


    Seorang anak sekolah masuk, ia berkata akan makan disana. Soo Hyun gak menjawabnya tapi juga gak melaragnya.




    Anak itu melihat syal milik Hyun Jin, komentarlah dia, "Itu untuk wanita. Dahulu itu populer. Kamu tidak akan tahu karena selalu sibuk dengan hewan. Milik siapa itu?"

    "Seorang wanita."

    "Seorang wanita"? Bagaimana denganku? Aku siapa?"

    "Kamu perempuan."



    "Aku malas bersekolah hari ini. Sebentar lagi peringatan kematian kakekku. Kurasa aku tidak bisa fokus belajar. Kesedihan setelah kehilangan anggota keluarga itu... Kamu paham, bukan?"

    "Keluarga? Aku tidak punya kenangan soal itu."




    Hyun Jin ke ruang otopsi, ia menemui Seniornya dan langsung menanyakan apa yang ditemukan si Senior. 

    "Aku menemukannya. Ada jaringan kulit Yoo di ujung jarum suntik. Ada hal menarik."

    "Apa?"

    "Di ujung jarum suntiknya ada jaringan kulitnya dan cadocolin. Tapi ada zat lain di dalamnya."

    "Apa maksudnya?"

    "Jarum suntiknya bekas pakai. Ada yang aneh."

    "Apa zat lain itu?"

    "Kokaina. Pelakunya terkait dengan narkotika."


    Yoon Seung masuk dan mengajak Hyun Jin pergi, "Kami menemukan identitas pemilik nota yang ditemukan di tas. Tersangka tinggal di dekat Gunung Bukin. Dia tercatat pernah membeli narkotika di luar negeri dan menjualnya di sini."



    Sung Ho juga ikutan masuk, "Semua teka-teki kini terjawab. Si bedebah itu menyediakan narkotika untuk Yoo Dae Heon."

    Hyun Jin hanya diam saja. Sung Ho segera merubah bahasanya menjadi formal, lalu ia menyeret Yoon Seung untuk segera pergi. 

    Hyun Jin berpikir, tapi gak lama, ia pamitan pada Seniornya sebelum pergi.






    Yang ditangkap mereka adalah suami pemilik restoran tadi, Kim Jong Sik. 

    Si Ibu panik karena suaminya ditangkap atas tuduhan pembunuhan. Hyun Jin hanya menyaksikan dari kejauhan peristiwa penangkapan itu. 



    Kim Jong Sik ditempatkan di ruangan interogasi. Karena udah kecanduan narkoba, dia gak bisa menahannya lagi. Untung ia masih menyimpan satu suntikan disepatunya. Sayangnya saat akan menyuntikkannya Yoon Seung dan Hyun Jin datang.




    "Satu suntikan saja." Kim Jong Sik memohon.

    "Kamu ingin mati di sini?" Ancam Hyun Jin.

    "Di mana tadi? Di mana?"



    Soo Hyun mengirimkan foto mayat CEO Yoon pada Philip. Philip menjawab, "Kerja bagus. Akan kukirimkan foto berikutnya setelah dia kirim."



    Philip mengirimkan foto sebuah rumah, dimana di pagarnya ada tulisan alamatnya, "456-7, Yeonjin-dong, Gangin-gu, Seoul".


    Soo Hyun langsung pergi ke alamat itu, ia mengendarai motor.

    0 komentar

    Post a Comment