Friday, April 12, 2019

Sinopsis He Is Psychometric Episode 9 Part 1

    Sinopsis He Is Psychometric Episode 9 Part 1

    Sumber: tvN



    .:1 November 2005, Kompleks Apartemen Yeongseong:.

    An sedang bermain bersama teman-teman sekompleks, main polisi-polisi-an.

    "Penjahatnya ada di sini. Seluruh opsir, maju! Semuanya, tangkap dia!" Kata An memimpin operasi ini.



    Tak sengaja An menabrak Seong Mo. Ia langsung mengacungkan pistol mainannya.

    "Dia tampak mencurigakan."

    Dengan tanpa ekspresi Seong Mo membalas, "Serahkan jika itu asli atau menyingkirlah."



    "Tapi kamu sungguh mencurigakan. Murid seusiamu seharusnya masih di sekolah. Kenapa kamu ada di sini?"

    "Karena aku tidak sekolah."

    "Jika benar begitu, kenapa kamu punya seragam sekolah?"

    "Apa ini interogasi?"



    Seong Mo gak mau menanggapi Lee An lagi, ia menjauh. Kebetulan di dalam lift ada Jae In.


    Lee An memanggil Jae In Detektif Kim, ia menyuruh Jae In menangkap Seong Mo karena mencurigakan. Jae In menatap Seong Mo. Seong Mo bertanya, apa Jae In juga anggota tim Lee An?

    "Bukan." Jawab Jae In.

    Lee An: Tunggu apa lagi? Geledah dia, Detektif Kim.

    Jae In Namaku Yoon. Seharusnya aku Detektif Yoon, bukan Detektif Kim.

    An: Benar.



    Jae In beralih pada Seong Mo lagi yang mencurigakan. Ia heran, kenapa Seong Mo tidak ke sekolah?

    "Aku tidak berada di sekolah karena tidak bersekolah. Namun, aku mengenakan seragam sekolah agar tidak membuat ibuku cemas karena kebenarannya. Puas?"



    Pintu lift terbuka dan Seong Mo keluar duluan.

    Seong Mo masih susah jalan, agak pincang dia.


    Jae In dan Lee An menatap Seong Mo. Jae In mengatakan kalau Seong Mo itu mencurigakan, "Sepertinya kakinya terluka, tapi dia berjalan seperti itu setiap hari saat cuacanya dingin."

    "Kamu mengenal dia?" Tanya Lee An.

    "Tidak. Kamu juga tidak mengenalku."

    "Aku kenal. Kamu Detektif Yoon. Mari bermain bersama."

    "Baiklah. Tapi, di lain waktu saja. Sekarang aku agak sibuk."


    Jae In membawa poster kebakaran yang dibuat ayahnya, ia harus menempelkannya, jadi ia pergi duluan.

    An: Kamu sudah berjanji. Jangan lupa!

    =He is Psychometric, Episode 9=




    Kembali saat Lee An akan menalikan sepatu Jae In, tapi jae In dengan refles menjauhkan kakinya.

    "Maaf. Aku refleks." Jae In menjelaskan.




    Lee An pun berdiri lagi.

    An menatap ke kejauhan, "Aku suka salju. Aku bisa menyentuhnya tanpa mengalami pembacaan dan salju tidak punya kenangan pahit. Salju juga tidak merumitkan pikiranku. Yang paling kusukai soal salju, aku tidak butuh izin untuk menyentuhnya."



    Jae In tiba-tiba mendekati An dan mengaitkan jari-jari mereka.

    Jae In: Aku ingin tahu apakah serangan mendadaknya berhasil.

    An: Aku mengetahui semua.. perasaanmu.


    Jae In akan melepaskan tangannya, tapi An malah menariknya lalu menciumnya.



    An bukan hanya melihat perasaan Jae In selama ini padanya, melainkan juga penderitaan Jae In yang selalu melarijan diri dari orang-orang, plus masa kecil Jae In saat meminta ayahnya memasang pohon natal.







    Dan An mendapat kesempatan untuk menalikan tali sepatu Jae In. An melihat saat ayah Jae In menalikan sepatunya, tapi wajah ayahnya Jae In belum kelihatan.

    An: Jangan melarikan diri lagi atau menangis sendirian. Aku akan membaca semua masa lalu yang berusaha kamu hindari.

    Jae In: Kamu melihat semuanya? Semua tentang aku?



    An: Hanya sekilas. Aku hanya melihat.. sebagian ingatanmu, tapi aku merasakan emosimu. Selama ini aku ingin tahu alasan aku hanya bisa melihat ingatan masa lalu. Melihat masa depan pasti lebih baik. Aku bisa mencegah terjadinya bencana dan menghindari kejadian nahas. Aku bisa menang lotre dan jadi orang kaya. Aku akhirnya tahu kenapa aku diberi kemampuan untuk melihat masa lalu. Kirimlah semua.. ingatan burukmu kepadaku. Aku tidak bisa membawamu ke masa lalu agar bisa memulai dari awal, tapi mulai sekarang, aku akan memberimu kenangan indah saja.



    Selanjutnya, An mengantar Jae In pulang. Seong Mo mengawasi mereka ternyata.



    Sementara itu, Ji Soo minum-minum dengan Dr. Hong. Ji Soo minum terus-terusan tanpa makan sampai Dr. Hong harus memperingatkannya.

    "Bukankah sudah kubilang aku sakit parah saat masih kecil?" Tanya Ji Soo.

    "Sakit? Bagaimana?"

    "Jantungku berdebar kencang tanpa alasan saat aku masih bayi."

    "Takikardi supraventrikular paroksismal?"

    Ji Soo mengangguk.

    "Aku tidak menyangka. Kamu tampak sangat sehat."

    "Tidak lama setelah sembuh, aku pergi ke panti asuhan tempat An berada."

    "Panti asuhan? Ah.. Orang tuanya juga meninggal dalam kecelakaan Apartemen Yeongseong."


    Ji Soo menjelaskan, "Ayahnya An adalah junior ayahku. Karena tidak bisa mengadopsi An dan merasa gelisah, ayahku sering mengunjunginya. Di situlah aku bertemu dengan Kang Seong Mo."

    Kilas Balik..



    Saat Ji Soo bersama anak-anak yang lain bermain bola, An dan Seong Mo hanya duduk mengawasi.



    Ji Soo mendekati mereka. Pertama ia tanya ke An, kenapa gak ikut main bola?

    "Tidak. Aku tidak suka menyentuh orang."


    "Kamu?" Ji Soo beralih ke Seong Mo.

    "Sepak bola tidak menarik bagiku."

    "Apa yang menarik bagimu?"

    "Tidak ada. Tidak ada yang seru."



    Ji Soo mengacak-acak rambut An sambil bilang kalau kakaknya AN ini sangat aneh. An sontak menjauhkan tangan Ji Soo dengan kesal, "Sudah kubllang aku tidak suka menyentuh orang."

    "Baiklah. Kamu lebih aneh lagi."

    "Noona. Apa kamu kamu diopname dalam waktu lama? Kamu menjalani banyak operasi?"

    "Bagaimana kamu tahu? Ayahku memberitahumu?"



    An bicara ke Seong Mo kalau ia melihatnya lagi. Seong Moseperti mencegahnya mengatakan itu lagi. Lee An menghela nafas lalu menjauh dari keduanya.



    Ji Soo memanggil, tapi An tidak memperdulikannya. Seong Mo tanya ke Ji Soo, aoa Ji Soo bisa selalu menjaga Lee An?

    "Jika kamu kemari karena kasihan atau penasaran, berhentilah. Sampaikan itu juga kepada ayahmu. Sebaiknya dia menghabiskan waktu untuk menyelidiki kebakaran Apartemen Yeongsang lagi." Lanjut Seong Mo lalu menyusul An.

    Kilas Balik Selesai..




    Ji Soo melanjutkan ceritanya, "Sejak awal Seong Moo berpikir ada yang salah dengan kasus itu."

    "Apa itu alasannya menjadi jaksa? Tunggu, jangan bilang kamu menjadi polisi untuk menyelidiki kasus itu?"

    "Aku kebalikannya. Aku ingin membuktikan ayahku tidak salah. Itu kasus pertama yang kuperiksa setelah menjadi polisi. Aku tidak menemukan hal mencurigakan."

    "Tanpa adanya mayat dan semua bukti dihancurkan, bagaimana kamu mengetahui kebenaran hanya dengan kertas? Dokumen selalu bisa direkayasa."

    "Kamu juga.. berpikir begitu?"

    "Apartemen Yeongseong, Panti Wreda Hanmin, Kim Gab Yong. Mungkinkah itu kebetulan hingga korban meninggal dengan cara serupa?"

    "Itulah sebabnya aku takut.. bahwa Ayah salah. Bahwa ada rahasia yang tidak kuketahui."



    An melihat pohon natal dengan bintang ada di puncaknya, ia langsung ingat Jae In.



    Ji Soo mabuk berat sampai Dr. Hong harus membopongnya naik taksi. Dr. Hong menyuruh Ji Soo menghubunginya kalau udah sampai rumah.

    "Baiklah. Tapi, cara bicaramu seperti kekasih. Jika bereinkarnasi, aku akan memacarimu, Dokter Hong!"

    "Menyebalkan."

    Dr. Hong menyuruh pak supir segera berangkat.



    Seong Mo meminta salinan CCTV pada petugas, setelah sampai rumah, ia langsung melihatnya. Itu adalah CCTV yang pernah ia pandangi waktu itu yang ada pintu khusus staf. 




    Seong Mo melihat pria mencurigakan masuk ke pintu khusus staf. Ia terus mengawasi sampai pria itu keluar dari sana. Pakaiannya berubah saat keluar. DIa pria misterius itu.


    Dr. Hong melihat kembali laporan autopsi Kebakaran Apartemen Yeongseong tahun 2005, melihat miliknya ibunya Seong Mo.

    0 komentar

    Post a Comment