Friday, April 12, 2019

Sinopsis He Is Psychomretric Episode 7 Part 2

    Sinopsis He Is Psychomretric Episode 7 Part 2

    Sumber: tvN


      
    Jae In di dekati anak kecil yang menyodorkan permen.

    "Ini untukku?" Tanya Jae In dan anak itu mengangguk. Jae In pun menerimanya lalu anak itu memeluknya sebelum pergi.



    Ketemu anak lain lagi, Jae In juga mendapatkan jajan dan palukan. Jae In mengikuti pergianya anak itu.


      
    Termyata kedua anak tadi yang memerintah adalah Lee An. An memberikan hadiah permen karena mereka sudah membantu.

    "Yang ini, berikan kepada gadis tercantik di lorong. Paham? Saat ini dia sangat bersedih. Satu pelukan pasti menyenangkan. Jangan lakukan jika kamu tidak mau. Paham?" Kata An setelah memberikan satu permen lagi.

    "Hyeong bisa memeluknya sendiri."

    "Aku meminta bantuan kalian karena tidak bisa melakukannya."

    "Bolehkah aku hanya makan kedua lolipop seperti Hyeong?"

    "Nanti semua gigimu akan habis. Pernah periksa ke dokter gigi? Tempat itu akan membuatmu sadar bahwa pediatri sangat menyenangkan."


    Jae In memergoki Lee An. Ia berkata kalau ia juga tidak suka dokter gigi.

    "Kamu datang." kata An.

    "Ayo pulang." Ajak Jae In.

    An membagikan semua permennya lalu pamitan.



    Hati-hati An bertanya, "Ayahmu baik-baik saja? Aku hanya melihat kamu mengatakan "ayah". Hanya itu."

    "Dia baik-baik saja. Dan.. terima kasih."


    An mencoba mengalihkan pembicaraan "Bagaimanapun, kita membahas teori dan aplikasi di hari pertama kita."

    Jae In hanya tersenyum.

    Jae In sebenarnya ingin menanyakan satu hal, Bagian mana yang An sentuh agar bisa membaca paling jelas?

    "Apa? Kurasa bagian tangan. Sepertinya karena ujung jari kita paling sensitif."

    "Kulit sensitif? Rupanya soal indera peraba."

    "Bukankah kita pernah membahas ini?"

    "Tidak. Ini kali pertama. Kalau begitu, bagian tubuh mana yang paling sensitif untuk disentuh?"


    AN baru ingat, mereka membicarakannya di mimpi An, waktu itu Jae In menciumnya karena merasa bagian paling sensitif adalah di bibir.



    An berkata, "Bagian tubuh yang paling sensitif adalah.. bibir."

    Bersamaan dengan An mengucapkan bibir, Jae In mengucapkan telunjuk.

    An langsung mengubah perkataanya, "Benar. Pasti telunjuk."

    "Apa yang kamu pikirkan?"

    "Benar. Apa yang kupikirkan? Pasti itulah alasan E.T. berkomunikasi dengan telunjuk. Aku permisi. Sampai jumpa."

    An langsung kabur.

    "Hati-hati di jalan." Teriak Jae In.



    An menghubungi Seong Mo yang sedang berdiri di jembatan.

    "Hyeong sudah selesai bicara dengan Ji Soo Noona? Hyeong akan pulang larut lagi?"

    "Jangan menungguku dan tidurlah dahulu."

    "Hari ini aku pingsan. Hyeong tidak mencemaskan aku? Jangan membuatku merasa seperti istri yang menunggu suaminya."

    "Kamu bukan istriku."

    "Tetap saja, Hyeong membuatku menunggu. Pulanglah hari ini atau aku tidak akan memaafkan Hyeong."

    An menutup telfon.



    An akan menggunakan kartu untuk membuka pintu, lalu ia ingat nasehat Seong Mo mengenai dirinya yang secara naluri menghindari jontak fisik makanya kemampuannya tak meningkat.

    "Sekalipun kamu tidak suka mendapat penglihatan, jika ingin mengalahkan kejahatan, jangan menghindari menyentuh benda." Kata Seong Mo waktu itu.



    An mengerti, ia pun memencet nomor sandi pintu, tapi ia malah mendapat penglihatan saat pria misterius itu masuk ke rumah mereka. 




    Lee An pelan-pelan masuk ke dalam. Ia masuk ke kamarnya Seong Mo, tapi masih rapi. Kemudian memeriksa ruangan lain dan masih rapi semua.

    An masuk kamarnya dan menemukan anjingnya ada di kolong tempat tidur. AN buru-buru menggendongnya.

    "Tidak apa-apa. Kamu takut?"



    An turun untuk bertanya pada penjaga. Kata penjaga sekitar pukul 19:00 ada keluhan dari tetangga karena anjing An menyalak sangat keras.

    "Pukul 19.00?" Tanya An memastikan.

    "Ya. Ada barangmu yang dicuri?"



    Tiba-tiba Seong Mo datang dan meminta untuk melihat rekaman CCTV.

    "Setahuku, CCTV berhenti merekam karena ada pekerjaan pemeliharaan pada waktu itu." Jawab pak penjaga.

    "Pemeliharaan CCTV?"

    "Ya."

    "Apa jadwalnya hari ini?"

    "Tidak. Ada laporan mendadak soal kerusakannya."

    "Begitu rupanya."




    An yakin pelakunya adalah pria itu. Ia sudah memeriksa semua tempat tapi tidak ada yang hilang sampai ia melihat bingkai foto Seong Mo dan ibunya kosong.

    "Ada yang hilang. Dia mengambil foto Hyeong?" Tanya An.

    "Ya."

    "Hyeong mengenal dia?"

    "Tidak."

    "Tapi dia mengambil fotomu. Hyeong tetap tidak mengenal dia?"

    Seong Mo hanya menatap An.


    Jae In tak lekas masuk tadi, ia melamunkan ayahnya.



    Imo keluar menghampiri, tanya kenapa Jae In tidak masuk?

    "Kamu baik-baik saja? Kamu kesulitan? Jangan cemas". Jangan mengucapkan kata-kata penghiburan itu. Aku terlalu sering mendengarnya dari Imo."

    "Kamu sudah makan malam?"

    "Aku lebih sering mendengar itu."

    "Ayo masuk."


    Jae In menurut, tapi tiba-tiba ia melihat kebelakang.


    Seung Mo tanya ke An, ingat gak waktu hari ia pertama meninggalkan An?

    Kilas Balik..




    An memeluk Seong Mo sambil membawakan mainan yang ia siapkan, katanya ia merindukan Seong Mo.

    "Kamu giat belajar?" Tanya Seong Mo.

    "Ya."

    "An. Sepertinya untuk sementara waktu, aku tidak bisa menemuimu."

    "Kenapa?"

    "Aku harus pergi jauh untuk studiku."

    "Aku tidak boleh ikut?"

    "Maaf."



    "Kenapa Hyeong minta maaf? Hyeong akan menjemputku, bukan?"

    Seong Mo tidak menjawab, malah mulai berjalan. An menahan dengan memegang tangannya, tapi Seong Mo melepaskannya.

    Kilas Balik selesai..



    Seong Mo saat itu tidak berniat kembali ke Korea. Tidak akan pernah.

    "Kenapa?" Tanya An.

    "Hyeong melarikan diri dari dia? Lantas, kenapa Hyeong kembali?"



    Akhirnya wajah orang itu diperlihatkan juga.

     


    Seong Mo menjawab An, "Karena.. sudah saatnya untuk mencari dia. Aku akan mencari dia.. dan membunuhnya."




    Oh.. ternyata Ji Soo datang makanya tadi Jae In menoleh kebelakang. Jae In membawa Ji Soo masuk ke kantor.

    "Kantor ini bagus dan nyaman."

    "Aku akan menyiapkan minuman."

    "Kamu tinggal dengan siapa? Kudengar kamu tinggal di gedung ini."

    "Bersama bibiku."

    "Kamu ingin menjadi bagian unit Kejahatan Kekerasan?"

    "Ya."




    Sambil Jae In menyiapkan minuman, Ji Soo mengajaknya bicara.

    Ji Soo: Kang Geomsa memberitahuku soal ayahmu. Bisakah kamu menceritakan kejadian pada hari itu? Semua yang kamu ingat.

    Ji Soo: Pembakaran dan pembunuhan Apartemen Yeongseong diselidiki oleh ayahku yang kini menjadi komisaris polisi. Dia bilang sudah memeriksa setiap sudut, tapi kita tidak pernah tahu.

    Jae In: Aku tidak punya bukti pasti yang bisa membebaskan ayahku sebagai pelaku. Hanya saja, aku tidak memahami bukti yang menyatakan bahwa ayahku adalah pembunuhnya.

    Ji Soo: Bukti? Seragamnya yang berlumuran darah?

    Jae In: Benar. Seingatku, ayahku menaruh seragamnya di bahuku pada hari itu.

    Ji Soo: Dia memberikannya kepadamu?

    Jae In: Ya. Karena masih terlalu kecil, aku bisa saja hanya membayangkannya. Aku tidak ingat apakah itu benar.

    Ji Soo: Jika pikiranmu mengarang ingatan itu...

    Jae In: Maka, ayahku pelaku sesungguhnya. Namun, jika ingatanku benar, aku akan mencari orang yang mengambil seragam ayahku dariku.

    Ji Soo: Rupanya itu alasanmu menyuruh An membaca ingatanmu soal hari itu.

    Jae In: Ya.


    Paginya, An kembali melihat bingkai foto kosong itu, ia agak mengerti kenapa Seong Mo ingin minta bantuannya.



    An masuk ke kamar Seong Mo, ia berjanji akan mencari tahu siapapun orang itu.


    Jae In olah raga pagi ini.


    An ke parkiran, bertanya-tanya, dimana ia memarkirkan mobilnya? Dan ia baru sadar kalau ia gak punya mobil.



    An tersenyum, ia melemaskan kaki untuk lari, tapi Dae Bong menjemputnya. An pun langsung masuk mobil.


    Jae In selesai olah raga, katanya dengan berlari bisa menenangkan pikirannya.



    So Hyeon sampai di tempat kerja dan ia menemukan dompet di depan pintu TK.

    0 komentar

    Post a Comment