Sinopsis He Is Psychometric Episode 15 Part 3

Sinopsis He Is Psychometric Episode 15 Part 3



Sumber: tvN




Ayah marah pada Soo Hyeon, "Apa maksudmu?!!!"

"Ayah memberi tahu polisi bahwa penjaga keamanan menutupiku dengan jaketnya. Apa ingatan itu benar?"

"Tentu saja."

"Saat itu pikiran Ayah kacau. Tempat itu penuh asap dan kita tidak bisa melihat ke depan. Ayah bilang melihatnya dengan jelas?"

"Kenapa baru bertanya sekarang?"

"Ayah tidak melihat berita?! Mereka bilang pelakunya bukan ayahnya Jae In. Mereka bilang ada tersangka lain."

"Sial. Aku muak dengan semua ini. Astaga."

Kilas Balik...




Saat kebakaran itu, Ayahnya Jae In memberitahu arah jalan keluar pada Ayahnya Soo Hyeon yang saat itu memeluk Soo Hyeon. 

Saat itu ayahnya Soo Hyeon mengambil jaket penjaga keamanan yang ada di lantai.

Kilas Balik Selesai...



Soo Hyeon: Ayah mengambilnya dari lantai koridor?

Ayah: Label namanya tertulis "Yoon Tae Ha" dan ada darah di mana-mana. Wajar ayah mengira dia pelakunya!

Soo Hyeon: Bagaimana Ayah bisa.. mengatakan penjaga itu yang memberiku jaket?

Ayah: Bukan hanya ayah yang menuduh dia! Sebagian besar penghuni mengaku mengira dia yang membakar gedung. Meski kemudian, muncul cerita lain.



Soo Hyeon memberitahukan hal itu pada Jae In dan An.

Jae In: Cerita lain?

Soo Hyeon: Setelah semuanya beres dan kasusnya ditutup, para penghuni bilang bahwa ayahmu tidak selalu berada di lantai 7. Dia mulai dari lantai atap dan menyuruh semua orang turun. Selain itu, masalah terbesar adalah alat penyiramnya tidak berfungsi. Rumornya, ketua masyarakat wanita disuap oleh perusahaan konstruksi.

Jae In: Bisakah kau memberiku nomor orang-orang yang mengatakan itu?

Soo Hyeon: Ayahku membantuku mencari tahu.

Jae In: Terima kasih, Soo Hyeon-ah.

Soo Hyeon: Jangan berterima kasih. Seharusnya aku minta maaf padamu. Nanti kutelepon lagi.

Jae In: Baiklah.



Ibu dan Seong Mo berkendara.

Ibu: Di hari.. kita berpiknik untuk kali pertama dan yang terakhir setelah kabur dari basemen. Kau ingat? Cuacanya sama seperti hari ini.

Seong Mo: Benar.

Ibu: Untuk bersikap seakan-akan tidak terjadi apa pun, berusaha melupakan semuanya dan menjalani kehidupan biasa, makan gimbap seperti keluarga lain, dan berfoto. Itulah sebabnya kita pergi.

Seong Mo: Ibu selalu menangis sambil melihat hewan yang dikurung. Aku tidak mengerti alasan Ibu menangis atau cara menghibur Ibu. Siapa pun pasti berkata.. kita sama sekali tidak tampak biasa. Bukan kita.




Ibu: Kau.. menghibur ibu. Kau menggenggam erat tangan ibu.

Seong Mo: Mau kuberi cerita lucu?

Ibu: Cerita lucu?

Seong Mo: Ibu tahu isi Pasal 10 dalam Konstitusi Korea?

Ibu: Apa ini lelucon?

Seong Mo: Bisa dibilang begitu.

Ibu: Ibu tidak tahu. Apa isinya?

Seong Mo: Konstitusi Korea menyatakan seluruh rakyatnya.. memiliki martabat dan nilai sebagai manusia dan hak untuk mencari kebahagiaan. Negeri ini menegaskan hak asasi manusia yang tidak bisa diganggu gugat dan berkewajiban untuk menjaminnya. Lucu, bukan?

Ibu: Ya.


Kedua Detektif masih mengikuti mereka. Mereka menuju kota Kimyoung.

Detektif Kim, "Mereka pergi jauh. Mereka mau ke mana?"

"Mereka tidak akan kabur, bukan?"

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun kabur lagi dariku."




Kedua Detektif masih mengikuti mereka. Mereka menuju kota Kimyoung.

Detektif Kim, "Mereka pergi jauh. Mereka mau ke mana?"

"Mereka tidak akan kabur, bukan?"

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun kabur lagi dariku."



Letnan Nam mendapat telepon, ia menjawab ia mengerti lalu menutup telepon. Selanjutnya, Letnan Nam menghubungi Jae In, menanyakan dimana lokasi Jae In sekarang.

Jae In: Kami masih mencari tempat yang dilihat oleh An.

Letnan Nam: Ada mayat muncul di Sungai Han dan sepertinya itu mayat Kang Geun Taek. Temui Dokter Hong.

Mereka langsung lari menuju mobil.


Seong Mo dan ibunya pergi ke pengadilan Daerah Kangrim untuk mengembalikan identitas ibunya Seong Mo. 

Detektif Kim: Hanya itu? Kupikir mereka ke Provinsi Gangwon untuk naik kapal. Kenapa mereka tidak keluar?

Detektif Park: Mereka ada di sana.



Ibu: Sekarang semua telah usai?

Seong Mo: Ya.

Seong Mo memberikan ponsel yang terdaftar atas namanya pada Ibu, nanti saat ibu sudah mendapat KTP, ibu bisa mengubahnya menjadi milik Ibu. 

Seong Mo: Dokumen-dokumen itu sah. Identitas Ibu akan segera kembali.



Ibu menerima ponselnya sambi nangis, "Baiklah. Berarti kau akan pergi sekarang?"

"Ibu bilang tidak akan menangis. Maka aku tidak bisa menuruti perintah Ibu."

"Baiklah. Ibu tidak akan menangis."

Seong Mo memeluk ibunya, "Jangan melihat sekeliling lagi. Lihatlah lurus ke depan. Mengerti?"

Ibu mengangguk.


Dan mereka akhirnya berpisah. Seong Mo kembali measuk ke dalam. Detektif Kim menugaskan Detektif Park untuk mencari tahu.

Detektif Park menghentikan ibu, menanyakan tujuan kepergian Seong Mo. 

"Dia bilang ada hal yang belum dia selesaikan." Jawab Ibu.



Detektif Park pergi. Ibu masuk ke dalam mobil dan menangis sambil memanggil Seong Mo.

Detektif Kim yang melihatnya heran, kenapa Ibunya Seong Mo menangis? Lalu ia menghubungi Detektif Park, "Detektif Park, kurasa dia berusaha kabur. Cepat."


Detektif Park masuk, mencari Seong Mo dan ia seperti melihat Seong Mo sekelebat, lalu mengikutinya. 



An dan Jae In sampai di NSF. Jae In mengatakan kalau ia polisi dan akan masuk, tapi dihalangi oleh wanita yang tadi ada di ruangannya Jaksa Noh.

Wanita: Kalian agak terlambat. Kejaksaan menemukan mayatnya. Jangan ikut campur.

Jae In: Ini bukan saatnya membahas kasus siapa ini.

An mengetuk pintu dan memanggil-manggil Dokter Hong. 


Dokter Hong ternyata datang dari luar, ia mengatakan kalau An bukan polisi. 

"Aku memanggil mereka untuk membantuku." Kata Dokter Hong lalu mengajak An masuk. 

Setelah mereka masuk, Dokter Hong menutup pintu. Wanita itu kesal.



Dokter Hong: Jasadnya sudah cukup membusuk, maka mustahil mengidentifikasi dia berdasarkan penampilannya. Ada luka tembakan di lengannya. Benarkah ini Kang Geun Taek?



An memegangnya. Ia melihat wanita tadi memeriksa mayat itu dengan menyamakannya dengan poster sketsa Kang Geun Taek. 



An melihat lagi, pria itu mengerang dijalan sambil memegangi dadanya. An juga melakukan hal yang sama setelah melepaskannya. 

An: Bukan dia, tapi gelandangan yang tewas karena serangan jantung. Kurasa wanita di luar itu berusaha menjadikan pria tidak dikenal ini sebagai Kang Geun Taek.

Dokter Hong: Apa dia meremehkan aku? Baiklah, aku akan mengurusnya.

An masih memegangi dadanya yang kayaknya sakit.


Berita: Kejaksaan telah mengumumkan bahwa mayat yang mengapung di Sungai Han sore ini diduga Kang Geun Taek.



Jae In: Jadi, kejaksaan berusaha berusaha secepatnya menutup kasus ini dengan mayat palsu karena korupsi konstruksi YSS?

Letnan Nam: Situasinya makin serius.

An: Apa masalahnya? Jelas itu bukan mayat Kang Geun Taek.

Jae In: Pihak berwenang yang mengubah palsu menjadi asli. Jika kejaksaan mengumumkan ini sebagai kasus bunuh diri, fakta di balik kasus Yeongseong akan terpendam lagi.

An: Kita percayai Dokter Hong dahulu. Dia tidak akan membiarkan mereka mendapatkan keinginan dengan mudah.

Jae In: Aku punya ide.



Dokter Hong ngeye dihadapan wanita itu, "Sudah kubilang. Ini bukan mayat Kang Geun Taek. Sidik jari dan noda darahnya tidak menyatakan ini Kang Geun Taek. Penyebab kematiannya serangan jantung, bukan tenggelam. Selain itu, luka tembak ini dibuat setelah dia mati. Lihat? Bekas lukanya kering dan berubah seperti kulit karena dibuat setelah kematian."

"Ini sudah diputuskan oleh manajemen atas. Ini kasus bunuh diri. Tanda tangani saja."

"Huh? Kau menyuruhku bungkam dan langsung menandatanganinya?"




Wanita itu membukakan tutup bolpoin dan memaksa Dokter Hong memegangnya beserta dokumennya. Dokter Hong meletakkan dokumennya.

"Menggelikan. Aku hanya melihat ini dalam film, tapi sepertinya kau tidak begitu. Kau sering melakukan ini?"

"Tanda tangani jika kau ingin tetap bekerja."

"Kau tidak malu pada diri sendiri? Ini akan berakhir tanpa masalah jika kita memeriksa bahwa Kang Eun Joo tidak mati dalam kasus Apartemen Yeongseong. Bukan hanya kalian yang salah, tapi kami juga. Kau tahu itu?"

"Jaga ucapanmu. Apa yang membuatmu bertingkah seperti ini?"

"Aku melakukan pekerjaan ini hanya karena rasa kewajiban. Jika kau mengacaukannya, aku tidak perlu tetap di sini."

"Berhentilah jika mau. Ada banyak orang yang bersedia menandatanganinya."



Wanita itu membawa Dokumen itu dan melangkah pergi. Tapi ia berhenti saat DOkter Hong mengangkat telepon dari Jae In. 

"Ya, Opsir Yoon. Maaf aku teralihkan selagi bertelepon. Kau mendengar semuanya? Kau bahkan merekamnya? Benar, situasinya menjadi curang. Tetaplah fokus dan temukan Kang Geun Taek yang asli. Sampai jumpa."



Dokter Hong menegaskan, "Kita lihat siapa yang akan kehilangan pekerjaan lebih dahulu."

Wanita itu pergi dengan kesal.




Jae In, An, Letnan Nam, dan Detektif Lee mendengarkan rekaman percakapan DOkter Hong dan Wanita tadi. 

Jae In: Bukti sudah didapatkan.

Letnan Nam: Itu baru anak buahku.

An: Pengadilan akan menyetujui ini sebagai bukti? Kudengar rekaman rahasia tidak bisa menjadi bukti.

Jae In: Mengikat secara hukum atau tidak, kejaksaan tidak akan bisa melanjutkan rencana mayat palsu mereka jika tahu kita punya bukti seperti ini.


Letnan Nam mendapat telepon dari Detektif Kim yang mengabari kalau mereka kehilangan Seong Mo. 



Seong Mo menerima telepon dari Jaksa Noh.

"Kang Seong Mo, di mana kau? Sebaiknya kau menyerah jika akan mengancamku dengan buku besar."

"Aku tidak akan bersepakat atau mengancam."

"Bersepakat? Baiklah. Apa maumu?"



Detektif Lee mendapatkan lokasi terakhir Seong Mo dari hasil melacak ponsel Seong Mo. Yoosu 2-ro, Doyeon-dong, Seoul. Jae In mencatatnya.

Letnan Nam: Dia berbicara dengan Jaksa Penuntut Umum? Apa dia berusaha menutupi pembunuhan terhadap Kang Geun Taek sebagai ganti buku besarnya?



Jae In: Tunggu. Doyeon-dong? Itu di dekat tempat yang kau lihat.

An: Hyeong-i kembali ke tempat Kang Geun Taek berada.

Letnan Nam: Lacak tempat-tempat yang dilihat An. Detektif Lee, mari memeriksa daerah dengan pasukan polisi. Kita akan mencari rumah kosong atau gedung yang terbengkalai.

Detektif Lee: Baik.

Jae In: Letnan Nam, gedungnya harus lebih tinggi dari 5 lantai.

Letnan Nam: Baik.

Semuanya bergerak dan Letnan Nam memberikan Jae In pistol.



Letnan Nam: Opsir Yoon. Kau sudah lupa? Kau mengejar dua tersangka pembunuhan. Jika mendapat informasi jelas, pokoknya hubungi kami lebih dahulu. Jangan bertindak sendiri atau aku tidak akan membiarkannya.

Jae In: Baik.

Mereka bergerak. 



An tiba-tiba menghentikan mobil karena dadanya. 

"Ada apa?" Tanya Jae In khawatir. 

"Entahlah. Mendadak.. jantungku sakit."

"Jantung? Mungkin karena tadi kau menyentuh mayat itu. Kau bilang gelandangan itu mati karena serangan jantung."

"Itu hanya sebentar."

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sinopsis He Is Psychometric Episode 15 Part 3"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Baca Juga: