Friday, March 29, 2019

Sinopsis He Is Psychometric Episode 6 Part 3

    Sinopsis He Is Psychometric Episode 6 Part 3

    Sumber: tvN




    Seong Mo sedang melakukan siaran langsung di sebuah acara berita sekarang ini. Ia gak sendirian, melainkan bersama seorang pewarta.

    Pewarta: Anda pasti ingat laporan kami terkait mayat di dalam koper hitam yang ditemukan di sungai Seoheun-dong. Meski sudah mengidentifikasi mayatnya, kami belum bisa menemukan keluarganya.

    Seong Mo: Benar. Wanita ini diperkirakan meninggal 4 atau 5 tahun lalu. Sidik jarinya menunjukkan dia Kang Hee Sook, usia 59 tahun. Namun, kami tidak bisa menetapkan waktu hilangnya dan itu menghambat penyelidikan.

    Pewarta: Begitu rupanya. Agar pemirsa bisa melihat dengan jelas, bisakah Anda memperbesar fotonya?

    Seong Mo: Jika Anda tahu soal mendiang, Kang Hee Sook berusia 59 tahun atau mengenal keluarganya dan memberi kami petunjuk, itu akan sangat membantu penyelidikan kami.



    Pewarta: Baiklah. Kami sudah mencari tahu sendiri. Dua tahun lalu, mendiang Kang Hee Sook diidentifikasi sebagai orang hilang dalam kebakaran Panti Wreda Hanmin dua tahun lalu. Apa maksudnya?

    Seong Mo: Kita bersepakat bukan untuk membahas itu.

    Pewarta: Kami mendapat informasi bahwa Kang Hee Sook yang menghilang setelah kebakaran bukanlah Kang Hee Sook yang kita bicarakan. Artinya seseorang hidup dengan identitas yang diambil dari mendiang Kang Hee Sook. Bisakah Anda menjelaskan agar pemirsa mengerti?

    Seong Mo: Itu bagian penyelidikan yang tidak bisa aku ungkap. Jika Anda mengenal Kang Hee Sook berusia 59 tahun yang meninggal 4 atau 5 tahun lalu, mohon hubungi kami.


    Seong Mo langsung meninggalkan studio.


    Jae In, Petugas Nam dan Imo menonton acara itu dan mereka cuma bisa melongo melihat kelakuan Seong Mo.

    Petugas Nam: Bukankah seharusnya dia tidak pergi begitu saja? Itu kekacauan besar.

    Imo: Tidak pantas pergi begitu saja, tapi dia sangat karismatik. Ahjussi Sponsor.

    Jae In: Berhentilah mengatakan itu.

    Imo: Kenapa?



    Petugas Nam: Kenapa dia dipanggil Ahjussi Sponsor? Dia terlalu muda untuk dipanggil begitu.

    Imo: Kau memanggilku "Imo-nim" terdengar lebih tidak wajar dan aneh.

    Petugas Nam: Lantas harus kupanggil apa? "Sook Ja-ssi" akan memalukan.

    Imo: Panggil saja aku "Bu Guru". Semua orang di lingkungan ini memanggilku "Guru Menyanyi". Kau belum dengar?

    Petugas Nam: "Bu Guru"? Kau kemari sambil menangis karena ditipu. Celakmu sangat berlepotan dan kupikir Kau tokoh film horror.

    Imo memukuli Petugas Nam karena sudah mengatakan rahasianya di depan Jae In, "Berani sekali Kau mengatakan itu di depan Opsir Yoon. Kau gila, ya?"



    Jae In: Apa maksudnya? Kalian berteman?

    Imo: Kami tidak berteman. Kami hanya berpapasan beberapa kali.

    Imo gak mau ditanya-tanya lagi, ia segera mengemas wadah makannya dan bersiap pergi. 

    Petugas Nam terus saja menggodanya.


    Bahkan mengikuti Imo sampai keluar. Bertepatan dengan itu An masuk. Untuk menghindari kotak kulit, An mengangkat tangannya.



    Jae In gak suka melihat An disana, "Kenapa Kau kemari?"

    "Sebentar lagi Kau pulang."




    Setelah ganti baju, Jae In memeriksa catatan An.

    "Apa ini? "Penyelidikan, Penelitian, dan Pemahaman - Pemikiran. "Kenapa penulis memakai huruf Mandarin?""

    "Ada banyak sekali. Aku tidak bisa membacanya."

    "Astaga. "Scene of a Crime - Pemikiran". "Adegan pembunuhan penembakan itu cukup berkesan. Akankah hal semacam ini terjadi di Korea sekali dalam seumur hidup?" - "Mengutip Yoon Jae In"?"

    "Pembunuhan dengan pistol di Korea hampir sama dengan pembunuhan di ruang tertutup."

    "Kau ingin belajar atau tidak?"

    "Aku akan menunjukkan adegan sesungguhnya. Bagaimana rasanya memahami dan meneliti penyelidikan. Ikuti aku."



    An mengajak jae In ke ruang otopsi.


    Ji Soo: Kupikir pasti menyenangkan jika mengajakmu kemari.

    Jae In: Terima kasih.

    An: Tentu dia harus ada di sini. Kami berdua sangat terlibat dalam kasus ini. Benar, bukan?



    Ji Soo mengeluarkan kantong jenazahnya dan membukanya di bagian kepala. An agak menutup hidungnya.

    Ji Soo: Sebenarnya, aku tidak berharap banyak darinya. Aku mengajak An kemari sekitar sepuluh kali. Semuanya gagal.

    An: Detektif Eun?

    Ji Soo: Kau tahu hal pertama yang dia baca? Ukuran bra...

    An: Noona! Jangan.

    Ji Soo: Tapi, ternyata itu petunjuk yang sangat penting. Pakaian dalam yang dilihat An dalam pembacaannya adalah milik para wanita yang meninggal di kamar. Peniru Kang Hee membawanya.





    An: Apa maksud Noona?

    Ji Soo: Wanita bercincin. Wanita yang Kau lihat dalam pembacaanmu dua tahun lalu. Kang Hee Sook palsu.

    An: Kang Hee Sook palsu?

    Jae In: Tadi aku melihat berita. Seseorang dianggap mengambil identitasnya.

    Ji Soo: Ya. Wanita yang dilihat An dalam pembacaannya telah mencuri identitas.. mendiang wanita ini. Jaksa Kang memintamu berlatih, lalu memanfaatkan Kau. Sekarang aku butuh sesuatu dan sudah tidak sabar. Siapa yang membunuh dia dan kenapa mereka harus memakai identitasnya?

    An: Baiklah. Aku tidak paham ucapan Noona, tapi aku cukup melihatnya, bukan?



    An bersiap menyentuh mayatnya, tapi Jae In menahan tangannya.




    Jae In: Aku tidak setuju dengan metode Anda.

    Ji Soo: Apa?

    Jae In: An mungkin bisa membaca dan mengetahui informasi soal dia. Bagaimana dia dibunuh atau mungkin An akan melihat dia saat masih hidup. Tapi dia akan sangat bingung dan tidak memahami penglihatannya.

    Ji Soo: Lantas?

    An: Lantas, apa? Kita harus menunggu 10.000 jam dahulu? Aku tidak sabar.

    Jae In: Tunggu.

    Jae In meminta Ji Soo menunjukkan berkas kasus yang dipunyai sejauh ini. 

    Ji Soo: Apa?

    Jae In: Aku tahu ini kesempatan langka bagi kami berdua. Jadi, jika Anda memberi kami satu jam saja, aku akan membantu An memahami kasus ini. Maka dia akan bisa melihat lebih banyak. 

    Jae In pada An, "Jangan cemas. Percayalah padaku."

    Ji Soo: Baiklah. Aku paham maksudmu. Aku akan mengambil berkasnya. Tunggu di sini.


    Di luar, Ji Soo memuji Jae In, "Cukup bagus, Yoon Jae In."



    Jae In percaya diri banget tadi bicaranya, tapi saat Ji Soo udah pergi, ia terduduk lemas.

    "Kau melihat aku gemetar? Kinerjaku bagus?" Tanya Jae In.

    "Ya. Kau luar biasa, Yoon Jae In."




    Jae In berdiri lagi. Ia menjelaskan kalau An salah mengiranya, ia juga gak ngerti sama sekali apa yang Ji Soo katakan tadi.  

    "Apa?"

    "Kita tidak bisa menyentuh mayat ini, lalu pergi begitu saja. Ini kesempatan besar. Ini bisa jadi kesempatan terakhirku untuk pindah ke Kejahatan Kekerasan. Aku akan memakaimu untuk menyelidiki sebanyak mungkin soal kasus ini.." Sadar seudah keceplosan, Jae In pun berhenti dan menatap An.

    "Begitu rupanya. Kau akan melatihku dan pindah ke Kejahatan Kekerasan."

    "Lebih seperti..."

    "Kalau begitu, di sini ada dua petunjuk yang bisa memindahkanmu?"

    "Aku terbiasa pamer. Aku bicara tanpa berpikir."

    "Baiklah. Belum terlambat untuk mulai berpikir sekarang."


    An: Siapa orang ini.. dan kenapa dia harus terbaring di sini? Mari melakukannya. Bersama-sama.




    Ji Soo gak sengaja bertemu dengan Seong Mo di lift. Ia agak kaget karena kepergok membawa berkas kasus.

    "Sedang apa Kau di sini?" Tanya Ji Soo.

    "Untuk memeriksa sketsa Kang Hee Sook palsu."

    Lalu Ji Soo masuk dan pintu lift tertutup.


    Ji Soo agak ngeluh, kenapa mereka memberitahu Seong Mo lebih dulu? Harusnya kan memberitahunya dulu. 

    Seong Mo tidak menyahut, kemudian Ji Soo membicarakan Seong Mo yang masuk TV, "Aku melihatmu di TV. Kau membuat penampilan sendiri. Kau tampak hebat di TV. Kau membuang benda dan akhirnya pergi. Luar biasa. Ada yang membocorkan informasi. Beri tahu kolegamu untuk lebih berhati-hati."

    "Informasi itu bukan dari polisi. Kau tahu betapa telitinya aku. Kau harus mencemaskan kejaksaan."



    Seong Mo menatap kotak yang dibawa Ji SOo, juga ID Dr Hong yang tergantung di leher Ji Soo, "Omong-omong, sedang apa Kau di sini selarut ini?"

    "Aku mendadak merindukan Dokter Hong."

    "Dokter Hong pulang kerja lebih awal."

    "Ah.."

    "Ke mana Kau mau pergi sambil membawa data penyelidikan, Detektif Teliti?"

    "Soal itu... An dan Opsir Yoon sedang berada di ruang autopsi."

    "Pasti bukan An yang meminta data darimu. Opsir Yoon yang meminta?"

    "Ya. Dia melarang An melakukan psikometri tanpa informasi."

    "Sudah kuduga."

    "Opsir Yoon, bukan?"

    "Apa maksudmu?"

    "Orang yang Kau harapkan agar An membacanya."

    "Benar."

    "Kenapa? Kenapa dia?"

    Seong Mo diam aja.

    "Sungguh tidak adil. Kau bisa memahamiku, tapi aku tidak pernah bisa kecuali Kau memberitahuku."



    Pintu Lift terbuka dan Ji Soo keluar duluan. Sementara Seong Mo menahan pintu lift yang mau tertutup lagi.

    "Ayahnya Opsir Yoon adalah.."

    Ji Soo menandang Seong Mo.

    Seong Mo melanjutkan, "Yoon Tae Ha. Pelaku dalam kasus Yeongseong. Aku akan menuju ke ruang autopsi dengan membawa sketsa."

    Pintu lift tertutup lagi. Ji Soo masih berdiri di tempatnya, ia agak syok.


    Sementara itu, Jae In dan An melihat lebih dekat mayatnya. Jae In melihat ada bekas pukulan dikepala.

    "Kurasa penyebab langsungnya adalah cedera di belakang kepalanya." Kata Jae In. 

    "Pelan-pelan saja."



    "Aku membahas penyebab kematiannya. Kepalanya pasti dipukul dan dia kehilangan banyak darah."

    "Pelakunya membunuhnya dan memasukkannya ke koper."

    "Lalu membuangnya ke sungai. Kau tidak menonton penjelasan Jaksa Kang dalam acara berita? Mayatnya ditemukan setelah 4 hingga 5 tahun setelah kematiannya."

    "Dia pasti ingin mengatakan sesuatu."

    "Apa?"



    "Dia berada di air dalam waktu lama sebelum aku menemukannya. Artinya ada yang ingin dia tunjukkan kepadaku."

    "Baiklah. Semoga Kau melihatnya dan menyombong soal itu."

    "Tentu saja. Menyombong itu kebiasaan dan menular."

    An ketawa, lalu mendekat lagi pada si mayat.





    Ji Soo masuk membawa kotak berkas. An kesal,"Kenapa lama sekali? Jangan menghitung waktu yang kami buang karena Noona. Mulai menghitung satu jam mulai sekarang."

    "Baiklah."



    An dan Jae In pun membuka kotak Ji Soo dan membaca berkasnya. Selama itu, Ji Soo menatap Jae In iba. Setelah mendengar dari Seong Mo, tatapan Ji Soo ke Jae In jadi beda. 

    Yang pertama An baca adalah penyebab kematian Kang Hee Sook. Tertulis disana "Kehilangan darah di belakang kepalanya". An senang karena tebakan Jae In tepat sasaran, mereka langsung tos. 




    Jae In: Boleh kami melihat dokumen soal kebakaran Panti Wreda Hanmin?

    Ji Soo: Apa? 

    Ji Soo Agak bengong, kemudian mengiyakan. 

    Jae In: Kudengar seseorang menyamar sebagai wanita ini dan bekerja di sana.

    An: Benar. Wanita bercincin.

    Ji Soo pun menunjukkan berkasnya, "Sketsa wanita ini sudah jadi. Jaksa Kang menuju kemari dengan membawa sketsanya.

    An: Apa? Hyeong-i?

    Ji Soo: Ya. Dia tahu Kau ada di sini.



    Jae In: Bagaimana jika dia memarahi kami karena kemari tanpa izin?

    Ji Soo: Jangan cemas. Sejak mengenalnya, aku belum pernah melihat tatapan setulus itu.



    Seong Mo bersama saksi sedang membuat stetsa wajah Kang Hee Sook. Sktetsanya bukan yang diatas ya, masih butuh disempurnakan dengan bekas ingatan dari saksi.

    0 komentar

    Post a Comment