Thursday, March 28, 2019

Sinopsis He Is Psychometric Episode 5 Part 3

    Sinopsis He Is Psychometric Episode 5 Part 3

    Sumber: tvN




    Jadi permintaan Seong Mo pada Jae In adalah untuk membantu An meningkatkan kekuatan psikometrinya. Seong Mo terkejut mendengar bahwa Seong Mo mengetahui kalau Jae In tahu mengenai kemampuan psikometrinya. 

    "Bagaimana Hyeong bisa tahu?" Tanya An. 

    Kilas Balik...



    Sebenarnya saat An menendang pot bunga 2 tahun lalu, Seong Mo belum benar-benar turun, ia mendengar percakapan mereka.

    Kilas balik selesai..



    Jae In tanya, jadi Seong Mo mendengar semuanya? Sebanyak apa yang Seong Mo dengar?

    "Aku akan menghampirimu". Sebanyak itu. Kau juga bilang akan membiarkan dia menyentuh bagian apa pun..."

    Jae In menghentikan Seong Mo karena ia malu. An sih mesem-mesem aja.

    Seong Mo: Kau tampak putus asa.

    An: Tunggu. Semua itu bagus, tapi kenapa aku butuh bantuannya untuk meningkatkan kekuatanku?

    Seong Mo: Kau boleh menolak jika mau. Namun, aku ingin kau yang membantunya.

    Jae In: Bisakah Anda memberiku waktu untuk berpikir?

    An: Aku juga butuh waktu untuk berpikir.



    Seong Mo gak mau dengar jawaban An, Biar dirinya dan Jae In yang berpikir.

    "Jika kau membantuku soal ini, aku bisa membalas jasa dengan memeriksa pemindahanmu ke unit kejahatan kekerasan." Tawar Seong Mo pada Jae In.




    Jae In kemblai ke kantor dengan wajah lesu. Petugas Nam berkomentar kalau Jae In tampak kelelahan, memangnya dari mana saja?

    Jae In tidak menjawabnya. Petugas Nam memberitahu kalau kantor pusat menelepon tentang pembunuhan koper.

    "Mereka bilang apa?" Jae In langsung tertarik. 

    "Kita harus melepas garis polisi."

    "Ah.." Jae In kecewa, "Baik."



    Imo datang membawakan makan siang untuk Jae In. Petugas Nam berkomentar kalau hari ini pakaian Imo penuh semangat.

    "Terima kasih." Jawab Imo sambil membuka bekal bawaannya.

    "Rupanya hari ini kau tidak ada kelas pagi."

    "Ya. Pusat lansia mengajak mereka untuk berkaryawisata. Bagaimana kau bisa tahu?"

    "Seorang veteran tidak pernah kehilangan kemampuannya. Aku punya firasat."



    Jae In menjelaskan, "Kotak makan ini tidak tingkat. Dia tahu karena Imo selalu memasak banyak saat tidak ada kelas pagi."

    Petugas Nam memuji Jae In, "Polwan Yoon, aku terkesan."

    Imo: Aku mengira telah keceplosan memberikan petunjuk.

    Imo mengajak Petugas Nam makan bersama mereka. Petugas Nam mau cuci tangan dulu kalau begutu dan ia nitip sesuatu untuk Imo.

    "Apa ini? Ini helai rambut?" Tanya Imo sambil menerimanya. 

    "Itu bulu hidungku." 

    Imo kesal dan langsung membuangnya, "Yang benar saja. Ada apa dengan pria itu?"

    Petugas Nam geloyor ke toilet, gak memperdulikan Imo.



    Imo nanya ke Jae In, bukannya Jae In bilang kalau petugas Nam punya istri? 

    "Mereka hidup terpisah. Istrinya berada di Kanada bersama putra mereka. Tahun pensiunnya bertepatan dengan kelulusan putranya. Jadi, dia menghitung hari."

    "Pria selalu menjadi lebih jelek jika istrinya tidak ada. Kenapa dia harus menghitung jumlah makanan yang Imo kemas? Selain itu, apa maksud bulu hidungnya yang kotor?"

    "Hentikan."

    Lalu Petugas Nam keluar, tapi Imo tetep ngomong aja.

    "Apa Imo salah? Bibi hanya mengajaknya karena berterima kasih dia mengizinkan kita tinggal di sini. Dia merasa berhak ikut makan siang bersama kita."



    Petugas Nam: Semoga aku tidak membuatmu merasa tidak nyaman. Setidaknya aku akan memakai alat makanku sendiri.

    Petugas Nam takjub melihat makanan di meja, ia memuji kalau makanan Imo makin sedap. Setelah makan sesuap pujian Petugas Nam makin tinggi.



    Disaat mengunyah, Petugas Nam tanya ke Jae In, sudah dengar beritanya?

    "Berita apa?"

    "Salah satu kolegamu menangkap pencuri terkenal serta tersangka pembunuhan dan akan menerima promosi khusus menjadi polisi senior."

    "Ya, aku sudah dengar."

    Imo: Apa itu mungkin? Kalian masih polisi dalam masa percobaan.

    Jae In: Divisi patroli itu mendapat banyak kasus.

    Imo: Berarti temanmu beruntung.

    Patugas Nam: Bukan, Polwan Yoon yang beruntung. Bergabung dalam unit kejahatan kekerasan berarti dia akan terancam saat bertugas. Tempat ini jauh lebih baik. Lingkungan ini tenang dan kita tidak harus datang pagi atau pulang larut.


    Imo menusuk paha Petugas Nam agar berhenti bicara karena ia tahu itu akan melukai Jae In, tapi Petugas Nam gak membaca sinyal itu dan terus bicara.

    Petugas Nam, "Aku pernah menghindari pisau, tapi semua itu sia-sia."

    Barulah petugas Nam berhenti saat tusukannya makin dalam, "Kenapa kau menusukku?"

    Imo mengalihkan pembicaraan, ia menyuruh Petugas Nam makan daging saja.

    Jae In kembali menunjukkan wajah sedih.



    An kembali ke sungai tempat mereka menemukan mayat. Dari jembatan, ia memandang lokasi penemuan.

    "Apa gunanya menemukan mayat jika aku tidak tahu cara melanjutkan?"



    Lalu permintaan Seong Mo pada Jae In terlintas dipirannya, hal itu menimbulkan pertanyaan, "Kenapa dia meminta agar Yoon Jae In membantuku?"

    An teringat kata-kata Seong Mo 2 tahun lalu yang diatap itu.

    Seong Mo: Dengan kemampuanmu, kau bisa melihat pisau, tapi tidak bisa melihat apakah dia menusuk seseorang atau apakah dia memegangnya untuk melindungi seseorang. Kau tidak tahu. Semua yang kau lihat hanya sebagian kecil. Jangan sombong.

    An menyimpulkan, "Rupanya Yoon Jae In akan cocok dengan bagian yang kuberikan." Dan ia tersenyum.



    Jae In pergi ke kantor polisi pusat untuk memberi selamat kepada rekannya, tak lupa ia membawa bunga.

    Jae In memang tersenyum saat mengucapkan selamat, tapi tetap saja ada rasa iri.

    Mereka kemudian berfoto bersama.


    Saat kembali ke parkiran, Jae In ngomong sendiri, "Promosi khusus? Promosi khusus untuk Kejahatan Kekerasan?"

    Jae In hanya menghela nafas.


    Kembali ke lingkungannya, Jae In masih terus bicara sendiri, "Mengumpulkan poin apa? Haruskah aku mengharapkan kasus agar bisa dipromosikan? Pola pikir apa itu?"


    Imo kembali ke rutinitasnya yaitu mengajar menyanyi.



    Jae In mengintip di depan bank. Ia melihat ada seorang pria mencurigakan lewat. Lalu ada seorang wanita keluar dari bank dengan membawa banyak uang.

    Wanita itu bertabrakan


    Wanita itu bertabrakan dengan si pria hingga uangnya bertebaran. Jae In udah siap-siap menangkap peria itu yang ia kira adalah pencopet, ia menghitung poinnya, 10.


    Tapi pria itu cuma membantu si wanita memunguti uang yang jatuh lalu permisi. Zonk.




    Lagi, Jae In melihat segerombol pria berpakaian serba hitam, ia berpikir mereka adalah preman. 

    "Kejahatan terorganisir, 20 poin." Kata Jae In menyemangati dirinya.



    Tapi saat mendekat, ia melihat semua orang mengeluarkan amplop putih bertuliskan "Uang belasungkawa". Bahkan mereka memberi hormat pada Jae In.


    Terakhir, Jae In mengira ada seorang wanita yang mau membakar rumah, poinnya 20. Ternyata cuma nyalain korek untuk menyalakan lilin ulang tahun puti mereka. 


    Jae In: Aku sudah gila. Melihat orang-orang dan memikirkan poin. Polisi macam apa kau? Ah..




    Jae In berhenti di lokasi penemuan koper. Ia baru kepikiran kalau memecahkan kasus pembunuhan poinnya 50. 



    Tiba-tiba ia melihat orang muncul dari semak-semak. Jae In waspada abis. Eh.. cuma An ternyata.



    Jae In menatap Ah, "Perampokan dan pembunuhan, 70 poin."

    An yang gak dengar Jae In ngomong apa cuma melambai senang.



    Mereka duduk berdampingan. An bertanya, apa Jae In sudah memikirkan permintaan Seong Mo? 

    "Aku masih berpikir."

    "Aku tidak berpikir. Aku ingin kau membantu."

    "Sekalipun aku bersedia, apa yang harus kulakukan?"

    "Seperti yang kau bilang, kita harus melakukan segala macam hal. Kita tidak tahu tindakan atau caranya, tapi ada alasan jelas kita harus melakukannya."

    "Alasan?"

    "Pertama kita bertemu bukan 2 tahun lalu, tapi jauh sebelumnya."

    "Benarkah?"



    Lalu An memberikan sepatu Jae In. Jae In ingat kalau itu adalah sepatunya.

    An menjelaskan, "Tidak lama setelah jadi psikometris, aku membacamu. Saat itu aku bahkan tidak tahu tindakanku. Entah kenapa, ingatan tentang kau bertahan dalam waktu lama. Jika kuingat-ingat, sepertinya aku berpikir kemampuan anehku bisa dipakai.. untuk membantu seseorang."



    "Dahulu.. aku bertemu denganmu?" Tanya Jae In gak ingat, "Kau memberiku permen?"

    "Sungguh kau tidak ingat?"

    "Sama sekali tidak."

    "Mungkin kau sudah lupa, tapi bagiku, kau klien pertama yang meminta bantuanku."

    "Klien pertamamu?"

    "Mari mencobanya. Bersama-sama."


    An mengulurkan tangannya. Sebelum menjawab tangan An, Jae In tanya dulu, "Jika aku menggenggam tanganmu, berapa banyak rahasiaku yang akan kau ketahui?"

    "Aku tidak tahu. Ingatan seseorang.. seperti lemari obat yang berantakan. Aku mengambil racun atau penawar racun, aku tidak tahu sebelum menelannya."



    Jae In masih enggan menjabat tangan An. An pun memutuskan, "Kita tidak perlu bersentuhan untuk meningkatkan kemampuanku."

    "Aku hanya belum memutuskan akan melakukannya atau tidak. Aku tidak menghindari bersentuhan denganmu."

    An tersenyum, "Baiklah. Anggap saja begitu."

    Jae In menghela nafas, "Sekalipun kita punya banyak alasan untuk melakukannya, aku tidak tahu cara membantu meningkatkan kemampuanmu atau alasan Kang Geomsa-nim ingin aku membantu."



    An tiba-tiba berdiri, "Andai menjadi aku, apa yang akan kau selidiki? Coba pikirkan. Aku akan melakukan yang harus dilakukan."

    Jae In hanya menatap An.



    An sampai di parkiran apartemennya. Saat akan masuk, ia melihat Seong Mo keluar.

    "Hyeong akan pergi lagi?"

    "Detektif Eun menunggu."

    "Ji Soo Noona? Hyeong menangani kasus itu? Mayat di dalam koper?"

    "Ah..."

    "Hyeong mengidentifikasi mayat itu. Benar, bukan?"

    Seong Mo tak menjawabnya.



    Seperti biasa, An mencari dengan caranya sendiri, ia berusaha menyentuh Seong Mo dengan brutal. 

    Sialnya mereka kepergok oleh dua orang pasangan yang kemarin, jelas salah paham mereka makin besar. An dan Seong Mo mau menjelaskan tapi keduanya buru-buru masuk.



    Seong Mo: Kami akan segera mendapatkan identitasnya. Artinya aku tidak bisa membuang waktu bersamamu. Sampai jumpa.

    Dan Seong Mo pun masuk mobil.


    An masih mengejar, "Terus kabari saksi pertama, paham? Ahjussi. Ayolah Hyeong, beri tahu aku. Ahjussi."

    Tapi Seong Mo tidak menjawabnya.


    Setelah Seong Mo pergi, An berkata sendiri, "Tunggu. Aku yang menemukan mayat itu. Aku akan tetap terlibat."


    Ia lalu mengendarai mobil Dae Bong untuk mengikuti Seong Mo.



    Saat dibelokkan, ada Truk yang tiba-tiba memotong jalannya. Truk "Jasa Pengiriman Seoheun". An sih awalnya biasa aja, tapi kemudian ia nyadar kalau truk itu mengikuti Seong Mo.




    Truk itu berhenti di depan gerbang Institut Layanan Forensik Nasional Seoul. Pengemudinya, mengawasi Seong Mo sampai turun dari mobil.


    Tak lama An berhenti dibelakang truk itu. Ia turun untuk meliht si pengemudi, tapi saat An mendekat, truk itu langsung jalan. An kembali ke mobil dan mengejarnya.

    0 komentar

    Post a Comment