Wednesday, March 27, 2019

Sinopsis He Is Psychometric Episode 5 Part 2

    Sinopsis He Is Psychometric Episode 5 Part 2

    Sumber: tvN



    An memencet sandinya dengan lesu dan terbuka. Ia masuk, anjingnya menunggu di depan pintu, ia langsung menggendongnya.

    Di meja ada kue ulang tahun. Seung Mo hanya menatapnya saja.

    "Aku sudah melarang.. mengingat ulang tahunku."

    Seung Mo tidak menjawab. An juga langsung masuk kamarnya. 


    Seung Mo merasakan sesuatu, jadi ia segera minum obatnya.



    Imo keluar dari kamarnya malam-malam dan ia mendengar Jae In kumat. Imo mendekat khawatir, "Jae In-ah, ada apa? Penyakitmu kambuh lagi?"

    Imo melihat kalender, "Hari ini kejadiannya. Astaga."


    Nafas Jae In sudah kembali sepert semula, lalu Jae In menatap lilin yang sudah nyala semuanya. 

    "Aku yakin bukan ayahku pelakunya, tapi kenapa aku tidak sanggup melalui hari ini setiap tahun Imo?" Jae In menangis.



    An membuka kotak kenanangannya, ia langsung bisa melihat masa lalu memalui benda itu.



    Sementara itu, Seung Mo melihat foto keluarganya juga keluarga Lee An saat mereka kecil. Matanya berkaca-kaca.


    Ayahnya Jae In juga mengingat hari ini, disaat teman-temannya tidur, ia terjaga dan menatap keluar jendela.



    Jae In menangis, "Tapi bagi mereka yang kehilangan keluarga pada hari itu, pasti terasa jauh lebih sulit. Mereka mungkin membenci ayahku seumur hidup."

    Imo memeluk dan menenangkannya, "Itu bukan salahmu. Bukan, Jae In-ah."



    An menyentuh barang-barang yang lain, kejadian itu jelas terlihat olehnya. An menangis.

    Malam terus berlarut disertai hujan yang mengguyur.



    Ji Soo kesal mendaat kabar kalau mayat dalam koper tidak bisa diidentifikasi dengan sidik jari. 

    Dr. Hong: Hari ini sikapmu berlebihan.

    Junior: Dia harus menikah jika gagal menangkap pelakunya.

    Ji Soo: Diam. 


    Ji Soo kembali bicara dengan Dr. Hong, "Kemarin kau terdengar menjanjikan. Kenapa itu mendadak mustahil?"

    "Awalnya tampak baik-baik saja, tapi ternyata sidik jari itu rusak parah. Aku coba mengidentifikasi dia dengan sisa informasi, tapi tidak ada yang cocok."

    "Ini memusingkan. Kau tahu ini jadi kasus beku jika mayat itu tidak teridentifikasi."

    "Tentu saja aku tahu. Beri aku waktu. Mayat itu terendam air dalam waktu lama. Aku akan mencoba metode pelembap suhu tinggi."

    "Jika itu juga gagal, aku sungguh harus menikah."

    "Kau tidak menikah sendirian. Andai benar begitu, aku sudah menikah ribuan kali. Menyingkirlah."




    Ji Soo dan juniornya menunggu di luar, sementara Dr. Hong beraksi di dalam.

    Dr. Hong memotong jari korban, lalu memasukkannya ke cairan, ia menghitung sampai 3 detik, kemudian mengeluarkannya dan memproses mencetak sidik jari. 

    "Cara mendapatkan sidik jari dengan merendamnya dalam air Bersuhu air 100 derajat Celsius selama tiga detik."


    Selanjutnya Dr. Hong memindai sidik jari itu untuk mencocokkan dengan data base.



    Dae Bong keseeeeellll banget karena mobilnya belum dikembalikan oleh An, ia pun mengirim pesan, "Aku akan membunuhmu jika tidak mengembalikan mobilku hari ini. Kita tidak akan bertemu jika mobilku tergores."

    "13 tahun lalu hari ini, aku nyaris tidak selamat dari kematian. Ini hari peringatan kematian orang tuaku. Sampai jumpa setelah aku kembali." Balasan An.

    Dae Bong tambah kesal, tapi ga bisa apa-apa, "Peringatan kematian mereka? Kau tidak akan mengembalikannya. Baiklah, terserah."




    Ada mobil datang, mirip mobilnya So Hyeon. Dae Bong langsung mendekat, tapi bukan So Hyeon pengemudinya, ia pun kecewa. 



    An sudah siap dengan pakaian serba hitam, ia mencari-cari Seung Mo, tapi kamarnya kosong. 


    An membuka sebuah kotak dan disana ada sepatunya Jae In kecil, ia membawanya.



    Saat jalan di parkiran, An melihat ada truk bertuliskan "Jasa Pengiriman Seoheun". Ia gak curiga apapun, cuma asal lihat saja.


    Ternyata pengemudi truk itu adalah si pengintai. Saat An sudah jalan, ia langsung turun.



    Si Pengintai membawa paket, ia mendaftar lalu petugas menyuruhnya masuk setelah mengisi bku tamu.




    Di depan sebuah pintu, si pengintai menatap langit-langit.

    Kemudian ia membuka paketnya. Oh ya.. ia berdiri tepat di depan apartemen nomor 614, apartemen Seung Mo-Lee An bukan ya? Aku lupa.



    Seung Mo sudah sampai di tempat dikuburkannya abu ayah dan ibunya Lee An. Ayah: Lee Jeong Rok, Ibu: Yu jin Hee.


    An datang kemudian. An tanya, kenapa Seung Mo tidak menunggunya? 

    "Aku tidak mau membangunkanmu."

    "Kau menyapa orang tuaku? Kalau begitu, aku juga."





    An meletakkan bungnaya untuk ibunya Seung Mo, Kang Eun Joo. Seung Mo hanya menatapnya.

    "Anda pasti melihat dari atas, tapi kabar Kak Seong Mo baik. Dia tidak punya keterampilan sosial, tapi andal dalam pekerjaannya. Dia canggung dalam mengekspresikan emosinya. Dia tidak punya selera humor, tapi gajinya besar dan punya rumah. Mungkin dia sudah bisa menikah."

    "Apa itu pujian?" Reaksi Seung Mo mendengar kalimat terakhir An.



    Tapi An gak memperdulikannya, ia tetap bicara dengan ibynya Seung Mo, "Anda pasti tahu dia menyelamatkan nyawaku. Dia juga yang menyadarkanku saat aku tersesat. Jadi.. mulai sekarang aku akan melindungi dia. Aku hanya peserta tes pengangguran yang belum bisa menanggung diriku sendiri, tapi pasti akan membalas rasanya hingga akhir usiaku."

    "Maksudmu "jasa"." Komentar Seung Mo lagi.


    "Benar." An langsung melihat catatannya di tangan, "Aku berusaha menghafalnya dalam perjalanan kemari."

    "Kau membuat orang tuamu menunggu terlalu lama."



    An menunduk lalu menuju ibu dan ayahnya. 

    "Aku dan orang tuaku... Kami tidak butuh kata untuk bicara."

    An hanya menyentuh pohon ayah ibunya.




    An menghela nafas, "Aku menyentuh barang milik orang tuaku, tapi tidak mendapat penglihatan."

    "Ingatan yang melekat pada mereka pasti memudar."

    "Benar. Saat akhirnya bisa mengendalikan kemampuanku, mampukah aku membaca ingatan orang tuaku?"

    "Mungkin. Aku.. akan memastikannya."


    "Psikometris pertama di Korea? Saat hari itu tiba..." Tiba-tiba An berhenti, berhenti bicara juga berhenti jalan, "Lupakan saja. Bukan apa-apa."

    Seung Mo gak memusingkannya, ia tetap lanjut jalan.

    Kilas Balik..




    Ji Soo melarang An datang ke kamar mayat lagi, menyuruh An menyerah. 

    "Akulah yang frustrasi. Aku tidak bisa mempelajari ini di buku pelajaran. Ini juga membuatku gila."

    "Mungkin kau kurang bertekad dan tekun."

    "Katakan itu pada mereka yang belajar untuk ujian negara. Cobalah, aku menantang Noona."

    "An-ah. Soal Kang Geomsa."

    "Ada apa dengannya?"

    "Kurasa.. dia butuh bantuanmu soal sesuatu."

    "Hyeong-i.. butuh bantuanku?"

    "Aku tidak yakin, tapi itulah pendapatku. Hanya dia yang tidak bisa kau baca dan artinya pikirannya tertutup. Itu pasti membuatnya kesepian. Pasti ada alasan di baliknya. Mungkin bukan hanya kau yang merasa dirinya sendirian."

    Kilas Balik selesai..


    An melamunkan itu sambil menatap punggung Seung Mo. 




    Seung Mo menyadari An tetap diam, ia pun menoleh ke belakang, "Kau sedang apa? kau tidak ikut?"

    "Tunggu. Ke mana pun Hyeong pergi, aku akan ikut." An lalu mengikuti Hyeong-nya.

    "Apa maksud kalimat hebatmu? Hyeong akan menemui Polwan Yoon."

    "Hyeong akan menemui dia? Hyeong akhirnya akan meminta bantuannya?"

    0 komentar

    Post a Comment