Wednesday, March 27, 2019

Sinopsis He Is Psychometric Episode 5 Part 1

    Sumber: tvN



    .:3 Desember 2005, pukul 18.20:.

    Seung Mo sedang belajar di kamarnya. Ia membaca pengertian mengenai CInta.

    Cinta: Kasih sayang lembut atau emosi kepedulian.

    Lalu ia menatap foto dirinya dan ibunya.

    Kembali membaca lagi, "Menghantui. Kata kerja. Mengusik atau sangat menyita pikiran..."


    Terdengar suara bel pintu dan ketukan. Seung Mo mendekati pintu dan melihat ibunya ketakutan disana. Ibu terus mundur dengan gemetar.

    "Seung Mo-ya. Bagaimana ini? Sepertinya itu dia."


    Seung Mo maju untuk mengintip siapa yang datang melalui lubang pintu. Pelan-pelan banget dianya sampai gak menimbulkan suara.


    Ternyata yang akan bertamu ketiga Ahjumma kompleks. Mereka terus mengetuk karena tadi melihat ibunya Seung Mo masuk rumah.

    "Aku ketua Masyarakat Wanita. Kita harus bicara. Unit 701, buka pintunya." Kata Ahjumma yang ditengah dengan suara keras.




    Seung Mo pun membuka pintu, tapi gak lebar, kunci pintunya buanyak.

    "Aku harus membahas sesuatu dengan ibumu. Dia ada di rumah?" Tanya Ahjumma.

    Seung Mo melihat ibunya ketakutan di pojokkan, ia pun menyuruh Ahjumma memberitahu saja kepadanya soal apa yang mau Ahjumma bicarakan. 

    "Selama ini penjaga keamanan menempel selebaran ini. kau sudah membacanya?" Ahjumma menunjukkan selebaran yang dibagikan Ayahnya Jae In. 

    "Belum." Jawab Seung Mo singkat.

    "Ibumu belum bergabung dengan Masyarakat Wanita, bukan? Ada rapat di rumahku. Mintalah dia untuk datang."

    "Baik."

    "Baiklah. Aku permisi." 


    Saat Ahjumma-Ahjumma itu pergi, Seung Mo langsung menutup pintu dengan keras. Ahjumma ngegosip kalau penghuni 701 sangat aneh dan eksentrik, sudah pindah sebulan yang lalu, tapi belum pernah melihat mereka menyapa orang.

    "Ibunya punya aura suram, sama seperti dia." Tutup Ahjumma pemimpin lalu membuka pintu rumahnya, 702.



    Di Apartemen seberang, tapi beda lantai ada orang yang memperhatikan. 

    "Aku menemukanmu." Kata Orang itu.



    Kembali ke masa sekarang.

    Seung Mo mendatangi Kantor Jae In, tapi turup. Lalu ia mendengar suara Jae In. Ia menoleh dan melihat Jae In sedang bersama Lee An.



    Jae In: Sebagai polisi, saat tersangka bersikeras tidak bersalah, aku akan memeriksa dan memeriksa kembali faktanya dan memastikan tidak ada orang lain yang menderita seperti aku dan ayahku. Meski aku tidak bisa membuktikan ayahku tidak bersalah, itu saja akan sepadan.




    Seung Mo menyela, "Kau akhirnya memikirkan hidupmu sendiri, terlepas dari ayahmu?"

    An dan Jae In baru sadar ada Seung Mo disana, 

    An. "Hyeong!"

    "Lama tidak berjumpa, Polwan Yoon Jae In." Sapa Seung Mo sambil menatap Jae In.

    Jae In menatap Seung Mo pebuh kekaguman, "Ahjussi Berkaki panjang (Pak Sponsor)."


    An bingung, Ahjussi apaan? 



    Di pertigaan deket sana ada seorang pria naik truk yang sedang memperhatikan. Pria itu kemungkinan sama dengan pria yang memperhatikan apartemen Seung Mo Desember 2005 dulu.




    An menghela nafas, "Kebetulan apa ini? Jadi, Hyeong adalah sponsornya selama tiga tahun?"

    "Ya. Pastor di panti asuhan yang menyarankannya. Aku yang menyarankan agar dia pindah ke sebelah rumah kita dan mendaftar ke sekolahmu." Jawab Seung Mo.



    Jae In minta maaf pada Seung Mo, "Maaf soal kejadian dahulu. Aku berjanji akan membayar Anda, tapi malah pergi begitu saja."

    "Jangan cemas. Sekeras apa pun kau ingin menghindarinya, aku yakin takdir akan selalu membuat kejadian tertentu terjadi dan orang tertentu bertemu."

    "Sejak kapan?" An heran sendiri.



    Seung Mo melanjutkan, "Sejak aku menonton "Comrades"."

    An mengernyitkan dahi karena candaan Seung Mo yang gak lucu itu. 

    Seung Mo: Jadi, alih-alih menghindari orang yang tetap akan kau temui, kau harus memikirkan cara mengatasinya.

    Jae In: Apa?

    An: Itu adalah cara rumitnya untuk melarangmu kabur lagi.


    Jae In lalu minta nomornya Seung Mo karena bibinya ingin mengundang makan malam. Seung Mo langsung memberikannya. An meminta Seung Mo untuk menulis nomornya juga karena ia yakin Jae In belum tahu nomornya.




    Seung Mo: Omong-omong, hari ini aku kemari untuk An. Jika aku tidak menghentikan dia, dia akan bergadang di sungai.

    Jae In: Benar. Dia hendak melakukannya.

    An hanya diam memperjatikan ekspresi mereka berdua yang kayaknya happy banget. 



    Jae In mengentar Seung Mo dan An keluar. Seung Mo menyuruh Jae In menelfonnya pokoknya dan sebenernya ia mau meminta bantuan Jae In.

    "Bantuan?"

    "Karena hari ini kita tidak sempat, akan kuberi tahu di lain waktu."

    An mulai kepo, "Apa itu?"

    Seung Mo gak menkau berjanji untuk membalas budi. Jadi, jangan menolak.

    Jae In: Baik.

    Lalu keduanya pamit.



    Sampai di parkiran apartemen dengan mobil masing-masing, An langsung mendekati Seung Mo. 

    "Apa? Apa itu? Bantuan apa?"

    "kau penasaran?"

    An mengangguk.

    "Cobalah."

    Seung Mo meminta An membacannya. An menghela nafas karena tahu kalau tak akan berhasil, tapi ia tetap mencobanya.





    An melakukannya, tapi gak berhasil. An pun meraba seluruh tubuh Seung Mo, bahkan sampai mau mencium Seung Mo. 


    Ada yang kebetulan keluar gedung dan memergoki mereka. Seung Mo langsung mendorong An menjauh. Mereka berdua jelas menatap aneh An dan Seung Mo, berpikirk kalau keduanya pasti ada apa-apa.



    Seung Mo: Sepertinya mereka salah paham, bukan?

    An: Kalau begitu, cepat katakan!

    Tapi Seung Mo malah geloyor masuk.


    Besoknya, An datang ke kantor Jae In lagi, ia berlatih cara bertanya pada Jae In.

    "Kau memikirkan tugas dari Kak Seong Mo untukmu? Aku tidak bisa membaca pikirannya dengan otakku." 

    Tapi ia merasa kalau alasan itu terlalu mudah, gak mungkin ia mengatakannya ada Jae In.


    Tiba-tiba Jae In keluar dengan tergesa-gesa. An bingung, mau kemana?

    "Ada keributan besar." Jawab Jae In sambil berlari.




    Ada pertengkaran dua Ahjumma di depan warung dekat sana.

    Ahjumma yang lebih tinggi (Ahjumma 1) marah-marah pada Ahjumma 2 karena mobilnya lecet. Ia menuduh pintu mobil AHjumma 2 mengenai mobilnya sampai membuat goresan.



    Ahjumma 2 menyangkal. Emosi, Ahjumma 1 mendorong Ahjumma 2. Ahjumma 2 gak terima dong, ia akan membalas tapi Jae In melerai. Akhirnya Jae In yang terpental, untung mengenai An, jadi Jae In gak jatuh.

    Setelah memastikan Jae In bai-baik saja, An bicara pada kedua Ahjumma kalau mereka menyerang polisi.

    Ahjumma 1 marah-marah, "Kami tidak menyerang siapa pun. Kami meributkan soal itu. Lihatlah."


    An berbisik pada Jae In, "Ini kejadian besar?"

    Jae In gak menjawab An, ia menghentikan kedua Ahjumma itu, "Berhenti. Masalah tidak akan selesai jika kalian bertengkar. Aku akan mencari saksi atau bukti. Tenang dan tunggulah."

    Ahjumma 1 tetep marah-marah. Ahjumma 2 menegur AHjumma 1 yang gak sopan sama polisi.


    Sementara itu, An mendekati mobil dan menggunakan kemampuan psikometrinya. 




    An melihat kalau mobil itu dipukul dengan batu. Lalu ia melihat ke kolong mobil dan menemukan batunya.




    Kedua Ahjumma sudah tenang. Jae In melakukan olah TKP. Ia yakin kalau goresan itu bukan karena pintu mobil.

    "Ini terjadi baru-baru ini, tapi bukan karena pintu mobil. Benda yang lebih kasar."

    "Misalnya, batu?" Tanya An sambil menunjukkan batunya.

    Jae In terkejut, "Di mana kau menemukannya? kau melihat pelakunya?"



    An tiba-tiba menatap anak kecil yang sedang menangis, lalu mendekatinya.

    An mengusap airmata anak itu dan secara otomatis ia melihat kejadian baru-baru ini.




    Jadi Ahjumma 1 kasar banget sama ibunya anak itu (pemilik warung), rese banget orangnya, sok gitu, gak punya sopan sama sekali. 

    Sebenarnya bukan murni kesalahan Ibu soal tumpahnya sup ke lanti yang nyiprat ke sepatu, tapi Ahjumma 1 menyalahkan ibu dan menyuruhnya mengelap sepatunya.  


    Anak itu gak teriama ibunya diperlakukan begitu, jadi ia membalasnya dengan memukulkan batu ke mobil Ahjumma 1.




    An menasehati anak itu, "Aku paham kau marah, tapi jika kau merusak barang orang lain, itu hanya akan melukai ibumu, orang yang ingin kau lindungi. Karena wanita itu sangat mengerikan, aku berniat merahasiakannya. Tapi jika aku melakukannya, ingatan itu akan melekat di kepalamu dan mengikuti serta mengganggumu. Kau ingin merahasiakan hal buruk dari ibumu?"


    Anak itu menggeleng. 

    "Benar, bukan? Berhentilah menangis."

    Jae In tersenyum puas dengan tindakan An itu.





    Si Ibu menyuruh putrinya meminta maaf pada Ahjumma 1. Maka anak itu langsung meminta maaf, tapi Ahjumma tetap kesal.

    "Ajari anakmu soal sopan santun. Berani sekali dia merusak mobilku."

    "Aku akan membayar reparasinya. Hubungi aku." Ibu memberikan kartu namanya.

    "Jangan sampai berubah pikiran. Sial sekali nasibku."



    Ahjumma 1 akan pergi tapi AHjumma 2 memanggilnya, "Ahjumma. Kau tidak minta maaf padaku? Kau menyebutku penjahat dan membentakku."

    "Aku menyuruhmu memarkir di sebelahku?" Jawab Ahjumma sinis. 



    Ibu: Ahjumoni, Jangan kemari lagi. Aku akan mengajari putriku soal sopan santun agar tidak tumbuh menjadi orang seperti kau. Kuharap Anda.. tidak pernah datang ke restoranku lagi.

    Ahjumma 1: Menyebalkan.



    Ahjumma 1 langsung pergi. AHjumma 2 menggerutu kalau Manusia tak sopan seperti Ahjumma 1 selalu ada dimana saja. 

    Ahjumma 2: Andai bukan karena kau, aku pasti sudah memukulnya. Terima kasih.

    Jae In tersenyum dan membalasnya dengan menunduk. 


    Ibu juga berterimakasih pada Jae In dan juga minta maaf. SI anak juga minta maaf. An memberikan jempol untuk anak itu. 



    Keluar dari sana, An merasa tidak puas, "Perasaan apa ini? Menyatakan kebenaran bukan berarti keadilan menang."

    "Keadilan tidak menang, tapi kau membuktikan kemampuanmu."

    "Tidak juga. Aku terkadang melakukan hal semacam itu. Aku hanya tidak meributkannya."

    "Kau yang memecahkan kasus, tapi aku yang menerima ucapan terima kasih."

    "Apa ada masalah? Sepertinya suasana hatimu sedang buruk."

    "Semua orang mengalami hari yang buruk. Itu wajar."


    An pulang, ia menggumam sendiri "Hari yang buruk? Hal semacam itu ada."



    An melihat Seung Mo di dalam lift yang mau ketutup, ia langsung lari, untungnya masih sempat, walupun bahunya sakut karena menghalangi pintu lift.

    An gak mau menyentuh tombol lift, ia menggunakan sikunya tapi gak kena-kena. Akhirnya Seung Mo yang memencet tombol lanti 6.



    "Kau secara naluriah menghindari kontak fisik. Itulah sebabnya kemampuanmu tidak meningkat." Kata Seung Mo. 

    "Siapa bilang aku tidak meningkat?"

    "Sekalipun kau tidak suka mendapat penglihatan, jika ingin mengalahkan kejahatan, jangan menghindari menyentuh benda."

    "Aku tidak menghindar. Ini hanya kebiasaan."


    Saat berjalan menuju rumah mereka, Seung Mo tetep menasehati An walaupun AN enggan mendengarnya.

    "Hanya ingin menyentuh benda yang terlibat dalam kasus sama seperti berusaha mendapat jawaban tanpa belajar. Kau paham maksud kakak?"

    "Baiklah, aku akan berlatih."

    Seung Mo menatapnya gak percaya.

    "Aku paham." An meyakinkan.



    Seung Mo membuka pintu menggunakan kartu, "Tadi pagi aku mengubah kode masuknya."

    Seung Mo langusng masuk dan mengunci pintunya.

    An ditinggal di luar, "Kekanak-kanakan sekali. Aku bisa membacanya dalam tiga detik."



    An memastikan tidak ada yang melihat sebelum menggunakan kemampuannya.

    An, "Hanya enam digit? 051203. Jika kodenya terlalu rumit dan Hyeong sering mengubahnya, Hyeong tidak bisa mengingatnya. Kodenya berupa tanggal. 3 Desember 2005, yaitu hari ul..." An jeda sebentar, ia langsung sedih, "Ulang tahunku."




    Jae In menghidupkan banyak lilin di rumahnya, ia ingat waktu ayahnya ditangkap. 

    0 komentar

    Post a Comment