Wednesday, March 20, 2019

Sinopsis He Is Psychometric Episode 4 Part 2

    Sumber: tvN




    An ceritanya ke Jae In beda banget, "Hyeong dan Noona merundung untuk jadi detektif resmi segera. Mereka tak bisa menyembunyikan kemampuanku dari manajemen tingkat atas lagi."

    "Mengesankan banget."

    "Kau. Bagaimana jadi polisi?"

    "Melelahkan tapi bermanfaat."

    "Di mana? Di sekitar sini? Di Seoul?"

    "Divisi Patroli Seoheun."

    "Kau di Unit Kejahatan Kekerasan?"

    "Tidak, aku masih dalam masa prabakti. Tapi sepertinya aku akan ditunjuk untuk Unit Kejahatan Kekerasan segera."

    "Lagian, karena otakmu pintar."

    Jae In hanya tersenyum.



    Mereka kembali ke mobil, An akan mengantar Jae In tapi Jae iN menolaknya dengan alasan ada janji.



    An akan membicarakan soal kemampuannya, tapi gak jadi karena kemampuannya belum memuaskan. An hanya mengatakan kalau ia masih tinggal di rumah lama. Jae In mengerti. Lalu mereka pamitan.


    An bicara sendiri, "Divisi Patroli Seoheun. Sudahlah. Semuanya baik."



    Dalam perjalanan pulang, An menyanyikan lagu T. T.




    Seung Mo beli ayam di warungnya Guru Nafas Bau. Pak Guru menanyakan kabar An, baik kan? Seung Mo mengiyakan. 

    "Dia tak berbuat onar, kan?"

    "Yah, dia sudah dewasa sekarang."

    "Sangat misterius.. bagaimana kau mereformasi berandal seperti dia. Seperti yang kau ketahui, dulu dia memukul orang yang menyentuhnya. Tapi dia bersikap sopan dan bahkan lulus SMA berkatmu.."

    Seung Mo langsung memotong karena gak mau lama-lama bicara "Dia masih belum bekerja."

    Lalu Seung Mo pamit.



    An sampai tepat waktu, ia langsung menyuruh Seung Mo naik ke mobil.



    An melanjutkan nyanyiannya. Seung Mo hanya ketawa. 

    "Kenapa terlihat bahagia? Ujian polisimu lancar?" Tanya Seung Mo.

    "Oh benar, aku habis ujian. Lupa tulis nama gitu?"

    "Rupanya cara curangmu tak berhasil. Syukurlah. Aku tak perlu melaporkanmu atas kecurangan."



    "Kau akan melaporkanku? Kau senang aku meminta bantuanmu sampai aku mati? Kau tak lelah? Umurku sampai 100 tahun?"

    "Tidak apa-apa. Kau bisa hidup bersamamu selama itu."

    "Bersama? Bagaimana bisa kau akan hidup bersamaku?"

    "Karena aku menyelamatkan hidupmu. Kau mengingatkanku pada kegembiraan atas kedermawananku."

    "Kenapa kau tak bisa berpikir kegembiraanmu bisa berlipat dua dan tiga jika orang yang kau selamatkan menjadi polisi dan melakukan lebih banyak hal baik?"

    "Apa kau harus jadi polisi?"

    "Tentu. Aku menghadapi kematian saat kau menyelamatkanku, dan aku mendapat kemampuan aneh ini sebagai hasilnya."

    "Harusnya aku bisa memanfaatkannya."

    "Menguburnya akan menjadi kejahatan."

    "Masalahnya adalah, tak cukup baik untuk memanfaatkannya."

    "Wah.. Jahat serius. Bahagiakah menyakitiku sesudah menyelamatkan hidupku? Kau psikopat mesum."




    Seung Mo kembali ketawa, "Maaf, aku tak mengerti perasaanmu."

    "Pikirkan baik-baik. Kau beli ayam tapi lupa beli bir. Bagaimana kau memenej pekerjaan jaksamu? Misteri sekali."




    Seung Mo menyuruh An belok ke arah kompleks apartemen. Ia heran, kenapa kesana dan bukannya pulang?

    "Ini rumah kita."

    "Apa?"

    "Sudah kubilang kita pindah beberapa hari yang lalu. Bahkan kuletakan alamatnya di kulkas."



    An kaget, "Oh.. tidak boleh!" Karena ia terlanjur memberitahu Jae In bahwa ia masih tinggal di rumah yang dulu.

    "Masuk dulu. Unit 614. Aku akan pergi beli bir dan..."



    Seung Mo gak melanjutkan kalimatnya karena ia melihat Ji Soo menenteng dua kresek berisi bir. 


    Saat masuk rumah, An bicara sendiri, "Betapa sukanya aku pada rumah atap. Di musim dingin sangat sejuk, dan di musim panas bisa berjemur. Ruang terbuka tak menjamin privasi. Pemandangan dari sana adalah yang terbaik..."



    Tapi ia langsung kagum menata pemandangan dari dalam rumah barunya ini. "Tidak, di sini lebih-lebih." An memastikan sekali lagi pada Seung Mo, "Woah.. Rumah kita di sini maksudmu?"



    Ji Soo: Rumah yang cocok untuk jaksa.

    Seung Mo: Secara teknis, ini milik bank. Aku malu bilang ini milikku karena sebagian besar dibayar dengan pinjaman.

    An: Aku juga malu. Perasaanku lebih memilih kembali ke rumah atap.

    Seung Mo: Aish.. Tadi aku bilang apa?

    An: Kedermawananmu.

    Mereka tos kepalan tinju.

    Ji Soo gak mudeng dengan sikap mereka, "Kue beras? Ada apa dengan kue berasnya?"

    "Ada deh." Kata Seung Mo. 

    "Sikap kalian seperti pengantin baru. Pokoknya, anggap ini hadiah pindahan yang menghangatkan."


    An kaget, "Apa ini? Kau juga mengoordinasikan rencanamu?"

    Ji Soo: Benar juga. Aku berpikir memesan ayam goreng.

    Seung Mo: Makanlah. Aku mandi dulu.

    An dengan senang hati mempersilahkannya karena hanya ada 2 paha. An langsung mengambil satu pahanya. Seung Mo gak jadi mandi, ia mau makan aja dulu.





    An melihat ada yang aneh pada Ji Soo, "Apa ini? Kenapa memakai pakaian feminim?"

    "Ah.. Ayahku memaksaku kencan buta."

    "Oke, kalau begitu biarkan aku melakukan "Cold Reading". Wajahmu merah, artinya kau sudah minum. Kau bawa 10 kaleng ke rumah kami. jadi kencannya tak berjalan dengan baik."

    "Tidak, kencannya sangat berjalan dengan baik. Pria itu memohon berkencan denganku."

    Tahu Ji Soo bohong, Seung Mo memberikan paha satunya lagi untuk Ji Soo, ia prihatin karena Ji Soo ditolak. 



    Ji Soo menanyakan soal ujian An. Tapi An gak mau membicarakan ujian.

    "Noona tahu Divisi Patroli Seoheun?" Tanya An. 

    "Ya, itu bagian dari yurisdiksiku. Kenapa?"

    "Benar?"

    "Kenapa? Kenapa kau penasaran?"

    "Dia jadi polisi."

    Seung Mo gak ngerti siapa yang dimaksud "dia" oleh An.

    An: Ingat cewek yang menuduhku cabul? Orang yang hampir terkena percikan asam!

    Seung Mo: Kau menemukannya?

    An: Jadi Hyeong juga ingat dia.

    Ji Soo: Namanya Yoon Jae In, kan? Dia mendadak hilang sebelum UN, tapi muncul lagi dan sudah jadi polisi?

    An: Sepertinya begitu.

    Ji Soo: Benar juga sih... kudengar anak-anak jaman sekarang belajar untuk bersiap jadi PNS sesudah kuliah. Di usianya mereka dewasa, berbeda dari orang yang kukenal.

    Seung Mo kehilangan nafsu makannya setelah mendengar tentang Jae In. Ia pamit untuk mandi dulu. 




    Seung Mo melamun saat mandi. 



    Seung Mo mendatangi Shinbu-nim, tapi SHinbu-nim bilang tidak bisa menghubungi Jae In jadi mereka tidak dapat mentransfer uangnya ke mana pun dan sepertinya Jae In masih butuh waktu lebih lama.



    An curhat ke Ji Soo, "Aku belum bisa kuliah atau dapat pekerjaan, tapi dia terlihat sangat keren."

    "Begitulah cinta pertama. Pahit seperti rasa bir. Memikirkannya membuatmu merasa berat."

    "Kenapa kau sangat "sentimeter"?"

    ""Sentimental". Mental?"




    "Hari ini ada masalah, kan? Jelaskan padaku, atau akan kucari tahu sendiri." An mulai menggerakkan jarinya mendekati kulit Ji Soo. 

    "Dasar kau." Ji Soo menjauhkan jari An dengan ayam, "Dari mana keyakinan tak berdasar itu berasal? Bahkan kau tak pernah berhasil membaca."

    "Berbeda dari orang lain, Noona dan Dae Bong memiliki pikiran murni. Itu memudahkan psikometriku. Kulakukan nih!"



    Ji Soo menyerah, "Alih-alih ketahuan dan dibuly, aku lebih baik jujur. Kang Geomsa-nim menolakku."

    An kaget, "Lagi?"

    "Lagi katamu? Kau sudah tahu?"



    Kilas Balik.. Ini dalam penglihatan An.

    Seung Mo membicarakan soal semua orang di kantor kejaksaan yang mengira mereka berkencan. 

    "Bukan hanya mereka. Rumornya bahkan sampai ke kantor polisi. Berbeda dari orang lain, kau memperlakukanku dengan nyaman. Kita juga menghabiskan banyak waktu bersama. Kata orang, kita pasangan yang cucok. Itu... Mengenai rumor itu... sepertinya ada kesalahpahaman."

    "Maaf. Sepertinya kita sudah terlalu dekat sejauh ini. Aku akan bicara denganmu lebih formal dan menjaga jarak kedepannya. Semoga harimu menyenangkan, Eun Hyeongsa-nim."

    Lalu Seung Mo meninggalkan Ji Soo.

    Kilas Balik selesai...



    An ketawa ngakak, "Aku sangat terkejut bisa membacamu cukup lama. Kau sudah melakukannya lagi? Warbyasah keberanianmu. Keren sangat Eun Jo Spp!" An mengakhirinya dengan tepuk tangan. 

    "Diam! Kenapa tak beri tahu aku kalau sudah tahu?"

    "Siapa yang tak tahu soal cintamu padanya? Di wajahmu, tertulis kau menyukainya. Kau ikut dia ke mana-mana dan mengajaknya minum juga makan. Hari ini juga. Kenapa kau datang ke sini? Aku malu!"



    "Kalian baru saja pindahan dan aku ingin tahu mengenai ujianmu."

    "Jangan beralasan."

    "Baik. Kakakmu menginjak-injak perasaan tulusku. Betapa aku memikirkannya."

    "Kau berkata jujur? Bisakah bersumpah dengan jujur?"

    "Tidak kok. Kencan buta berjalan dengan baik."



    Ji SOo gak mau menjawab, ia minum bir-nya. Sementara itu, An menirukan nada bicara Ji Soo tadi saat mengelak dari tebakannya, "Tidak kok. Kencan buta berjalan dengan baik. Pria itu memohon kencan denganku."

    An memberikan pendapat, "Pria itu... (AN menoleh ke arah kamar Seung Mo) tidak peduli."

    "Begitu?"

    An mengangguk pasti. 

    "Sial, memalukan."

    An ketawa tanpa suara. Ji Soo pun pamit. 

    "Minta Hyeong mengantarmu. Semakin kau dipermalukan, semakin tak akan mengganggumu."

    Ji Soo kesal, ia akan memukul, "Sudahlah."

    An kembali ketawa. Ji Soo gak memperdulikannya, ia tetap keluar. An bilang tidak akan mengantar sampai depan.



    Besoknya, An dandan maksimal. Ia ngaca sebelum dan setelah masuk mobil. An kembali ingat saat ia mengatakan kalau ia masih tinggal di rumah atap. 

    An meyakinkan dirinya sendiri, "Aku ke sana hanya untuk beri tahu alamatku. Itu alasannya."


    Dae Bong menghubungi saat An sudah jalan, "Kapan kau akan kembalikan mobilku?"

    "Jangan hari ini. Ada sesuatu yang benar-benar penting."

    "Apa ada alasan lain bagiku untuk membiarkanmu mengambilnya?"

    "Yoon Jae In.. Aku tahu di mana dia."

    "Ah.. Yoon... Yoon Jae In? Kututup."

    "Sayange, Dae Bong!"



    Ada pelanggan datang. Pegawai Part Time meminta Dae Bong yang melayani karena ia ada pelanggan lain. 

    "Aku tahu." Kata Dae Bong. Ia masih kepikiran An, "Aigoo.. Kapan dia akan melupakannya? Serius."



    Pelanggan Dae Bong ternyata adalah So Hyeon. So Hyeon terkejut melihat Dae Bong, "Apa ini salah satu dari perusahaan keluargamu?"

    "Apa? Ya... Ini perusahaan baru."


    So Hyeon minta diisi 30.000 won. Dae Bong masih gagap aja di depan So Hyeon, cintanya sama sekali gak berubah.




    Saat mengisi, Dae Bong bingung tentang apa yang harus ia katakan nanti pada So Hyeon. 

    "Hi... Halo..." Dae Bong berlatih. 

    Tiba-tiba SO Hyeon memanggil. Dae Bong langsung sok manis, "Ya? Sudah lama, kan?"

    Nyantanya So Hyeon cuma mau bayar. Dae Bong bilang gak usah. So Hyeon mengingatkan, mungkin banyak anak-anak yang tinggal di lingkungan ini juga. 

    "Aku membiarkan mereka mengisi secara gratis juga."

    "Inilah sebabnya aku menghindari pom bensinmu. Jangan seperti, terima ini."

    So Hyeon mengulurkan kartu jadinya Dae Bong terpaksa menerimanya.


    Saat memasukkan kartu ke mesin BCD, Dae Bong menatap So Hyeon, ia memasang wajah sedih.

    Dae Bong lari masuk ke gudang, ia mengambil semua jenis minuman gratis (masing-masing dua) yang harusnya digratiskan untuk pelanggan dengan syarat tertentu.



    Dae Bong memberikan minuman itu ke So Hyeon barengan dengan memberikan kartunya, "Kuberikan ini pada semua pelanggan yang pertama kali kemari. Ini strategi penjualanku."

    So Hyeon menerimanya, "Terima kasih."



    Saat So Hyeon menjalankan mobilnya kamera menyorot putrinya yang duduk di jok belakang. Lucuk banget.


    Si Part Time protes karena Dae Bong memberi begitu banyak minuman gratis. 

    "Sajang-nim, kenapa?"

    "Ada bayi... Apa itu ungkapan yang memilukan?"

    0 komentar

    Post a Comment