Wednesday, March 20, 2019

Sinopsis He Is Psychometric Episode 4 Part 1

    Sumber: tvN



    -=3 Desember 2005, pukul 6:15 sore - Kompleks Apartemen Yeongseong, 1 jam sebelum kebakaran=-



    Jae In ada di kantor satpam Kompleks dengan ayahnya, disana ia menggambar pohon cemara.


    Ayah akan membagikan brosur dan meminta Jae In tetap disana. Jae In mengangguk dengan paham. 




    Tepat saat ayah keluar pos, ketiga Ahjumma yang menjadi korban mendekatinya. Ahjumma yang paling garang menegur Ayah, katanya gak boleh membagikan brosur tanpa persetujuan warga. 

    "Sekeras apa pun kubilang pada penduduk untuk tak blokir jalan, tapi tak ada yang mendengar." Alasan Ayah. 

    "Maksudmu apartemen kami.. punya tempat parkir yang buruk? Sudah kubilang untuk lebih cermat. Kami menggajimu agar supaya kau memeriksa terus-menerus dengan benar. Bukankah begitu?"

    "Aku juga di sini untuk mendapatkan gaji. Sudah kulakukan sebisaku memeriksa sistem proteksi kebakaran, tapi kesadaran akan keselamatan kebakaran sangat kacau."

    "Kacau? Apa? Siapa yang bilang kacau?"



    "Aku tahu betul kau ada dalam posisi untuk menerima suap dan membuat keputusan berdasarkan pada mereka. Kau tak boleh menutup mata masalah keamanan masyarakat."

    "Tunggu, tunggu. Apa katamu? Suap? Kau gila. Kau sudah gila, Ajeossi. Tidak, aku yang gila. Aku orang gila karena merekomendasikanmu untuk pekerjaan itu karena kau dulunya pemadam kebakaran."

    "Bukan itu yang kumaksud."

    "Ajeossi. Mulai hari ini, kau dipecat."

    "Apa?"




    Ahjumma itu melihat kedalam pos dan ada banyak banget barang Jae In disana. 

    "Astaga. Kacau sekali. Bukankah di sini tempat kerjamu Ahjussi? Kau tak boleh bawa anak saat bekerja."

    "Dia menemuiku karena jam kerjaku akan berakhir."

    "Terserah. Atas kelalaian tugas, sekarang juga kau di pecat."

    Ahjumma mengambil brosur dari tangan Ahjussi lalu membuangnya sebelum pergi.





    Jae In membantu ayah mengambil semua brosur itu.

    "Jangan di masukan ke hati. Appa (Ayah) hanya melakukan pekerjaan. Ajumma itu orang aneh."

    "Ah.. Sekarang bagaimana?"

    "Bagaimana apanya? Appa dapat temukan pekerjaan lain."

    "Bukan itu yang Appa maksud. Jika kebakaran terjadi di sini, akan sangat berbahaya."



    Ayah melihat tali sepatu Jae In lepas, ia langsung mengikatnya kembali, "Putriku tak boleh tersandung."



    Bahkan Ayah memberikan mantelnya untuk Jae In dan kembali menyuruh Jae In masuk.


    Sementara Ayah menempelkan poster ke dalam bangunan apartemen.


    Ayah naik lift, ia memencet lantai 15. Oh ya di dalam lift ada poster orang hilang.

    "Orang hilang: Kang Eun Sool, 37tahun".




    Ada orang mencurigakan masuk ke kompleks apartemen. DIa berpakaian serba hitam dan membawa koper hitam. 

    Orang itu melihat Jae In yang tertidur di pos, ia menyeringai.


    Ayah turun dari lantai ke lantai melalui tangga darurat, ia menempelkan posternya disetiap lantai.



    Dan terjadilah ledakan itu. Jae In terbangun karenanya. Ia lalu keluar dan sudah ada banyak orang disana.




    Jae In menatap ke atas, sudah terbakar dan ia melihat ayahnya. Jae In pun akan menyusul ayahnya, tapi orang-orang menahannya.



    Ayah teriak dari atas, "Jae In! Appa akan segera turun! Jangan khawatir!"

    Jae In mengerti.

    -=He is Psychometric, Episode 4=-



    Kembali saat Jae In menghentikan An yang akan melakukan psikometri pada orang di depannya.

    "Jawaban yang diperoleh dengan cara apa pun selain hasil sendiri dianggap curang, dan kau akan diminta keluar jika ketahuan."




    An tidak asing dengan suara itu, ia langsung memandangnya dan ternyata benar dugaannya, dia adalah Jae In.

    An langsung berdiri, "Aku menemukanmu. Yoon Jae In."



    Waktu ujian sudah selesai, Jae In meminta semuanya mengumpulkan kertas ujian. Tapi An malah terus memandangi Jae In penuh kekaguman.



    An mendekati Jae In tanpa membawa kertas ujiannya. 

    "Mari bicara di luar. Aku tak akan kabur lagi." Kata Jae In. 




    Ji Soo memanggil Dr. Hong keluar. Dr. Hong kesal karena Ji Soo menyuruhnya keluar disaat hari liburnya. 

    Melihat pakaian Ji Soo yang gak seperti biasanya, ia menduga kalau Ji SOo sedang menyamar. 

    "Kencan buta. Aku menolaknya sesudah 10 menit."

    "Benar. Baru ingat, aku punya urusan dengan Kang Geomsa-nim. Mau pergi bareng?"

    "Kenapa? Kau ingin tunjukan cara berpakaianku?"

    "Kau sadar? Apa terlalu jelas jika kita mendatanginya seperti ini?"

    "Benar-benar. Aku menunjukkan padanya bagaimana perasaanku."

    "Kau benar-benar pergi menemuinya?"

    "Selama 2 tahun terakhir, di sudah bekerja di akhir pekan."

    "Benar. Kasus itu, dia belum menyerah?"

    Kilas Balik..




    Ji SOo dan Seung Mo memperlihatkan penemuan mereka ke Ayahnya Ji Soo, Kepala Eun. 

    Kepala Eun: Kita tak bisa menuntut karena tersangka sudah meninggal. Apa-apaan ini?

    Ji Soo: Satu-satunya saksi yang tahu nama tersangka itu sudah dibunuh.

    Kepala Eun: Itu pencurian dan pembunuhan sederhana. Jangan bersikeras.

    Ji Soo: Pengasuh menghilang setelah kebakaran. Kebanggaanku sebagai petugas tak mengizinkanku menyerah.

    Kepala Eun: Bagaimana dengan kebanggaanku? Kebanggaan ayahmu yang mengabdikan seumur hidupnya untuk kepolisian.


    Seung Mo: Kami memberi pengarahan pada publik di kebakaran Home Care, dan kau memecahkan kasus Apartemen Yeongseong 11 tahun yang lalu.


    Kepala Eun: Benar. Kau tahu betul itu. Kau cukup sulit untuk melihat otopsi ibumu di usia muda. Kau pikir penyelidikanku tak menyeluruh?




    Seung Mo: Bisakah kau bersumpah pada kekuatan yang lebih tinggi bahwa tidak ada lubang dalam investigasi?

    Kepala Eun: Kang Geomsa!

    Seung Mo: Seperti kebakaran Home Care, kasus Yeongseong ditutup dengan tergesa, jika ingatanku benar.

    Kepala Eun: Aku mengikuti hukum, prosedur, dan bukti.

    Ji Soo: Appa~

    Kepala Eeun: Jika ingin memulainya lagi, bawa bukti, bukan firasat, atau bawakan pelaku kebakaran yang sebenarnya. Kudengar banyak jaksa menentang ini juga. Datang padaku tak akan mengubah apa pun.

    Seung Mo: Baiklah. Kuanggap penyelidikan tak resmi berarti diperbolehkan. Sekian untuk hari ini.

    Kilas Balik selesai...





    Ji Soo menjelaskan kalau ibunya Seung Mo itu bukan hanya salah satu dari orang yang meninggal dalam kebakaran. Ibunya adalah salah satu dari mereka yang ditusuk.

    "Wah.. Itu sebabnya dia begitu gigih."

    "Dia seperti punya sesuatu tapi dia tak mau memberitahuku. Tapi terlihat seperti tak membuat kemajuan."

    "Dia tak terbuka atau menunjukkan kasih sayang pada siapa pun. Dia hanya peduli dengan anak psiko itu."

    "Dia bukan psiko. Dia psikometrik."

    "Pokoknya, jika Kang Geomsa-nim benar dan pelaku kebakaran itu orang lain, itu takkan mudah. Dia tak meninggalkan jejak."

    Ji Soo setuju akan hal itu.



    Di ruangannya, Seung Mo mengingat kembali soal Kim-ssi yang memberikan keterangan di ruang penyidikan, lalu saat ia menemukan mayat Kim-ssi selanjutnya.



    Seung Mo juga melihat data pribadi ayahya Jae In, Yoon Tae Ha.

    Ia ingat saat ayahnya Jae In menitipkan An padanya.


    Seung Mo membuka foto-foto lagi dan ia berhenti di foto rantai yang digunakan untuk merantai kaki Kim-ssi. 



    An mulai bicara pada Jae In, "Sudah lama ya. Aku tak tahu kau jadi polisi. Bagaimana kabarmu?"


    An lalu mengulurkan tangannya. 



    Eh tunggu.. ternyata ia bicara sendiri, cuma latihan doang.

    An menarik tangannya, ia ingat kalau Jae In gak akan mau bersalaman dengannya.

    An kesal, "Tidak, tidak. Ini tak benar."




    An melihat Jae In keluar dan langsung jalan ke arahnya.








    Dalam perjalanan Jae In menuju dirinya, An mengingat bagaimana pertemuan singkat mereka 2 tahun lalu. 



    Selanjutnya mereka jalan berdua. 

    "Tadi kau coba curang, kan? Benar, kan?" Tebak Jae In, "Para pelamar belajar sangat keras selama bertahun-tahun di ruangan kecil tanpa jendela untuk ujian. Harusnya kau tak curang dan mengambil jalan mudah."

    "Apa ini hal pertama yang kau katakan sesudah dua tahun?"

    "Lalu apa? Apa yang harus kukatakan?"

    "Kupikir kau akan ke UNS. Kenapa jadi polisi?"

    "Aku kabur tanpa bisa melalui proses pindahan, jadi tak bisa ikut UN. Aku ikut ujian GED dan polisi. Selama 2 tahun aku sangat sibuk."

    "Jadi kenapa kau kabur seperti orang bodoh? Katakan padaku bagaimana kabarmu saat itu. Apa kabarmu baik 2 tahun itu?"

    "Tentu saja aku baik-baik saja."



    "Karena kau ingin jadi polisi... Jangan-jangan... kau akan membantu jaksa dan detekif dengan kemampuanmu? Kau semacam konsultan investigasi?"

    "Bisa dibilang psikometrik profesional?"

    "Sungguh? Kau ingin melakukan itu?"

    "Haha! Tentu."

    Kilas Balik...



    Ji Soo memasukkan An ke ruang otopsi lagi, ia menyuruh An menggunakan kemampuan psikometriknya untuk melihat mayat.

    An memegang dahi si mayat dan ia melihat pisau yang sangat panjang dan tajam. Saat membuka mata, ia dengan yakin berkata kalau mayat itu pasti gangster atau pembunuh kan?



    Dr. Hong menjelaskan, "Dia koki restoran sashimi selama 30 tahun."


    Ji Soo langsung menendang tulang keringnya tanpa ampun. An terduduk lemas. 

    Seung Mo yang ada disana memberikan tepuk tangan. AN memelas memanggil kakaknya itu.



    Kedua kali An masuk ke ruang otopsi, Ji Soo menyuruh An melihat plat mobil yang menabrak si mayat.

    Dr. Hong: Jangan pernah berpikir untuk memberi tahu kami ukuran bra lain.


    An menyemangati dirinya sendiri sebelum mulai, "Aku bisa."

    An melihat angka 1946. Ia langsung mengatakannya dengan sangat yakin, "1-9-4-6."



    Dr. Hong langsung melemparkan bungkusan plastik ke wajah An. An melihat isinya dan ternyata itu adalah baju korban dan disana ada tulisan angka 1976. An hanya nyengir karena ia salah.



    Dr. Hong sudah menduganya dari awal bahwa An pasti akan membaca nomor itu. Ji SOo dan Seung Mo memberikan uang taruhan pada Dr. Hong. 

    Dr. Hong: Eun Hyeongsa-nim, jika kau bawa anak itu ke sini lagi, kau akan berakhir berbaring di sini.


    An yang salah terus akhirnya mundur dan ia duduk dibalik kereta mayat. Melas banget.

    Kilas Balik selesai...

    0 komentar

    Post a Comment