Wednesday, March 20, 2019

Sinopsis He is Psychometric Episode 3 Part 4

    Sumber: tvN



    Ji Soo membawa Seung Mo ke toserba tempat Jae In bekerja. Jae In memberi salam untuk Seung Mo dan Ji Soo.





    Ji Soo menjelaskan, "Guru yang coba menyerangmu. Dia memiliki ID positif dan merupakan pelanggaran pertamanya. Itu adalah upaya yang gagal, jadi dia dibebaskan dengan peringatan. Bahkan jika kau memutuskan untuk mengajukan tuntutan, dia akan diselidiki tapi tak ditahan."

    "Aku berharap begitu banyak."

    "Sepertinya kau harus ekstra hati-hati. Apa kata orang tuamu?"

    Sampai disini Seung Mo menantikan apa jawaban Jae In.

    Tapi Jae In bohong kalau ortunya sudah meninggal dua-duanya. 




    "Oh.. Begitu? Lalu, bagaimana ini? Apa kau punya wali?"

    Seung Mo menyahut, "Aku akan menjadi wali untuk sementara waktu."

    Ji Soo menentangnya, "Apa masuk akal? Kau terlalu sibuk untuk pulang. Kau tak bisa melindunginya. Tidak boleh."

    Jae In menenangkan Ji SOo yang udah mulai heboh sendiri, "Jangan khawatir. aku bisa menjaga diriku sendiri. Terima kasih atas kekhawatiran kalian sampai datang dan menjelaskan langsung."

    Ji Soo, "Bagaimana bisa kau atasi sendiri saat kau baru berusia 19 tahun?"





    "Maaf. Serius!. Aku benci situasi seperti ini. Orang yang dilepaskan sesudah berkencan akhirnya membunuh seorang wanita, tak tahu?"

    Seung Mo menambahi, "Jika aku benar, dia membunuh seluruh keluarganya."

    Jae In udah mulai serem, "Apa dia akan sampai seperti itu?"

    "Kau tak bisa sangat hati-hati pada orang? Bagaimana ini? Ya, kita bisa melakukannya." Ji Soo punya ide.



    Ji Soo langsung menelfon An. Tahu dengan siapa Ji SOo berbicara, Jae In jadi gak enak, ia terus bilang gak usah.

    An terkejut mendengar permintaan Ji Soo. 

    Ji Soo: Jadilah pengawalnya untuk sementara waktu.

    An: Kenapa aku?

    Ji Soo: Hei. Kelas kalian sama, juga tetanggaan. Dan kau tahu wajah gurunya. Haruskah aku memberimu alasan lain? Katakan "iya" mumpung kuminta dengan baik.

    Ji Soo mengakhiri dengan berbisik, "Jika kau ingin menyelinap masuk ke ruang otopsi lagi."


    An masih gak mudeng, "Apa ini?"

    Keknya tadi ia ketiduran makanya loadingnya lama. hehehe.




    Seung Mo protes, "Aku mendengar semuanya."

    "Pokoknya, kelihatannya sudah beres." Ji Soo gak memperdulikan Seung Mo, ia bicara pada Jae In.

    "Anda benar-benar tak perlu..."

    "Tidak. Kau tak bisa menganggap entengseberapa serius kasus ini bisa terjadi. Bagaimana jika wajah cantikmu terkena asam klorida? Kau dapat mengganggu An semaumu. Lagipula dia tak belajar."

    Seung Mo protes lagi, "Dia adikku. Kau tak butuh izinku?"

    "Lebih tepatnya kau teman serumah. Dia juga adikku dan kita semua tak berhubungan."



    Pegawai pengganti Jae In sudah datang, ia minta maaf karena sedikit terlambat. 

    Ji Soo tanya, "Kau sudah siap pulang kerja?"

    "Ya." Jawab Jae In. 

    "Baguslah. Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Seung Mo. 




    Di mobil, mereka diem-dieman aja. Lalu Jae In berkata kalau ia terus berhutang pada Seung Mo.

    Seung Mo gak membahasnya lebih lanjut, ia nanya berapa part time yang Jae In punya.  

    "Tiga. Kutinggalkan beberapa karena UN akan datang."

    "Sinbu-nim bilang, kau cukup pintar. Kudengar, kau ingin jadi jaksa atau hakim. Apa ini demi ayahmu? Agar kau bisa membersihkan namanya?"

    "Apa?" Jae In mulai gak nyaman. 

    "Haruskah aku pura-pura tak tahu? Jika kau ingin, aku akan ke topik lain."

    "Ya. Bisakah begitu?"


    Tapi Seung Mo malah bingung mau membicarakan apaan.

    Jae In nanya tiba-tiba,"Hyeongsa-nim tadi, apa kekasihmu?"

    Seung Mo diam. Jae In mengerti apa maksudnya, ia pun menjelaskan, "Kau tampak kesulitan cari bahan obrolan, jadi aku coba memulai obrolan."

    "Oh.. Dia rekan sekaligus teman. Kami bertemu saat masih kecil."

    "Tampaknya dia luar biasa."

    "Dia tak memiliki filter verbal. Dia lugas dan pemarah."




    Seung Mo mengantar Jae In sampai ke depan gerbang. Jae In mengucapkan terimakasih karena Seung Mo sudah mendukungku saat Seung Mo tahu semua tentangnya.

    "Kau pikir ayahmu pelaku kebakaran?" Tanya Seung Mo. 




    Tiba-tiba Imo keluar, yang dilihatnya hanya Jae In awalnya, ia heran, ngapain Jae In ada disana?

    Lalu Imo melihat Seung Mo, auto heboh dianya. 

    "Omo. Benar, kan? Yang ada di berita. Jaksa dalam kasus kebakaran baru-baru ini. Ajeossi si Kaki Panjang."

    Jae In malu dengan Imo-nya, ia memaksa Imonya untuk masuk ke dalam, tapi Imo tetep aja bicara, "Omo. Senang bertemu denganmu. Harusnya aku berkunjung untuk ucapkan terima kasih lebih cepat."

    Sebelum benar-benar masuk, Jae In sekali lagi mengucapkan terimakasih padaSeung Mo.

    Imo masih bicara juga, "Kau... jauh lebih tampan secara langsung daripada di TV. Kami akan ajak kau makan malam kapan-kapan. Kenapa tak masuk untuk minum kopi? Jika tidak, ramyeon bagaimana?"

    Jae In akhirnya berhasil membawa Imo-nya masuk.



    Seung Mo naik ke atas, ia melihat rumah sebrang. Setelah Jae In memasukkan Imo ke dalam rumah, ia tersenyum pada Seung Mo. Seung Mo membalasnya lalu Jae In masuk. 


    Seung Mo aneh gitu menatap Jae In kek ada rasa bersalah atau semacamnya. 

    Lalu camera meng-close-up si anjing lucu.


    Seung Mo mendapat telfon dan ia terkejut, "APA?"


    Seung Mo memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.

    Ada narasi dari detektif yang menelfonnya tadi, "Kami dari Kantor Polisi Provinsi Gangwon. Kau tahu Kim Gab Yong?"



    Seung Mo mendatangai TKP, disana sudah ada Ji Soo. Kim-ssi (Kim Gab Yong-si saksi yang harusnya bertemu Seung Mo dan Ji Soo malam ini) ditemukan tak bernyawa dengan luka tusukan di perut bagian kiri dan kaki dirantai.



    Seung Mo nanya ke detektifnya, "Apa yang terjadi?"

    "Seperti yang kukatakan di telepon. Aku harus memastikan apa ini pencurian atau dendam, tapi Anda adalah nomor terakhir dalam riwayat panggilannya, jadi aku menelepon Anda terlebih dahulu. Sepertinya dia diserang saat akan bertemu kita."


    Detektif itu menunjukkan ponsel Kim-ssi. Seung Mo melihat-lihat dan menemukan ada nomor yang tidak tersimpan, ia meminta detektif untuk memeriksa pemilik nomor itu. 

    "Tidak ada yang mengangkat. Aku harus mencari tahu." Jawab Detektif.



    Ji Soo merasa aneh dengan rantai yang dipasang di pergelangan kaki Kim-ssi. 

    "Kakinya tak dirantai ke mana pun. Dan aku tak berpikir ini harusnya dirantai bersama. Untuk apa rantai itu? Seolah-olah seseorang ingin kita melihat ini."

    "Ini tantangan. Dari pelakunya." Jawab Seung Mo.


    An beneran menjalankan tugasnya, ia menunggu Jae In di depan gerbang. Jae In agak terkejut melihat An.

    "Sedang apa? Tak jalan?" Tanya An.

    "Apa? Kau serius akan melindungiku?"

    An gak menjawabnya, ia jalan duluan. 





    Jae In masuk duluan ke bis, jadi ia duduk dibelakang An. An menguap lalu menggaruk kepalanya.


    Jae In tersenyum melihat rambut An berantakan setelah digaruk. Ia rfkeks mau merapikan rambut An, tapi segera berhenti sebelum menyentuh rambut An.


    Seung Mo buru-buru ke ruangannya. Ji Soo bingung dengan tingkah Seung Mo itu, ia terus mengikuti tapi gak mendapat penjelasan dari Seung Mo saat terus ditanya.

    Seung Mo mengeluarkan berkas kasus Kebakaran di Hanmin Home Care.

    Ketiga korban memiliki kesamaan yaitu ada Luka tusuk perut 10mm kanan yang menyebabkan abdominal aorta pecah.



    "Aku harus kembali dari awal. Kebakaran Hanmin Home Care." Kata Seung Mo. "Song Hee Jung tak mengaturnya. Orang lain melakukannya."

    "Siapa?"

    "Orang yang membunuh Kim Gab Yong."

    "Siapa?"



    Seung Mo lalu mengeluarkan berkas kasus "Pembunuhan Kebakaran Apartemen Yeongseong"

    Ji Soo: Pembakar rumah Hanmin Care Home terlibat dengan kasus Apartemen Yeongseong? Kau tahu sesuatu.





    Kim Eun Soo dan Oh Young Eun kembali mendekati Jae In. Mereka menarik logo yang ada di seragam Jae In, gak kasar kok, cuma meriksa doang.

    "Benar. Ini seragam SMA Sunhyun, kan? Yang berlokasi di Kota Wooyoung, Prov Gyeonggi."

    "Apa?" Jae In mulai kaget.

    "Jadi benar. Jaman sekarang semuanya ada di internet. Tidak ada rahasia."

    "Kenapa kau sering pindah? Ayahmu juga bukan calon bupati."

    "UN ada di depan mata. Tinggalkan aku sendiri." UcapJae In.

    "Omo, lihat mata melototnya. Aku yakin ada sesuatu."

    Jae In berdiri, "Minggir."

    "Kami akan mencari tahu pada waktunya." 

    lalu keduanya pergi. 




    Jae In membayangkan semua temannya bakal ngomongin dirinya yang merupakan anak seorang pembunuh. Semua teman mencibirnya.



    Ia ingat ayahnya, ingat saat dirinya dikucilkan karena ayahnya. 


    An hanya diam menatapnya.

    0 komentar

    Post a Comment