Wednesday, March 20, 2019

Sinopsis He is Psychometric Episode 3 Part 1

    Sumber: tvN



    -=10 Desember 2005, Satu minggu setelah kebakaran=-

    Lee An kecil dan Jae In kecil duduk berdampingan di depan kantor polisi. An memegangi lencana detektif ayahnya, Jae In tanya, apa ayah An seorang polisi? 

    "Ya." Jawab An.



    "Kalau begitu, bisakah kau minta dia untuk biarkan ayahku pulang? Ayahku sungguh bukan orang jahat."

    An mengalihkan pembicaraan, ia kembali memerikan permen "Kau mau... makan permen?"

    "Jangan bicara yang lain, mari bicarakan ayahmu dan ayahku."

    An menunduk sedih, "Ayahku.. tak ada."

    "Kenapa tak ada? Dia sudah pergi dari sini?"




    An mulai menangis, lalu ia menunjuk ke langit, "Karena kebakaran, ibu, ayah, dan orang-orang juga.. banyak yang meninggal."

    Ji An kaget, ia ingat sekarang, An adalah anak yang melompat itu. 

    An melanjutkan, "Aku.. juga ingin membantumu... Maaf."




    Datanglah mobil bertuliskan "Panti Asuhan Saembit" dan berhenti tepat di depan An. Seung Mo keluar dari dalam mobil itu, ia mengajak An ikut dengannya.

    An lekas berdiri dan mengemasi barangnya, lalu melihat ke arah Jae In, tapi anaknya udah gak ada disana. 




    Seung Mo melihat seorang anak bersembunyi dibalik gerbang dan anak itu cuma memakai sepatu sebelah kanan aja.

    Dia adalah Yoon Jae In.

    Seung Mo gak memperdulikan Jae In, ia langsung masuk setelah An masuk mobil dan mobil juga langsung jalan.

    -=HE IS PSYCHOMETRIC, EPISODE 3=-



    An dan Jae In juga duduk berdampingan saat ini, mereka di depan umah An. 

    "Lalu? Kau akan bersalaman dan mencari tahu apa dengan psikometri-ku?" Tanya An.

    "Itu... Aku sudah sering dengar hal tak masuk akal, kelihatannya akalku hilang sebentar. Lupakan yang tadi."

    "Jangan khawatir. Saat usiaku 15 tahun, aku bisa lihat lembar jawaban dengan ini. Aku juga menemukan So Hyeon adalah pelakunya."

    "Bagian mana yang harus kau sentuh dan bagaimana agar bisa melakukan psikometri dengan baik?"

    "Yang paling mudah adalah... tangan. Sepertinya karena kulit paling sensitif di ujung jari kita."




    "Kau bisa baca dengan baik saat menyentuh kulit sensitif? Kalau begitu, itu bisa berfungsi oleh indera sentuhan?"

    "Ya, sepertinya begitu."

    "Tapi, bagian yang paling sensitif adalah.. bibir.. Bukan?"




    Tiba-tiba Jae In menawari An, mau coba melakukan psikometri? An gak menjawab, ia hanya menutup mata saat Jae In mulai mendekat dan menciumnya.



    Ealah... ternyata itu cuma mimpi An dan An kebangun karena jatuh dari ranjangnya. An kesal sendiri, "Mimpi macam apa itu? Apa kau SMP? Bagaimana ini... Aku malu pada diriku sendiri."



    Tapi ia malah balik tidur lagi dan berharap mimpinya bisa berlanjut. Sekarang ia penuh persiapan, sampai monyongin bibirnya. 


    Ji An sarapan sambil melamun pagi ini, ia memikirkan apa yang ia bicarakan dengan An semalam, waktu An mengakui kalau ia mempunyai kemampuan psikometri dan ia mengungkapkan kalau itu nomor tahanan ayahnya (diakhir episode dua kemaren). 




    Jae In akan ke rumah An, tapi gak dibolehin sama Imo. An juga gak ada di luar, ngilang gitu aja dia. 



    Jae In bergumam, "Apa yang kukatakan padanya?"

    Imo tanya, siapa? Jae In menjawab bukan apa-apa. Imo menyadari alau tingkah Jae In aneh dari kemarin, ada yang mengganggu?

    "Imo. Misalkan jika ada orang yang bisa... Tidak."


    Imo penasaran dong, memangnya ayahnya Jae In kenapa? 

    "Menurutmu, jika ada orang yang bisa bersihkan nama Appa, menurut Imo, bagaimana?"

    "Ayahmu sudah di penjara 11 tahun. Apa gunanya membersihkan namanya?"

    "Kenapa tak berarti apa pun? Appa akan bisa mengatakan dia bukan pembunuh dan aku... Aku tak akan dicap sebagai anak pembunuh. Aku tak perlu kebur karena takut akan mencoba cari tahu."

    "Tapi Jae In-ah. Ini kali pertama Imo katakan ini padamu. Bagaimana jika ayahmu sungguh pelaku kebakaran?"



    Jae In mulai berkaca-kaca, "Tidak mungkin. Masuk akalkah seorang petugas pemadam kebakaran membakar puluhan orang? 4 orang juga ditikam hingga mati. Apa Appa orang seperti itu?"

    "Karena kau tak bisa menilai orang tampak dari luar."


    Jae In tak mau membicarakan lebih lanjut, ia pamit. 

    Imo menjelaskan maksudnya, "Tidak, Jae In. Maksudku... Tak mudah untuk melihat apa yang terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu. Bagaimana jika kau terluka lagi?"

    Jae In gak mejawabnya, ia etap keluar. Imo hanya bisa meghela nafas.


    Jae In gak langsung turun, ia melihat ke rumah An, tapi gak ada siapapun di depan, Jae In pun turun.


    An menunggu di depan gerbang Jae In dan saat Jae In keluar ia langsung menyapa, "Annyoeng!"

    Jae In menoleh, tapi saat melihat An ia jadi males dan malah jalan tanpa mengatakan apa-apa.


    An mengejarnnya karena kaget, "Reaksi apa itu? Sangat berbeda dari kemarin."



    Jae In berhenti, ia menoleh pada An, "Kemarin, kau sikapmu seperti akan melakukan sesuatu padaku. Kemarin, aku sedikit bersemangat... Jika kukatakan kau akan salah paham. Kemarin akalku hilang sebentar. Aku gila. Anggap tak dengar saja." Jae In kembali jalan.



    Tapi An membahas soal nomor tahanan ayahnya Jae In, otoatis Jae In berhenti. 

    "Nomor tahanan ayahmu. Nomor yang kulihat. Apa dia dijebak? Bukankah kau ingin cari tahu itu?"


    Jae In berbalik, kembali menatap An, "Tidak. Aku tak ingin kau cari tahu. Akan lebih baik jika dunia tak pernah tahu. Kau bilang kemampuanmu adalah rahasia yang ingin kau jaga. Begitu pun ayahku. Jadi mari kita saling.. pura-pura tak tahu."

    Jae In kembali jalan, kali ini gak berhenti.


    Mereka naik bis yang sama, masih diem-dieman aja dan saling memunggungi. Saat bis udah jalan, Jae In yang megajak An bicara duluan.




    "Dan juga, aku ingin katakan satu hal. Akan lebih baik jika murid lain tak tahu kita tetanggaan. Terutama.. aku tinggal di atap."

    "Kenapa? Tak ada alasan untuk mengatakannya, tapi aku ingin mengatakannya saat disuruh diam. Seperti yang kau tahu, kita ada di usia remaja."

    "Kecemasan remaja. Aku benci punya kelemahan atau dipandang remeh. Jadi bahkan jika kau hanya mimpi menyentuhku untuk cari tahu sesuatu, kubunuh kau."


    Sadar kalau mereka bersentuhan, Jae In langsung mejauhkan An. Saat melihat An, An memasang wajah yang ga biasa. An memandangi tangannya, Jae In mulai khawatir.



    An menenangkan, "Jangan khawatir. Aku tak lihat apa-apa tanpa sentuhan kulit." Dan An mulai berpegangan lagi.


    Jae In juga kembali memunggunginya.



    Gak mau mereka terus canggung. An memutuskan untuk berhenti di halte terdekat dan lanjut kesekolahnya dengan jalan kaki. Jae In senyum diam-diam melihat An.

    0 komentar

    Post a Comment