Sinopsis He Is Psychometric Episode 2 Part 4

Sumber: tvN


An mencari-cari Dae Bong, tapi belum menemukannya. 


Jae In memikirkan kata-kata So Hyeon, bahwa So Hyeon gak pa-pa jika Jae In mengatakan semuanya pada Guru.


Lalu datanglah An. An menanyakan dimana SO Hyeon. Jae In bilang kalau So Hyeon sudah pulang. 

"Dia sudah pulang?" An akan pergi lagi, tapi Jae In memanggilnya.



"Hei, apa kau.. menemukan sesuatu?"

"Kau tahu kenapa dia menyelinap ke kantor guru juga, kan? Ayo pergi ke ruang kelas dulu. Kelas akan segera dimulai."

"Jangan katakan."

"Apa?"

"Kau tak harus memberi tahu yang lain kenapa dia menerobos masuk. Atau dia akan dikeluarkan."

"Bagaimana denganku? Bagaimana denganmu? Kau takkan kuliah?"


Jae In menjelaskan, "Beberapa orang punya rahasia berharga bagi kehidupan mereka. Kau tak akan paham, tapi ada rahasia seperti itu."



Jae In geloyor pergi. An membantah, "Aku paham. Aku paham, tapi kenapa aku harus dikeluarkan karena itu?"

Jae In tetap pergi.


Tiba-tiba ada sesuatu mendarat di kepala An. Ia menoleh, dibelakangnya adalah lapangan dan disanalah Dae Bong berada, sedang memberi pelajaran ke mantannya So Hyeon.

An kesal, "Bedebah itu serius! Yaa Lee Dae Bong, hentikan!" An segera berlari ke sana.



Dae Bong berkelahi dengan si mantan, tapi gak berkelas berantemnya masa ia menggigit telinga. Anak-anak berusaha memisahkan mereka. 



Guru MTK masuk kelas yang pertama ia lihat adalah kursi Jae In dan An, tapi masih kosong.

"Apa kedua berandal itu kabur karena tak mengerjakan prnya?"



Lalu Masuklah Jae In. 

Guru MTK mendekati Jae In, "Yoon Jae In. Aku selalu sangat ingin tahu kenapa siswa yang cerdas seperti kau agresif terhadap apa yang kukatakan. Jadi aku mencari tahu. Kau anak yang mengesankan. Ibu dan ayah lajang tak ada bandingannya denganmu."



Lalu Masuklah Jae In. 

Guru MTK mendekati Jae In, "Yoon Jae In. Aku selalu sangat ingin tahu kenapa siswa yang cerdas seperti kau agresif terhadap apa yang kukatakan. Jadi aku mencari tahu. Kau anak yang mengesankan. Ibu dan ayah lajang tak ada bandingannya denganmu."


Dia gak bisa mentolelir yang itu, langsung deh ia nerobos masuk.  



Jae In sudah gugup, tinggal menunggu waktu sampai Guru MTK membongkar siapa ayahnya. 

"Bagaimana ini? Kau belajar keras untuk jadi jaksa karena ayahmu? Aku lumayan tertarik dengan masalah sosial. Tidak heran kenapa nama ayahmu terdengar familier. Benar, kan? Yoon Tae..."




Jae In berdiri tiba-tiba menghentikan Guru MTK. 

"Tidak ada yang mencuri kertas ujian dari kantor guru. Tapi... Anda yang melakukannya."


Anak yang duduk dibelakang Jae In merekam diam-diam.




Jae In melanjutkan, "Jawaban yang benar ditandai di lembar jawaban, dan seseorang menemukannya di laci ketiga mejamu. Sehari sebelum UTS. Kenapa lembar jawaban yang ditandai dengan benar disembunyikan di lacimu? Dan totalnya ada lima."


Anak yang berkamatama di depan di sorot kamera.




Guru MTK berlagak gak ngerti, "Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan."

"Oh benar... Lupa kusebutkan, aku juga melihat nama-namanya. Kim Eun Soo dari kelas 1, peringkat ke-13 tahun ini. Ahn Kyung Soo dari kelas ini peringkat ke-14. Han Seol Ah dari kelas 5, peringkat ke-22. Kelas enam..."

"Tutup mulutmu!"

"Anda tersandung kaki Anda sendiri. Mereka yang mendapat skor karena pertanyaan yang salah. Anda dan para siswa itu adalah pelaku sesungguhnya."

"Aku tak mengerti omong kosong apa yang kau bicarakan."


Anak yang berkacamata bicara, "Aku tak ingin melakukannya, tapi ibuku..."

Guru MTK membentaknya untuk diam. Anak-anak langsung tahu kalau semua itu benar melihatnya.



Guru kembali bicara pada Jae In, "Aku bilang untuk menangkap pelakunya, bukan mengarang. Siapa yang menyelinap ke kantor guru dan mengklaim sudah melihat hal yang konyol di laciku?"

"Itu..."

"Siapa?! Siapa yang menyebarkan rumor ini?!"



Masuklah An dan Dae Bong. An mengatakan kalau Dae Bong lah pelakunya. Dae Bong mengiyakan. 

"Benar, itu aku. Aku menyelinap ke kantor guru. Aku melihatnya ketika mencoba mencuri "Hot Lady" di lacimu. Ada apa?"



An mengedip pada Jae In.



Langsung heboh di media. Kepala sekolah bingung melihat komentar jahat. Para nitijen mengatakan kalau sekolah juga sudah terkenal dengan tindak korupsinya.


Video guru MTK langsung trending di youtube.



Tiba-tiba Jae In menarik kerah An saat An baru keluar dari pintu. Jae In tak melepaskan An sampai mereka sampai di atap. 



"Tadi aku tak sempat bertanya karena semuanya gaduh. Bagaimana kau tahu soal So Hyeon? Kau tahu dia masuk ke kantor guru dan bahkan rahasianya. Kau tahu semuanya."

"Itu... Aku punya informan."

"Informan?"

"Dae Bong-ie."

"Dae Bong-ie?"

"Tentu saja, aku mendengarnya dari dia. Dia penguntit So Hyeon. Dia tahu dia pelakunya sejak awal, tapi dia merahasiakannya dariku."

"Lalu... berapa banyak yang kau ketahui tentangku?"

"Aku tak tahu apa-apa tentangmu."

"3145. Aku harus meluruskan ini."

"Apa itu?" An baru ingat soal angka itu.



Jae In melanjutkan, "Hari itu, kau mengucapkan angka itu di kantor guru."

"Memangnya apaan nomor itu?"

"Apa?"

"Aku tak tahu apa itu, tapi kau terus bertanya. Katakan, nomor apa itu."

"Apa kau bilang aku mendengar sesuatu?"

"Lalu, bagaimana aku tahu soal angka itu? Maksudku, bertemu pun kita belum lama. Dan juga, angka bulan hal penting."



Jae In ingat soal ajakan An untuk bejabat tangan setelah mereka menangkap penyusupnya.

An mengulurkan tangannya. Jae In agak gimana gitu karena diajak salama disana tiba-tiba. 



An lebih mendekat. Jae In sudah mau menjabat, tapi tiba-tiba ada telfon, jadi Jae In lebih memilih mengangkat telfon.

Bersamaan dengan itu, An pun mendapat telfon.

Itu adalah telfon dari kantor polisi. Pak Detektif mengatakan pada Jae In kalau si mesum itu bukan An. Mereka sudah mengecek CCTV dan akan segera menangkapnya. 

"Mungkinkah apa kau juga memberi tahu pria itu?" Tanya Jae In.


An sengaja bicara keras, "Oh, ya... Aku bukan pelakunya? Aigoo, aigoo... Terima kasih atas kerja kerasnya.

Mereka bersamaan menutup telfon.



An, "Sudah dengar? Mereka bilang aku bukan pelakunya." Jae In berjalan mendekati An membuat AN auto mundur, "Tapi kau menyebutkan kau melihat ukuran bra dan kau akan melihat lebih jelas lain kali. Soal apa telepon itu? Wajar aku salah paham."



An mulai serius, "Kau bilang kepadaku. Beberapa orang memiliki rahasia yang berharga bagi kehidupan mereka."

Jae In menatap An berbeda, tapi An kembali selengean lagi, "Aku juga begitu."

"Siapa... Siapa kau sebenarnya?"

"Apa maksudmu?"

"Kau terlihat seperti orang bodoh, tapi kemudian kau tiba-tiba pintar. Kau tampak seperti orang mesum, tapi sebenarnya tidak."

"Kau pandai melontarkan pujian layaknya penghinaan. Jika itu cara kau meminta maaf, aku akan menerimanya."

"Baiklah. Maaf sudah menyebutmu mesum. Maafkan aku. Juga terima kasih. Terima kasih... Sudah menjaga rahasia So Hyeon."



Jae In mengajak An salaman sekarang, tapi An malah ketawa, "Ho Ho Ho! Siswi baru ini secara resmi mengucapkan terima kasih dan meminta maaf, tapi tak ada orang di sekitar sini. Harusnya banyak yang dengar. Tapi tak ada orang di dekat sini."

"Lenganku sakit." Jae In mulai kesal.




An gak jadi menjabat tangan Jae In. Jae In melotot gak percaya.

An menjelaskan, "Orang mesum itu sudah tertangkap, anggap saja sudah salaman. Game over."

Lalu An pergi meninggalkan Jae In disana. 




Imo menonton berita yang menampilkan Seung Mo. 

"Dia tampan setiap kali aku melihatnya. Bagaimana bisa jaksa setampan ini? Jika aku 10 tahun lebih muda, akan kuminta untuk menangkap dan menyelidikiku."



"Imo, dia orang itu."

"Apa?"

"Dia pria yang membantu kita selama tiga tahun."

Imo auto terkejut, "Apa? Astaga! Tunggu, pelindungmu.. jaksa itu?"

"Dia tinggal di sebelah, jadi beri salam jika berpapasan."

"Orang sebelah? Omo."



Jae In keluar, ia melihat Seung Mo. Ia mau menyapanya, tapi keburu melihat An, jadinya ia sembuyi. 

Jae In bicara sendiri, "Apa ini? Dia tinggal bersamanya? Aish."




An tanya sama Sung Mo, akan kerja atau pulang? 

"Aku takkan pulang malam ini. Aku pulang untuk ganti baju."

"Kasus baru? Haruskah aku ikut?" An semangat mengatakannya. 

"Lagi, lagi!"

"Jujur, ada insiden kecil di sekolah, dan aku memecahkan misteri itu."

"Dan hadiahmu diskor? Sekolah meneleponku."

"Hahahaha.. Memecahkan insiden itu menurunkan hukumanku. Bisa saja aku akan dikeluarkan. Hyeong, jangan begitu, singkirkan keraguanmu, bisakah percaya padaku sekali saja. Ini satu-satunya.. yang bisa kuberikan.


Seung Mo tahu. Ia tahu An ingin membantunya dan An ingin menggunakan kemampuannya untuk melakukannya. "Tapi... Aku masih berpikir kemampuan psikometrikmu berbahaya."


Jae In yang mengendap-endap mau menjauh langsung berhenti, "Kemampuan psikometrik?"




Seung Mo melanjutkan, "Kemampuan memungkinkan melihat orang yang memegang pisau, tapi kau tak dapat melihat korban atau tahu apa orang itu bisa menutupi untuk orang lain. Kau hanya melihat potongan puzzle, jadi berhati-hatilah."

Seung Mo pun pergi. 



An kesal, ia mendang pot bunga. Jae In refleks teriak kaget. An tanya siapa disana. Jae In pun terpaksa menunjukkan dirinya.




"Yoon Jae In? Kenapa kau disana?"

"Ehem.. Aku tinggal disini. Aku pun tak ingin menguping tapi aku masih tak yakin dengan apa yang kudengar."

"Semua yang kau dengar, kau salah dengar."

An mau masuk, tapi Jae In melarangnya. 



"Tunggu sebentar! Aku menggunakan semua logika, kecerdasan, dan akal sehatku, tapi aku masih belum mengerti."

"Jangan repot-repot. Itu hanya omong kosong."

"Jadi kau benar-benar.. punya kemampuan psikometri?"

"Hei!"

"Mustahil. Jadi begitulah cara kau mengetahuinya. Mengenai So Hyeon dan angka... Begitulah cara kau tahu. Apa itu sebabnya kau ingin menjabat tanganku?"

"Kau anggap aku monster? Tak perlu menatapku seperti itu. Kedepannya hindari bersentuhan denganku."




"Kau bisa lihat semuanya dengan menyentuh kulit?"

"Setiap orang memiliki rahasia yang ingin mereka jaga. Kau bilang itu sendiri. Aku tak akan melihat apa yang kau sembunyikan, dan rahasiaku... Berpura-puralah tak mendengarnya."

"Tidak. Jika kau benar-benar.. mampu membaca orang, dan jika itu caramu melihat nomor tahanan ayahku..."

An terkejut, "Apa?"

"Maka kau bukan monster."



Jae In langsung berdiri diatas meja, "Aku akan ke sana, mari bersalaman atau apa pun untuk membacaku."

An menutupi tubuhnya, "Bersalaman atau apa pun."



Jae In tersenyum, "Tetap di sana. Aku akan ke sana."

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Komentar untuk "Sinopsis He Is Psychometric Episode 2 Part 4"

  1. Wah...mmau liat sinopsis episode 3 ternyata....di TVN korea jg baru tayang yaa...

    BalasHapus


Baca Juga :