Sinopsis He Is Psychometric Episode 1 Part 4

Sumber: tvN




Guru MTK memarahi An, "Kau berbuat onar dan berani terlambat masuk sekolah?"

"Sungguh bukan aku. Entah apa ocehannya kepadamu, tapi aku sungguh tak bersalah."




"Kau tak bersalah?" Guru MTK menunjukkan bukti, kertas raport keknya. "Aku punya bukti jelas ini. Masih merasa tak bersalah?"

"Apa itu?", An membacanya, "Orang ini di posisi ke-15 seangkatan. Woah.. Dia genius. Siapa dia?" An membaca namanya, "Wow.. Lee An." Dan satu detik kemudian ia baru sadar kalau itu adalah miliknya. 

"Menurutmu ini juga tak masuk akal, kan?"

"Ah.."

Kilas Balik..



An menyentuh tengkuk siswa di depannya makanya jawabannya bisa sama persis.

Kilas Balik selesai.



Guru MTK: Kau menyontek orang di depanmu, kan? Dalam setiap pelajaran?

Oh ya.. Jae In sedaritadi ada disana dan jelas mendnegar percakapan mereka.

An: Itu sebagai latihan. Maksudku, dia benar-benar lengah. Apa karena otak transparannya atau kemampuanku?




Guru MTK nanya, "Apa yang kau lakukan saat subuh tanggal 25 September?"

"25 September?"

"Sehari sebelum UTS! Tepatnya hari Minggu pukul 5.30 subuh."

"Tentu saja aku sedang tidur."

"Anak nakal. CCTV merekammu melompati dinding sekolah sendirian."

"Ah.. Hari itu?"

"Kau membobol pintu kantor guru dan mencuri pertanyaan dari komputer?"

"Apa? Aku hanya datang ke sekolah lebih awal Karena tak mau naik bus yang penuh lainnya. Aku baru sadar itu hari Minggu setibanya di sini. Jadi, aku pulang kembali dan menyalahkan diriku yang bodoh."

"Kau tak tahu itu hari Minggu?"



"Guru wali kelasku sering mengomeliku dan bilang aku tak bisa lulus jika membolos lagi. Akhir-akhir ini, dia membuatku kesulitan."

"Jadi, kau datang ke sekolah pukul 5.30 karena instink?"

"Seperti yang kukatakan, aku tak suka bus yang penuh. Biar kutebak. Apa ini Hari Tuduhan Palsu? Jika bukan... Ada kamera tersembunyi?"



Guru MTK teriak kesal, "Hei! Kau bercanda denganku?" Guru MTK mulai menggunakan kekerasan, ia mendorong-dorong bahu An dengan tongkat, "Karena anak nakal sepertimu, seluruh sekolah dikritik. Guru dan murid yang bekerja keras dianggap bodoh karena berandal sepertimu. Berandal. Minta orang tuamu untuk segera kesini. Aku akan akan mengeluarkanmu dari sekolah demi hidupku."




"Orang tuaku sudah meninggal." Jawab An serius. 

Jae In kaget mendengarnya.

"Tapi bukan itu yang pentingnya. Jika dikeluarkan,.." An berubah dari serius menjadi selengean lagi, "aku tak punya tempat tujuan lain."

"Pantas kau kurang ajar. Kau yatim piatu."

"Bukan itu intinya." An menekan kalimatnya, "Kakakku bilang, dia akan memaklumi apa pun asalkan aku lulus SMA."

"Berisik. Pergilah. Lanjutkan proses pengeluarannya."

Guru wanita, "Ya."



An membujuk, "Aku akan segera lulus. Skors atau tahan saja aku. Aku akan melakukan 500 jam pekerjaan sukarela di sini."

Guru MTK tetep kekeh, "Kubilang pergilah."




Akhirnya An teriak, "Seonsaeng-nim!"

Guru MTK naik pitam, ia memukuli kepala An dengan buku sambil ngomel, "Lihatlah dirimu. Kau akan memukulku? Tundukkan kepalamu, berandal. Kenapa? Kau ingin memukulku?"





Pak nafas bau menghentikan Guru MTK. 

"Tidak boleh, Seonsaeng-nim. Jangan melakukan ini sekarang. Kau sungguh tak boleh melakukannya! Sebentar lagi pertemuan pagi dimulai."

"Lalu? Kau juga berurusan dengan berandal ini?"

"Tidak. Bisakah kau memberiku rokok?"

"Aku tak merokok."

"Bu-Bukankah kau punya rokok yang kau sita dari murid?"



Guru MTK pun membuka lacinya untuk mengambil rokok yang dimaksud. Pak nafas bau mengisyaratkan agar An tutup mulut alian diem. 

Guru MTK memberikan rokoknya dengan kesal. An pergi dari sana. Jae In hanya menyaksikan.




Ibu guru membawa Jae In ke kelasnya. 

"Ada murid pindahan di kelas kita." Semuanya diam,  "Baiklah, aku tahu kalian tak peduli."

Ibu guru menyuruh Jae In duduk di kursi yang kosong.

Ibu guru bertanya pada Dae Bong (teman Lee An tadi, dimana An? 

"Apa? Dia tak kembali dari kantor guru."

"Baiklah. Bersiaplah untuk pelajaran hari ini..." Ibu guru males gitu ngajarnya karena anak-anak juga gak ada yang minat, "Terserah."



An naik ke atap, ia duduk dipojokan dengan alas kardus, sepertinya itu markas rahasia An melihat sudah ada kardus tersedia.

An melihat ponselnya, ia mau menelfon Seung Mo, kakaknya, tapi gak sanggup.

An menghela nafas, "Dia menyelamatkan nyawamu. Setidaknya kau bisa tak berbuat onar demi dia. Kau tak berguna."


An lalu berbaring, "Kau bertahan seorang diri untuk hidup seperti ini?"




Seseorang memberi Jae In baju olah raga, "Berikutnya pelajaran olahraga. Pakai ini."

Jae In menatap wajah orang itu, "Kim.. So Hyeon?"

"Kau.. ingat aku?"

Lalu anak-anak masuk, So Hyeon segera menjauhi Jae In. 




Anak yang di toilet tadi mendekati Jae In. 

"Kau, kan? Kau pindah di akhir kelas 12 sungguh mencurigakan. Benar kau."

"Apa yang mencurigakan?" Tanya Jae In.

"Bukankah kau.. putrinya Yoon Kyung Hoon, kandidat bupati? Bukankah dia ayahmu? Rumornya mereka pindah ke sini dari Gangnam untuk pemilihan. Benar kau, kan?"

"Aku paham kalian ingin mencari tahu latar belakangku. Mari pelan-pelan."

Jae In langsung berdiri dan jalan keluar. 




Jae In mengingat bagaimana dulu ia dilempari telur oleh teman-temannya. 

"Dia sangat tak tahu malu. Menyebalkan." kata temennya lalu ketawa-tawa.



Jae In sesak nafas lagi. Ia buru-buru ke atap. Disana ia mengeluarkan kantong untuk bernafas.



Seorang tanahan memandangi foto Jae In. 



An mencari-cari berita mengenai Apartemen Yeongseong.




An ingat Ahjussi mantan pemadam kebakaran yang menyelamatkannya dari dalam lift. 



AHjussi itu juga yang memberinya saputangan untuk menutup hidung. 



Ahjussi itu pula yang melakukan CPR untuk ayahnya.




An menitihkan airmata mengingatnya. Ia membuka artikel yang berjudul "Pahlawan dalam Kasus Kebakaran Itu Ternyata Sudah Merencanakan Insiden".



Ahjussi itu sekarang duduk di depan petugas yang akan me

Ahjussi itu ayahnya Jae In. 




Ji Soo bicara pada Seung Mo, "Omong-omong, sebenarnya apa yang dilihat oleh An? Menurut dia, dia melihat semacam ingatan kuat soal orang atau benda. Itu sulit dipahami."

"Kau mengetahuinya dengan benar. Kemampuan itu tak jelas. Itulah jawabannya."

"Kau tahu, aku terganggu oleh penglihatan An di ruang autopsi."

"Pasti bukan soal ukuran bra itu. Apa karena wanita bercincin itu?"

"Rupanya kau mendengarnya dari Hong Baksa-nim."

"Aku masih berpikir karena itu kali pertama dia memakai kemampuannya pada mayat. Mungkin dia membaca mayat itu seperti benda, bukan orang."

"Apa perbedaannya?"



Seung Mo, "Saat membaca orang, dia melihat kenangan menyakitkan mereka atau insiden mengejutkan entah kecil atau besar."

"Seperti trauma?"

"Benar, tapi benda agak berbeda. Dia melihat hal-hal yang lebih objektif dan sporadis. Haruskah kukatakan, tanpa emosi?"

"Singkatnya, tak konsisten."

"Wanita bercincin itu pasti salah satu dari banyak orang yang mengunjungi ruangan itu. Jangan terlalu memikirkannya."




Ji Soo ingat sesuatu saat Seung Mo mau melepaskan foto Jang Man Soon, "Ah.. Pengasuh itu. Benar. Dia bilang para korban melihat pakaian dalam sebelum meninggal. Para korban tak punya keluarga dan tubuhnya cacat. Bagaimana jika pengasuh itu membawakan pakaian dalam mereka tepat sebelum para korban meninggal?"

"Itu mungkin saja."

"Apa? Maksudmu itu tak penting karena kasusnya sudah ditutup?"


Seung Mo, "Kau terobsesi dengan kemampuan An atau tertarik pada kasus ini?"

"Keduanya. Kenapa kau segera mengabaikan An dan mengakhiri kasus ini?"

"Bukan itu yang kulakukan."




Seung Mo memberikan buku catatannya pada Ji Soo. Ji Soo membuka di halaman yang tertulis tanggal 4 Desember 2008.

Seung Mo, "Kau sadar kemampuannya muncul sesudah kasus Apartemen Yeongseong saat dia berusia 8 tahun?"

"Kau mencatat semua penglihatannya?"

"Seperti yang kukatakan, aku tak mengabaikan apa pun. Bagiku, sepertinya kau cepat menyimpulkan karena ingin segera menjadikan dia psikometris."

"Seharusnya kau menjelaskan lebih awal."





Ji Soo menunjuk foto kasus kebakaran RS itu, "Bagaimana dengan kasus ini? Kenapa kau ingin segera menutupnya?"

"Bukan menutupnya, tapi menyelesaikannya."

"Kau mengusut kasus ini hingga hampir berhasil, tapi menutupnya berdasarkan satu pernyataan saksi."

"Itu bukan kasus pembakaran sederhana dan aku merasa tak nyaman kasus Apartemen Yeongseong dibahas."

"Benar. Kasus itu mengembalikan ingatan menyakitkan sebagian orang."


Seung Mo, "Menyakitkan? Benar. Begitulah rasanya."



Jae In makan dua permen untuk menormalkan pernafasannya. Permen yang sama yang dimakan An 11 tahun lalu sebelum kebakaran.





Jae In merentangkan kedua tangannya, awalnya tersenyum, tapi langsung sirna saat melihat ke depan. Yang dilihatnya adalah Apartemen Yeongseong. Ia langsung ingat kejadian kebakaran itu. 



Jae In kecil melihat Seung Mo dan An yang terjun dari lantai 7. 


Jae In menghela nafas, "Sejauh apa pun berlari, aku berakhir di sini."





Ji Soo menghentikan Seung Mo, "Kang Geomsa-nim! Sampai kapan kau akan mengawasi An dari kejauhan?"

"Sampai.. dia menemukan orang yang membuatnya ingin mempraktikkan psikometri. Kau tahu, bahkan aku punya orang yang dia pasti ingin membacanya."

"Siapa orang itu?"

"Mungkin sekarang dia sudah bertemu orang itu. Gadis itu."



An akan melompat dan bertepatan dengan itu, Jae In berjalan di bawahnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Komentar untuk "Sinopsis He Is Psychometric Episode 1 Part 4"


Baca Juga :