Wednesday, March 13, 2019

Sinopsis He Is Psychometric Episode 1 Part 3

    Sumber: tvN


    An bicara di telfon sama temennya.

    Temen, "Maksudku, saat kudengar mereka menangkap pembunuh kasus kebakaran itu aku pikir melakukan hal besar. Tapi apa kau? Ukuran pakaian dalam?"

    "Hei, tapi aku berhasil masuk ke ruang otopsi dan sungguh melakukannya. "Meskipun awal tampaknya remeh, tapi masa depan akan sukses". Tidak tahu? Itu, apa ya... Benar. Itu kutipan dari seorang bernama Genesis."




    Pakaian An sama persis dengan si cabul yang ngintipin Jae In dan mereka bertabrakan pula. An tak sengaja menyentuh si cabul dan bisa melihat semuanya mulai dari awal. Sayangnya si cabul itu langsung kabur.



    An, "Ah dasar si cabul itu. Mengapa itu satu-satunya hal yang bisa kulihat?"


    An kembali mendengarkan temannya bicara. Temannya tertawa, 

    "Jadi bagaimana bisa kau itu psikometri? Yang bisa kau lihat hanya pakaian dalam. Apa yang nenek katakan adalah benar. Lalat hanya melihat kotoran."




    Jae In muncul, ia menduga An adalah si cabul, maka ia diam-diam merekam An dengan ponslnya.

    An yang gak sadar tetep bicara dengan temennya, "Itu karena kau tidak tahu. Asal kau tahu itu semua bertahap sedikit demi sedikit. Apa yang menyenangkan dari melihat keseluruhan?"

    "Aigoo. Kau pandai bicara. Jadi, apa yang Jaksa Kang katakan?"

    "Apa lagi memangnya? Aku langsung kabur. Aku tidak seharusnya ada di sana memang. Jadi bagaimana aku bisa bilang soal pakaian dalam?"

    "Aku merasa kasihan padanya. Dia terjebak memiliki adik sepertimu."



    Jae In gak tahan lagi. Ia maju mendahukui An dan langsung merekam wajah An. 

    An menganggap Jae In aneh, ia mendahului Jae In lagi sambil terus bicara dengan temannya.

    An, "Di lain waktu, aku akan lebih fokus."

    Teman, "Tentu. Aku ingin tahu penglihatanmu di lain waktu."

    "Kau ingin mati, ya?"

    Tapi Jae In maju lagi untuk merekam wajahnya. 

    Jae In menyela, "Kau ingin mati?"




    An lalu menyudahi telfonnya. Jae In, "Kelihatannya menyenangkan mengintip wanita, ya?"

    An, "Aku? Kenapa kau menuduhku?"

    Jae In lalu menunjukkan rekaman An. Semua orang yang lewat menyaksikan itu dan mereka berkerumun. 

    Jae In: Pengakuan tak bisa lebih baik daripada ini.

    An: Kurasa ada kesalahpahaman.



    Jae In menunjukkan rekaman kedua dibagian An bilang, "Aku tak boleh berada di sana. Bagaimana aku bisa mengatakan melihat pakaian dalam juga? Di lain waktu, aku akan lebih fokus."

    An memegangi kepala bagian belakagnya karena semua orang sudah mulai menatapnya, "Ini gila."

    An lalu teringat penglihatannya saat ia tak sengaja menyentuh tangan si cabul tadi. 

    An: Ah.. Kau tadi... Bukan aku yang mengintipmu di toilet.

    Jae In: Aku tak pernah mengatakan toilet.

    An: Apa?

    Jae In kesal, "Dasar mesum gila!"






    Jae In menendang An tapi AN berhasil menahan kakinya. 

    Secara otomatis, An bisa melihat masa lalu Jae In. Jae In dibully teman-temannya, ia dilempari telur. 



    Jae In juga mempunyai gangguan pernafasan, kalau sudah sesak, ia harus bernafas dalam kantong plastik.





    An sadar kalau ia menyentuh kaki Jae In, ia pun langsung melepaskannya dan Jae In langsung marah. 

    An membela diri di depan orang-orang, "Aku... Sungguh bukan aku. Bukan aku. Sungguh bukan aku."



    Tapi An tetap berakhir di balik jeruji besi. An merengek kalau dia bukan pelakunya dan ia minta dilepaskan.



    Sementara itu, Jae In menunjukkan rekaman yang tadi sebagai bukti. 

    Detektif: Kau punya bukti dan berkas pengaduan sudah terisi lengkap. Kau cerdas.

    Jae In: Siapa yang menyangka belajar untuk ujian esai akan berguna?

    Detektif: Kau murid SMA?

    Jae In: Ya. Seharusnya ada kamera di toilet. Periksalah TKP secara menyeluruh. Kabari aku soal hasil penyelidikannya. Aku tak bisa mengangkat telepon saat di kelas. Kalau begitu, permisi.




    An gak rela Jae In mau pergi, ia teriak-teriak memanggil Jae In, "Hei, kau mau ke mana? Berhenti! Tunggu sampai aku menangkapmu. Aku tahu wajahmu. Takkan kusudahi ini!"

    Karena merapatkan kepalanya ke sel, An merasa kesakitan dan ia pun diam. Jae IN hanya melihatnya saja.



    Ada polisi lewat, An mengajaknya bicara, " Ajeossi, jangan hanya mendengarkan penjelasannya dan memasukkan orang yang tak bersalah ke dalam sel tahanan!"

    Tapi polisi itu mengabaikannya. Jae In juga meninggalkannya.



    Salah satu Detektif mengenali siapa An. An menyangkalnya. 

    "Kau Lee An, kan?"

    "Bu-Bukan."

    Lee An pun diam.

    Reken detektif itu tanya, apa detektif mengenalnya?

    "Setiap polisi di pusat kota mengenal dia."




    An jagonya berantem.



    "Lee An, legenda SMP Honghak. Kupikir dia berada di tahanan remaja atau mati, tapi ternyata menjadi remaja mesum yang andal. Mengejutkan."

    "Dia terkenal? Lalu, aku harus bagaimana? Kasus ini bisa jadi besar."

    "Aku tak suka saat masalah makin rumit."

    "Hubungi Eun Ji Soo Hyeongsa di Kantor Pusat."


    An mendengarnya dan menolaknya dengan keras, gak boleh! POKOKNYA GAK BOLEH!

    "Jangan berani! Penjarakan saja aku. Kumohon. Kali ini saja." An memohon, tapi detektif malah melemparinya dengan buku.



    Akhirnya An bisa keluar dengan bantuan Eun Ji Soo. An malu banget pokoknya. Ji Soo memberinya tahu putih mentah. 



    "Noona, bukan begitu..." An mau menjelaskan tapi Ji Soo memotongnya.

    "Kenapa kau masuk ke toilet wanita?"

    "Bukan aku. Noona pikir aku orang mesum yang mengintip wanita di toilet?"

    "Ya, kupikir begitu. 85C, 80B, 75A. Kau tak akan pernah melupakan itu, kan?"

    "Itu hanya angka dan huruf. Noona tak memberitahu Hyeong, kan?"

    "Mungkinkah aku melakukannya?"

    "Lupakan semua kejadian di sini. Matahari merah. Matahari."



    "Aigoo.. Jadi apa jika aku melupakannya? Mau bagaimana soal pengaduan 5W1H itu?"

    "Aku bisa.. memakai 5W1H untuk menjelaskan aku tak melakukannya."

    "Tunggu. Kau tahu maksud 5W1H?"

    "Wah.. Perasaanku tak baik. Aku tak akan menjawab. Jangan mengira karena aku tak tahu."

    An lalu jalan duluan.

    Ji Soo: Juga untuk berpikir aku mengajak dia ke ruang autopsi.



    Dalam mobil, Ji Soo membicarakan soal undang-undang. An gak paham, undang-undang apa?

    "Undang-undang Khusus untuk Hukuman Pelecehan Seksual. Memasuki tempat publik untuk melakukan pelecehan seksual bisa membuatmu dipenjara dengan catatan. Hei.. Kau bisa bertemu Hyeongmu di pengadilan. Sebagai jaksa dan terdakwa."

    "Catatan?"

    "Aku sudah malu soal kau. Ditambah catatan pelecehan seksual? Tidak. Sebenarnya ini bagus. Jika punya hati nurani, sebagai penjahat, kau tak akan berusaha membantuku atau ingin jadi psikometris pertama di Korea."

    "Kenapa seperti itu? Noona yang menyuruhku menjadi psikometris."

    "Yaa! Itu agar kau akan melakukan sesuatu daripada terkena masalah."



    An malah mengorek kuping mendengar nasehat Ji Soo itu. Ji Soo melanjutkan, "Aku ingin kau punya impian. Aku tak menyangka kau akan terpancing."

    "Benar. Aku berusaha mewujudkan impianku. Kenapa Noona tak mau bekerja sama?"

    "Sebanyak apa lagi aku harus bekerja sama? Aku mengajakmu ke ruang autopsi tanpa sepengetahuan Hyeongmu."

    "Seharusnya kau bilang itu peniruan kasus Apartemen Yeongseong. Andai tahu, aku pasti lebih serius."

    "Andai menjelaskan soal ukuran bra lebih serius, kau pasti merasa lebih malu."

    "Serius!"



    "Pokoknya, jangan memperburuk ini dan bicaralah dengan Kang Geomsa. Sebelum kau dipenjara karena menjadi orang cabul."

    "Aku akan mengurusnya sendiri. Kenapa melibatkan dia?"

    "Bagaimana bisa kau mengatasinya?"

    "Kenapa aku tak bisa mengatasinya? Aku punya ini." An menunjukkan tangannya.

    Jae In ya-ya aja. 




    Sekolah sedang rapat interen. Kepala Sekolah dan empat guru. Mereka memperlihatkan rekaman CCTV yang menunjukkan kalau An melonpati tembok sekolah.


    Guru kacamata: Dia tertangkap kamera saat melompati dinding. Posisinya meningkat dari terakhir seangkatan jadi posisi ke-15. Aku sangat yakin dia masuk ke ruang guru semalam sebelum ujian.



    Guru Wanita bicara dengan lemah lembut, "Saat kami tahu kunci di pintu ruang guru rusak, aku memberi tahu kau sepertinya ada yang menerobos masuk."

    Guru yang beruban, "Kaulah yang bilang kita harus bungkam karena itu tak penting."

    Guru wanita kaget, suaranya langsung keras banget, "Aku?!"

    Guru ubanan, "Ya."




    Kepsek melihat catatan Lee An, "Dia bertengkar lima kali. Dia datang terlambat, pulang awal, dan bolos selama berapa hari? Tujuh puluh?"

    Guru wanita, "Dia pasti akan dikeluarkan karena bersikap..." Ups, guru wanita keceplosan akan mengucapkan kata kasar, ia segera merubahnya, "Karena bersikap buruk."

    Kepsek, "Dia pembuat onar di sekolah kita."

    Guru ubanan berbisik, "Anak yang bermasalah tak punya kehidupan. Akhiri saja dengan tenang."




    An kembali melompati pagar. Keren banget dia! Apalagi saat udah mendarat dan menunjukkan wajahnya. Semua siswi perempuan teriak histeris memanggilnya Oppa!


    Teriakan itu sampai ke ruangan rapat. Semua tanya, suara apa itu. Guru gendut yang duduk disamping guru wanita tersenyum, "Dia datang."

    Semua sontak memandagnya, ia pun bersikap tegas, "Itu dia."



    Temannya Lee An menghampiri, mungkin yang menelfon tadi. 

    "Bukankah tadi kau ada di luar sekolah? Kenapa baru datang?" Tanya si teman.

    "Ah.. Ada masalah."

    "Masalah besar."

    "Jika itu tak lebih buruk daripada masuk penjara sebagai orang mesum, jangan membahasnya."

    "Apa maksudmu? Tentu saja itu jauh lebih besar."

    "Apa itu?"



    "So Hyeon tersayangku.. putus dengan kekasihnya. hahahaha.  Dia akhirnya melihatku apa adanya. Bagaimana jika hari ini dia menyatakan cinta? Aku belum siap."

    "Apa dia menyukaimu?"

    "Dia berpapasan denganku dalam perjalanan pulang dan melihatku saat melintas. Dia bahkan melihat patung Laksamana Yi saat melintasinya."

    "Hei, lakukan psikometri-mu padanya. Meski aku yakin dia hanya memikirkanku."

    "Aku meragukannya. Laksamana Yi jauh lebih menarik."

    "Benar. Matematika mencarimu. Sebaiknya kau lari. Larilah lebih cepat."




    Jae In ada di ruang guru, ia menghadap guru wanita yang rapat tadi. 

    "Pindah dalam semester terakhir SMA? Itu berbeda." Kata ibu guru.

    "Mohon bantuannya."

    "Akulah yang butuh bantuanmu. Kau hanya mendapat nilai A dan ingin kuliah di SNU. Mungkin aku bisa memberi nilai dengan mudah. Kau ingin menjadi pengacara, jaksa, atau hakim? Apa orang tuamu bekerja di bidang hukum?"

    "Itu..."

    "Kau sering berpindah sekolah. Kenapa? Padahal kau tak pernah dihukum."

    "Aku hanya ingin belajar dengan tenang."

    "Hei cantik, sekolah ini untuk anak yang tak mau belajar. Anak-anak gila..."


    Si Matematika alias guru yang ubanan tadi menyela, bertanya dimana dia (Lee An). 

    Ibu guru: Nanti dia akan kesini. Kau yakin kita bisa bertindak seperti ini?

    MTK: Dia pasti dikeluarkan terlepas dari insiden hari ini.

    Ibu Guru: Jangan melakukan itu di depan murid.




    Ibu guru kembali bicara pada Jae In, "Kau tak membawa formulir dengan detail orang tuamu." Ibu guru pun memberikan formulirnya. 

    Jae In melihatnya sekilas lalu bertanya, "Apa sekolah masih membutuhkan formulir ini?"

    "Apa?"

    "Gelar dan pekerjaan orang tua, rumah pribadi atau menyewa, bahkan gaji mereka? Ada banyak rumor bahwa formulir ini membuat anak-anak saling membandingkan dan menimbulkan rasa rendah diri dan kalah. Ah! Aku tak keberatan mengisinya, tapi jika akhirnya dibahas di internet, ini bisa menjadi gangguan."

    Ibu Guru langsung menyingkirkan form-nya. "Benar. Aku sering memberi tahu atasanku bahwa kita tak perlu formulir ini, tapi mereka tak mau mendengar. Mau kuantar ke kelas saat bel berbunyi? Tunggulah sebentar. Mau duduk di sini?"

    "Aku ingin permisi ke toilet sebelum kelas dimulai."

    "Silakan."

    Sebelum pergi, Jae In menunduk hormat pada guru-guru.




    Di toilet, ada dua orang siswi, mereka memperhatikan Jae In.

    Usai mencuci tangan, Jae In mengeluarkan sapu tangan untuk lap. Kedua siswi kegum, kek-nya saputangannya mehong.

    Jae In lalu keluar tanpa menyapa.




    Saat akan kembali ke kantor guru, Jae In melihat Lee An juga menuju ke sana, ia langsung ingat siapa Lee An. 

    An gak langsung menemui Guru MTK yang memanggilnya, ia gak tahu gurunya yang mana.
      

      
    "Siapa guru matematikanya? Pak Napas Bau? Apa gurunya wanita?" Gumam Lee An.

    Jae In yang ada dibelakagnya menjawab "Pria rambut belah samping."

    "Ah.. Pria rambut belah samping."




    An menoleh dan kaget melihat Jae In ada di hadapannya, "Sedang apa kau di sini?"

    "Kau bebas cukup cepat. Itu pelanggaran pertamamu?"

    "Cepat batalkan pengaduanmu. Jika tidak, aku akan menuntutmu atas pencemaran nama baik."

    Jae In mengancam dengan ponselnya, "Di mana video yang kurekam? Di mana ruang penyiaran? Di sini kantor gurunya."

    An buru-buru menghentikan langkah Jae In, "Berhenti. Astaga. Aku mengerti kau bisa salah paham soal ucapanku. Tapi hal yang kulihat tak seperti dugaanmu. Itu... Aku tak bisa mengatakannya, tapi..."

    Guru MTK mendekat, An tidak bisa melanjutkan penjelasannya karena guru MTK buru-buru menariknya.

    0 komentar

    Post a Comment