Wednesday, March 13, 2019

Sinopsis He Is Psychometric Episode 1 Part 1

    Sumber: tvN


    .:3 Desember 2005, Pukul 07:15 malam - Kompleks Apartemen Yeongseong:.


    Di tempat parkir terpasang banner bertuliskan, "Biarkan jalan terbuka untuk truk pemadam kebakaran".




    Tak jauh dari sana ada wanita yang sedang bicara dengan seorang pria. Wanita itu memanggil si pria, Ahjussi.

    "Ahjussi, aku sudah memberi tahumu berkali-kali. Anda tidak boleh membagikan brosur ini tanpa persetujuan."

    "Saya terus meminta warga untuk tidak memblokir jalan ini, tapi... tidak ada yang mempedulikan."

    "Jadi maksud anda, kompleks kami ini buruk dalam aturan parkir, maksud anda begitu?"

    "Saya sudah melakukan yang saya bisa saat memeriksa sistem proteksi kebakaran, tapi kesadaran warga disini sangat berantakan."




    Wanita itu gak mau kalau dirinya dan warga apartemen disebut berantakan, Kata siapa? Berantakan apanya?

    "Nyonya, anda tidak bisa menutup mata mengenai' masalah keamanan."

    Tapi wanita itu kesal dan bicara kasar menggunakan bahasa informal, "Kau gila ya Ahjushi? Ahjushi, mulai hari ini. Kau dipecat."

    "Apa?"

    Wanita itu membuang brosur di depan Ahjussi lalu pergi dengan dua wanita yang sedaritadi hanya diam saja.


    Semantara itu ada seorang buru-buru keluar dari apartemen sambil membawa tas gede dan berpakaian serba hitam. Dari gerakannya sepertinya dia seorang wanita.




    Di depan, ada seorang pria yang masuk sambil membaw koper. Wanita itu terkejut melihatnya dan bersembunyi dibalik tembok. 


    Scene beralih lagi ke salah satu rumah di Kompleks Apartemen Yeongseong. Seorang anak merengek meminta dibelikan anak anjing di hari ulang tahunnya. Ibunya menyuruh anak itu diam. Anak itu adalah Lee An.



    Sang ibu selesai menjahit boneka anjing untuk Lee An, tapi AN gak mau, ia mau anjing beneran yang guk-guk itu lho.


    Sang ayah keluar kamar mendengar rengean An, menyuruh Ibu untuk membelikannya saja. Ayah lalu memeluk An dan An berhenti merengek.


    Ibu: Kalau anjingnya poop, kau mau membersihkannya?

    Ayah dan An menjawab bersamaan tapi jawabannya beda.

    Ayah, "Tidak akan". An, "Kubersihkan."

    Ibu nanya lagi, "Mau memberinya makan?"

    Ayah, "Tidak". An, "Kuberi makan."

    Ibu, "Ajak jalan-jalan dan memandikannya?"

    An, "Aku akan melakukannya!"

    "Paling ngomong doang."



    Ayah membujuk An untuk meminta hadiah lain aja, gimana? Kecuali anak anjing, Ayah akan kasih apapun.

    "Kalau gitu.. aku mau adik."

    Ibu dan Ayah otomatis langsung saling pandang dan karena malu, ibu cari-cari alasan untuk menjauh dari mereka. 


    Sementara itu ayah kalem aja, ia memberikan permen untuk An dengan santai.



    Seorang menekan bel, dia menggunakan sarung tangan hitam. Pemilik rumah membuka pintu dan ternyata dia adalah Ahjumma yang marah-marah tadi di awal. 

    Ahjumma mengenali siapa yang datang, ia memanggilnya Ahjussi.

    "Ada apa ini Ahjushi? Apa ada yang ingin anda katakan?"


    Tiba-tiba Ahjussi itu menusuk perut AHjumma. Ahjumma mundur kaget+kesakitan. Tangannya bersarah, mungkin karena memegangi perutnya.




    An, ayah dan ibu keluar. An lari duluan, dengan riang ia berkata akan memeriksa lift duluan.

    "An, kenapa buru-buru?" Tanya ayah.

    An berhenti dan berbalik menatap kedua orang tuanya, ia menunjukkan borgol dan lencana detektif milik ayahnya, "Memang kenapa? Kita tidak pernah tahu kapan orang jahat akan muncul."

    "Maksudku itu yang lain."


    Permen An tiba-tiba jatuh dari mulutnya dan pecah jadi dua. Jam menunjukkan pukul 19:21 dan terus berjalan.




    Kita mundur 2 menit, pukul 19:19. TIga Ahjumma tadi sudah tidak bernyawa karena luka tusukan di lokasi yang sama. Si pembunuh menjajarkan mereka semua. 


    Dan ada satu korban lagi, kurang jelas dia laki atau perempuan. 



    Terus si pembunuh ngambil cangkir di almari dan meletakkannya di meja serta menuangkan minuman. Dia membuat seolah-olah mereka berempat sedang santai bersama.



    Sebelum keluar, ia memotong selang gas dan meletakkan korek api di microwave.



    Si pembunuh keluar dengan membiarkan pintu terbuka sedikit.  


    Microwave menyala, sepertinya di-set 10 menit.




    Keluarga An masuk lift, dari lantai 15 karena rumah mereka ada di lantai 15. Di dalam lift juga ada poster yang meminta jalan untuk truk pemadam kebakaran.

    Keluarga An mau membeli anak anjing makanya An girang banget.


    Setelah 3 menita-an, korek meledak di dalam microwave dan menyebabkan ledakan besar.



    Lift yang dinaiki keluarga An macet karena ledakan itu, lampu kedip-kedip. Ibu memeluk An yang ketakutan. Ayah menekan tomobil bantuan. 

    "Halo? Kami terjebak di lift Ada orang di sana?"


    Di luar alaram kebakaran berbunyi nyaring. Semua orang berbondong-bondong keluar menyelamatkan diri serta sanak saudara.





    Keluarga An terjebak di lift yang mencapai tenngah-tengah lantai 6 dan tujuh.

    Ayah membuka pintu lift dengan susah payah. Ia meminta bantuan orang-orang yang berlari di lantai 7. Ayah berhasil menghentikan langkah seorang siswa SMA.

    "Hei! Nak! Ada anak kecil di sini. Tolonglah dia. Kumohon. Tolong selamatkan dia.



    Ada yang datang, Ahjussi pemadam kebakaran yang dipecat Ahjumma tadi. Dia membantu ayah membuka pintu lift lebih lebar dan meminta siswa itu cepat keluar untuk mengambilkan tangga.

    Siswa itu menuruni tangga, tapi asap hitam mengepul dari sana.




    Lee An berhasil dikeluarkan dari lift, tapi kemudian kawat lift putus dan secara otomatis lift melaju kebawah dengan kencang. An menangisi ayah ibunya.


    Di luar para medis dan pemadam kebakaran berdatangan, tapi mobil pemadam kebakaran sulit mendekat karena banyaknya mobil yang diparkir. 



    An sudah lemas, siswa tadi mendekat, merasa kalau mereka tidak bisa menunggu lebih lama.




    Siswa itu memecahkan jendela kaca dengan tabung pemadam kebakaran. Semua orang di bawah melihatnya dengan panik.

    Lalu dia menggendong An. Tanpa lama-lama ia menjatuhkan diri bersama An. Kebayang syoknya semua orang yang menyaksikan




    Mereka jatuh diatas mobil. 

    Darah keluar dibawah lengan siswa yang menopang kepala An. Gak tahu itu darah dari An atau siswa itu.





    An sempat membuka matanya dan melihat nametag siswa itu sebelum pingsan. Nama siswa itu Kang Seung Mo.

    Seung Mo juga sempat membuka matanya sebentar seperti An.


    .:11 tahun kemudian:.




    Di gedung NSF seorang siswa berdiri di depan loker penyimpan mayat. Dia adalah Lee An yang sudah tumbuh menjadi siswa cakep. 




    Saat menyentuh pintu loker, ia bisa tahu melihat kejadian sebelumnya dan siapa mayat di dalam loker itu. 



    An berjalan dari kiri ke kanan sambil terus memegang loker dan tiap pintu yang dipegangnya ia bisa melihat isi di dalamnya.

    Setelah sampai ujung kanan, An kembali ke loker nomor 8, lalu membukanya. Tepat, itu adaah mmayat yang dicarinya,mayat Kebakaran Rumah Perawatan Hanmin.


    Psikometri, dalam bahasa Yunani "PSYCHE (jiwa)" dan "METRON (mengukur)". Artinya Kemampuan untuk mengukur dan menafsirkan seseorang atau objek jiwa.



    Seorang dokter dan Detektif jalan bersama buru-buru.

    Dokter: Apa yang kau katakan? Psikometri? Detektif Eun, kau tidak bercanda?

    Detektif Eun: Tidak ada kamera cctv air dan abu mengacauankannya. Kami tidak menemukan bukti apalagi tersangka. Aku mulai hilang akal. Kau pikir aku sedang bercanda?





    Mereka berhenti tepat di depan pintu.

    Dokter: Jadi, jika dia menyentuh mayat... psikometri atau  apapun itu... akan tahu tersangkanya dan orang itu di sini?

    Yang mereka bicarakan adalah An. 

    Detektif Eun: Dia mungkin tidak melihat tersangka, tapi akan melihat sesuatu. Tidak. Harus melihatnya. Sebelum Jaksa Kang itu tiba.

    Detektif Eun langsung membuka pintu.


    Jaksa Kang yang dimaksud sekarang ini sedang ada dilokasi kebakaran, dimana disana dipenuhi air lantainya. 




    ia adalah Kang Seung Mo, ya.. siswa yang menyelamatkan An 11 tahun lalu, mereka berdua selamat dari maut setelah terjun dari lantai 7.

    Seung Mo mengamati apa yang ada di TKP. Cuma sebentar, lalu ia keluar lagi.


    Oh.. ada kesamaan nih, nomor kamar RS nya sepertinya sama dengan nomor Apartemen Yeongseong 702. Sayangnya noor kamar RS ini sudah kebakar digit yang terakhirnya.




    An membuka tiga loker, ia dengan PD mengatakan kalau mereka pasti Korban Kebakaran di Rumah Perawatan Hanmin. Detektif Eun membenarkan. 

    "Yang lain terpaksa mati karena sesak napas, tapi tiga wanita ini masalahnya. Mereka memiliki luka tusukan di perut bagian kanan. Api itu muncul setelah mereka ditikam." Jelas Detektif Eun.

    Tuh sama lagi, di apartemen Yeongseong juga korbannya memiliki luka tusukan di perut bagian kanan.

    Detektif Eun tanya, apa An bisa melakukannya? An kembapi percaya diri menjawab tentu saja.


    Mobil Seung Mo sampai di pelataran parkir NISI(National Institute of Scientific Investigation).




    An melemaskan jari tangannya sebelum menyentuh mayat. 



    Mayat pertama ia sentuh dan ia melihat api sudah berkobar. Melalui jendela pintu ia melihat angka 701, nomor kamar mungkin.


    An melepaskan pegangannya, seketika itu pandangannya menghilang. Ia membatin, "Ruangan penuh api dan asap. Kami tahu mereka tewas sebelum kebakaran. Jadi fakta ini tidak berarti. Aku butuh petunjuk penting."



    Bergeserlah ia ke mayat berikutnya. Kali ini ia melihat seorang wanita dengan baju putih dan membawa bawaan. 

    An :Siapa ini? Korban? Ataukah pelakunya?




    Wanita itu meletakkan bawannya di dekat papan nama pasien Yoo Detektif Eun Ok.

    An: Kumohon. Lebih detail lagi.

    An udah keringetan.  




    Oh, jadi yang kebakar itu kamar 701. 




    An melihat angka-angka lain, 85C, 75A, dan 80B.



    An terkejut, "Apa itu? Angka-angka?"


    Seung Mo naik lift. 


    An menjelaskan, "Tepat sebelum kematiannya, para korban ini melihat beberapa angka."

    Detektif Eun, "Angka? Angka apaan?"

    An mengatakan angka yang ia lihat sambil menunjuk ketiga paisen. Detektif Eun menulisnya dalam buku catatan.



    Dokter, "Itu semua kombinasi angka dan huruf. Ada sebuah pola." Dokter membuka map yang dibawanya, "Apa itu? Grafik angka? Aku tidak berpikir begitu."

    Detektif Eun berpikir. 



    An menduga, bisa jadi pesan wasiat, "Bagaimana jika tersangka itu menghancurkan pesan wasiatnya?"

    Dokter, "Kita harus mencari tahu soal angka-angka tersebut."

    An: Itu semua yang ku lihat. Arti dari angka-angka itu... tugas kalian untuk mencari tahu.


    An berbisik pada Detektif Eun, "Gimana, Noona? Apa kau pikir itu sudah cukup untuk membuatku jadi psikometris untuk Unit Investigasi Khusus?"

    Detektif Eun kayaknya terpikir sesuatu, "Jangan-jangan ini..."

    DOkter penasaran, "Apa? Kau punya pendapat?"

    Detektif Eun, "Lee An, kau..."


    An, "Sejujurnya... aku tidak mendapatkan pengakuan "kekuatan besar datang dengan tanggung jawab besar" itu. Jadi... keterampilan ini hanya dianggap gangguan. Tapi... memikikan jika hari itu datang..."



    An berbalik, menutupi wajahnya, pura-pura emosional.

    Detektif Eun, "Hei. Apa kau bahkan tahu apa yang kau lihat?"

    An bingung, "Hm?"

    0 komentar

    Post a Comment